MerlinDX Artikel C38.2
https://www.askep3s.org/2607fe8795/artikel/C38.2
C38.2: Neoplasma Jinak dan Ganas Mediastinum Posterior - ICD-10
Photo by Anna Shvets on Pexels
Artikel Klinis ICD-10: C38.2

C38.2: Neoplasma Jinak dan Ganas Mediastinum Posterior - ICD-10

9 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian C38.2: Neoplasma Ganas Mediastinum Posterior
  2. Gejala Neoplasma Ganas Mediastinum Posterior
  3. Penyebab dan Faktor Risiko
  4. Diagnosis Neoplasma Ganas Mediastinum Posterior
  5. Tatalaksana dan Pengobatan
  6. Pencegahan Neoplasma Ganas Mediastinum Posterior
  7. Prognosis Neoplasma Ganas Mediastinum Posterior
  8. Kapan Harus ke Dokter
  9. Referensi

01 Pengertian C38.2: Neoplasma Ganas Mediastinum Posterior

Kode ICD-10 C38.2 merujuk pada neoplasma ganas atau kanker yang berasal dari mediastinum posterior. Mediastinum posterior merupakan kompartemen mediastinum yang terletak di belakang jantung dan diafragma, memanjang dari vertebra servikal atas hingga vertebra toraks bawah (biasanya T4-T5 hingga T12). Kode ini mencakup tumor ganas primer yang berasal dari struktur-struktur di area tersebut, termasuk tumor neurogenik, limfoma, dan tumor sel germinal.

Neoplasma ganas mediastinum posterior merupakan kelompok tumor yang relatif jarang terjadi dibandingkan dengan tumor di mediastinum anterior atau tengah. Namun, kondisi ini tetap menjadi perhatian penting dalam onkologi toraks karena lokasi anatomisnya yang kompleks dan kedekatan dengan struktur-struktur vital seperti pembuluh darah besar, trakea, esofagus, dan medula spinalis.

Klasifikasi ini termasuk dalam kategori neoplasma ganas organ-organ yang tidak diklasifikasikan di tempat lain (C37-C38) menurut sistem ICD-10. Mediastinum posterior terutama berisi struktur neurogenik, sehingga tumor yang muncul di area ini sering memiliki originasi dari sel-sel saraf atau jaringan ikat yang mendukung sistem saraf.

02 Gejala Neoplasma Ganas Mediastinum Posterior

Gejala neoplasma ganas mediastinum posterior sangat bervariasi tergantung pada ukuran tumor, lokasi exact, dan struktur yang terlibat. Banyak pasien pada stadium awal tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimptomatik), dan tumor terdeteksi secara kebetulan melalui pemeriksaan pencitraan yang dilakukan untuk alasan lain.

Gejala Lokal: Nyeri dada atau nyeri punggung merupakan gejala yang sering dilaporkan, terutama jika tumor melibatkan struktur vertebra atau menyebabkan kompresi saraf. Disfagia (kesulitan menelan) dapat terjadi jika tumor menekan esofagus. Dyspnea (sesak napas) mungkin muncul jika tumor menyebabkan kompresi trakea atau bronkus.

Gejala Neurologis: Karena mediastinum posterior kaya akan struktur saraf, pasien dapat mengalami gejala neurologis seperti nyeri neuropatik yang menjalar sepanjang jalur saraf interkostal, kelemahan atau mati rasa pada ekstremitas, dan dalam kasus yang berat, dapat terjadi paralisis atau gangguan fungsi kandung kemih dan usus jika medula spinalis terkompresi.

Gejala Sistemik: Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, keringat malam, dan demam dapat menjadi tanda-tanda keganasan sistemik. Kelelahan kronis juga sering dikeluhkan pasien dengan tumor ganas mediastinum.

Gejala Kompresi Vaskular: Dalam kasus tumor yang besar, dapat terjadi sindrom kompresi vena cava superior jika tumor meluas ke mediastinum superior, meskipun ini lebih sering terjadi pada tumor mediastinum anterior.

