MerlinDX Artikel Q01.2
https://www.askep3s.org/10b89d14d4/artikel/Q01.2
Ensefalokel Oksipital (Q01.2): Tinjauan Komprehensif dari Epidemiologi hingga Penatalaksanaan
Photo by Luis Becerra Fotógrafo on Pexels
Artikel Klinis ICD-10: Q01.2

Ensefalokel Oksipital (Q01.2): Tinjauan Komprehensif dari Epidemiologi hingga Penatalaksanaan

9 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Definisi
  2. Epidemiologi
  3. Etiologi dan Faktor Risiko
  4. Patofisiologi
  5. Klasifikasi
  6. Tanda dan Gejala Klinis
  7. Diagnosis
  8. Diagnosis Banding
  9. Penatalaksanaan
  10. Komplikasi
  11. Prognosis
  12. Pencegahan

01 Definisi

Ensefalokel oksipital adalah kelainan kongenital berupa penonjolan jaringan otak, selaput meningen (meningokel), atau keduanya melalui defek pada tulang tengkorak bagian oksipital. Istilah 'encephalocele' berasal dari bahasa Yunani 'enkephalos' (otak) dan 'kele' (hernia). Kondisi ini merupakan bagian dari spektrum defek tabung neural yang terjadi akibat kegagalan penutupan tabung neural selama minggu ketiga hingga keempat perkembangan embrionik. Pada ensefalokel oksipital, penonjolan biasanya terjadi di garis tengah posterior kepala, tepatnya di region oksipital antara tulang oksipital dan vertebra servikal pertama. Jaringan otak yang menonjol dapat berupa jaringan otak fungsional atau jaringan otak yang mengalami degenerasi (atretik). Ensefalokel oksipital termasuk dalam kategori malformasi sistem saraf pusat yang diklasifikasikan dalam ICD-10 dengan kode Q01.2.

02 Epidemiologi

Ensefalokel oksipital merupakan kondisi yang relatif jarang terjadi dengan prevalensi global sekitar 1 per 5.000 kelahiran hidup hingga 1 per 10.000 kelahiran hidup. Insidensi bervariasi secara signifikan antar wilayah geografis dan kelompok etnis. Di beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand, Myanmar, dan Vietnam, prevalensi ensefalokel oksipital dilaporkan lebih tinggi dibandingkan negara-negara Barat. Rasio jenis kelamin menunjukkan predominansi pada perempuan dengan perbandingan sekitar 1,5:1 hingga 2:1. Sekitar 70-80% ensefalokel terjadi di region oksipital pada populasi non-Asia, sementara pada populasi Asia, ensefalokel anterior (terutama nasofrontal dan nasoethmoidal) lebih sering ditemukan. Data epidemiologi juga menunjukkan bahwa ensefalokel oksipital sering dikaitkan dengan anomali kongenital lainnya dan dapat terjadi secara sporadik atau familial.

03 Etiologi dan Faktor Risiko

Etiologi ensefalokel oksipital bersifat multifactorial dengan interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Kegagalan penutupan tabung neural yang terjadi antara hari ke-23 hingga ke-28 pasca-fertilisasi merupakan mekanisme utama terbentuknya ensefalokel. Faktor risiko yang telah diidentifikasi meliputi defisiensi asam folat pada ibu selama kehamilan, terutama pada trimester pertama ketika tabung neural sedang menutup. Mutasi genetik tertentu juga berperan, termasuk mutasi pada gen MTHFR (methylenetetrahydrofolate reductase) yang mempengaruhi metabolisme folat. Paparan teratogen selama kehamilan seperti obat-obatan antikonvulsan (valproat, karbamazepin), alkohol, dan infeksi virus telah dikaitkan dengan peningkatan risiko. Faktor lingkungan lainnya meliputi diabetes mellitus maternal, obesitas, dan hipertermia. Riwayat keluarga dengan defek tabung neural meningkatkan risiko berulang hingga 4-5% pada kehamilan berikutnya. Beberapa sindrom genetik seperti sindrom Meckel-Gruber, sindrom Walker-Warburg, dan sindrom Frontonasal dysplasia juga dapat disertai ensefalokel oksipital.

