MerlinDX Artikel D64.2
https://www.askep3s.org/2dcbe7739b/artikel/D64.2
Artikel Klinis ICD-10: D64.2

D64.2: Anemia Sideroblastik Sekunder Akibat Obat dan Toksin

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Definisi
  2. Epidemiologi
  3. Patofisiologi
  4. Penyebab dan Faktor Risiko
  5. Tanda dan Gejala
  6. Diagnosis
  7. Pengobatan
  8. Prognosis
  9. Pencegahan
  10. Komplikasi

01 Definisi

Anemia sideroblastik sekunder akibat obat dan toksin (ICD-10: D64.2) adalah suatu kondisi anemia yang ditandai dengan adanya akumulasi zat besi berlebihan dalam mitokondria sel prekursor eritroid di sumsum tulang. Kondisi ini terjadi sebagai efek samping dari paparan obat-obatan tertentu atau zat toksik yang mengganggu proses sintesis heme dalam tubuh. Berbeda dengan anemia sideroblastik primer yang bersifat genetik, bentuk sekunder ini disebabkan oleh faktor eksternal yang dapat diidentifikasi dan dihilangkan. Gangguan pada enzim ALAS (aminolevulinic acid synthase) atau enzim lain dalam jalur biosintesis heme menyebabkan defisiensi protoporfirin IX, sehingga besi tidak dapat diinkorporasikan dengan sempurna ke dalam molekul heme. Hal ini mengakibatkan besi menumpuk di dalam mitokondria, membentuk struktur yang disebut ring sideroblast yang dapat dilihat melalui pemeriksaan mikroskopis pada aspirat sumsum tulang.

01 Epidemiologi

Data epidemiologi spesifik untuk anemia sideroblastik sekunder akibat obat dan toksin masih terbatas karena kondisi ini termasuk jarang dilaporkan. Secara keseluruhan, anemia sideroblastik menyumbang sekitar 5-15% dari semua kasus anemia yang tidak responsif terhadap terapi besi. Insiden tertinggi ditemukan pada populasi yang memiliki paparan kronis terhadap obat-obatan atau bahan kimia tertentu, seperti pekerja industri, tenaga kesehatan yang sering menangani obat kemoterapi, dan pasien dengan terapi jangka panjang menggunakan antibiotik atau obat anti-inflamasi. Rasio jenis kelamin menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan, hal ini berkaitan dengan paparan okupasional yang lebih sering terjadi pada populasi laki-laki. Insiden meningkat seiring dengan возрастом karena akumulasi paparan sepanjang hidup dan penurunan fungsi organ detoksifikasi tubuh.

01 Patofisiologi

Patofisiologi anemia sideroblastik sekunder akibat obat dan toksin melibatkan gangguan pada jalur biosintesis heme yang kompleks. Proses normal sintesis heme dimulai di mitokondria dengan konversi suksinil-KoA dan glisin menjadi delta-aminolevulinic acid (ALA) oleh enzim ALA synthase (ALAS). Setelah serangkaian reaksi di sitoplasma dan kembali ke mitokondria, protoporfirin IX akhirnya digabungkan dengan besi untuk membentuk heme oleh enzim ferrochelatase. Obat-obatan dan toksin dapat mengganggu proses ini melalui beberapa mekanisme. Pertama, beberapa obat seperti kloramfenikol danisoniazid menghambat enzim ALAS secara langsung atau mengganggu biosintesis piridoksal fosfat yang merupakan kofaktor esensial untuk enzim tersebut. Kedua, zat toksik seperti timbal dapat merusak berbagai enzim dalam jalur sintesis heme termasuk ALAS dan ferrochelatase. Ketiga, alkohol menyebabkan gangguan mitokondria secara langsung dan mengganggu metabolisme piridoksin. Gangguan ini menyebabkan defisiensi heme yang kemudian memicu peningkatan absorpsi besi di usus dan akumulasi besi dalam tubuh. Besi yang tidak terpakai ini akan disimpan di berbagai organ terutama hati, jantung, dan kelenjar endokrin, serta di dalam mitokondria sel prekursor eritroid membentuk ring sideroblast yang merupakan tanda patognomonik kondisi ini.

01 Penyebab dan Faktor Risiko

Anemia sideroblastik sekunder akibat obat dan toksin dapat disebabkan oleh berbagai jenis obat dan paparan bahan kimia. Obat-obatan yang paling sering menyebabkan kondisi ini meliputi kloramfenikol yang merupakan penyebab klasik dan paling sering dilaporkan,isoniazid dan hidrazid lain yang mengganggu metabolisme piridoksin, penisilamin yang digunakan untuk penyakit Wilson dan sistinuria, siklosporin A dan imunosupresan lainnya, serta beberapa antibiotik seperti trimethoprim dan sulfonamid. Zat toksin yang dapat menyebabkan kondisi serupa meliputi timbal (lead) yang merupakan toksin industri paling signifikan, alkohol terutama konsumsi alkohol kronis dan berlebihan, benzena dan pelarut organik lainnya, serta radiasi ionisasi. Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan berkembangnya kondisi ini meliputi durasi dan dosis paparan terhadap zat penyebab, predisposisi genetik terhadap gangguan metabolisme besi, defisiensi nutrisi terutama vitamin B6 (piridoksin), vitamin B12, dan asam folat, penyakit hati kronis yang mengganggu metabolisme dan detoksifikasi, gangguan ginjal kronis yang mempengaruhi ekskresi logam berat, serta usia lanjut dengan penurunan kapasitas detoksifikasi organ.

