MerlinDX Artikel N87.0
https://www.askep3s.org/21b46c3007/artikel/N87.0
Artikel Klinis ICD-10: N87.0

N87.0: Displasia Serviks Ringan (CIN 1) - Panduan Lengkap

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pendahuluan
  2. Definisi
  3. Epidemiologi
  4. Etiologi dan Faktor Risiko
  5. Patofisiologi
  6. Gejala Klinis
  7. Diagnosis
  8. Diagnosis Banding
  9. Tatalaksana
  10. Prognosis
  11. Komplikasi
  12. Pencegahan
  13. Kesimpulan

01 Pendahuluan

Displasia serviks ringan atau yang dikenal dengan istilah CIN 1 (Cervical Intraepithelial Neoplasia grade 1) merupakan kelainan preneoplastik pada serviks yang ditandai dengan adanya displasia sel epitel skuamosa yang terbatas pada sepertiga basal epitel. Kode ICD-10 untuk kondisi ini adalah N87.0. Displasia serviks ringan dianggap sebagai bentuk displasia serviks yang paling ringan dan memiliki potensi regresi yang tinggi dibandingkan dengan CIN 2 dan CIN 3. Pemahaman yang komprehensif mengenai kondisi ini sangat penting untuk menentukan strategi penatalaksanaan yang tepat dan mencegah progresi menjadi kanker serviks.

01 Definisi

Displasia serviks ringan (CIN 1) adalah kondisi patologis di mana terdapat pertumbuhan sel abnormal pada epitel skuamosa serviks yang terbatas pada sepertiga bagian basal (dasar) dari epitel. Perubahan seluler ini ditandai dengan adanya sel-sel yang menunjukkan atipia nuklear ringan hingga sedang, namun arsitektur lapisan epitel masih relatif terjaga. CIN 1 merupakan tingkatan terendah dari tiga grade Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN), di mana CIN 2 menunjukkan keterlibatan dua pertiga epitel dan CIN 3 (karsinoma in situ) menunjukkan keterlibatan lebih dari dua pertiga lapisan epitel. Secara histopatologis, CIN 1 juga sering disebut sebagai displasia ringan atau neoplasia intraepitelial serviks derajat satu.

01 Epidemiologi

Displasia serviks ringan merupakan temuan yang cukup umum dalam praktik ginekologi. Di seluruh dunia, insiden CIN 1 berkisar antara 0,5 hingga 5% dari seluruh skrining Pap smear. Kondisi ini paling sering terdeteksi pada wanita usia reproduktif, dengan puncak insiden pada kelompok usia 25-35 tahun. Di Indonesia, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, kanker serviks menduduki peringkat kedua sebagai kanker paling umum pada wanita, dan deteksi dini lesi preneoplastik termasuk CIN 1 menjadi sangat krusial dalam program pencegahan. Faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap kejadian CIN 1 meliputi infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe risiko rendah dan risiko tinggi, perilaku seksual yang berisiko tinggi, merokok, imunosupresi, dan kurangnya akses terhadap skrining serviks yang adekuat.

01 Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab utama displasia serviks ringan adalah infeksi kronis oleh Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe onkogenik seperti HPV 16, 18, 31, 33, dan 45. Namun, CIN 1 lebih sering dikaitkan dengan infeksi HPV tipe risiko rendah hingga menengah seperti HPV 6, 11, 42, 43, dan 44. Faktor-faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan berkembangnya CIN 1 meliputi: (1) Infeksi HPV persisten yang tidak tereliminasi oleh sistem imun tubuh; (2) Usia muda saat pertama kali melakukan hubungan seksual; (3) Banyaknya jumlah pasangan seksual; (4) Merokok yang meningkatkan konsentrasi karsinogen pada mukosa serviks; (5) Status imunodefisiensi seperti pada pasien HIV/AIDS atau yang menjalani transplantasi organ; (6) Penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang; (7) Riwayat infeksi menular seksual sebelumnya; (8) Kurangnya asupan vitamin A, C, dan E; serta (9) Riwayat persalinan multiparitas.

01 Patofisiologi

Patofisiologi displasia serviks ringan dimulai dari infeksi HPV pada sel epitel skuamosa serviks melalui mikrolesi pada permukaan epitel. Virus HPV kemudian menginvasi sel basal epitel dan mengintegrasikan materi genetiknya ke dalam genom sel inang. Onkoprotein E6 dan E7 dari HPV berperan kunci dalam transformasi seluler. Onkoprotein E6 berikatan dengan protein p53 yang merupakan suppressor tumor, menyebabkan degradasi p53 melalui jalur ubiquitin-proteasom sehingga menghambat apoptosis dan penghentian siklus sel. Sementara itu, onkoprotein E7 berikatan dengan protein retinoblastoma (pRb), mengganggu fungsi pRb dalam regulasi siklus sel, sehingga sel terus berproliferasi tanpa kontrol. Pada CIN 1, perubahan displastik terbatas pada sepertiga basal epitel dengan mempertahankan lapisan sel matur di permukaannya. Hal ini menunjukkan bahwa proses transformasi maligna masih dalam tahap awal dan reversibel, terutama jika infeksi HPV berhasil dieliminasi oleh sistem imun宿主.

