MerlinDX Artikel G54.5
https://www.askep3s.org/1985b3dc04/artikel/G54.5
Neuralgic Amyotrophy (G54.5): Tinjauan Komprehensif Diagnosis dan Tata Laksana
Photo by https://kaboompics.com/ on Pexels
Artikel Klinis ICD-10: G54.5

Neuralgic Amyotrophy (G54.5): Tinjauan Komprehensif Diagnosis dan Tata Laksana

7 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Bagian 1
  2. Bagian 2
  3. Bagian 3
  4. Bagian 4
  5. Bagian 5
  6. Bagian 6
  7. Bagian 7
  8. Bagian 8
  9. Bagian 9
  10. Bagian 10
  11. Bagian 11

01

Neuralgic amyotrophy (NA), yang juga dikenal sebagai sindrom Parsonage-Turner atau amyotrophia neuralgica, merupakan kondisi neurologis yang jarang namun signifikan. Gangguan ini mempengaruhi neuron motorik bawah dari pleksus brakialis dan/atau saraf individual serta cabangnya. Karakteristik utama kondisi ini meliputi nyeri hebat, kelemahan otot hingga atrofi, serta gejala sensorik yang bervariasi. Meskipun umumnya bersifat unilateral, beberapa kasus dapat menunjukkan keterlibatan kontralateral subklinis atau bahkan afek bilateral. Pemahaman mendalam tentang presentasi klinis, metode diagnostik, dan strategi tata laksana sangat penting bagi tenaga kesehatan untuk mengelola pasien dengan kondisi ini secara optimal.

02

Neuralgic amyotrophy adalah gangguan saraf perifer yang ditandai dengan onset akut atau subakut nyeri neurologis hebat di daerah bahu dan ekstremitas atas, diikuti oleh kelemahan otot dan atrofi. Istilah "neuralgic" merujuk pada nyeri singkat dan hebat yang dirasakan secara tiba-tiba sepanjang saraf, sementara "amyotrophy" menunjukkan penurunan massa otot akibat denervasi. Sindrom ini pertama kali dideskripsikan oleh Maurice Parsonage dan John Turner pada tahun 1948, sehingga sering disebut sebagai sindrom Parsonage-Turner. Kode ICD-10 untuk kondisi ini adalah G54.5, yang mengklasifikasikan gangguan ini dalam kategori gangguan akar saraf dan pleksus.

03

Neuralgic amyotrophy termasuk kondisi yang relatif jarang dengan insidensi yang bervariasi antar populasi. Berdasarkan data epidemiologi, kondisi ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita dengan rasio sekitar 2:1 hingga 3:1. Onset penyakit umumnya terjadi pada usia dewasa, meskipun beberapa kasus telah dilaporkan pada populasi anak-anak dan remaja. Insidensi tahunan diperkirakan sekitar 1-3 kasus per 100.000 populasi. Pada populasi pediatrik, neuralgic amyotrophy dianggap sangat jarang, namun laporan kasus terus bertambah yang menunjukkan bahwa kondisi ini mungkin lebih sering terjadi daripada yang diperkirakan sebelumnya. Faktor usia merupakan salah satu aspek penting dalam evaluasi diagnostik, dengan puncak insidensi pada dekade keempat hingga keenam kehidupan.

04

Etiologi neuralgic amyotrophy tetap belum sepenuhnya dipahami dan dianggap heterogen serta multifaktorial. Terdapat dua bentuk utama berdasarkan etiologi: idiopatik (sporadik) dan herediter. Bentuk idiopatik merupakan yang paling umum dan sering dikaitkan dengan faktor pencetus seperti infeksi virus atau bakteri, vaksinasi, prosedur bedah, trauma, stres fisik yang berlebihan, serta kondisi autoimun. Infeksi yang sering dikaitkan meliputi infeksi saluran pernapasan atas, influenza, gastroenteritis, dan infeksi virus lainnya. Vaksinasi, terutama yang mengandung antigen hepatitis B, influenza, dan tetanus, juga telah dilaporkan sebagai faktor pencetus. Pada bentuk herediter, mutasi genetik yang diturunkan secara autosomal dominan telah diidentifikasi, menunjukkan predisposisi genetik pada subset pasien tertentu. Mekanisme patofisiologi yang mendasari melibatkan respons inflamasi dan autoimun yang menyerang struktur pleksus brakialis dan saraf perifer, menyebabkan kerusakan mioelin dan aksonal.

