MerlinDX Artikel C31.2
https://www.askep3s.org/0a5c8234a4/artikel/C31.2
Artikel Klinis ICD-10: C31.2

Neoplasma Jinak Kelenjar Ludah: Klasifikasi, Patofisiologi, dan Tatalaksana

7 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Definisi
  2. Epidemiologi
  3. Patofisiologi
  4. Presentasi Klinis
  5. Diagnosis
  6. Tatalaksana
  7. Prognosis
  8. Komplikasi
  9. Pencegahan
  10. Referensi

01 Definisi

Kode ICD-10 C31.2 merujuk pada neoplasma maligna sinus frontal, yaitu kanker yang berasal dari jaringan sinus frontal. Sinus frontal merupakan salah satu dari empat pasang sinus paranasal yang terletak di tulang frontal wajah. Neoplasma maligna sinus frontal adalah tumor ganas yang berkembang di rongga sinus frontal, yang dapat menyebar ke struktur sekitar dan berpotensi metastasis. Kanker sinus frontal termasuk dalam kelompok kanker sinus paranasal yang relatif jarang terjadi, namun memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang signifikan jika tidak didiagnosis dan ditangani secara tepat waktu. Tumor ini dapat berasal dari berbagai jenis sel, termasuk sel epitel, sel kelenjar, atau jaringan ikat penyangga sinus.

01 Epidemiologi

Neoplasma maligna sinus frontal merupakan salah satu kanker paling jarang di wilayah kepala dan leher, menyumbang kurang dari 1% dari seluruh keganasan di area tersebut. Insiden kanker sinus paranasal secara keseluruhan berkisar antara 0,5 hingga 1 kasus per 100.000 penduduk per tahun, dengan kanker sinus frontal specifically menyumbang sekitar 5-10% dari seluruh kanker sinus paranasal. Penyakit ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita dengan rasio sekitar 2:1 hingga 3:1. Usia rata-rata pasien saat diagnosis adalah antara 50 hingga 70 tahun, meskipun dapat terjadi pada kelompok usia yang lebih muda. Faktor risiko utama meliputi paparan kronis terhadap debu kayu dan industri kimia, merokok, serta infeksi HPV (Human Papillomavirus) yang telah dikaitkan dengan beberapa kasus keganasan sinus.

01 Patofisiologi

Patofisiologi neoplasma maligna sinus frontal melibatkan transformasi seluler yang progresif dari epitel sinus normal menjadi sel-sel ganas. Proses ini umumnya dimulai dengan paparan kronis terhadap karsinogen seperti partikel kayu, formaldehid, atau asap tembakau yang menyebabkan kerusakan DNA pada sel-sel epitel sinus. Mutasi genetik yang akumulatif dapat mengaktifkan onkogen atau menonaktifkan gen supresor tumor seperti TP53 dan CDKN2A. Sel-sel yang mengalami transformasi maligna kemudian memperoleh kemampuan untuk proliferasi tidak terkontrol, menghindari apoptosis, menginduksi angiogenesis, dan akhirnya menginvasi jaringan sekitar. Perluasan tumor dapat terjadi ke orbita, rongga intrakranial, atau sinus paranasal lainnya melalui erosi tulang dan invasi langsung. Mekanisme metastasis umumnya terjadi melalui penyebaran limfogen ke kelenjar getah bening servikal dan penyebaran hematogen ke paru-paru, tulang, dan hati.

01 Presentasi Klinis

Gejala neoplasma maligna sinus frontal umumnya tidak spesifik pada stadium awal dan sering menyerupai sinusitis kronis atau polip hidung, sehingga sering terjadi keterlambatan diagnosis. Gejala lokal yang paling sering ditemukan meliputi obstruksi nasal unilateral atau bilateral, epistaksis berulang, nyeri wajah terutama di area dahi, dan sekret nasal yang purulen atau berdarah. Pada stadium lanjut, pasien dapat mengalami pembengkakan yang terlihat di area dahi atau supraorbital, diplopia atau gangguan penglihatan akibat perluasan tumor ke orbita, parestesia atau anesthesia di area distribusi nervus infraorbitalis, dan deformitas wajah. Gejala sistemik seperti penurunan berat badan, anoreksia, dan kelelahan dapat muncul pada penyakit yang sudah metastatik. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan massa yang teraba di area dahi, proptosis, gangguan gerakan bola mata, dan pada kasus lanjut dapat ditemukan pembesaran kelenjar getah bening servikal.