03 Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti neoplasma ganas mediastinum posterior bervariasi tergantung pada jenis histologis tumor. Berikut adalah faktor-faktor yang diketahui berkontribusi terhadap perkembangan tumor ganas di mediastinum posterior:

Faktor Genetik dan Herediter: Beberapa sindrom genetik meningkatkan risiko perkembangan tumor mediastinum, termasuk neurofibromatosis tipe 1 (NF1) yang berkaitan dengan schwannoma ganas dan neurofibrosarkoma. Sindrom Li-Fraumeni dan mutasi gen TP53 juga dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai tumor ganas.

Faktor Lingkungan: Paparan radiasi ionisasi, terutama pada area toraks untuk pengobatan kanker sebelumnya, meningkatkan risiko pengembangan tumor sekunder di mediastinum. Paparan kronis terhadap karsinogen tertentu seperti asbes juga dapat berkontribusi.

Faktor Imunologis: Pasien dengan gangguan imunologi seperti HIV/AIDS atau mereka yang menjalani terapi imunosupresif memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan limfoma mediastinum, termasuk yang terletak di kompartemen posterior.

Metastasis: Neoplasma ganas mediastinum posterior dapat berasal dari metastasis tumor primer di tempat lain, seperti kanker paru-paru, kanker payudara, atau limfoma sistemik yang menyebar ke kelenjar getah bening mediastinum.

Jenis Histologis: Tumor neurogenik (seperti ganglioneuroma, ganglioneuroblastoma) lebih sering ditemukan di mediastinum posterior, terutama pada anak-anak dan dewasa muda. Limfoma non-Hodgkin dan tumor sel germinal juga dapat muncul di area ini.

04 Diagnosis Neoplasma Ganas Mediastinum Posterior

Proses diagnosis neoplasma ganas mediastinum posterior melibatkan serangkaian pemeriksaan yang sistematis untuk memastikan diagnosis, menentukan stadium, dan merencanakan tatalaksana yang optimal.

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik: Dokter akan melakukan wawancara medis menyeluruh mengenai gejala, riwayat kesehatan sebelumnya, riwayat keluarga, dan faktor risiko. Pemeriksaan fisik akan mencakup auskultasi paru, pemeriksaan neurologis untuk menilai fungsi saraf, dan palpasi kelenjar getah bening perifer.

Pemeriksaan Pencitraan:

1. Foto Rontgen Dada: Merupakan pemeriksaan awal yang dapat menunjukkan massa di mediastinum posterior sebagai opasitas yang meluas dari paravertebral. Namun, sensitivitasnya terbatas untuk tumor kecil.

2. CT-Scan Toraks dengan Kontras: Merupakan gold standard untuk evaluasi tumor mediastinum. Memberikan informasi detail tentang ukuran, lokasi, hubungan dengan struktur sekitar, dan karakteristik densitas tumor.

3. MRI Toraks: Sangat berguna untuk menilai invasi ke medula spinalis, foramina neural, dan struktur vertebra. MRI memberikan gambaran superior untuk tumor neurogenik.

4. PET-CT: Berguna untuk menilai staging dan mendeteksi metastasis jauh, serta untuk evaluasi respons terhadap terapi.

Prosedur Biopsi:

1. Biopsi Jarum Trans Toraks (CT-guided): Dilakukan di bawah panduan CT untuk mendapatkan sampel jaringan.

2. Mediastinoskopi: Prosedur bedah minimal invasif untuk biopsi kelenjar getah bening mediastinum.

3. Torakotomi: Pada beberapa kasus, diperlukan pendekatan bedah terbuka untuk biopsi atau eksisi.

Pemeriksaan Patologi Anatomi: Analisis histopatologis oleh patolog akan menentukan jenis tumor (neurogenik, limfoma, sarkoma, dll.), grade keganasan, dan penanda imunohistokimia yang membantu dalam klasifikasi spesifik.

Pemeriksaan Tambahan: Tes penanda tumor seperti AFP, beta-hCG, dan LDH dapat membantu dalam diagnosis tumor sel germinal dan limfoma. Pemeriksaan bone scan dan CT abdomen juga dilakukan untuk menilai metastasis.

05 Tatalaksana dan Pengobatan

Tatalaksana neoplasma ganas mediastinum posterior bersifat multidisiplin dan disesuaikan dengan jenis histologis tumor, stadium penyakit, kondisi umum pasien, dan lokasi tumor. Berikut adalah pendekatan pengobatan yang umum digunakan:

Terapi Operasi: Reseksi bedah merupakan pilihan utama untuk tumor neurogenik yang dapat direseksi, terutama schwannoma dan ganglioneuroma. Untuk tumor yang lebih agresif, reseksi lengkap dengan margine negatif adalah tujuan bedah. Pendekatan bedah dapat berupa torakotomi posterolateral, torakoskopi video-assisted (VATS), atau dalam kasus yang melibatkan vertebra, pendekatan bedah kombinasi toraks-spinal mungkin diperlukan.