04 Patofisiologi

Patofisiologi ensefalokel oksipital melibatkan gangguan kompleks pada proses neurulasi dan pembentukan tulang kranium. Selama perkembangan embrionik normal, plate neural pada minggu ketiga gestation berkonversi menjadi tabung neural melalui proses neurulasi primer yang diikuti neurulasi sekunder. Kegagalan proses ini menyebabkan defek pada penutupan tabung neural bagian posterior yang berkembang menjadi otak posterior (hindbrain) dan region oksipital. Defek penutupan ini memungkinkan jaringan otak untuk menonjol melalui area lemah pada kranium yang sedang berkembang. Pada ensefalokel oksipital, tonjolan biasanya berisi jaringan otak (terutama serebelum dan lobus oksipital), cairan serebrospinal, dan selaput meningen. Dalam beberapa kasus, terutama ensefalokel atretik, tonjolan dapat berisi hanya jaringan parenkim otak yang mengalami degenerasi dan fibrosis. Herniasi ini menyebabkan gangguan aliran cairan serebrospinal dan dapat menyebabkan hidrosefalus. Kompresi struktur otak di dalam kanalis spinalis akibat tethering cord juga sering terjadi.

05 Klasifikasi

Ensefalokel oksipital dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa parameter. Berdasarkan isi herniasi, ensefalokel diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama: (1) Meningokel, yaitu herniasi selaput meningen dan cairan serebrospinal tanpa jaringan otak; (2) Ensefalokel sejati, yaitu herniasi jaringan otak beserta selaput meningen; dan (3) Atretik encephalocele atau encephalocele vestigial, yaitu bentuk rudimenter berupa penonjolan kecil yang berisi jaringan parenkim otak yang mengalami degenerasi fibrofatty. Berdasarkan lokasi, ensefalokel oksipital dapat berupa supratorcular (di atas foramen magnum) atau infratorcular (di bawah foramen magnum). Klasifikasi berdasarkan ukuran meliputi mikroensefalokel (diameter < 1 cm), ensefalokel kecil (1-4 cm), ensefalokel sedang (4-10 cm), dan makroensefalokel (>10 cm). Klasifikasi berdasarkan hubungan dengan ventrikel juga penting, yaitu non-komunikans (tidak terhubung dengan sistem ventrikel) dan komunikans (terhubung dengan sistem ventrikel). Ensefalokel oksipital atretik sering disebut juga sebagai dermal sinus atau cranial meningocele tersembunyi.

06 Tanda dan Gejala Klinis

Manifestasi klinis ensefalokel oksipital sangat bervariasi tergantung pada ukuran lesi, isi herniasi, dan adanya anomali associated. Secara umum, tanda klinis dapat dibagi menjadi manifestasi lokal dan sistemik. Manifestasi lokal berupa massa lunak yang menonjol di region oksipital, biasanya midline, dengan ukuran yang bervariasi dari sangat kecil hingga sangat besar. Massa biasanya tertutup kulit yang tipis dan translusen, atau dapat berupa lesi kulit yang ulcerasi. Pada ensefalokel atretik, massa mungkin sangat kecil dan mudah terlewatkan, hanya tampak sebagai lesi kulit kecil atau dimple. Manifestasi neurologis meliputi defisit neurologis yang bervariasi seperti paresis ekstremitas, gangguan sensorik, ataksia, dan spastisitas. Hidrosefalus terjadi pada sekitar 50-80% kasus dan dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial dengan gejala sakit kepala, muntah proyektil, dan papiledema. Gangguan penglihatan dapat terjadi akibat kompresi nervus optikus atau malformasi Chiari. Pada ensefalokel besar, dapat terjadi mikrosefali atau makrosefali. Anomali associated meliputi defek skeletal (kifoskoliosis, defek vertebra), defek kardiovaskular, dan anomali genitourinari. Keterlambatan perkembangan dan retardasi mental dapat terjadi pada sekitar 50-75% pasien yang bertahan hidup.