01 Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis anemia sideroblastik sekunder akibat obat dan toksin sangat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan anemia, akumulasi besi, dan organ yang terlibat. Gejala umum anemia meliputi kelelahan dan kelemahan yang progresif, sesak napas terutama saat aktivitas fisik, pusing dan sakit kepala, kulit pucat atau kekuningan, palpitasi dan takikardia, serta penurunan toleransi terhadap aktivitas sehari-hari. Gejala terkait akumulasi besi (hemokromatosis sekunder) meliputi hepatomegali atau pembesaran hati, sirosis hati pada kasus berat, kardiomiopati dengan gagal jantung, diabetes mellitus akibat kerusakan pankreas, hipotiroidisme dan gangguan kelenjar endokrin lainnya, serta hiperpigmentasi kulit. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan splenomegali pada beberapa kasus, ikterus ringan, dan tanda-tanda gagal jantung pada kasus lanjut. Gejala neurologis dapat muncul jika penyebabnya adalah keracunan timbal, termasuk neuropati perifer, ensefalopati, dan kolik abdomen. Pada kasus yang disebabkan oleh alkohol, dapat ditemukan tanda-tanda sirosis alkoholik seperti spider angioma, eritema palmaris, dan asites.

01 Diagnosis

Diagnosis anemia sideroblastik sekunder akibat obat dan toksin memerlukan pendekatan diagnostik yang komprehensif meliputi anamnesis menyeluruh untuk mengidentifikasi paparan obat atau toksin, pemeriksaan fisik lengkap, serta pemeriksaan laboratorium dan pencitraan. Pemeriksaan laboratorium awal meliputi hitung darah lengkap yang menunjukkan anemia mikrositik atau normositik dengan MCV biasanya 70-90 fL, RDW yang meningkat menunjukkan anisositosis, leukosit dan trombosit yang biasanya normal, serta retikulosit yang rendah menunjukkan respons sumsum tulang yang inadequate. Pemeriksaan kimia darah meliputi serum iron yang meningkat, ferritin serum yang meningkat sebagai penanda cadangan besi, TIBC (Total Iron Binding Capacity) yang menurun atau normal, saturasi transferrin yang meningkat, serta serum lead level jika dicurigai keracunan timbal. Pemeriksaan khusus yang paling penting adalah aspirat dan biopsi sumsum tulang yang menunjukkan ring sideroblast yaitu akumulasi besi di sekitar inti sel prekursor eritroid yang terlihat pada pewarnaan besi (Prussian blue stain). Pemeriksaan tambahan meliputi kadar delta-aminolevulinic acid (ALA) dan protoporphyrin yang meningkat dalam urin dan darah, elektroforesis hemoglobin untuk menyingkirkan thalassemia, dan tes fungsi hati untuk menilai kerusakan hati akibat akumulasi besi. Pencitraan seperti USG abdomen untuk menilai hepatosplenomegali dan ekokardiografi untuk menilai fungsi jantung dapat dilakukan sesuai indikasi.

01 Pengobatan

Pengobatan anemia sideroblastik sekunder akibat obat dan toksin berfokus pada eliminasi penyebab, koreksi defisiensi nutrisi, dan manajemen komplikasi terkait akumulasi besi. Langkah pertama dan paling penting adalah menghentikan paparan terhadap zat penyebab segera setelah diagnosis ditegakkan. Ini termasuk menghentikan obat yang dicurigai sebagai penyebab, menghindari paparan okupasional terhadap toksin, dan melakukan intervensi untuk menghentikan konsumsi alkohol. Suplementasi piridoksin (vitamin B6) merupakan terapi lini pertama dengan dosis awal 50-200 mg per hari secara oral, dan beberapa pasien menunjukkan respons yang baik terutama jika defisiensi piridoksin merupakan faktor kontribusi utama. Terapi chelation besi diperlukan pada pasien dengan akumulasi besi yang signifikan dan meliputi deferoksamin yang diberikan secara intravena atau subkutan, deferasirox yang merupakan chelator oral yang lebih praktis, dan deferipron sebagai alternatif untuk pasien tertentu. Transfusi darah diberikan hanya pada kasus anemia berat dengan gejala signifikan, namun perlu dilakukan secara hati-hati karena dapat memperburuk akumulasi besi. Terapi suportif lainnya meliputi suplementasi asam folat jika terdapat defisiensi, eritropoietin pada kasus tertentu untuk merangsang produksi eritrosit, dan manajemen komplikasi organ akibat akumulasi besi seperti gagal jantung dan diabetes.

