01 Pengertian
Hernia inguinal unilateral atau tidak spesifik dengan gangren (K40.4) adalah kondisi medis darurat di mana terdapat hernia inguinal yang terjadi pada satu sisi tubuh atau sisi yang tidak ditentukan, disertai dengan kematian jaringan (gangren) akibat suplai darah yang terganggu. Hernia inguinal terjadi ketika organ, biasanya usus, menonjol melalui titik lemah atau robekan di dinding perut bagian bawah, tepatnya di canalis inguinalis. Ketika hernia ini mengalami strangulasi dan suplai darah terputus sepenuhnya, jaringan akan mati dan mengalami gangren. Kondisi ini merupakan komplikasi serius yang memerlukan penanganan medis segera untuk mencegah sepsis, perforasi usus, dan kematian.
01 Gejala
Gejala hernia inguinal dengan gangren biasanya dimulai dengan tanda-tanda hernia inguinal biasa yang kemudian berkembang menjadi tanda-tanda kegawatan. Nyeri hebat yang tiba-tiba atau semakin memburuk di area selangkangan merupakan gejala utama. Benjolan di selangkangan yang sebelumnya dapat dimasukkan kembali (reposisi) menjadi keras, nyeri tekan, dan tidak dapat direduksi. Kulit di atas benjolan mungkin berubah warna menjadi merah tua, ungu, atau hitam. Gejala sistemik meliputi demam tinggi, menggigil, takikardia, mual, muntah, dan tanda-tanda sepsis. Pasien mungkin juga mengalami distensi abdomen, tidak bisa buang angin, dan jika tidak ditangani, dapat mengalami syok septik.
01 Penyebab
Hernia inguinal dengan gangren terjadi akibat komplikasi hernia inguinal yang tidak ditangani dengan baik. Penyebab utamanya adalah strangulasi hernia, di mana pembuluh darah yang supplying hernia terputus akibat penjepitan pada cincin hernia. Faktor risiko yang berkontribusi meliputi: penuaan yang menyebabkan melemahnya otot dan jaringan ikat dinding perut, aktivitas fisik berat yang meningkatkan tekanan intra-abdominal, batuk kronis, konstipasi kronis, kehamilan, obesitas, dan riwayat keluarga dengan hernia. Pada kasus tertentu, pertumbuhan jaringan ikat berlebih (adhesi) di dalam hernia dapat menjebak organ dan menyebabkan strangulasi.
01 Diagnosis
Diagnosis hernia inguinal dengan gangren dimulai dengan anamnesis lengkap mengenai keluhan, riwayat hernia sebelumnya, dan gejala sistemik. Pemeriksaan fisik mencakup inspeksi dan palpasi area selangkangan untuk menilai benjolan, warna kulit, dan nyeri tekan. Pemeriksaan tambahan yang penting meliputi: USG abdomen dan selangkangan untuk menilai isi hernia, viabilitas jaringan, dan adanya cairan bebas; foto rontgen abdomen untuk melihat tanda-tanda obstruksi usus; CT scan abdomen dengan kontras untuk konfirmasi diagnosis dan perencanaan operasi; dan laboratorium meliputi darah lengkap, CRP, prokalcitonin, dan laktat untuk menilai keparahan infeksi. Diagnosis banding meliputi hernia inguinal dengan obstruksi tanpa gangren (K40.3), hernia femoralis, limfadenopati inguinal, dan abses psoas.
01 Tatalaksana
Tatalaksana hernia inguinal dengan gangren bersifat mendesak dan memerlukan operasi segera. Prinsip utama adalah resusitasi cairan dan elektrolit, antibiotik spektrum luas parenteral, dan operasi darurat. Pilihan operasi meliputi: herniotomi dengan reseksi usus jika terdapat jaringan yang nekrotik, followed by hernioplasti untuk memperbaiki defek dinding abdomen; jika kondisi pasien tidak memungkinkan untuk operasi besar, dapat dilakukan prosedur Hartmann dengan kolostomi. Pada kasus tertentu, jika gangren terbatas dan viabilitas usus masih bisa dinilai, dokter mungkin melakukan observasi singkat sebelum memutuskan reseksi. Pasien pasca operasi memerlukan perawatan intensif jika terdapat tanda sepsis, monitoring ketat terhadap fungsi organ, dan nutrisi adekuat.
