MerlinDX Artikel M63.0
https://www.askep3s.org/2229eda1fd/artikel/M63.0
Artikel Klinis ICD-10: M63.0

M63.0: Myositis pada Penyakit Bakteri yang Dikelompokkan di Tempat Lain

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Bagian 1
  2. Bagian 2
  3. Bagian 3
  4. Bagian 4
  5. Bagian 5
  6. Bagian 6
  7. Bagian 7
  8. Bagian 8
  9. Bagian 9
  10. Bagian 10
  11. Bagian 11
  12. Bagian 12
  13. Bagian 13

01

Myositis adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan peradangan pada otot skeletum. Kondisi ini menyebabkan kerusakan pada serat otot akibat proses inflamasi, yang mengganggu kemampuan otot untuk berkontraksi secara normal. Myositis dapat mempengaruhi satu otot atau beberapa otot sekaligus, dan dalam beberapa kasus dapat menyerang seluruh tubuh. Myositis termasuk dalam kelompok penyakit autoimun inflamasi yang dikenal sebagai miopati inflamasi idiopatik (IIM). Meskipun myositis dapat menyebabkan nyeri dan nyeri tekan pada otot, kelemahan otot biasanya merupakan gejala yang paling dominan. Myositis dapat terjadi akibat berbagai penyebab termasuk infeksi bakteri, virus, penyakit autoimun, cedera, reaksi obat, atau gangguan otot bawaan.

02

Myositis dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebab dan karakteristik klinisnya. Dermatomyositis adalah jenis myositis yang ditandai dengan peradangan otot disertai ruam kulit. Polymyositis melibatkan peradangan pada multiple otot skeletal tanpa ruam kulit yang signifikan. Inclusion body myositis adalah bentuk myositis kronis yang umumnya menyerang orang tua dan ditandai dengan kelemahan otot progresif. Myositis infeksius terjadi akibat infeksi bakteri, virus, atau parasit yang menyerang jaringan otot. Myositis terkait obat adalah peradangan otot yang disebabkan oleh reaksi terhadap obat-obatan tertentu seperti statin. Necrotizing autoimmune myopathy adalah bentuk myositis yang jarang dengan kerusakan otot yang signifikan dan autoantibodi spesifik.

03

Myositis yang terkait dengan penyakit bakteri atau M63.0 dalam ICD-10 merujuk pada kondisi myositis yang terjadi sebagai komplikasi dari infeksi bakteri yang diklasifikasikan di tempat lain dalam sistem klasifikasi penyakit. Berbagai bakteri dapat menyebabkan myositis termasuk Staphylococcus aureus yang merupakan penyebab tersering myositis piogenik, Streptococcus pyogenes yang dapat menyebabkan myositis necrotizing, Clostridium perfringens penyebab gas gangren yang juga dapat menyerang otot, Mycoplasma pneumoniae yang dapat menyebabkan myositis sebagai komplikasi infeksi saluran pernapasan, dan bakteri anaerob lainnya. Infeksi bakteri dapat mencapai jaringan otot melalui penyebaran hematogen (melalui darah), perluasan langsung dari infeksi jaringan sekitar, atau melalui trauma yang menembus kulit. Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan berkembangnya myositis bakteri meliputi gangguan sistem imun, diabetes mellitus, penggunaan obat imunosupresan, cedera otot sebelumnya, dan kondisi kulit yang rusak.

04

Patofisiologi myositis pada penyakit bakteri melibatkan beberapa mekanisme yang saling terkait. Infeksi bakteri pada otot memicu respons imun tubuh yang menghasilkan peradangan lokal. Sel-sel inflamasi seperti neutrofil, makrofag, dan limfosit diaktifkan untuk melawan infeksi, namun proses ini juga menyebabkan kerusakan pada jaringan otot yang sehat. Bakteri patogen dapat memproduksi toksin yang langsung merusak serat otot, sementara respons inflamasi yang berlebihan dapat menyebabkan edema dan peningkatan tekanan dalam kompartemen otot. Dalam kasus myositis necrotizing, infeksi oleh bakteri Clostridium dan Streptococcus menghasilkan gas dan nekrosis jaringan yang cepat. Mycoplasma pneumoniae menyebabkan myositis melalui mekanisme autoimun di mana antibodi terhadap bakteri juga menyerang jaringan otot. Proses peradangan yang berkepanjangan dapat menyebabkan fibrosis otot dan gangguan fungsi otot permanen jika tidak ditangani dengan tepat.