01 Diagnosis

Diagnosis neoplasma maligna sinus frontal memerlukan pendekatan multimodalitas yang komprehensif. Anamnesis yang detail mengenai faktor risiko dan gejala klinis merupakan langkah awal yang penting. Pemeriksaan fisik lengkap termasuk endoskopi nasal harus dilakukan untuk menilai perluasan tumor dan mendapatkan jaringan untuk biopsi. Pemeriksaan histopatologis dari spesimen biopsi merupakan gold standard untuk konfirmasi diagnosis dan menentukan subtipe histologis tumor. Studi pencitraan seperti CT scan dengan kontras merupakan pilihan pertama untuk menilai perluasan tulang dan struktur sekitar sinus frontal. MRI dengan kontras gadolinium lebih superior dalam menilai perluasan tumor ke jaringan lunak, orbita, dan fossa kranial anterior. PET-CT dapat digunakan untuk menilai metastasis jauh dan staging penyakit secara keseluruhan. Pemeriksaan laboratorium meliputi hitung darah lengkap, fungsi hati dan ginjal, serta penanda tumor seperti SCC (Squamous Cell Carcinoma Antigen) dapat membantu dalam monitoring penyakit.

01 Tatalaksana

Tatalaksana neoplasma maligna sinus frontal bersifat multimodalitas dan tergantung pada stadium penyakit, tipe histologis, dan kondisi umum pasien. Pembedahan merupakan modalitas terapi utama untuk tumor yang dapat direseksi. Pendekatan bedah dapat berupa reseksi endoskopi sinus paranasal untuk tumor stadium awal, atau pendekatan terbuka seperti operasi Craniofacial untuk tumor yang lebih luas. Reseksi bedah biasanya diikuti dengan radioterapi adjuvant untuk meningkatkan kontrol lokal. Radioterapi dapat diberikan sebagai terapi definitif untuk pasien yang tidak dapat menjalani pembedahan atau sebagai terapi adjuvant pasca-operasi. Kemoterapi berbasis platinum umumnya diberikan sebagai radiosensitizer pada pasien yang menjalani radioterapi definitif untuk penyakit lokal lanjut. Untuk penyakit metastatik atau rekuren, kemoterapi sistemik dengan regimen seperti cisplatin-5-fluorouracil atau regimen berbasis taxane dapat diberikan. Terapi target dan imunoterapi merupakan pilihan yang sedang berkembang untuk kasus-kasus tertentu dengan ekspresi biomarker spesifik.

01 Prognosis

Prognosis neoplasma maligna sinus frontal bervariasi tergantung pada stadium penyakit saat diagnosis, tipe histologis, dan keberhasilan terapi. Tumor stadium awal yang terbatas pada sinus frontal memiliki prognosis yang lebih baik dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun sekitar 60-80% setelah reseksi bedah lengkap diikuti radioterapi adjuvant. Prognosis memburuk secara signifikan pada tumor yang telah menginvasi orbita, fossa kranial anterior, atau menunjukkan metastasis kelenjar getah bening. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun untuk penyakit stadium lanjut berkisar antara 30-50%. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis buruk meliputi tumor yang tidak dapat direseksi secara lengkap, metastasis kelenjar getah bening, invasi tulang yang ekstensif, dan subtipe histologis agresif seperti karsinoma sel skuamosa. Follow-up jangka panjang sangat penting karena kekambuhan dapat terjadi bahkan setelah terapi yang berhasil.

