MerlinDX Artikel B26.3
https://www.askep3s.org/36b2fe46e6/artikel/B26.3
Artikel Klinis ICD-10: B26.3

B26.3: Pankreatitis Gondongan (Mumps Pancreatitis)

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian Pankreatitis Gondongan
  2. Etiologi dan Patofisiologi
  3. Epidemiologi
  4. Tanda dan Gejala
  5. Diagnosis
  6. Penanganan dan Tata Laksana
  7. Komplikasi
  8. Prognosis
  9. Pencegahan
  10. Kesimpulan

01 Pengertian Pankreatitis Gondongan

Pankreatitis gondongan atau mumps pancreatitis adalah komplikasi inflamasi pada pankreas yang disebabkan oleh infeksi virus gondongan (mumps) akibat virus paramiksovirus. Kondisi ini terjadi ketika virus gondongan menyebar dari kelenjar parotis yang terinfeksi ke jaringan pankreas, menyebabkan peradangan akut pada organ tersebut. Pankreatitis gondongan merupakan salah satu manifestasi sistemik yang dapat terjadi pada pasien dengan infeksi virus gondongan, meskipun frekuensinya relatif jarang dibandingkan dengan komplikasi lain seperti orkitis atau meningitis aseptik. Pankreatitis yang diinduksi oleh gondongan umumnya bersifat akut dan self-limiting, namun dalam beberapa kasus dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius jika tidak ditangani dengan tepat. Kode ICD-10 untuk kondisi ini adalah B26.3, yang secara spesifik mengklasifikasikan pankreatitis sebagai komplikasi gondongan.

01 Etiologi dan Patofisiologi

Penyebab utama pankreatitis gondongan adalah infeksi virus paramiksovirus yang merupakan virus RNA dengan single strand negatif. Virus ini memiliki afinitas terhadap kelenjar saliva dan jaringan glandular lainnya, termasuk pankreas. Mekanisme kerusakan pankreas pada gondongan terjadi melalui beberapa jalur patofisiologis yang saling berkaitan. Pertama, virus gondongan memiliki reseptor spesifik pada sel-sel asinar pankreas yang memungkinkan invasi langsung ke jaringan pankreas. Kedua, respons imun宿主 terhadap infeksi virus menyebabkan pelepasan sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1β, dan IL-6 yang berkontribusi pada proses inflamasi. Ketiga, kerusakan langsung pada sel-sel pankreas oleh virus menyebabkan aktivasi prematur enzim pankreas seperti tripsinogen menjadi tripsin, yang kemudian mengaktifkan enzim proteolitik lainnya dan menyebabkan autodigesti jaringan pankreas. Proses ini memicu kaskade inflamasi yang menghasilkan pankreatitis akut dengan karakteristik histopatologis berupa edema interstisial, infiltrasi sel radang, dan nekrosis seluler yang bervariasi dari ringan hingga berat.

01 Epidemiologi

Pankreatitis gondongan merupakan komplikasi yang относительно jarang terjadi pada infeksi virus gondongan, dengan insiden yang dilaporkan berkisar antara 0,3% hingga 15% dari seluruh kasus gondongan yang terkonfirmasi. Insiden ini bervariasi tergantung pada populasi studi, kriteria diagnostik yang digunakan, dan status vaksinasi masyarakat. Pankreatitis lebih sering terjadi pada pasien gondongan dewasa dibandingkan anak-anak, menunjukkan bahwa usia merupakan faktor risiko yang signifikan. Laki-laki memiliki insiden lebih tinggi dibandingkan perempuan, terutama pada populasi yang tidak divaksinasi. Sejak introduksi program vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella), insiden gondongan secara keseluruhan menurun drastis, dan komplikasi pankreatitis juga mengalami penurunan yang signifikan. Namun, outbreak gondongan masih terjadi di populasi dengan cakupan vaksinasi yang rendah, dan dalam kondisi tersebut, pankreatitis gondongan tetap menjadi komplikasi yang perlu diwaspadai. Data epidemiologi menunjukkan bahwa pankreatitis gondongan paling sering terjadi pada pasien usia 15-29 tahun, dan umumnya muncul 3-7 hari setelah onset parotitis.

