MerlinDX Artikel O05.1
https://www.askep3s.org/394d6b8ff3/artikel/O05.1
Artikel Klinis ICD-10: O05.1

O05.1: Aborsi Tidak Lengkap Lainnya yang Diperumit dengan Perdarahan yang Tertunda atau Berlebihan

6 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian
  2. Epidemiologi
  3. Etiologi dan Penyebab
  4. Patofisiologi
  5. Tanda dan Gejala
  6. Diagnosis
  7. Penatalaksanaan
  8. Komplikasi
  9. Prognosis
  10. Pencegahan

01 Pengertian

Kode ICD-10 O05.1 merujuk pada kondisi abortasi (keguguran) yang tidak lengkap (incomplete abortion) yang disebabkan oleh faktor-faktor selain abortasi spontan, abortasi yang diinduksi secara medis, atau abortasi yang diinduksi secara legal, melainkan termasuk dalam kategori 'aborsi lainnya'. Kondisi ini diperumit oleh perdarahan yang tertunda atau berlebihan (delayed or excessive haemorrhage). Abortasi tidak lengkap terjadi ketika sebagian jaringan produk konsepsi (plasenta, selaput ketuban, atau jaringan embrionik) tetap berada di dalam uterus setelah proses abortasi dimulai, menyebabkan perdarahan yang продолжается dan dapat menjadi berat.

01 Epidemiologi

Abortasi tidak lengkap merupakan salah satu komplikasi tersering dari semua jenis abortasi. Sekitar 10-15% dari semua kehamilan yang diketahui berakhir dengan keguguran pada trimester pertama. Di antara kasus-kasus abortasi, sekitar 25-30% merupakan abortasi tidak lengkap. Perdarahan yang berlebihan sebagai komplikasi terjadi pada sekitar 1-5% kasus abortasi tidak lengkap. Faktor risiko termasuk usia maternal lanjut, riwayat abortasi sebelumnya, dan kondisi medis tertentu. Di negara berkembang, angka komplikasi lebih tinggi debido akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang memadai.

01 Etiologi dan Penyebab

Abortasi tidak lengkap dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang menghambat proses ekspulsi lengkap jaringan produk konsepsi. Faktor-faktor utama meliputi: retensi jaringan plasenta atau korionik akibat pelepasan yang tidak sempurna dari dinding uterus; kontraksi uterus yang tidak adekuat untuk mendorong keluar seluruh jaringan; kelainan struktural uterus seperti septum uterus, mioma submukosa, atau uterus bicornis yang menghambat ekspulsi lengkap; gangguan koagulasi darah yang memperpanjang perdarahan; serta faktor hormonal seperti defisiensi progesteron yang tidak mendukung kontraksi uterus optimal. Pada konteks O05.1, penyebabnya termasuk abortasi yang diinduksi secara ilegal, abortasi traumatik, atau metode kontrasepsi darurat yang gagal.

01 Patofisiologi

Patofisiologi abortasi tidak lengkap dengan perdarahan yang tertunda atau berlebihan melibatkan beberapa mekanisme. Setelah terjadi kematian embrio atau fetus, tubuh memulai proses involusi desidua dan pelepasan jaringan dari dinding uterus. Pada abortasi tidak lengkap, proses ini terhenti secara parsial sehingga sebagian desidua dan vili korionik tetap melekat pada dinding uterus. Retensi jaringan ini menyebabkan kontinuasi perdarahan karena permukaan luka yang terbuka pada tempat implantasi. Perdarahan yang tertunda terjadi karena jaringan yang tertahan mengalami nekrosis bertahap dan melepaskan diri secara perlahan, sementara perdarahan berlebihan disebabkan oleh gangguan mekanisme hemostasis lokal, termasuk kegagalan trombosis pada pembuluh darah spiral yang rusak, serta aktivasi fibrinolisis yang berlebihan di lokasi implantasi.

01 Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis abortasi tidak lengkap dengan perdarahan yang tertunda atau berlebihan meliputi: perdarahan vagina yang продолжается atau berulang, dapat berupa perdarahan ringan yang berkepanjangan atau perdarahan berat yang mendadak; nyeri kram perut bagian bawah atau pelvis yang bersifat intermiten; keluarnya jaringan atau gumpalan darah dari vagina; uterus yang lebih besar dari yang diharapkan untuk usia kehamilan yang diasumsikan pada pemeriksaan fisik; serviks yang terbuka (dilatasi) dengan jaringan yang terlihat pada orifisium; tanda-tanda anemia seperti pucat, lemas, palpitasi, dan sesak napas pada kasus dengan perdarahan berat; serta tanda-tanda syok hipovolemik pada kasus berat termasuk hipotensi, takikardia, dan penurunan kesadaran. Perdarahan biasanya terjadi beberapa hari hingga beberapa minggu setelah proses abortasi dimulai.

