MerlinDX Artikel P39.1
https://www.askep3s.org/15db470ede/artikel/P39.1
Artikel Klinis ICD-10: P39.1

Konjungtivitis dan Dakriosistitis Neonatal (P39.1): Tinjauan Komprehensif

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian
  2. Epidemiologi
  3. Penyebab dan Etiologi
  4. Patofisiologi
  5. Gejala Klinis
  6. Diagnosis
  7. Tata Laksana
  8. Komplikasi
  9. Prognosis
  10. Pencegahan

01 Pengertian

Konjungtivitis dan dakriosistitis neonatal (oftalmia neonatorum) adalah infeksi pada mata bayi yang terjadi dalam 28 hari pertama kehidupan (periode neonatal). Kondisi ini ditandai dengan peradangan pada konjungtiva yang melapisi bagian putih mata dan kelopak mata bagian dalam, serta dapat disertai infeksi pada sistem drainase air mata (dakriosistitis). Istilah oftalmia neonatorum secara spesifik merujuk pada konjungtivitis yang terjadi pada neonatus dan merupakan kondisi medis darurat yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi serius termasuk kebutaan. Dakriosistitis neonatal sendiri merujuk pada peradangan atau infeksi pada kantung lakrimalis yang terjadi pada bayi baru lahir, sering kali disebabkan oleh obstruksi duktus nasolakrimalis kongenital yang gagal membuka secara spontan setelah kelahiran. Kedua kondisi ini dapat terjadi secara terpisah atau bersamaan, dan keduanya memerlukan perhatian medis yang cepat untuk mencegah kerusakan permanen pada penglihatan bayi.

01 Epidemiologi

Konjungtivitis neonatal terjadi pada sekitar 1 hingga 12 persen dari seluruh kelahiran hidup secara global, dengan prevalensi yang bervariasi secara signifikan berdasarkan faktor sosioekonomi, praktik kebersihan antenatal, dan ketersediaan layanan kesehatan. Di negara berkembang dengan akses terbatas terhadap perawatan prenatal yang memadai dan praktik persalinan yang tidak steril, insiden konjungtivitis neonatal cenderung lebih tinggi dibandingkan negara maju. Di Amerika Serikat dan Eropa Barat, insiden telah menurun drastis berkat screening dan pengobatan infeksi menular seksual pada ibu hamil serta penggunaan profilaksis silver nitrate atau antibiotik topikal segera setelah kelahiran. Faktor risiko utama meliputi riwayat infeksi menular seksual pada ibu (khususnya Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae), persalinan per vaginam dengan ketuban pecah berkepanjangan, serta kurangnya higiene perinatal yang memadai. Dakriosistitis neonatal lebih jarang terjadi dengan perkiraan insiden sekitar 1-2 persen dari seluruh kelahiran, namun kondisi ini lebih sering ditemukan pada bayi dengan faktor risiko obstruksi duktus nasolakrimalis kongenital.

01 Penyebab dan Etiologi

Konjungtivitis neonatal dapat disebabkan oleh berbagai agen infeksius yang ditularkan selama proses persalinan atau melalui kontak dengan lingkungan setelah kelahiran. Penyebab tersering meliputi bakteri, virus, dan protozoa. Infeksi Chlamydia trachomatis (serotipe D-K) merupakan penyebab tersering konjungtivitis neonatal yang didapat melalui jalan lahir, bertanggung jawab atas sekitar 20-40 persen kasus. Neisseria gonorrhoeae, meskipun lebih jarang di negara maju, menyebabkan bentuk paling berat dengan potensi perforasi kornea dan kebutaan jika tidak ditangani segera. Bakteri patogen lainnya meliputi Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Escherichia coli yang dapat menyebabkan konjungtivitis nosokomial. Infeksi virus dapat disebabkan oleh herpes simpleks virus (HSV) tipe 1 dan 2, adenovirus, serta sitomegalovirus. Protozoa seperti Toxoplasma gondii dan Neisseria meningitidis juga pernah diidentifikasi sebagai penyebab, meskipun jarang. Dakriosistitis neonatal umumnya disebabkan oleh obstruksi duktus nasolakrimalis kongenital yang menyebabkan stagnasi air mata dan sekunder infeksi bakteri. Bakteri yang paling sering diisolasi pada dakriosistitis neonatal meliputi Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, dan Haemophilus influenzae.