05

Patofisiologi neuralgic amyotrophy melibatkan proses inflamasi yang menyerang pleksus brakialis dan saraf perifer secara selektif. Mekanisme utama yang dipercaya adalah respons autoimun yang dipicu oleh berbagai faktor pencetus. Proses inflamasi ini menyebabkan edema dan pembengkakan pada pleksus brakialis, yang kemudian mengakibatkan kompresi internal dan kerusakan struktur saraf. Kerusakan dapat mengenai selubung mielin (demielinisasi) dan/atau akson (degenerasi aksonal), tergantung pada severitas dan durasi kondisi. Respon inflamasi yang tidak terkontrol ini menyebabkan gangguan konduksi saraf yang bermanifestasi sebagai kelemahan motorik dan gejala sensorik. Pada kasus yang lebih berat, terjadi kematian neuron yang menyebabkan atrofi otot permanen akibat denervasi berkepanjangan.

06

Manifestasi klinis neuralgic amyotrophy memiliki pola yang cukup khas meskipun dapat bervariasi antar individu. Gejala awal yang paling klasik adalah nyeri neurologis akut yang hebat di sekitar girdle bahu dan ekstremitas atas. Nyeri ini bersifat unilateral pada mayoritas kasus dan sering digambarkan sebagai nyeri menusuk, terbakar, atau seperti ditusuk. Nyeri biasanya muncul secara tiba-tiba dan mencapai intensitas puncak dalam beberapa jam hingga beberapa hari. Seiring dengan meredanya nyeri, kelemahan otot dan paresis mulai berkembang, biasanya dalam 1-2 minggu setelah onset nyeri. Kelemahan terutama mengenai otot-otot periskapular dan perihumeral, termasuk otot serratus anterior, trapezius, deltoid, dan rotator cuff. Atrofi otot menjadi evident dalam beberapa minggu hingga bulan jika tidak ditangani dengan tepat. Gejala sensorik seperti parestesia, hipoestesi, atau mati rasa dapat menyertai, meskipun biasanya tidak seberat gejala motorik. Pada beberapa kasus atipikal, kelemahan dapat terjadi tanpa didahului nyeri yang signifikan, seperti yang dilaporkan pada kasus wanita postpartum, yang dapat menunda diagnosis.

07

Diagnosis neuralgic amyotrophy primarily based on clinical evaluation melalui anamnesis komprehensif dan pemeriksaan neurologis. Namun, karena tidak ada tes diagnostik yang definitif, kondisi ini tetap merupakan diagnosis eksklusi. Pemeriksaan elektrofisiologis berupa elektroneuromiografi (ENMG) sangat penting untuk mengkonfirmasi keterlibatan pleksus brakialis dan mengidentifikasi pola denervasi atau demielinisasi. ENMG dapat menunjukkan potensial fibrilasi, gelombang positif tajam, dan penurunan pola rekrutmen motor unit pada otot yang terkena. Pencitraan dengan magnetic resonance imaging (MRI) pleksus brakialis dapat mengungkapkan edema, pembesaran, dan peningkatan sinyal pada pleksus yang terkena, yang mendukung diagnosis. Pemeriksaan laboratorium untuk menyingkirkan kondisi lain seperti diabetes, gangguan tiroid, dan penyakit autoimun juga diperlukan. Pada kasus atipikal atau diagnosis yang tidak pasti, biopsi saraf dapat dipertimbangkan, meskipun jarang dilakukan.

