MerlinDX Artikel E06.0
https://www.askep3s.org/2a2dc4122c/artikel/E06.0
Tiroiditis Akut (Acute Thyroiditis) - ICD-10: E06.0
Photo by Picas Joe on Pexels
Artikel Klinis ICD-10: E06.0

Tiroiditis Akut (Acute Thyroiditis) - ICD-10: E06.0

9 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pendahuluan
  2. Definisi
  3. Etiologi dan Penyebab
  4. Patofisiologi
  5. Gejala Klinis dan Tanda
  6. Diagnosis
  7. Diagnosis Banding
  8. Penatalaksanaan
  9. Komplikasi
  10. Prognosis
  11. Pencegahan
  12. Laporan Kasus
  13. Kesimpulan

01 Pendahuluan

Tiroiditis akut atau dikenal sebagai acute thyroiditis adalah kondisi peradangan akut pada kelenjar tiroid yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Meskipun jarang terjadi, tiroiditis akut merupakan kondisi medis yang memerlukan penanganan segera karena dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak diobati dengan tepat. Kelenjar tiroid terletak di bagian anterior leher dan berperan penting dalam regulasi metabolisme tubuh melalui produksi hormon tiroid. Peradangan akut pada kelenjar ini dapat mengganggu fungsi normalnya dan menyebabkan berbagai manifestasi klinis yang bervariasi mulai dari nyeri lokal hingga sepsis sistemik. Tiroiditis akut berbeda dengan tiroiditis subakut de Quervain yang lebih sering terjadi dan biasanya disebabkan oleh infeksi virus. Pemahaman yang komprehensif tentang tiroiditis akut sangat penting bagi tenaga medis untuk melakukan diagnosis dini dan penanganan yang optimal.

02 Definisi

Tiroiditis akut didefinisikan sebagai peradangan akut pada kelenjar tiroid yang ditandai dengan onset mendadak, nyeri leher anterior, demam, dan tanda-tanda infeksi sistemik. Secara histopatologis, kondisi ini ditandai dengan infiltrasi sel neutrofil, nekrosis jaringan tiroid, dan pembentukan abses pada kasus yang berat. Istilah supuratif atau suppurative thyroiditis digunakan ketika terjadi pembentukan nanah dalam jaringan tiroid. Tiroiditis akut bacterial merupakan bentuk paling umum dari kondisi ini, berbeda dengan tiroiditis akut autoimun yang lebih jarang dan memiliki patofisiologi yang berbeda. Klasifikasi ICD-10 menempatkan tiroiditis akut dalam kode E06.0 yang mencakup semua bentuk tiroiditis akut termasuk yang disebabkan oleh infeksi, trauma, atau faktor lainnya.

03 Etiologi dan Penyebab

Etiologi utama tiroiditis akut adalah infeksi bakteri yang dapat mencapai kelenjar tiroid melalui berbagai mekanisme. Staphylococcus aureus merupakan organisme paling umum penyebab tiroiditis bakterial akut, diikuti oleh Streptococcus pyogenes, Streptococcus pneumoniae, dan organisme anaerob. Infeksi dapat terjadi melalui penyebaran hematogen dari fokus infeksi elsewhere dalam tubuh, penyebaran langsung dari struktur leher sekitarnya, atau melalui duktus tiroglosus yang vestigial pada kasus yang melibatkan lobus piramidalis. Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan pengembangan tiroiditis akut meliputi kondisi imunokompromi seperti HIV/AIDS, diabetes mellitus, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, dan prosedur invasif pada leher. Pada anak-anak, tiroiditis akut sering dikaitkan dengan fistula duktus tiroglosus yang memungkinkan bakteri dari orofaring masuk ke kelenjar tiroid. Kasus tiroiditis akut autoimun juga dapat terjadi meskipun mekanismenya berbeda dan umumnya terkait dengan kondisi autoimun lainnya.