01 Patofisiologi

Patofisiologi konjungtivitis neonatal melibatkan kontaminasi langsung konjungtiva bayi oleh agen infeksius selama melewati jalan lahir yang terinfeksi. Pada kasus Chlamydia trachomatis, bakteri intraseluler obligat ini menginfeksi sel epitel konjungtiva dan menyebabkan respons inflamasi yang ditandai dengan infiltrasi sel radang polimorfonuklear dan limfosit. Proses inflamasi ini menyebabkan edema konjungtiva, hiperemia, dan produksi sekret yang purulen atau mukopurulen. Inkubasi Chlamydia umumnya 5-14 hari setelah kelahiran. Pada infeksi gonokokal, Neisseria gonorrhoeae yang bersifat gram negatif diplococcus menyebabkan respons inflamasi yang sangat akut dengan produksi sekret purulen yang berlebihan dan pembentukan pseudomembran. Bakteri ini memiliki kemampuan untuk menembus epitel intact dan menyebar ke struktur sekitar. Dakriosistitis neonatal terjadi ketika duktus nasolakrimalis yang seharusnya patent tetap tertutup setelah kelahiran, menyebabkan akumulasi air mata dan debris seluler dalam kantung lakrimalis. Stagnasi ini menciptakan lingkungan yang menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri, yang kemudian menyebabkan infeksi dan peradangan pada kantung lakrimalis. Obstruksi ini dapat bersifat unilateral atau bilateral dan sering kali disertai dengan pembentukan mucocele atau dilatasi kistik pada kantung lakrimalis.

01 Gejala Klinis

Manifestasi klinis konjungtivitis neonatal bervariasi tergantung pada agen etiologi dan waktu onset setelah kelahiran. Konjungtivitis gonokokal umumnya muncul 2-5 hari setelah kelahiran dengan gejala yang sangat akut dan berat, meliputi hiperemia konjungtiva bilateral yang intens, edema kelopak mata yang nyata, sekret purulen yang berlebihan, dan kemerahan konjungtiva. Tanpa pengobatan, dapat terjadi ulserasi kornea dan perforasi yang mengancam penglihatan. Konjungtivitis klamidia memiliki masa inkubasi lebih panjang (5-14 hari) dan gejalanya cenderung lebih ringan namun persisten, meliputi sekret mukopurulen, hiperemia konjungtiva, dan edema kelopak mata. Jika tidak ditangani, dapat menyebabkan terbentuknya papillae dan folikel pada konjungtiva serta parut konjungtiva. Konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri lain biasanya muncul 5-14 hari setelah kelahiran dengan gejala yang lebih ringan. Konjungtivitis herpes simpleks dapat disertai dengan lesi kulit vesikuler dan memerlukan perhatian khusus karena potensi penyebaran sistemik. Dakriosistitis neonatal ditandai dengan discharge mukopurulen persisten dari satu atau kedua mata, eritema dan edema pada area kantus medial, serta pembentukan massa yang teraba pada area kantus medial inferior. Tekanan pada kantung lakrimalis dapat menghasilkan sekret purulen melalui punctum lakrimalis. Pada kasus berat, dapat terjadi selulitis orbitalis dengan proptosis dan keterbatasan gerakan mata.

