MerlinDX Artikel A22.0
https://www.askep3s.org/21d20cd68f/artikel/A22.0
Artikel Klinis ICD-10: A22.0

A22.0: Antrax Kutanea (Cutaneous Anthrax)

6 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian
  2. Epidemiologi
  3. Etiologi dan Faktor Risiko
  4. Patofisiologi
  5. Gejala dan Tanda
  6. Diagnosis
  7. Diagnosis Banding
  8. Tata Laksana
  9. Komplikasi
  10. Prognosis
  11. Pencegahan
  12. Referensi

01 Pengertian

Antraks kutanea adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis, merupakan bentuk paling umum dari penyakit antraks yang menyumbang sekitar 95% dari semua kasus antraks. Infeksi ini terjadi ketika spora Bacillus anthracis masuk ke dalam tubuh melalui luka atau lecet pada kulit. Antraks kutanea juga dikenal sebagai cutaneous anthrax, antraks kulit, atau malignant pustule. Penyakit ini dapat berkembang menjadi bentuk yang lebih berat jika tidak ditangani dengan tepat, meskipun tingkat fatalitasnya lebih rendah dibandingkan antraks inhalasi atau gastrointestinal.

01 Epidemiologi

Antraks kutanea merupakan penyakit zoonosis yang sporadik dan endemik di daerah pedesaan dengan populasi hewan ternak yang tidak divaksinasi. Penyakit ini lebih sering terjadi di negara berkembang terutama di Asia Tengah, Afrika, dan beberapa wilayah di Indonesia. Kasus antraks kutanea umumnya terkait dengan paparan terhadap hewan-hewan yang terinfeksi seperti sapi, kambing, domba, dan kuda. Pekerja yang menangani produk hewan seperti wol, kulit, dan tulang memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi ini. Insiden tertinggi biasanya terjadi pada musim panas ketika kontak antara manusia dan hewan meningkat.

01 Etiologi dan Faktor Risiko

Antraks kutanea disebabkan oleh Bacillus anthracis, bakteri gram-positif, aerob, membentuk spora, dan bersifat kapsul. Faktor risiko utama meliputi kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau produk hewan yang terkontaminasi seperti kulit, wol, tulang, dan produk daging. Pekerja pada industri tekstil, peternak, dokter hewan, dan laboratorium mikrobiologi memiliki risiko tinggi. Luka atau lecet pada kulit memudahkan spora masuk ke dalam tubuh. Faktor risiko tambahan meliputi tinggal di daerah endemik, tidak adanya program vaksinasi hewan, dan penanganan bangkai hewan yang mati akibat antraks tanpa perlindungan diri yang memadai.

01 Patofisiologi

Spora Bacillus anthracis masuk ke dalam tubuh melalui luka atau lecet pada kulit dan kemudian berkecambah menjadi bentuk vegetatif di jaringan subkutan. Bakteri ini menghasilkan tiga faktor virulensi utama yaitu kapsul poliglutamat, eksotoksin kompleks (edema factor dan lethal factor), serta antigen pelindung. Kapsul membantu bakteri menghindari fagositosis oleh sel imun宿主. Eksotoksin menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular sehingga menimbulkan edema, nekrosis jaringan, dan pembentukan lesi kulit karakteristik. Respons inflamasi lokal yang tidak adekuat memungkinkan bakteri berkembang biak dan menyebar. Pada kasus yang jarang, bakteri dapat masuk ke sirkulasi darah menyebabkan bakteremia dan sepsis.

01 Gejala dan Tanda

Masa inkubasi antraks kutanea berkisar antara 1 hingga 12 hari dengan rata-rata 2 hingga 5 hari. Gejala awal berupa papul pruritus pada area paparan yang kemudian berkembang menjadi vesikel dalam 1-2 hari. Lesi primer berubah menjadi ulkus dengan dasar hitam nekrotik yang dikelilingi edema lokal yang luas dan tidak nyeri. Karakteristik khas adalah absennya nyeri lokal meskipun lesi tampak berat. Edema progresif dapat meluas jauh dari lesi primer. Gejala sistemik yang mungkin menyertai meliputi demam, malaise, cephalgia, dan limfadenopati regional. Pada kasus yang tidak ditangani, lesi dapat berkembang menjadi eschar hitam yang luas dengan pembentukan bulla serohemoragik di sekitarnya.

01 Diagnosis

Diagnosis antraks kutanea didasarkan pada anamnesis yang cermat mengenai paparan terhadap hewan atau produk hewan, pemeriksaan fisik lesi kulit yang karakteristik, dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan mikroskopis dengan pewarnaan Gram dari swab lesi atau jaringan biopsi dapat menunjukkan basil gram-positif besar dalam rantai. Kultur bakteri pada media Blood Agar menunjukkan koloni non-hemolitik dengan tepi irregular. Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat mendeteksi gen virulensi Bacillus anthracis seperti gen pag, cap, dan lef. Pemeriksaan histopatologi jaringan menunjukkan nekrosis koagulatif dengan infiltrat neutrofil dan basil yang tampak jelas pada pewarnaan perak. Pemeriksaan serologi dapat menunjukkan peningkatan antibodi terhadap antigen pelindung.