01 Gejala Klinis

Displasia serviks ringan umumnya bersifat asimtomatik, artinya sebagian besar wanita dengan CIN 1 tidak merasakan keluhan atau gejala spesifik. Kondisi ini biasanya terdeteksi secara kebetulan melalui skrining rutin seperti Pap smear atau inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Pada beberapa kasus, pasien mungkin mengeluhkan keputihan abnormal (vaginal discharge) yang tidak khas, perdarahan vagina yang tidak normal di luar siklus menstruasi, perdarahan setelah hubungan seksual (postcoital bleeding), atau nyeri panggul ringan. Namun, gejala-gejala ini tidak spesifik untuk CIN 1 dan dapat disebabkan oleh kondisi ginekologi lainnya. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan skrining rutin meskipun tidak ada keluhan, terutama pada wanita yang aktif secara seksual.

01 Diagnosis

Diagnosis displasia serviks ringan ditegakkan melalui serangkaian pemeriksaan yang meliputi: (1) Anamnesis lengkap mengenai riwayat seksual, riwayat kontrasepsi, merokok, dan riwayat penyakit sebelumnya; (2) Pemeriksaan fisik termasuk inspeksi vulva dan pemeriksaan dalam (vaginal toucher); (3) Pap smear (sitologi serviks) yang menunjukkan sel-sel skuamosa atipik dengan perubahan displastik ringan; (4) Kolposkopi yang memungkinkan visualisasi langsung serviks dengan pembesaran setelah aplikasi asam asetat 3-5%, di mana CIN 1 tampak sebagai lesi putih tipis dengan batas yang tidak jelas; (5) Biopsi serviks terpandu kolposkopi untuk konfirmasi histopatologis, yang merupakan gold standard diagnosis; (6) Tes HPV DNA untuk mendeteksi adanya infeksi HPV onkogenik; serta (7) Kuretase endoserviks (ECC) untuk menyingkirkan keterlibatan kelenjar. Hasil histopatologi akan menunjukkan displasia yang terbatas pada sepertiga basal epitel skuamosa dengan sel-sel yang menunjukkan peningkatan rasio nukleus-sitoplasma dan hiperkromasia nuklear ringan hingga sedang.

01 Diagnosis Banding

Diagnosis banding untuk displasia serviks ringan meliputi beberapa kondisi yang dapat memberikan gambaran klinis dan histologis serupa, antara lain: (1) Ektopion serviks (erosi serviks) yang merupakan kondisi fisiologis di mana epitel columnar endoserviks meluas ke ektoserviks; (2) Infeksi serviks oleh Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrhoeae yang dapat menyebabkan perubahan inflamasi pada epitel; (3) Trichomoniasis vaginalis yang menyebabkan perubahan seluler atipik; (4) Infeksi HPV jinak yang menyebabkan kondiloma akuminata; (5) Metaplasia skuamosa yang merupakan proses fisiologis normal pada zona transformasi serviks; (6) Displasia serviks sedang (CIN 2) dan berat (CIN 3) yang menunjukkan tingkat displasia lebih tinggi; (7) Karsinoma sel skuamosa invasif serviks; (8) Adenokarsinoma in situ serviks; serta (9) Perubahan seluler reaktif akibat inflamasi atau trauma. Pemeriksaan histopatologis yang adekuat sangat penting untuk membedakan CIN 1 dari kondisi-kondisi tersebut.

01 Tatalaksana

Penatalaksanaan displasia serviks ringan (CIN 1) bergantung pada beberapa faktor termasuk usia pasien, status HPV, hasil kolposkopi sebelumnya, dan preferensi pasien. Pendekatan konservatif dengan observasi direkomendasikan untuk sebagian besar kasus CIN 1 karena tingkat regresi spontan yang tinggi (sekitar 60-90%). Strategi tatalaksana meliputi: (1) Observasi dengan Pap smear ulang dan kolposkopi setiap 12 bulan selama 2 tahun untuk memantau kemungkinan regresi atau progresi; (2) Tes ko-testasi (Pap smear + HPV testing) setiap 3 tahun untuk wanita usia 30 tahun ke atas; (3) Prosedur ablasi seperti krioterapi (pembekuan dengan nitrogen cair), elektrokauterisasi, atau ablasi laser untuk lesi yang persisten atau menunjukkan progresi; (4) Prosedur eksisi seperti LEEP (Loop Electrosurgical Excision Procedure) atau konisasi untuk kasus dengan hasil biopsi yang meragukan atau lesi yang luas; (5) Pada wanita immunocompromised atau dengan lesi persisten, penatalaksanaan lebih agresif mungkin diperlukan; serta (6) Konseling tentang penghentian merokok dan praktik seks aman untuk mengurangi faktor risiko.