01 Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis pankreatitis gondongan mencakup gejala gastrointestinal yang khas serta tanda-tanda sistemik dari infeksi virus gondongan. Gejala utama yang dirasakan pasien adalah nyeri perut hebat yang terlokalisasi di epigastrium atau kuadran kiri atas abdomen, yang sering menjalar ke punggung (referred pain). Nyeri ini umumnya bersifat konstan dan diperparah oleh gerakan atau posisi tertentu. Pasien juga mengalami mual dan muntah yang persisten, yang awalnya berisi makanan dan kemudian dapat menjadi non-bilious. Demam merupakan gejala sistemik yang hampir selalu hadir, dengan suhu tubuh yang dapat mencapai 38-40°C. Gejala lain yang menyertai termasuk distensi abdomen, penurunan nafsu makan, dan intoleransi terhadap makanan oral. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan nyeri tekan pada abdomen bagian atas dengan tanda Murphy positif. Pada pasien dengan gondongan, akan ditemukan pembengkakan kelenjar parotis bilateral atau unilateral yang merupakan manifestasi primer dari infeksi virus. Dalam kasus yang berat, pasien dapat menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, hipotensi, dan takikardia akibat kehilangan cairan ke ruang retroperitoneal dan third spacing.

01 Diagnosis

Diagnosis pankreatitis gondongan ditegakkan berdasarkan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pencitraan diagnostik. Anamnesis yang cermat sangat penting untuk menanyakan riwayat infeksi gondongan atau kontak dengan pasien gondongan, serta onset dan perkembangan gejala. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan signifikan enzim pankreas dengan kadar amilase serum yang meningkat lebih dari tiga kali batas atas normal, dan lipase serum yang juga meningkat secara signifikan. Peningkatan isoamilase pankreas lebih spesifik dibandingkan amilase total untuk pankreatitis. Pemeriksaan fungsi hati perlu dilakukan karena gondongan juga dapat menyebabkan hepatitis. Pemeriksaan serologi untuk antibodi IgM dan IgG gondongan dapat mengkonfirmasi infeksi akut atau sebelumnya. Pada hitung jenis leukosit, sering ditemukan leukositosis dengan predominansi neutrofil. Pemeriksaan pencitraan dengan USG abdomen dapat menunjukkan pembesaran pankreas dengan echotexture yang menurun, serta adanya fluid collection di sekitar pankreas. CT scan abdomen dengan kontras lebih akurat untuk menilai tingkat keparahan pankreatitis dan mendeteksi komplikasi seperti nekrosis pankreas, abses, atau pseudocyst. Pemeriksaan MRI atau MRCP dapat dipertimbangkan untuk evaluasi lebih detail duktus pankreatikus.

01 Penanganan dan Tata Laksana

Penanganan pankreatitis gondongan bersifat suportif dan simptomatis, dengan prinsip utama adalah istirahat pankreas, manajemen nyeri, koreksi gangguan elektrolit dan cairan, serta monitoring komplikasi. Pasien umumnya memerlukan rawat inap untuk observasi ketat dan terapi intravena. Puasa (nil per os) diberikan pada fase akut sampai nyeri perut berkurang dan kadar amilase mulai menurun, biasanya selama 48-72 jam. Hidrasi agresif dengan cairan kristaloid intravena sangat penting untuk menjaga perfusi pankreas dan mencegah hipovolemia akibat third spacing. Terapi analgesik dengan analgesik opioid seperti morfin atau petidin diberikan untuk mengontrol nyeri abdomen yang hebat. Antiemetik seperti ondansetron atau metoklopramid diberikan untuk mengontrol mual dan muntah. Pada kasus yang berat dengan pankreatitis nekrotikans, antibiotik profilaksis dapat dipertimbangkan meskipun kontroversial. Pankreatitis gondongan umumnya tidak memerlukan terapi antiviral spesifik karena bersifat self-limiting. Interferon-alpha telah diteliti dalam beberapa kasus tetapi belum menjadi standar terapi. Pasien dapat mulai diet lunak rendah lemak secara bertahap setelah gejala membaik dan fungsi gastrointestinal pulih. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda komplikasi sistemik seperti gagal organ, sepsis, atau perdarahan perlu dilakukan secara berkelanjutan.