Kemoterapi: Kemoterapi merupakan komponen penting dalam tatalaksana limfoma mediastinum dan tumor sel germinal. Regimen kemoterapi disesuaikan dengan jenis tumor spesifik. Untuk limfoma, regimen seperti CHOP atau regimen yang lebih baru sering digunakan. Tumor sel germinal diobati dengan regimen berbasis platinum.

Radioterapi: Radioterapi dapat diberikan sebagai terapi adjuvant setelah operasi untuk tumor dengan risiko tinggi rekurens lokal, atau sebagai terapi definitif untuk pasien yang tidak kandidat operasi. Teknik modern seperti IMRT (Intensity-Modulated Radiation Therapy) dan proton therapy memungkinkan delivery radiasi yang lebih presisi dengan minimal kerusakan jaringan sehat.

Terapi Target dan Imunoterapi: Untuk tumor tertentu dengan mutasi spesifik, terapi target seperti inhibitor tirosin kinase dapat dipertimbangkan. Imunoterapi dengan checkpoint inhibitors juga sedang dieksplorasi dalam uji klinis untuk beberapa jenis tumor mediastinum.

Tatalaksana Suportif: Pengelolaan nyeri, nutrisi suportif, dan rehabilitasi merupakan bagian penting dari perawatan holistik pasien dengan tumor mediastinum posterior. Untuk tumor yang menyebabkan kompresi medula spinalis, dekompresi bedah emergensi mungkin diperlukan.

06 Pencegahan Neoplasma Ganas Mediastinum Posterior

Karena neoplasma ganas mediastinum posterior umumnya tidak memiliki penyebab yang jelas dan dapat berasal dari berbagai faktor, pencegahan spesifik terbatas. Namun, beberapa langkah dapat membantu mengurangi risiko keseluruhan dan mendeteksi dini kondisi ini:

Penghindaran Faktor Risiko: Menghindari paparan radiasi ionisasi yang tidak perlu, terutama pada area toraks. Menggunakan alat pelindung diri yang sesuai bagi pekerja yang berisiko tinggi terpapar karsinogen di lingkungan kerja.

Deteksi Dini: Meskipun tidak ada program skrining spesifik untuk tumor mediastinum, individu dengan faktor risiko tinggi seperti riwayat keluarga sindrom genetik tertentu atau neurofibromatosis harus menjalani pemantauan rutin dengan pemeriksaan pencitraan periodik.

Gaya Hidup Sehat: Menerapkan gaya hidup sehat yang mencakup diet seimbang kaya antioksidan, berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, dan menjaga berat badan ideal dapat mendukung kesehatan sistem imun secara keseluruhan.

Pemantauan Pasien dengan Kondisi Predisposisi: Pasien dengan neurofibromatosis tipe 1, sindrom Li-Fraumeni, atau immunodefisiensi harus menjalani surveillance yang ketat dengan pemeriksaan fisik dan pencitraan berkala sesuai rekomendasi genetik onkologi.

Edukasi Kesehatan: Masyarakat perlu diedukasi mengenai gejala yang perlu diwaspadai seperti nyeri dada atau punggung yang persisten, disfagia, atau gejala neurologis yang tidak dapat dijelaskan, sehingga mereka dapat segera mencari pertolongan medis.

07 Prognosis Neoplasma Ganas Mediastinum Posterior

Prognosis neoplasma ganas mediastinum posterior sangat bervariasi dan bergantung pada beberapa faktor kunci yang menentukan hasil akhir pengobatan.

Faktor yang Mempengaruhi Prognosis:

1. Jenis Histologis: Tumor neurogenik seperti schwannoma ganas memiliki prognosis yang lebih baik jika direseksi lengkap. Limfoma mediastinum memiliki prognosis yang bervariasi tergantung subtipe dan respons terhadap kemoterapi. Tumor sel germinal memiliki prognosis yang baik dengan terapi multimodal.