01 Diagnosis

Diagnosis abortasi tidak lengkap dengan perdarahan yang tertunda atau berlebihan ditetapkan melalui pendekatan komprehensif. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi vagina untuk menilai perdarahan dan keluarnya jaringan, pemeriksaan spekulum untuk visualisasi serviks, dan palpasi uterus untuk menilai ukuran dan konsistensi. Pemeriksaan USG transvaginal merupakan gold standard dengan temuan berupa residu intrauterin (retained products of conception/ RPOC) yang terlihat sebagai massa hiperekoik atau campuran di dalam kavitas uterus, dengan atau tanpa aktivitas vaskular pada Doppler. Kadar β-hCG serial dapat membantu menilai apakah jaringan masih aktif. Pemeriksaan laboratorium meliputi hitung darah lengkap untuk menilai anemia dan trombositopenia, waktu perdarahan dan koagulasi, serta golongan darah dan Rhesus. Pada kasus yang tidak jelas, histeroskopi dapat dilakukan untuk visualisasi langsung kavitas uterus dan pengambilan jaringan untuk histopatologi.

01 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan abortasi tidak lengkap dengan perdarahan yang tertunda atau berlebihan tergantung pada kondisi hemodinamik pasien dan temuan diagnostik. Pada pasien hemodinamik tidak stabil, resusitasi cairan intravena dan transfusi darah dilakukan segera sebelum intervensi definitif. Evakuasi uterus dapat dilakukan melalui pendekatan farmakologis atau mekanis. Terapi farmakologis menggunakan analog prostaglandin E1 (misoprostol) 400-800 mcg secara vaginal atau sublingual, yang efektif pada sekitar 80-90% kasus dengan residu kurang dari 50mm. Evakuasi mekanis melalui kuretase vakum (vacuum curettage) atau kuretase tajam dilakukan pada kasus dengan perdarahan aktif, residu大于50mm, kontraindikasi terhadap misoprostol, atau kegagalan terapi farmakologis. Terapi antibiotik profilaksis dengan spektrum luas direkomendasikan untuk mencegah endometritis. Monitoring ketat terhadap tanda vital, perdarahan, dan kadar hemoglobin diperlukan setelah prosedur.

01 Komplikasi

Abortasi tidak lengkap yang tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius. Komplikasi segera meliputi perdarahan yang tidak terkontrol memerlukan intervensi bedah darurat, syok hipovolemik akibat kehilangan darah massif, dan infeksi lokal pada jaringan yang tertahan. Komplikasi infeksi termasuk endometritis, miometritis, parametritis, dan pada kasus berat dapat berkembang menjadi sepsis dengan sindrom respons inflamasi sistemik. Komplikasi jangka panjang meliputi sindrom Asherman (adhesi intrauterin) akibat proses inflamasi dan penyembuhan abnormal, infertilitas sekunder akibat obstruksi tuba atau kerusakan endometrium, dan perubahan pola menstruasi. Pada kasus dengan perforasi uterus selama evakuasi, dapat terjadi kerusakan organ adjacent dan memerlukan laparotomi emergensi.

01 Prognosis

Prognosis abortasi tidak lengkap dengan perdarahan yang tertunda atau berlebihan umumnya baik jika ditangani secara tepat waktu dan adekuat. Angka keberhasilan terapi farmakologis dengan misoprostol mencapai 80-90%, sementara evakuasi bedah memiliki tingkat keberhasilan lebih dari 95%. Prognosis kesuburan tetap baik pada mayoritas kasus, dengan tingkat keberhasilan kehamilan berikutnya sekitar 70-85%. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi kecepatan penanganan, ada tidaknya komplikasi infeksi, dan kepatuhan pasien terhadap follow-up. Prognosis menjadi kurang baik pada kasus dengan komplikasi berat seperti sepsis, perforasi uterus, atau koagulopati intravaskular diseminata (KID) yang memerlukan intervensi lebih agresif dan dapat menyebabkan morbiditas jangka panjang.

01 Pencegahan

Pencegahan abortasi tidak lengkap dan komplikasinya meliputi beberapa strategi. Pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif untuk masyarakat tentang tanda-tanda ancaman abortasi dan kapan harus mencari pertolongan medis. Akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas termasuk konseling prahamil dan antenatal. Deteksi dan penanganan dini ancaman abortasi untuk mencegah progresi menjadi abortasi tidak lengkap. Pada kasus dengan riwayat abortasi berulang, investigasi penyebab yang mendasari dan penatalaksanaan spesifik. Penggunaan teknik evakuasi uterus yang tepat dan steril untuk meminimalkan retensi jaringan. Follow-up yang adekuat setelah setiap episode perdarahan abortus untuk memastikan ekspulsi lengkap. Pada kondisi yang memerlukan terminasi kehamilan, prosedur harus dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas kesehatan yang memadai sesuai standar pelayanan.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
WHO. (2023). Abortion Care Guideline. World Health Organization.
[2]
ACOG Practice Bulletin No. 200: Early Pregnancy Loss. (2018). American College of Obstetricians and Gynecologists.
[3]
ICD-10 Version: 2023. World Health Organization.
[4]
Cunningham, F.G., et al. (2022). Williams Obstetrics, 26th Edition. McGraw-Hill Education.
[5]
Jurkovic, D., & Overton, C. (2021). Diagnosis and Management of Early Pregnancy Loss. Best Practice & Research Clinical Obstetrics & Gynaecology.
[6]
Koch, M., et al. (2020). Management of Incomplete Abortion with Misoprostol: A Systematic Review. Cochrane Database of Systematic Reviews.

🔗 Konten Terkait: O05.1