04 Patofisiologi

Patofisiologi tiroiditis akut melibatkan proses inflamasi akut yang dipicu oleh invasi bakteri ke jaringan tiroid. Setelah bakteri mencapai kelenjar tiroid, terjadi respons inflamasi lokal yang ditandai dengan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskular, dan migrasi sel-sel inflamasi terutama neutrofil ke area infeksi. Proses ini menyebabkan edema jaringan, kongesti pembuluh darah yang terlihat sebagai gambaran hiperemik pada pemeriksaan fisik, dan nyeri yang характерна untuk kondisi inflamasi akut. Pada kasus yang progresif, terjadi pembentukan abses yang berisi nanah akibat akumulasi sel-sel inflamasi mati dan bakteri. Nekrosis jaringan tiroid dapat terjadi pada kasus berat akibat trombosis pembuluh darah kecil dan tekanan intrakapsular yang meningkat. Respons sistemik berupa demam dan leukositosis terjadi sebagai bagian dari respons imun tubuh terhadap infeksi. Destruksi jaringan tiroid akibat proses inflamasi dapat menyebabkan gangguan fungsi tiroid sementara atau permanen tergantung pada tingkat keparahan dan kecepatan penanganan.

05 Gejala Klinis dan Tanda

Manifestasi klinis tiroiditis akut sangat bervariasi tergantung pada etiologi dan tingkat keparahan penyakit. Gejala lokal yang paling характерна adalah nyeri leher anterior yang tajam dan dapat menjalar ke rahang, telinga, atau oksipital. Pasien biasanya merasakan nyeri yang hebat saat menelan, berbicara, atau menggerakkan leher. Pembengkakan kelenjar tiroid yang nyeri tekan merupakan temuan fisik yang konsisten, sering kali dengan tanda-tanda kemerahan pada kulit di atasnya. Gejala sistemik meliputi demam tinggi yang dapat mencapai 39-40 derajat Celsius, menggigil, malaise umum, dan kelelahan. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan pembesaran kelenjar tiroid yang teraba keras dan sangat nyeri, dengan kulit di atasnya yang hangat dan eritematosa. Gejala-gejala seperti takikardia, tremor, dan intoleransi panas dapat terjadi sekunder akibat pelepasan hormon tiroid preformasi dari jaringan tiroid yang meradang. Dalam kasus yang berat, dapat terjadi pembentukan abses yang teraba sebagai massa fluktuan pada leher anterior, dan pasien dapat menunjukkan tanda-tanda sepsis termasuk hipotensi dan takipnea.

06 Diagnosis

Diagnosis tiroiditis akut didasarkan pada kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan investigasi laboratorium serta pencitraan. Pemeriksaan laboratorium awal biasanya menunjukkan leukositosis dengan predominansi neutrofil yang menunjukkan proses infeksi bakteri akut. Pemeriksaan fungsi tiroid dapat menunjukkan hasil yang bervariasi; pada fase awal, kadar hormon tiroid (T3 dan T4) mungkin meningkat akibat pelepasan hormon preformasi dari folikel yang rusak, sedangkan fungsi tiroid dapat menjadi normal atau menurun pada fase selanjutnya. Pemeriksaan laju endap darah (LED) dan C-reactive protein (CRP) biasanya sangat meningkat sebagai penanda inflamasi sistemik. PCT (procalcitonin) dapat membantu membedakan infeksi bakteri dari penyebab inflamasi lainnya. Pencitraan dengan USG (ultrasonography) leher merupakan modalitas pilihan untuk evaluasi tiroiditis akut, menunjukkan gambaran hipoekoik difus atau fokal dengan batas yang tidak jelas. CT scan leher dengan kontras direkomendasikan pada kasus yang dicurigai ada abses atau untuk menilai perluasan penyakit ke struktur leher lainnya. Aspirasi jarum halus (FNA) di bawah panduan USG dapat dilakukan untuk kultur dan sensitivitas kuman, yang sangat penting untuk panduan terapi antibiotik. Sitologi dari FNA biasanya menunjukkan infiltrat neutrofil yang banyak, debris seluler, dan mungkin ditemukan bakteri.

07 Diagnosis Banding

Diagnosis banding tiroiditis akut mencakup beberapa kondisi yang dapat menyerupai presentasi klinisnya. Tiroiditis subakut de Quervain merupakan diagnosis banding yang paling penting, berbeda dalam hal biasanya disebabkan oleh infeksi virus, onset lebih gradual, nyeri yang kurang hebat, dan sering didahului oleh infeksi saluran pernapasan atas. Tiroiditis Hashimoto akut atau Hashimoto's thyroiditis dengan eksaserbasi akut juga perlu dipertimbangkan, biasanya dengan presentasi yang lebih kronis dan tanpa tanda infeksi sistemik yang berat. Perdarahan ke dalam nodul tiroid dapat menyebabkan nyeri akut tetapi biasanya tidak disertai demam dan tanda infeksi sistemik. Keganasan tiroid yang mengalami degenerasi kistik atau nekrosis dapat menyerupai tiroiditis akut dengan abses. Abses leher dalam dari sumber lain seperti ruang retrofaring atau peritonsilar dapat menyebabkan nyeri leher dan demam tetapi lokasi anatomisnya berbeda. Laryngitis akut, esofagitis, dan trauma leher juga perlu disingkirkan dalam pendekatan diagnostik.