05

Gejala myositis dapat bervariasi tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan kondisi. Kelemahan otot merupakan gejala utama yang biasanya bersifat progresif dan symmetric, sering dimulai dari otot-otot proximal seperti bahu, pinggul, dan paha. Nyeri otot atau mialgia dapat terjadi terutama pada myositis akut yang disebabkan oleh infeksi. Kelelahan yang berlebihan dan penurunan toleransi aktivitas fisik sering dilaporkan oleh pasien. Demam dan menggigil dapat menyertai myositis yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti naik tangga, mengangkat benda, atau bangun dari posisi duduk. Dalam beberapa kasus, dapat terjadi pembengkakan dan kemerahan pada otot yang terkena. Gejala sistemik seperti penurunan berat badan, kelelahan umum, dan demam ringan juga dapat ditemukan. Pada myositis yang melibatkan otot pernapasan, dapat terjadi sesak napas dan kesulitan bernapas.

06

Diagnosis myositis memerlukan pendekatan yang komprehensif meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan investigations penunjang. Pemeriksaan fisik meliputi evaluasi kekuatan otot, penilaian reflex, dan pencarian tanda-tanda peradangan atau ruam kulit. Pemeriksaan laboratorium meliputi Creatine Kinase (CK) yang biasanya meningkat pada myositis aktif, LED dan CRP yang meningkat sebagai penanda inflamasi, hitung darah lengkap untuk menilai tanda-tanda infeksi, dan antibody testing untuk autoantibodi spesifik seperti anti-Jo-1, anti-Mi-2, anti-SRP. Elektromiografi (EMG) dapat menunjukkan pola myopathic dengan fibrilasi dan potensial aksi unit motorik pendek. Pencitraan dengan MRI otot dapat menunjukkan edema dan inflamasi pada otot yang terkena, serta membantu menentukan lokasi biopsi. Biopsi otot merupakan gold standard untuk diagnosis konfirmasi yang menunjukkan infiltrat inflamasi, nekrosis serat otot, dan regenerasi. Kultur jaringan dan darah diperlukan untuk mengidentifikasi bakteri penyebab pada myositis infeksius.

07

Pemeriksaan penunjang spesifik untuk myositis terkait penyakit bakteri meliputi beberapa tes diagnostik. Kultur darah sangat penting untuk mengidentifikasi bakteriemia atau sepsis yang menyertai myositis. Kultur jaringan otot dari biopsi dapat mengidentifikasi agen bakteri penyebab secara definitif. Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) dapat mendeteksi materi genetik bakteri bahkan ketika kultur negatif. Serologi untuk Mycoplasma pneumoniae dan bakteri lain dapat menunjukkan bukti infeksi sebelumnya atau aktif. Procalcitonin adalah penanda yang lebih spesifik untuk infeksi bakteri dibandingkan CRP. Pemeriksaan pencitraan lanjutan seperti CT scan atau MRI dapat menilai luasnya infeksi dan komplikasi seperti abses otot atau necrotizing fasciitis. Dalam kasus yang tidak responsif terhadap terapi, pemeriksaan genetik dan molekuler dapat membantu mengidentifikasi patogen yang tidak biasa.

08

Penatalaksanaan myositis memerlukan pendekatan yang disesuaikan dengan penyebab yang mendasari. Untuk myositis bakteri, antibiotik merupakan terapi utama yang harus diberikan segera setelah diagnosis dicurigai. Pemilihan antibiotik didasarkan pada hasil kultur dan sensitivitas, namun terapi empiris sering dimulai dengan antibiotik spektrum luas. Antibiotik intravena biasanya diperlukan untuk myositis yang berat dengan dosis tinggi. Durasi terapi antibiotik umumnya 2-6 minggu tergantung pada respons klinis dan keparahan infeksi. Drainase bedah diperlukan untuk myositis dengan abses atau nekrosis jaringan. Terapi suportif meliputi istirahat, imobilisasi anggota tubuh yang terkena, dan manajemen nyeri. Fisioterapi bertahap direkomendasikan setelah fase akut untuk memulihkan kekuatan dan fungsi otot. Pada kasus myositis autoimun yang menyertai, kortikosteroid dan imunosupresan mungkin diperlukan.

09

Myositis dapat menyebabkan berbagai komplikasi jika tidak ditangani dengan tepat. Komplikasi lokal meliputi abses otot yang memerlukan drainase bedah, nekrosis otot yang dapat menyebabkan kerusakan permanen, dan fibrosis otot yang mengganggu fungsi. Komplikasi sistemik meliputi sepsis yang dapat mengancam jiwa, gagal napas akibat keterlibatan otot diafragma dan interkostal, tromboemboli vena, dan infeksi menyebar ke tulang (osteomyelitis). Komplikasi jangka panjang meliputi kelemahan otot persisten, atropi otot, keterbatasan fungsional, dan gangguan menelan (disfagia) jika otot-otot faring terlibat. Pada kasus yang berat, myositis necrotizing dapat berkembang menjadi gangren dan memerlukan amputasi. Komplikasi dari terapi seperti efek samping antibiotik jangka panjang atau kortikosteroid juga perlu diperhatikan.