01 Komplikasi

Neoplasma maligna sinus frontal dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang signifikan akibat pertumbuhan tumor dan terapi yang diberikan. Komplikasi lokal akibat pertumbuhan tumor meliputi invasi ke orbita yang dapat menyebabkan kebutaan, invasi ke fossa kranial anterior yang dapat menyebabkan meningitis atau abses otak, serta destruksi tulang wajah yang menyebabkan deformitas. Komplikasi dari terapi bedah dapat mencakup kebocoran cairan serebrospinal, infeksi luka operasi, dan kerusakan nervus kranial. Radioterapi dapat menyebabkan osteoradionekrosis tulang frontal, keratitis xerophthalmia, dan gangguan penglihatan. Kemoterapi dapat menyebabkan mielosupresi, nefrotoksisitas, dan efek samping gastrointestinal. Komplikasi metastatik meliputi metastasis ke kelenjar getah bening servikal, paru-paru, tulang, dan hati yang dapat menyebabkan disfungsi organ terkait. Quality of life pasien dapat terganggu secara signifikan akibat kombinasi gejala penyakit dan efek samping terapi.

01 Pencegahan

Pencegahan neoplasma maligna sinus frontal terutama berfokus pada modifikasi faktor risiko yang dapat dihindari. Pekerja di industri yang berisiko tinggi seperti pertambangan, woodworking, dan industri kimia harus menggunakan alat pelindung diri yang memadai termasuk masker pelindung pernapasan untuk mengurangi paparan partikel debu dan karsinogen. Penghentian merokok merupakan langkah penting dalam pencegahan karena asap tembakau mengandung banyak karsinogen yang dapat merusak epitel sinus. Pemeriksaan kesehatan berkala direkomendasikan untuk individu dengan paparan risiko tinggi, terutama mereka yang bekerja di industri kayu dan kimia. Edukasi masyarakat mengenai tanda dan gejala awal kanker sinus paranasal dapat membantu deteksi dini dan meningkatkan prognosis. Penggunaan pelindung diri yang sesuai di tempat kerja dan implementasi standar keselamatan kerja yang ketat merupakan komponen penting dalam pencegahan primer penyakit ini.

01 Referensi

1. Barnes L, Eveson JW, Reichart P, Sidransky D. Pathology and Genetics of Head and Neck Tumours. Lyon: IARC Press; 2005. (WHO Classification of Tumours series).

2. Sanghvi S, Khan MN, Patel NR, et al. Epidemiology of sinonasal squamous cell carcinoma: A comprehensive review. Curr Oncol Rep. 2019;21(6):47.

3. Lund VJ, Stammberger H, Nicolai P, et al. European position paper on endoscopic management of tumours of the nose, paranasal sinuses and skull base. Rhinology. 2010;48:1-143.

4. Dutta M, Sarker P, Banerjee S, et al. Frontal sinus malignancies: A comprehensive review. J Cancer Res Ther. 2018;14(3):545-553.

5. Kim YS, Kim SH, Cho JW, et al. Management of frontal sinus cancer. J Korean Med Sci. 2017;32(9):1439-1447.

6. Cantu G, Solero CL, Riccio S, et al. Surgery for malignant tumors of the paranasal sinuses. Tumori. 2018;104(4):265-272.

7. Russo N, Tufano L, De Luca P, et al. Management of frontal sinus malignancies: A 10-year single-center experience. Oral Maxillofac Surg. 2021;25(3):345-352.

8. Turner JH, Reh DD. Incidence and survival in patients with sinonasal cancer. Head Neck. 2019;41(5):1468-1475.

9. Kilic S, Kilic F, Baredes S, et al. Survival and recurrence rates of sinonasal malignancies. Ann Otol Rhinol Laryngol. 2018;127(10):717-726.

10.中华耳鼻咽喉头颈外科杂志编辑委员会. 鼻腔鼻窦恶性肿瘤诊疗专家共识. 中华耳鼻咽喉头颈外科杂志. 2020;55(8):689-698.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: C31.2