01 Diagnosis Banding

Diagnosis banding antraks kutanea meliputi beberapa kondisi kulit yang memiliki kemiripan tampilan klinis. Furunkulosis dan abses kulit akibat Staphylococcus aureus dapat menunjukkan lesi nodular dengan pustula di atasnya. Ulkus kulit yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa (ecthyma gangrenosum) biasanya terjadi pada pasien immunocompromised. Ulkus kulit akibat Mycobacterium ulcerans (Buruli ulcer) memiliki perjalanan lebih lambat dengan destruksi jaringan subkutan yang luas. Infeksi kulit oleh Streptococcus pyogenes dapat menunjukkan lesi erisipelas atau selulitis. Cacingan cutaneous larva migrans menunjukkan lesi yang bergerak dan pruritus. Selain itu, perlu dibedakan dengan ulkus kulit akibat Leishmania, sporotrikosis limfatik, dan plague kutanea.

01 Tata Laksana

Terapi antibiotik lini pertama untuk antraks kutanea adalah Ciprofloxacin 500 mg orally dua kali sehari selama 60 hari untuk dewasa atau 10-20 mg/kgBB dua kali sehari untuk anak-anak dengan dosis maksimal 1 gram per hari. Alternatif lainnya adalah Doxycycline 100 mg orally dua kali sehari untuk dewasa. Pada kasus dengan edema luas atau lesi di area kepala dan leher, direkomendasikan kombinasi dengan Benzylpenicillin 2-4 juta unit intravena setiap 4 jam. Terapi suportif meliputi perawatan luka dengan kompres basah steril dan analgesik jika diperlukan. Kortikosteroid sistemik dapat dipertimbangkan pada kasus dengan edema yang mengancam jalan napas. Penting untuk melakukan isolasi kontak dan dekontaminasi lingkungan. Pasien harus tetap dalam pengawasan selama 60 hari untuk mencegah perkembangan menjadi antraks sistemik.

01 Komplikasi

Komplikasi antraks kutanea dapat terjadi jika penyakit tidak ditangani dengan tepat atau pada pasien dengan gangguan imun. Sepsis antraks merupakan komplikasi berat yang terjadi ketika bakteri masuk ke sirkulasi darah menyebabkan bakteremia dan syok septik. Meningitis antraks dapat berkembang sebagai komplikasi sekunder dengan tingkat mortalitas yang sangat tinggi. Edema maligna dapat meluas ke jaringan lunak sekitar menyebabkan kompartemen sindrom. Infeksi sekunder pada lesi kulit dapat terjadi terutama pada pasien dengan diabetes atau gangguan vaskular. Lymphangitis dan lymphadenitis regional dapat terjadi sebagai perluasan infeksi. Pada kasus yang jarang, dapat terjadi antraks pulmoner sekunder akibat penyebaran hematogen.

01 Prognosis

Prognosis antraks kutanea umumnya baik jika diagnosis ditegakkan secara dini dan terapi antibiotik dimulai segera. Dengan pengobatan yang adekuat, angka kesembuhan mendekati 100% dan angka kematian kurang dari 1%. Prognosis menjadi kurang baik pada pasien dengan sistem imun yang terganggu, usia lanjut, atau memiliki komorbiditas berat. Keterlambatan diagnosis dan terapi dapat meningkatkan risiko komplikasi sistemik. Lesi yang luas dengan edema progresif menunjukkan prognosis yang lebih buruk. Prognosis juga bergantung pada lokasi lesi dimana lesi di area kepala dan leher memiliki risiko lebih tinggi untuk komplikasi berat. Edukasi pasien mengenai kepatuhan minum obat selama 60 hari sangat penting untuk mencegah kekambuhan.

01 Pencegahan

Pencegahan antraks kutanea meliputi beberapa strategi yang saling melengkapi. Vaksinasi hewan ternak secara rutin merupakan langkah paling efektif untuk mengendalikan penyakit pada hewan sumber infeksi. Penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker, dan baju pelindung saat menangani hewan sakit atau produk hewan sangat dianjurkan. Hindari kontak dengan hewan yang mati mendadak atau menunjukkan tanda-tanda penyakit antraks. Masak daging hingga matang sempurna sebelum dikonsumsi. Dekontaminasi lingkungan dengan formaldehid atau senyawa klorin dapat membunuh spora Bacillus anthracis. Edukasi masyarakat di daerah endemik mengenai cara penularan dan pencegahan penyakit ini sangat penting. Pekerja berisiko tinggi sebaiknya mendapatkan vaksinasi antraks pra pajanan.

01 Referensi

1. World Health Organization. Anthrax in humans and animals. 4th edition. Geneva: WHO; 2023.
2. Centers for Disease Control and Prevention. Cutaneous Anthrax: Clinical Presentation. Atlanta: CDC; 2022.
3. Turnbull PC. Bacillus anthracis. In: Mandell, Douglas, and Bennett's Principles and Practice of Infectious Diseases. 9th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.
4. Indonesian Ministry of Health. Pedoman Pengendalian Antraks. Jakarta: Kemenkes RI; 2021.
5. Doganay M, Metan G, Alp E. A review of cutaneous anthrax and its outcome. J Infect Public Health. 2020;13(5):785-790.
6. Hendricks KA, Wright ME, Shadomy SV, et al. Centers for disease control and prevention clinical guidelines for diagnosis and treatment of cutaneous anthrax. Clin Infect Dis. 2022;75(2):255-265.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: A22.0

Pathway: Cutaneous Anthrax (A22.0) & SDKI