01 Pencegahan
Pencegahan hernia inguinal dengan gangren berfokus pada deteksi dini dan penanganan hernia sebelum terjadi komplikasi. Langkah-langkah preventif meliputi: pemeriksaan rutin untuk individu dengan faktor risiko tinggi; mengenali tanda-tanda awal hernia seperti benjolan di selangkangan yang muncul saat berdiri atau batuk; segera berkonsultasi dengan dokter bedah jika memiliki gejala hernia; menghindari mengangkat benda berat secara tiba-tiba; menjaga berat badan ideal untuk mengurangi tekanan intra-abdominal; mengobati batuk kronis dan konstipasi; serta melakukan modifikasi aktivitas untuk mengurangi tekanan pada dinding abdomen. Pasien dengan hernia yang sudah terdiagnosis harus memahami tanda-tanda bahaya yang memerlukan kunjungan segera ke unit gawat darurat.
01 Komplikasi
Komplikasi hernia inguinal dengan gangren sangat serius dan dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani segera. Komplikasi lokal meliputi nekrosis usus yang meluas, perforasi usus dengan peritonitis, dan abses lokal. Komplikasi sistemik meliputi sepsis dan syok septik akibat infeksi sistemik dari jaringan nekrotik, gagal organ multipel akibat sepsis, dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit akibat obstruksi, serta koagulopati intravaskular diseminata. Komplikasi pasca operasi dapat mencakup infeksi luka operasi, rekurensi hernia, cedera struktur sekitar seperti vas deferens atau pembuluh darah, dan komplikasi anestesi. Angka mortalitas meningkat signifikan jika terjadi keterlambatan penanganan lebih dari 6 jam.
01 Prognosis
Prognosis hernia inguinal dengan gangren bergantung pada beberapa faktor kritis. Faktor yang mempengaruhi prognosis baik meliputi: durasi gejala sebelum operasi kurang dari 6 jam, tidak adanya tanda-tanda sepsis atau gagal organ, viabilitas usus yang masih dapat dipertahankan, dan kondisi umum pasien sebelum sakit baik. Faktor yang memperburuk prognosis meliputi: keterlambatan diagnosis dan terapi, usia lanjut dengan komorbiditas, tanda-tanda sepsis berat atau syok, keterlibatan usus yang luas memerlukan reseksi besar, dan komplikasi seperti perforasi atau peritonitis. Dengan penanganan yang cepat dan tepat, angka survival dapat mencapai 90-95%, namun menurun drastis menjadi 50-60% jika sudah terjadi syok septik atau keterlambatan penanganan.
01 Epidemiologi
Hernia inguinal merupakan salah satu kondisi bedah paling umum di seluruh dunia. Insiden hernia inguinal secara keseluruhan adalah sekitar 1-2% pada populasi umum, dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 7:1 hingga 9:1. Hernia inguinal tidak langsung dengan gangren terjadi pada sekitar 0,2-0,4% dari semua kasus hernia inguinal, menjadikannya komplikasi yang relatif jarang namun sangat serius. Insiden strangulasi dengan gangren lebih tinggi pada hernia yang tidak direduksi, hernia yang sudah ada dalam waktu lama, dan pada populasi dengan akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan. Di negara berkembang, proporsi hernia dengan komplikasi strangulasi lebih tinggi dibandingkan negara maju karena keterlambatan penanganan.
01 Referensi
1. WHO. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems, 10th Revision (ICD-10). Geneva: World Health Organization; 2019.
2. Sabiston Textbook of Surgery: The Biological Basis of Modern Surgical Practice, 21st Edition. Elsevier; 2022.
3. Mayo Clinic. Inguinal Hernia. Available from: mayoclinic.org. Updated 2023.
4. European Hernia Society. Guidelines on the Treatment of Inguinal and Incisional Hernias. Hernia. 2018.
5. Simons MP, Aufenacker T, Bay-Nielsen M, et al. European Hernia Society Guidelines on the Treatment of Inguinal Hernia in Adult Patients. Hernia. 2009;13(4):343-403.
6. Malangoni MA, Rosen MJ. Hernias. In: Townsend CM, et al., editors. Sabiston Textbook of Surgery. 21st ed. Elsevier; 2022. p. 1095-1120.
2. Sabiston Textbook of Surgery: The Biological Basis of Modern Surgical Practice, 21st Edition. Elsevier; 2022.
3. Mayo Clinic. Inguinal Hernia. Available from: mayoclinic.org. Updated 2023.
4. European Hernia Society. Guidelines on the Treatment of Inguinal and Incisional Hernias. Hernia. 2018.
5. Simons MP, Aufenacker T, Bay-Nielsen M, et al. European Hernia Society Guidelines on the Treatment of Inguinal Hernia in Adult Patients. Hernia. 2009;13(4):343-403.
6. Malangoni MA, Rosen MJ. Hernias. In: Townsend CM, et al., editors. Sabiston Textbook of Surgery. 21st ed. Elsevier; 2022. p. 1095-1120.