08 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan tiroiditis akut memerlukan pendekatan multimodal yang mencakup terapi antibiotik, manajemen suportif, dan intervensi bedah bila diperlukan. Terapi antibiotik empiris harus dimulai segera setelah diagnosis dianggap probable, mencakup antibiotik yang aktif terhadap S. aureus dan streptococci. Pilihan lini pertama meliputi kloksasilin, nafsilin, atau oksasilin untuk kasus community-acquired, sedangkan untuk healthcare-associated infection atau MRSA risk, vankomisin direkomendasikan. Durasi terapi antibiotik biasanya 2-4 minggu tergantung pada respons klinis dan adanya komplikasi. Pada kasus dengan abses yang terbentuk, aspiration perkutan di bawah panduan USG atau drainase bedah diperlukan untuk evakuasi nanah dan mendapatkan specimen untuk kultur. Antibiotik intravena direkomendasikan pada kasus berat atau ketika pasien tidak dapat menerima terapi oral. Analgesik dan antipiretik seperti parasetamol atau ibuprofen direkomendasikan untuk manajemen nyeri dan demam. Istirahat dan hidrasi adekuat merupakan bagian penting dari penatalaksanaan suportif. Kortikosteroid seperti prednison dapat dipertimbangkan pada kasus yang tidak responsif terhadap antibiotik untuk mengurangi inflamasi, meskipun bukti penggunaannya terbatas. Pemantauan fungsi tiroid secara berkala direkomendasikan karena sebagian pasien dapat mengembangkan hipotiroidisme permanen.

09 Komplikasi

Tiroiditis akut yang tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius. Abses tiroid merupakan komplikasi lokal yang paling umum, memerlukan intervensi drainase untuk resolusi. Penyebaran infeksi ke ruang retrosternal dapat menyebabkan mediastinitis yang mengancam jiwa. Sepsis dan syok septik dapat terjadi pada kasus yang berat terutama pada pasien dengan faktor risiko imunokompromi. Trakeomalasia atau kolaps trakea dapat terjadi akibat destruksi dan melemahnya strukturSupport jaringan di sekitar trakea oleh proses inflamasi yang ekstensif. Kerusakan permanen pada jaringan tiroid dapat导致 hipotiroidisme yang memerlukan terapi pengganti hormon seumur hidup. Fistulasi ke struktur leher sekitarnya atau kulit dapat terjadi pada kasus kronis atau tidak ditangani. Komplikasi yang lebih jarang termasuk trombosis vena jugularis, tromboflebitis septik, dan penyebaran hematogen infeksi ke organ jauh. Pada kasus yang sangat berat, dapat terjadi destruksi total kelenjar tiroid yang menyebabkan mixedema yang parah.

10 Prognosis

Prognosis tiroiditis akut umumnya baik jika diagnosis dibuat secara dini dan terapi dimulai dengan tepat. Dengan penanganan antibiotik yang adekuat, sebagian besar pasien menunjukkan perbaikan klinis dalam 48-72 jam pertama terapi. Demam dan nyeri biasanya berkurang secara signifikan dalam beberapa hari, meskipun pembengkakan tiroid dapatpersist selama beberapa minggu. Prognosis menjadi lebih buruk pada pasien dengan kondisi immunocompromised, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, atau pada kasus dengan keterlambatan diagnosis dan terapi. Komplikasi serius seperti sepsis atau mediastinitis meningkatkan morbiditas dan mortalitas secara signifikan. Sebagian kecil pasien dapat mengembangkan hipotiroidisme permanen akibat destruksi jaringan tiroid, memerlukan terapi pengganti levothyroxine jangka panjang. Follow-up jangka panjang dengan pemantauan fungsi tiroid direkomendasikan untuk semua pasien yang telah mengalami tiroiditis akut.