01 Diagnosis

Diagnosis konjungtivitis dan dakriosistitis neonatal ditegakkan berdasarkan anamnesis menyeluruh, pemeriksaan fisik komprehensif, dan investigations laboratorium yang tepat. Anamnesis harus mencakup riwayat kesehatan ibu termasuk infeksi menular seksual, status prenatal, cara persalinan, dan durasi ketuban pecah. Pemeriksaan fisik dimulai dengan inspeksi visual untuk menilai tingkat keparahan inflamasi, karakter dan jumlah sekret, serta keterlibatan kornea. Tes fluorescein staining dilakukan untuk menilai defek epitel kornea atau ulserasi. Pada dakriosistitis, palpasi area kantus medial untuk menilai adanya massa serta ekspresi sekret melalui punctum lakrimalis sangat penting. Investigations laboratorium meliputi pengambilan spesimen sekret untuk pewarnaan Gram dan Giemsa, kultur bakteri dengan sensitivitas antibiotik, tes快速 untuk Chlamydia (PCR atau EIA), serta kultur virus jika dicurigai infeksi herpes. Pewarnaan Gram pada sekret sangat berguna untuk identifikasi cepat Neisseria gonorrhoeae (diplococci gram negatif intraseluler) dan orientasi terapi awal. Kultur tetap merupakan gold standard untuk identifikasi spesies dan sensitivitas antibiotik. Pada kasus dakriosistitis berulang atau tidak responsif terhadap terapi, imaging tambahan seperti dakriosistografi atau CT scan dapat dipertimbangkan untuk menilai anatomi duktus nasolakrimalis.

01 Tata Laksana

Tata laksana konjungtivitis dan dakriosistitis neonatal harus segera dimulai setelah diagnosis klinis dan ditargetkan sesuai agen etiologi yang dicurigai atau dikonfirmasi. Untuk konjungtivitis gonokokal, terapi lini pertama adalah ceftriaxone intravena atau intramuskular dengan dosis 25-50 mg/kg (maksimal 150 mg) dalam dosis tunggal, disertai irigasi konjungtiva dengan saline secara agresif untuk menghilangkan sekret dan bakteri. Terapi topikal saja tidak cukup dan harus selalu dikombinasikan dengan terapi sistemik. Untuk konjungtivitis klamidia, terapi pilihan adalah eritromisin oral dengan dosis 50 mg/kg/hari dalam empat dosis terbagi selama 14 hari. Azithromycin per oral dapat menjadi alternatif dengan dosis 20 mg/kg/hari selama 3 hari. Terapi topikal saja tidak efektif untuk mengeliminasi klamidia karena organisme bersifat intraseluler. Untuk konjungtivitis bakterial non-spesifik, antibiotik topikal seperti erythromycin ointment atau polymyxin B-trimethoprim drops dapat diberikan. Konjungtivitis herpes simpleks memerlukan asiklovir intravena (30-60 mg/kg/hari dalam tiga dosis) selama 10-14 hari untuk kasus berat atau asiklovir oral untuk kasus ringan, dikombinasikan dengan trifluridine atau ganciclovir topikal. Dakriosistitis neonatal dengan obstruksi duktus nasolakrimalis kongenital ditangani dengan massage sistematis (Crigler massage) dan antibiotik topikal. Jika tidak responsif dalam beberapa minggu, probing duktus nasolakrimalis direkomendasikan. Pada kasus dengan abses atau selulitis, antibiotik sistemik intravena diperlukan dan konsultasi oftalmologi segera sangat penting.

01 Komplikasi

Komplikasi konjungtivitis neonatal sangat bervariasi tergantung pada etiologi dan kecepatan penanganan. Konjungtivitis gonokokal yang tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan ulserasi kornea, perforasi bola mata, dan akhirnya kebutaan permanen akibat sikatrik kornea. Komplikasi ini dapat terjadi dalam hitungan hari jika terapi tidak diberikan. Konjungtivitis klamidia yang tidak ditangani dapat menyebabkan parut konjungtiva, pannus kornea, dan dalam kasus yang jarang namun serius, pneumonia klamidia yang muncul pada usia 4-12 minggu dengan gejala tachypnea dan batuk. Trakoma akibat infeksi klamidia berulang juga dapat terjadi dalam jangka panjang. Konjungtivitis herpes simpleks dapat menyebar secara sistemik dan menyebabkan ensefalitis herpes yang mengancam jiwa. Dakriosistitis neonatal yang tidak ditangani dapat menyebabkan pembentukan mucocele yang besar, abses kantung lakrimalis, selulitis orbitalis, dan dalam kasus yang jarang, sepsis. Obstruksi duktus nasolakrimalis yang persisten dalam jangka panjang dapat menyebabkan epifora kronis dan meningkatkan risiko infeksi berulang. Komplikasi dari prosedur probing pada dakriosistitis meliputi false passage, laserasi kanalikuli, dan perdarahan, meskipun jarang terjadi.