07 Diagnosis

Diagnosis ensefalokel oksipital melibatkan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan investigasi pencitraan. Prenatal diagnosis dapat dilakukan melalui ultrasound screening pada trimester kedua kehamilan, yang menunjukkan massa hipodens yang menonjol dari tulang oksipital. Pemeriksaan USG Doppler dapat membantu membedakan ensefalokel dari lesi vaskular. MRI prenatal memberikan informasi lebih detail tentang isi herniasi dan hubungan dengan struktur intrakranial. Pada postnatal, pemeriksaan fisik meliputi inspeksi dan palpasi massa oksipital untuk menilai ukuran, konsistensi, transiluminasi, dan tanda-tanda infeksi atau ruptur. Pencitraan definitif meliputi CT scan kepala untuk menilai defek tulang dan hubungan dengan struktur tulang sekitarnya. MRI otak dan tulang belakang merupakan gold standard untuk mengevaluasi isi herniasi, adanya malformasi Chiari, hidrosefalus, dan anomali associated pada medulla spinalis. Pemeriksaan neurologis lengkap untuk menilai fungsi kranial nervus, motorik, sensorik, dan cerebellar juga penting dilakukan.

08 Diagnosis Banding

Diagnosis banding ensefalokel oksipital meliputi beberapa kondisi yang dapat menyerupai gambaran klinis dan radiologis. cystic hygroma atau limfangioma servikal merupakan massa kistik multilokular yang sering ditemukan di region posterior leher dan dapat menyerupai ensefalokel, namun pencitraan akan menunjukkan lesi kistik tanpa komponen jaringan otak. Cephalohematoma adalah perdarahan subperiosteal pada tulang tengkorak yang biasanya terjadi akibat trauma persalinan, dengan batas tegas dan tidak mengandung jaringan otak. Aplasia cutis congenita adalah defek kulit kongenital berupa ulserasi atau absence kulit di region oksipital, tanpa herniasi jaringan otak. Branchial cyst atau kista brankial dapat muncul sebagai massa di region leher posterior, namun tidak memiliki hubungan dengan sistem saraf pusat. Meningioma parasagittal atau tumor otak lainnya yang mengalami kalsifikasi dapat menyerupai ensefalokel pada gambaran radiologis sederhana. Dermoid cyst di region oksipital merupakan lesi jinak yang berasal dari inklusi ektodermal, biasanya lebih kecil dan tidak memiliki komponen intrakranial. Gliomatosis cerebri atau tumor glial difus dapat menyebabkan massa yang menyerupai ensefalokel pada imaging.

09 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan ensefalokel oksipital bersifat individual dan memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan ahli bedah saraf, ahli bedah plastik, ahli anak, ahli neurologi, dan tim rehabilitasi medik. Terapi definitif adalah pembedahan yang bertujuan untuk merekonstruksi defek, mengembalikan jaringan otak yang viable ke dalam kranium, dan menutup defek tulang serta kulit. Waktu operasi tergantung pada kondisi pasien dan ukuran ensefalokel. Pada ensefalokel kecil tanpa defisit neurologis, operasi dapat ditunda hingga usia beberapa bulan. Pada ensefalokel besar dengan risiko ruptur atau infeksi, operasi emergensi diperlukan. Prosedur bedah meliputi eksisi kandung ensefalokel, identifikasi dan preservasi jaringan otak fungsional, dekompresi struktur neural jika diperlukan, dan repair defek dura mater menggunakan graft. Rekonstruksi tulang dapat dilakukan dengan cranioplasty menggunakan bahan aloplastik atau autograft. Penatalaksanaan hidrosefalus dapat memerlukan shunt ventrikuloperitoneal atau shunt ventrikuloatrial. Terapi suportif meliputi manajemen infeksi, nutrisi adekuat, fisioterapi, dan intervensi perkembangan. Follow-up jangka panjang diperlukan untuk memantau perkembangan neurologis, fungsi kognitif, dan mendeteksi komplikasi tardive seperti hidrosefalus yang berkembang kemudian.