10

Prognosis myositis sangat bervariasi tergantung pada penyebab, keparahan, dan ketepatan waktu pengobatan. Myositis bakteri yang didiagnosis dini dan ditangani dengan antibiotik yang tepat memiliki prognosis yang baik dengan pemulihan penuh pada sebagian besar kasus. Myositis yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus atau bakteri piogenik lainnya memerlukan terapi yang lebih agresif dan waktu pemulihan yang lebih lama. Myositis necrotizing memiliki prognosis yang lebih buruk dengan tingkat mortalitas yang signifikan tanpa intervensi bedah segera. Myositis terkait Mycoplasma pneumoniae umumnya memiliki prognosis baik dengan pemulihan lengkap setelah infeksi primer teratasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis buruk meliputi keterlambatan diagnosis, kondisi imunocompromised, diabetes, dan keterlibatan organ vital. Pemulihan fungsi otot dapat memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah terapi dimulai.

11

Pencegahan myositis terutama berfokus pada pencegahan dan penanganan cepat infeksi bakteri yang dapat menyebabkannya. Menjaga kebersihan diri dengan cuci tangan yang tepat dan teratur dapat mencegah infeksi bakteri. Perawatan luka yang adekuat sangat penting untuk mencegah infeksi menembus ke jaringan otot. Vaksinasi terhadap bakteri patogen seperti Streptococcus pneumoniae dapat mengurangi risiko infeksi sistemik. Pengelolaan kondisi medis yang baik seperti diabetes dan penyakit vaskular dapat mengurangi risiko komplikasi infeksi. Menghindari penggunaan obat-obatan yang dapat menekan sistem imun tanpa indikasi medis yang tepat. Peningkatan kesadaran tentang tanda-tanda awal myositis dapat membantu deteksi dini dan pengobatan lebih cepat. Pada pasien dengan faktor risiko tinggi, monitoring rutin dan edukasi tentang gejala yang perlu dilaporkan sangat penting.

12

Diagnosis banding myositis sangat luas dan memerlukan evaluasi hati-hati untuk membedakan dari kondisi lain. Polymyalgia rheumatica menyebabkan nyeri dan kekakuan pada otot bahu dan pinggul tanpa kelemahan yang nyata. Fibromyalgia ditandai dengan nyeri otot difus dengan titik-titik tender tetapi tanpa kelemahan objektif. Hipotiroidisme dapat menyebabkan mialgia dan kelemahan otot yang menyerupai myositis. Hipokalemia dan gangguan elektrolit lainnya dapat menyebabkan kelemahan otot yang mirip myositis. Myasthenia gravis menyebabkan kelemahan otot yang fluktuatif dan fatigable. Sindrom Guillain-Barre adalah neuropati akut yang dapat menyerupai myositis dengan kelemahan progresif. Distrofi otot adalah kelainan genetik yang menyebabkan kelemahan otot progresif. Neuropati perifer diabetik dapat menyebabkan gejala yang tumpang tindih dengan myositis.

13

Myositis pada penyakit bakteri (ICD-10: M63.0) merupakan kondisi serius yang memerlukan diagnosis cepat dan terapi antibiotik yang tepat. Myositis dapat disebabkan oleh berbagai bakteri termasuk Staphylococcus aureus, Streptococcus, dan Mycoplasma pneumoniae. Gejala utama meliputi kelemahan otot progresif, nyeri, dan gejala sistemik seperti demam. Diagnosis memerlukan kombinasi pemeriksaan klinis, laboratorium, pencitraan, dan biopsi otot. Penatalaksanaan meliputi antibiotik yang sesuai, drainase bedah jika diperlukan, dan terapi suportif. Prognosis sangat bergantung pada kecepatan diagnosis dan ketepatan terapi. Pencegahan melalui kebersihan yang baik dan penanganan luka yang adekuat sangat penting untuk mengurangi insiden myositis bakteri. Konsultasi dengan spesialis reumatologi dan penyakit infeksi sering diperlukan untuk penatalaksanaan optimal.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
. Myositis: What It Is, Types, Causes & Treatment - Cleveland...
[2]
. Myositis: Muscle Inflammation | Inflammatory Myopathy - HSS
[3]
. Myositis - Harvard Health
[4]
. Myositis - Wikipedia

🔗 Konten Terkait: M63.0

Pathway: Myositis Bakteri (M63.0) & SDKI