01 Prognosis

Prognosis displasia serviks ringan umumnya sangat baik. Sebagian besar kasus CIN 1 (sekitar 60-90%) akan mengalami regresi spontan dalam 1-2 tahun tanpa intervensi, terutama jika infeksi HPV berhasil dieliminasi oleh sistem imun tubuh. Namun, sekitar 10-20% kasus CIN 1 dapat menetap (persist) dan sekitar 5-10% dapat menunjukkan progresi ke CIN 2 atau CIN 3 dalam waktu 2 tahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi: (1) Status imunologi宿主 - pasien immunocompetent memiliki kemungkinan regresi lebih tinggi; (2) Kepatuhan terhadap follow-up - sangat penting untuk mendeteksi progresi dini; (3) Kualitas kolposkopi dan biopsi untuk menyingkirkan CIN 2+ yang terlewat; (4) Status HPV - infeksi HPV persisten meningkatkan risiko progresi; serta (5) Faktor gaya hidup seperti penghentian merokok yang dapat meningkatkan kemungkinan regresi. Dengan penatalaksanaan yang tepat dan follow-up yang teratur, prognosis jangka panjang sangat menguntungkan.

01 Komplikasi

Meskipun displasia serviks ringan memiliki prognosis yang baik, beberapa komplikasi dapat terjadi jika kondisi ini tidak ditangani dengan tepat. Komplikasi utama meliputi: (1) Progresi ke CIN 2 atau CIN 3 yang merupakan lesi preneoplastik dengan risiko lebih tinggi menjadi kanker serviks invasif; (2) Keterlambatan diagnosis jika pasien tidak menjalani skrining rutin dan follow-up yang adekuat; (3) Kecemasan dan stres psikologis yang terkait dengan diagnosis displasia dan kekhawatiran akan kanker; (4) Komplikasi dari prosedur terapi seperti perdarahan, infeksi, atau stenosis serviks pasca ablasi atau eksisi; (5) Insufisiensi serviks pada wanita yang menjalani konisasi luas dan merencanakan kehamilan di kemudian hari; (6) Risiko persalinan preterm pada wanita yang menjalani prosedur eksisi serviks; serta (7) Biaya kesehatan yang signifikan jika memerlukan prosedur diagnostik dan terapeutik berulang. Edukasi pasien yang komprehensif sangat penting untuk mencegah komplikasi dan memastikan kepatuhan terhadap follow-up.

01 Pencegahan

Pencegahan displasia serviks ringan dan progresinya dapat dilakukan melalui beberapa strategi: (1) Vaksinasi HPV - vaksin bivalen (HPV 16, 18) dan quadrivalen (HPV 6, 11, 16, 18) direkomendasikan untuk gadis dan wanita usia 9-26 tahun, sedangkan vaksin nonavalen direkomendasikan hingga usia 45 tahun; (2) Skrining rutin - Pap smear setiap 3 tahun untuk wanita usia 21-65 tahun, atau ko-testasi (Pap smear + HPV) setiap 5 tahun untuk wanita usia 30-65 tahun; (3) Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) sebagai alternatif skrining di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan sumber daya; (4) Menghindari faktor risiko - berhenti merokok, membatasi jumlah pasangan seksual, menggunakan kondom; (5) Penguatan sistem imun melalui pola makan seimbang, olahraga teratur, dan manajemen stres; (6) Edukasi kesehatan reproduksi kepada masyarakat tentang pentingnya deteksi dini; serta (7) Pengobatan tepat waktu untuk infeksi HPV dan kondisi preneoplastik yang terdeteksi.

01 Kesimpulan

Displasia serviks ringan (CIN 1, ICD-10: N87.0) merupakan kelainan preneoplastik yang paling ringan dengan prognosis sangat baik. Kondisi ini disebabkan terutama oleh infeksi HPV dan umumnya asimtomatik, sehingga deteksi dini melalui skrining rutin sangat krusial. Meskipun CIN 1 memiliki tingkat regresi spontan yang tinggi, follow-up yang teratur tetap diperlukan untuk memantau kemungkinan progresi. Penatalaksanaan konservatif dengan observasi direkomendasikan untuk mayoritas kasus, dengan intervensi terapeutik dilakukan hanya pada kasus persisten atau progresif. Pencegahan primer melalui vaksinasi HPV dan pencegahan sekunder melalui skrining rutin merupakan strategi kunci dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas terkait kanker serviks. Edukasi pasien dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan serviks sangat penting untuk keberhasilan program pencegahan.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
WHO. Cervical Cancer - Key Facts. Geneva: World Health Organization; 2023.
[2]
American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 168: Cervical Cancer Screening and Prevention. Obstet Gynecol. 2016;128(4):e111-e130.
[3]
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Program Nasional Deteksi Dini Kanker Leher Rahim. Jakarta: Kemenkes RI; 2022.
[4]
Kumar V, Abbas AK, Aster JC. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease. 10th ed. Philadelphia: Elsevier; 2021.
[5]
Nucci MR, Crum CP. Redefining Early Cervical Neoplasia: The Role of Cervical Intraepithelial Neoplasia. Am J Surg Pathol. 2020;44(5):e45-e54.

🔗 Konten Terkait: N87.0

Pathway: N87.0 Mild Cervical Dysplasia & SDKI