01 Prognosis

Prognosis konjungtivitis dan dakriosistitis neonatal sangat bergantung pada etiologi, kecepatan diagnosis, dan kecocokan terapi yang diberikan. Dengan penanganan yang tepat dan segera, konjungtivitis bakterial dan klamidia memiliki prognosis yang baik dengan penyembuhan lengkap tanpa sequelae penglihatan. Konjungtivitis gonokokal memiliki prognosis yang lebih buruk jika terapi tertunda, dengan risiko tinggi kerusakan kornea permanen dan kebutaan. Namun, dengan intervensi dini, prognosis untuk pemulihan penglihatan tetap baik. Konjungtivitis herpes simpleks memiliki prognosis yang bervariasi; kasus ringan dengan terapi yang adekuat memiliki prognosis baik, sementara kasus dengan keterlibatan sistemik atau SSP memiliki prognosis yang lebih reservado. Dakriosistitis neonatal akibat obstruksi duktus nasolakrimalis kongenital memiliki prognosis yang sangat baik dengan lebih dari 90 persen kasus menyelesaikan sendiri sebelum usia 12 bulan. Probing duktus nasolakrimalis memiliki tingkat keberhasilan tinggi (lebih dari 90 persen) pada anak di bawah 12 bulan. Faktor yang memperburuk prognosis meliputi keterlambatan diagnosis, terapi yang tidak adekuat, infeksi nosokomial dengan organisme resisten, serta adanya komorbiditas pada neonatus.

01 Pencegahan

Pencegahan konjungtivitis neonatal dimulai dari masa prenatal dengan skrining dan pengobatan infeksi menular seksual pada ibu hamil. Pemeriksaan dan pengobatan Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae pada trimester ketiga kehamilan sangat penting untuk mencegah transmisi vertikal. Persalinan dengan section caesarea dapat dipertimbangkan pada kasus dengan infeksi gonore aktif yang tidak terobati untuk menghindari kontak dengan jalan lahir yang terinfeksi. Profilaksis oftalmia neonatorum direkomendasikan untuk semua neonatus segera setelah kelahiran, umumnya dalam satu jam pertama kehidupan. Agen profilaksis yang digunakan meliputi erythromycin 0.5% ophthalmic ointment, tetracycline 1% ophthalmic ointment, atau silver nitrate 1% solution. Di beberapa negara, erythromycin ointment merupakan pilihan utama karena efektivitasnya terhadap Chlamydia dan keamanan yang lebih baik dibandingkan silver nitrate yang dapat menyebabkan konjungtivitis kimiawi. Penting untuk dicatat bahwa profilaksis tidak sepenuhnya mencegah konjungtivitis klamidia tetapi dapat mengurangi keparahan dan insidennya. Edukasi orang tua mengenai tanda-tanda awal infeksi mata pada neonatus dan pentingnya segera mencari pertolongan medis jika ditemukan kelainan sangat krusial untuk deteksi dini dan penanganan cepat.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
Merck Manual Professional Edition. (2024). Neonatal Conjunctivitis. Pediatrics - Infections in Neonates.
[2]
MedlinePlus. (2025). Neonate: Medical Encyclopedia. U.S. National Library of Medicine.
[3]
American Academy of Pediatrics. (2024). Neonatal Care Guidelines.
[4]
Vision Center. (2025). Neonatal Conjunctivitis: Causes, Symptoms, and Treatment.
[5]
World Health Organization. (2023). Trachoma and Ophthalmia Neonatorum: Prevention and Control.
[6]
American Academy of Ophthalmology. (2024). Conjunctivitis Preferred Practice Pattern.
[7]
Nelson Textbook of Pediatrics, 22nd Edition. (2025). Elsevier.

🔗 Konten Terkait: P39.1