2. Stadium Penyakit: Tumor yang terlokalisir dan dapat direseksi lengkap memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan tumor dengan metastasis jauh.

3. Kemampuan Reseksi: Reseksi lengkap dengan margine negatif merupakan faktor prognostik positif yang paling signifikan.

4. Kondisi Umum Pasien: Status performansi pasien dan komorbiditas mempengaruhi kemampuan menjalani terapi agresif dan toleransi terhadap efek samping pengobatan.

5. Respons terhadap Terapi: Respons lengkap terhadap kemoterapi atau radioterapi meningkatkan kelangsungan hidup secara signifikan.

Angka Kelangsungan Hidup: Untuk tumor neurogenik yang direseksi lengkap, angka kelangsungan hidup 5 tahun dapat mencapai 60-80%. Limfoma mediastinum memiliki prognosis yang bervariasi dengan angka kelangsungan hidup 5 tahun berkisar 50-70% tergantung subtipe. Prognosis keseluruhan terus membaik dengan kemajuan dalam terapi multimodal dan teknik bedah.

Komplikasi Jangka Panjang: Pasien survivorship perlu dipantau untuk rekurens lokal, metastasis jauh, dan efek samping jangka panjang dari terapi seperti kardiotoksisitas dari kemoterapi atau fibrosis paru dari radioterapi.

08 Kapan Harus ke Dokter

Konsultasi dengan dokter diperlukan segera jika Anda mengalami gejala-gejala berikut yang dapat mengindikasikan neoplasma mediastinum posterior atau kondisi serius lainnya:

Gejala Darurat: Nyeri dada atau punggung yang hebat dan tiba-tiba, sesak napas akut, kelemahan mendadak pada ekstremitas, atau gangguan kesadaran memerlukan penanganan emergensi karena dapat mengindikasikan kompresi struktur vital.

Gejala yang Memerlukan Kunjungan Segera:

1. Nyeri dada atau punggung yang persisten selama lebih dari dua minggu dan tidak membaik dengan istirahat atau obat pereda nyeri biasa.

2. Kesulitan menelan yang progresif atau sensasi makanan tersangkut di tenggorokan.

3. Sesak napas yang semakin berat, terutama jika disertai nyeri dada.

4. Kelemahan, mati rasa, atau kesemutan pada tangan atau kaki yang tidak dapat dijelaskan.

5. Penurunan berat badan yang signifikan tanpa sebab yang jelas (lebih dari 5% berat badan dalam 6 bulan).

6. Demam yang tidak dapat dijelaskan yang berlangsung lebih dari seminggu.

7. Keringat malam yang berlebihan.

Siapa yang Harus Ditemui: Dokter spesialis penyakit dalam atau dokter umum dapat melakukan evaluasi awal. Jika diperlukan, pasien akan dirujuk ke spesialis onkologi toraks, ahli bedah toraks, atau ahli pulmonologi untuk evaluasi lebih lanjut dan tatalaksana.

Pemeriksaan Rutin: Individu dengan faktor risiko tinggi seperti riwayat keluarga sindrom genetik atau neurofibromatosis harus menjalani pemeriksaan rutin sesuai rekomendasi dokter untuk deteksi dini.

09 Referensi

1. World Health Organization. (2022). International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems, 10th Revision (ICD-10). Geneva: WHO.

2. Carter, B.W., et al. (2018). Current concepts in the management of mediastinal tumors. Journal of Thoracic Disease, 10(Suppl 7), S801-S810.

3. Duwe, B.V., et al. (2015). Tumors of the mediastinum. Chest, 128(4), 2893-2909.

4. National Comprehensive Cancer Network. (2023). NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Thoracic Oncology. Version 2.2023.

5. Azarow, K.S., et al. (2019). Primary mediastinal tumors: A review of current concepts. Annals of Thoracic Surgery, 107(2), 619-628.

6. Strollo, D.C., et al. (2017). Primary mediastinal tumors: Radiologic-pathologic correlation. Radiographics, 37(5), 1451-1472.

7. American Cancer Society. (2023). Mediastinal tumors: Treatment options. Atlanta: American Cancer Society.

8. Kattach, H., et al. (2016). Surgical management of posterior mediastinal tumors. Interactive Cardiovascular and Thoracic Surgery, 23(4), 602-607.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: C38.2