10 Komplikasi

Komplikasi ensefalokel oksipital dapat terjadi pada periode praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif. Komplikasi praoperatif meliputi ruptur kandung ensefalokel yang dapat menyebabkan infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis atau abses otak. Perdarahan dari lesi dapat terjadi terutama pada ensefalokel dengan komponen vaskular. Ulserasi kulit penutup dapat menyebabkan infeksi lokal dan meningkatkan risiko sepsis. Komplikasi intraoperatif meliputi perdarahan yang signifikan terutama pada lesi dengan vaskularisasi tinggi, cedera struktur neural selama disseksi, dan kesulitan dalam repair defek dural yang dapat menyebabkan kebocoran cairan serebrospinal. Komplikasi pascaoperatif dini meliputi infeksi luka operasi, meningitis, perdarahan intrakranial, dan kebocoran cairan serebrospinal. Komplikasi jangka panjang meliputi hidrosefalus progresif yang memerlukan shunting, tethering cord syndrome akibat adherensi jaringan parut pada medulla spinalis, epilepsi yang terjadi pada sekitar 20-30% pasien, dan defisit neurologis residual seperti paresis, gangguan sensorik, atau gangguan cerebellar. Komplikasi kosmetik akibat depresi kranium di area operasi juga dapat terjadi dan memerlukan intervensi rekonstruktif.

11 Prognosis

Prognosis ensefalokel oksipital sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor prognostik. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi ukuran ensefalokel, kandungan jaringan otak dalam herniasi, adanya hidrosefalus, anomali associated, dan waktu serta kualitas intervensi bedah. Ensefalokel kecil tanpa jaringan otak fungsional dan tanpa anomali associated memiliki prognosis yang lebih baik dengan tingkat keberhasilan bedah yang tinggi dan outcome neurologis yang baik. Sebaliknya, ensefalokel besar dengan herniasi jaringan otak yang signifikan, mikrosefali, dan anomali multiple memiliki prognosis yang lebih buruk. Angka kematian pada ensefalokel oksipital yang tidak ditangani dapat mencapai 50-60%, terutama akibat komplikasi seperti infeksi dan hidrosefalus. Dengan penatalaksanaan bedah yang adekuat, angka kelangsungan hidup dapat meningkat signifikan, namun morbiditas tetap tinggi dengan sekitar 50-75% pasien mengalami beberapa derajat defisit neurologis atau keterlambatan perkembangan. Prognosis perkembangan kognitif tergantung pada adanya keterlibatan korteks serebri, adanya epilepsi, dan kualitas rehabilitasi jangka panjang.

12 Pencegahan

Pencegahan ensefalokel oksipital dapat dilakukan melalui beberapa strategi pada tingkat primer dan sekunder. Suplementasi asam folat merupakan intervensi preventif paling penting yang direkomendasikan untuk semua wanita usia reproduksi, terutama pada trimester pertama kehamilan. Dosis yang direkomendasikan adalah 400-800 mikrogram asam folat per hari untuk wanita tanpa faktor risiko, dan dosis lebih tinggi (4 mg/hari) untuk wanita dengan riwayat keluarga defek tabung neural atau penggunaan obat antikonvulsan. Suplementasi harus dimulai minimal satu bulan sebelum konsepsi dan dilanjutkan hingga akhir trimester pertama. Modifikasi gaya hidup selama kehamilan meliputi penghindaran alkohol, rokok, dan paparan teratogen. Kontrol penyakit kronis seperti diabetes mellitus dan obesitas sebelum dan selama kehamilan juga penting. Genetic counseling direkomendasikan untuk pasangan dengan riwayat keluarga defek tabung neural atau yang telah memiliki anak dengan ensefalokel. Prenatal screening dengan ultrasound dan MRI memungkinkan deteksi dini sehingga persiapan untuk penatalaksanaan dapat dilakukan. Pada kasus dengan diagnosis prenatal positif, konseling prenatal yang komprehensif mengenai prognosis dan pilihan penatalaksanaan perlu diberikan kepada orang tua.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: Q01.2

Pathway: Occipital Encephalocele (Q01.2) & SDKI