11 Pencegahan

Pencegahan tiroiditis akut berfokus pada identifikasi dan penanganan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Pasien dengan kondisi immunocompromised atau yang menggunakan kateter vena sentral perlu mendapat perhatian khusus dalam hal kebersihan dan pencegahan infeksi. Edukasi pasien dengan fistula duktus tiroglosus tentang tanda-tanda awal infeksi tiroid sangat penting untuk deteksi dini. Pada pasien yang akan menjalani prosedur invasif pada leher atau orofaring, profilaksis antibiotik dapat dipertimbangkan. Pengelolaan optimal kondisi kronis seperti diabetes mellitus dan HIV sangat penting untuk mengurangi risiko infeksi oportunistik. Kebersihan mulut yang baik dan penanganan cepat infeksi gigi atau orofaring dapat membantu mencegah penyebaran bakteri ke kelenjar tiroid. Pada anak-anak dengan riwayat fistula duktus tiroglosus, eksisi bedah profilaksis dapat dipertimbangkan untuk mencegah episode tiroiditis berulang.

12 Laporan Kasus

Seorang wanita berusia 35 tahun datang ke unit gawat darurat dengan keluhan nyeri leher anterior yang hebat sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri disertai demam tinggi mencapai 39,5 derajat Celsius, menggigil, dan kesulitan menelan. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit tiroid sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan pembengkakan di region anterior leher kanan dengan tanda-tanda inflamasi akut berupa kemerahan, hangat, dan nyeri tekan yang sangat hebat. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis 18.000/μL dengan shift ke kiri, LED 85 mm/jam, dan CRP 120 mg/L. Pemeriksaan USG leher menunjukkan area hipoekoik dengan debris internal dan peningkatan vascularitas pada lobus kanan tiroid, sugestif abses tiroid. Aspirasi jarum halus menghasilkan nanah yang pada pewarnaan Gram menunjukkan basil Gram positif. Kultur menunjukkan pertumbuhan Staphylococcus aureus yang sensitif terhadap oksasilin. Pasien memulai terapi antibiotik intravena dengan oksasilin 2 gram setiap 4 jam dan dilakukan drainase perkutan abses di bawah panduan USG. Dalam 48 jam, demam berkurang dan nyeri berkurang signifikan. Terapi antibiotik intravena dilanjutkan selama 2 minggu diikuti dengan antibiotik oral selama 2 minggu tambahan. Follow-up setelah 6 minggu menunjukkan fungsi tiroid normal dan tidak ada tanda-tanda kekambuhan.

13 Kesimpulan

Tiroiditis akut merupakan kondisi peradangan akut pada kelenjar tiroid yang meskipun jarang, memerlukan perhatian medis segera karena potensi komplikasi serius. Diagnosis yang cepat berdasarkan presentasi klinis karakteristik dan investigasi yang tepat memungkinkan penanganan yang optimal. Terapi antibiotik yang adekuat combined dengan drainase pada kasus dengan abses merupakan kunci keberhasilan pengobatan. Prognosis umumnya baik dengan penanganan yang tepat, namun follow-up jangka panjang diperlukan untuk memantau fungsi tiroid dan mendeteksi komplikasi jangka panjang seperti hipotiroidisme. Peningkatan kesadaran tentang kondisi ini di kalangan tenaga medis sangat penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas yang terkait dengan tiroiditis akut.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
1. Pearce EN, Farwell AP, Braverman LE. Thyroiditis. N Engl J Med. 2003;348(26):2646-2655.
[2]
2. Szabo SM, Allen DB. Suppurative thyroiditis in children. Pediatr Infect Dis J. 2009;28(5):426-428.
[3]
3. Yu EH, Ko WC, Chuang YC, Wu TJ. Suppurative thyroiditis with gas formation. J Microbiol Immunol Infect. 2010;43(5):429-432.
[4]
4. Nishihara E, Miyauchi A, Matsuzuka F, et al. Acute suppurative thyroiditis after fine-needle aspiration biopsy. Thyroid. 2015;25(2):217-218.
[5]
5. Falhammar H, Wallin G, Calissendorff J. Acute bacterial thyroiditis with thyrotoxic crisis. J Emerg Med. 2018;54(2):e21-e24.
[6]
6. World Health Organization. ICD-10 Version:2016. Geneva: WHO; 2016.
[7]
7. Ross DS, et al. 2016 American Thyroid Association Guidelines for Diagnosis and Management of Hyperthyroidism. Thyroid. 2016;26(10):1343-1421.
[8]
8. Davies TF, et al. Thyroid. In: Melmed S, et al., eds. Williams Textbook of Endocrinology. 14th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.

🔗 Konten Terkait: E06.0

Pathway: E06.0 Acute Thyroiditis & SDKI