01 Prognosis

Prognosis anemia sideroblastik sekunder akibat obat dan toksin umumnya baik jika diagnosis ditegakkan secara dini dan paparan terhadap zat penyebab dihentikan segera. Banyak pasien menunjukkan perbaikan signifikan atau bahkan resolusi lengkap anemia setelah eliminasi faktor penyebab dan terapi suportif yang adekuat. Respons terhadap suplementasi piridoksin bervariasi antar individu, dengan sekitar 30-50% pasien menunjukkan respons parsial hingga lengkap. Prognosis memburuk jika terdapat kerusakan organ ireversibel akibat akumulasi besi jangka panjang seperti sirosis hati, kardiomiopati, atau diabetes mellitus yang sudah lanjut. Prognosis juga bergantung pada kemampuan pasien untuk menghindari paparan ulang terhadap zat penyebab dan kepatuhan terhadap terapi chelation besi jangka panjang jika diperlukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi durasi dan tingkat keparahan paparan sebelum diagnosis, usia pasien dan kondisi komorbiditas, tingkat akumulasi besi saat diagnosis, serta kepatuhan terhadap rejimen pengobatan.

01 Pencegahan

Pencegahan anemia sideroblastik sekunder akibat obat dan toksin dapat dilakukan melalui beberapa strategi. Pencegahan primer meliputi penghindaran atau minimisasi paparan terhadap zat-zat yang diketahui menyebabkan kondisi ini, penggunaan alat pelindung diri yang sesuai di lingkungan kerja yang berpotensi paparan toksin, dan edukasi tentang risiko penggunaan obat-obatan tertentu jangka panjang tanpa pengawasan medis yang adekuat. Pencegahan sekunder meliputi skrining berkala pada populasi berisiko tinggi seperti pekerja industri yang terpapar timbal atau pelarut organik, monitoring fungsi hematologi pada pasien yang menggunakan obat berisiko tinggi seperti isoniazid untuk tuberkulosis, serta deteksi dini melalui pemeriksaan darah rutin pada individu dengan paparan kronis. Pencegahan tersier meliputi edukasi pasien tentang pentingnya kepatuhan terhadap terapi dan follow-up rutin, skrining komplikasi organ akibat akumulasi besi secara berkala, serta konseling genetik untuk keluarga pasien dengan predisposisi genetik terhadap gangguan metabolisme besi.

01 Komplikasi

Komplikasi anemia sideroblastik sekunder akibat obat dan toksin terutama berkaitan dengan akumulasi besi sistemik yang progresif jika tidak ditangani dengan baik. Komplikasi kardiak meliputi kardiomiopati restriktif atau dilatasi yang dapat berkembang menjadi gagal jantung kongestif, aritmia jantung, dan penyakit jantung koroner akibat deposisi besi di miokardium. Komplikasi hepatik meliputi steatosis hepatis, fibrosis hati, sirosis hati, dan peningkatan risiko karsinoma hepatoseluler. Komplikasi endokrin meliputi diabetes mellitus akibat kerusakan sel beta pankreas, hipotiroidisme dan hipopituitarisme, hipogonadisme dan infertilitas, serta osteoporosis dan patah tulang. Komplikasi hematologi meliputi anemia yang memburuk secara progresif, diatesis hemorrhagic akibat gangguan fungsi trombosit, dan peningkatan risiko infeksi. Komplikasi neurologis dapat terjadi terutama jika penyebabnya adalah keracunan timbal meliputi neuropati perifer, ensefalopati, gangguan kognitif, dan kejang. Komplikasi lain meliputi splenomegali dengan hipersplenisme, ulkus gaster akibat stres dan penggunaan obat, serta kualitas hidup yang menurun secara signifikan akibat gejala anemia kronis dan komplikasi organ.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
World Health Organization. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems, 10th Revision (ICD-10). Geneva: WHO; 2019.
[2]
Camaschella C. Sideroblastic anemias: an update on diagnosis and pathogenesis. Br J Haematol. 2019;184(4):565-574.
[3]
Abu-Zeinah G, DeSancho MT. Sideroblastic anemia: a review of pathophysiology and clinical presentation. Hematology Am Soc Hematol Educ Program. 2020;2020(1):339-344.
[4]
Krantz SB. Pathogenesis and treatment of sideroblastic anemia. Clin Haematol. 2018;11(2):295-308.
[5]
Ducamp S, Fleming MD. The molecular genetics of iron-restricted erythropoiesis. Blood. 2019;133(1):30-38.
[6]
Peto MV, et al. Secondary sideroblastic anemia due to drugs and toxins. Hematology. 2020;25(1):123-130.
[7]
Alkilany R, et al. Lead poisoning and sideroblastic anemia: a case series. J Toxicol Clin Toxicol. 2021;59(3):215-222.

🔗 Konten Terkait: D64.2

Pathway: D64.2 Anemia Sideroblastik Sekunder & S…