01 Komplikasi

Meskipun sebagian besar kasus pankreatitis gondongan bersifat ringan dan self-limiting, beberapa komplikasi serius dapat terjadi jika kondisi ini tidak ditangani dengan baik. Komplikasi lokal meliputi nekrosis pankreas yang dapat berkembang menjadi infeksi sekunder, abses pankreas, pseudocyst pankreas yang umumnya muncul beberapa minggu setelah episode akut, dan perdarahan intra-abdominal akibat erosi pembuluh darah. Komplikasi sistemik yang lebih serius termasuk gagal ginjal akut akibat hipovolemia dan nekrosis tubular, sindrom respons inflamasi sistemik (SIRS), sepsis, danARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome). Gangguan metabolik seperti hipokalsemia, hiperglikemia transien akibat kerusakan sel beta pankreas, dan asidosis metabolik juga dapat terjadi. Dalam kasus yang sangat jarang, pankreatitis gondongan yang berat dapat menyebabkan diabetes mellitus permanen akibat kerusakan masif sel beta. Komplikasi lain yang terkait dengan gondongan itu sendiri seperti orkitis, meningitis, dan ensefalitis dapat terjadi secara bersamaan dengan pankreatitis. Pasien dengan riwayat pankreatitis gondongan perlu dipantau dalam jangka panjang untuk mendeteksi kemungkinan perkembangan pankreatitis kronis atau kerusakan pankreas residual.

01 Prognosis

Prognosis pankreatitis gondongan umumnya baik dengan angka mortalitas yang sangat rendah jika ditangani dengan tepat dan cepat. Sebagian besar pasien mengalami resolusi lengkap gejala dalam waktu 1-2 minggu dengan pemulihan fungsi pankreas normal. Prognosis sangat bergantung pada tingkat keparahan pankreatitis, adanya komplikasi, dan kondisi kesehatan umum pasien sebelum sakit. Pasien dengan pankreatitis akut ringan tanpa nekrosis memiliki prognosis sangat baik dengan pemulihan penuh. Pada kasus dengan nekrosis pankreas atau komplikasi lokal, prognosis menjadi lebih reservado dan memerlukan waktu pemulihan lebih lama. Faktor-faktor yang memperburuk prognosis meliputi keterlambatan diagnosis dan terapi, usia lanjut, adanya komorbiditas seperti diabetes atau penyakit kardiovaskular, serta berkembangnya komplikasi sistemik berat. Prognosis jangka panjang umumnya menguntungkan karena pankreatitis gondongan jarang menyebabkan kerusakan pankreas permanen atau diabetes mellitus kronis. Namun, pasien yang mengalami episode pankreatitis gondongan berat dengan nekrosis signifikan perlu dipantau untuk fungsi endokrin dan eksokrin pankreas dalam jangka panjang.

01 Pencegahan

Pencegahan pankreatitis gondongan paling efektif dilakukan melalui vaksinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella) yang merupakan vaksin hidup yang dilemahkan. Vaksin MMR direkomendasikan untuk diberikan pada anak usia 12-15 bulan untuk dosis pertama dan usia 4-6 tahun untuk dosis booster. Efektivitas vaksin MMR dalam mencegah gondongan mencapai 78-95% setelah dua dosis, yang secara signifikan mengurangi insiden gondongan dan komplikasinya termasuk pankreatitis. Isolasi pasien dengan gondongan aktif sangat penting untuk mencegah transmisi, terutama di lingkungan sekolah, kampus, atau tempat kerja. Pasien harus menghindari kontak dengan individu yang belum divaksinasi atau immunocompromised selama periode infeksius, yaitu sekitar 5 hari setelah onset parotitis. Higiene pernapasan yang baik seperti menutup mulut saat batuk dan mencuci tangan secara teratur membantu mengurangi penyebaran virus. Edukasi masyarakat tentang pentingnya vaksinasi dan pengenalan dini gejala gondongan serta komplikasinya sangat penting untuk pencegahan dan deteksi dini. Pasien dengan gondongan yang mengalami gejala gastrointestinal seperti nyeri perut hebat harus segera mencari pertolongan medis untuk evaluasi pankreatitis.

01 Kesimpulan

Pankreatitis gondongan (B26.3) merupakan komplikasi sistemik yang jarang namun signifikan dari infeksi virus gondongan, yang terjadi akibat penyebaran virus paramiksovirus ke jaringan pankreas. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan enzim pankreas, nyeri abdomen akut, dan manifestasi sistemik lainnya yang umumnya muncul beberapa hari setelah onset parotitis. Diagnosis ditegakkan melalui kombinasi klinis, laboratorium dengan peningkatan amilase dan lipase, serta pencitraan untuk menilai tingkat keparahan. Tata laksana bersifat suportif dengan hidrasi agresif, manajemen nyeri, dan puasa sementara, dengan prognosis umumnya baik pada mayoritas kasus. Pencegahan melalui vaksinasi MMR merupakan strategi paling efektif untuk mengurangi insiden gondongan dan komplikasinya. Peningkatan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan tentang hubungan antara gondongan dan pankreatitis sangat penting untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat guna mencegah komplikasi serius.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: B26.3

Pathway: Mumps Pancreatitis (B26.3) & SDKI