08

Diagnosis banding neuralgic amyotrophy cukup luas karena berbagai kondisi dapat menyerupai presentasi klinisnya. Cervical radiculopathy, terutama yang mengenai akar C5-C6, perlu disingkirkan karena dapat menyebabkan nyeri bahu dan kelemahan ekstremitas atas. Cervical spondylotic myelopathy juga perlu dipertimbangkan pada pasien usia lanjut dengan gejala neurologis yang progresif. Thoracic outlet syndrome dapat menyebabkan gejala serupa, terutama pada pasien dengan faktor risiko anatomis. Brachial plexitis akibat penyebab lain seperti trauma, neoplasma, atau radiasi juga harus dipertimbangkan. Peripheral neuropathy seperti chronic inflammatory demyelinating polyneuropathy (CIDP) dapat memiliki presentasi yang tumpang tindih. Myopathies seperti polymyositis atau dermatomyositis dapat menyebabkan kelemahan proksimal dan nyeri otot. Pada kasus dengan onset akut dan nyeri hebat, myocardial infarction atau dissecting aortic aneurysm harus disingkirkan terlebih dahulu karena merupakan kondisi darurat.

09

Tata laksana neuralgic amyotrophy bersifat suportif dan simptomatik, dengan tujuan meredakan nyeri, mempertahankan fungsi motorik, dan mencegah komplikasi. Terapi farmakologis meliputi penggunaan analgesik seperti parasetamol, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), dan pada kasus yang lebih berat, opioid atau obat neuropatik seperti gabapentin atau pregabalin. Kortikosteroid sistemik sering digunakan untuk mengurangi inflamasi dan edema pada pleksus brakialis, meskipun bukti ilmiah mengenai efektivitasnya masih terbatas. Terapi fisik dan rehabilitasi merupakan komponen krusial dalam tata laksana, meliputi latihan rentang gerak pasif dan aktif, penguatan otot secara bertahap, serta modalitas seperti terapi panas, dingin, dan stimulasi listrik. Pada kasus dengan kelemahan persisten, orthosis dapat direkomendasikan untuk mendukung fungsi ekstremitas. Terapi okupasi juga bermanfaat untuk membantu pasien mengembalikan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Pada kasus yang tidak responsif terhadap terapi konservatif, pilihan terapi lain seperti plasma exchange atau immunoglobulin intravena dapat dipertimbangkan, terutama pada kasus dengan komponen autoimun yang prominent.

10

Prognosis neuralgic amyotrophy bervariasi dan bergantung pada beberapa faktor termasuk usia onset, severitas gejala awal, dan kecepatan intervensi terapeutik. Secara umum, mayoritas pasien mengalami pemulihan fungsional yang signifikan dalam 1-3 tahun, meskipun beberapa dapat mempertahankan defisit residual. Nyeri akut biasanya mereda dalam beberapa minggu hingga bulan, namun kelemahan otot dan atrofi memerlukan waktu lebih lama untuk pulih. Sekitar 20-30% pasien mengalami episode berulang atau kronis yang memerlukan follow-up jangka panjang. Faktor prognostik yang kurang menguntungkan meliputi onset pada usia muda, keterlibatan bilateral, keterlibatan saraf diafragma, dan episode berulang. Prognosis terbaik terlihat pada pasien yang menerima intervensi dini dan program rehabilitasi yang komprehensif.

11

Neuralgic amyotrophy merupakan kondisi neurologis yang kompleks dan seringkali menantang dalam aspek diagnostik dan terapeutik. Pemahaman yang komprehensif mengenai presentasi klinis yang khas, yaitu nyeri akut yang diikuti kelemahan dan atrofi otot, sangat penting untuk diagnosis yang tepat waktu. Meskipun tidak ada tes diagnostik definitif, kombinasi anamnesis teliti, pemeriksaan neurologis, elektrofisiologi, dan pencitraan dapat membantu mengkonfirmasi diagnosis dan menyingkirkan kondisi serupa. Tata laksana yang optimal meliputi pendekatan multimodal yang menggabungkan terapi farmakologis, rehabilitasi fisik, dan edukasi pasien. Prognosis umumnya baik dengan intervensi yang tepat, meskipun beberapa pasien dapat mengalami defisit jangka panjang. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami patofisiologi yang mendasari dan mengembangkan strategi terapeutik yang lebih efektif untuk kondisi ini.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
. Clinico-diagnostic features of neuralgic amyotrophy in childhood
[2]
. NEURALGIC | English meaning - Cambridge Dictionary
[3]
. Painless Neuralgic Amyotrophy in Postpartum Woman: A Case Study...

🔗 Konten Terkait: G54.5

Pathway: Neuralgic Amyotrophy (G54.5) & SDKI