MerlinDX Artikel O90.2
https://www.askep3s.org/3b678b176a/artikel/O90.2
Artikel Klinis ICD-10: O90.2

O90.2: Haematoma of Obstetric Wound - Panduan Lengkap

6 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian Haematoma of Obstetric Wound
  2. Epidemiologi
  3. Etiologi dan Penyebab
  4. Patofisiologi
  5. Klasifikasi Haematoma Obstetric Wound
  6. Gejala dan Tanda Klinis
  7. Diagnosis
  8. Diagnosis Banding
  9. Penatalaksanaan
  10. Komplikasi
  11. Prognosis
  12. Pencegahan
  13. Detail ICD-10 O90.2

01 Pengertian Haematoma of Obstetric Wound

Haematoma of obstetric wound (O90.2) adalah akumulasi darah yang terlokalisir pada luka episiotomi, luka operasi sectio caesarea, atau luka perineum akibat robekan jalan lahir. Kode ICD-10 O90.2 digunakan untuk mengklasifikasikan kondisi ini dalam sistem klasifikasi penyakit internasional. Haematoma terjadi ketika pembuluh darah rusak dan darah terkumpul dalam jaringan lunak, membentuk massa yang terbatasi oleh jaringan sekitar. Kondisi ini merupakan komplikasi postpartum yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah morbiditas dan mortalitas ibu. Haematoma obstetric wound berbeda dengan haematoma vulva karena terkait langsung dengan intervensi bedah atau robekan pada proses persalinan.

01 Epidemiologi

Insiden haematoma obstetric wound bervariasi antara 1 dari 500 hingga 1 dari 1.000 persalinan pervaginam. Haematoma luka episiotomi lebih sering terjadi dibandingkan haematoma luka sectio caesarea. Faktor risiko utama meliputi persalinan dengan alat (forceps atau vakum), robekan perineum grade III-IV, episiotomi mediolateral, dan gangguan koagulasi. Wanita dengan hipertensi dalam kehamilan juga memiliki risiko lebih tinggi. Distribusi global menunjukkan insiden lebih tinggi di negara berkembang yang memiliki akses terbatas terhadap perawatan obstetrik berkualitas. Mortalitas terkait haematoma obstetric wound sangat rendah dengan penanganan yang tepat dan cepat.

01 Etiologi dan Penyebab

Etiologi haematoma obstetric wound meliputi beberapa faktor utama. Pertama, trauma langsung pada pembuluh darah selama prosedur obstetrik seperti episiotomi atau sectio caesarea. Kedua, robekan jalan lahir yang tidak terdiagnosis atau tidak dijahit dengan adekuat. Ketiga, gangguan hemostasis baik hereditary (defisiensi faktor VIII, von Willebrand) maupun acquired (trombositopenia, koagulopati). Keempat, hipertensi yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah. Kelima, penggunaan forceps atau vakum yang menyebabkan tekanan berlebihan pada jaringan. Keenam, infeksi luka yang menyebabkan erosi pembuluh darah. Ketujuh, aktivitas fisik berlebihan postpartum yang menyebabkan robekan jahitan.

01 Patofisiologi

Patofisiologi haematoma obstetric wound dimulai dengan kerusakan pembuluh darah arteri atau vena pada luka obstetrik. Proses hemostasis primer gagal mengontrol perdarahan akibat beberapa faktor: tekanan darah tinggi yang overcome mekanisme vasokonstriksi, gangguan trombosit atau faktor koagulasi, atau jahitan yang tidak adekuat. Darah terakumulasi dalam ruang jaringan lunak yang terbatasi oleh fasia, menciptakan tekanan lokal. Tekanan progresif menyebabkan iskemia jaringan sekitar, edema, dan jika tidak ditangani, dapat menyebabkan nekrosis. Pada kasus besar, kehilangan darah tersembunyi dapat mencapai 500-1.500 mL tanpa tanda klinis yang jelas, menyebabkan hipovolemia dan syok.

01 Klasifikasi Haematoma Obstetric Wound

Haematoma obstetric wound diklasifikasikan berdasarkan beberapa parameter. Berdasarkan lokasi: haematoma episiotomi (paling umum), haematoma luka sectio caesarea, haematoma robekan perineum, dan haematoma vagina. Berdasarkan ukuran: Grade I (< 5 cm, superfisial), Grade II (5-10 cm, terbatas pada perineum), Grade III (> 10 cm, meluas ke vulva/vagina), dan Grade IV (meluas ke ruang ischiorectal atau retroperitoneal). Berdasarkan waktu kejadian: haematoma akut (dalam 24 jam postpartum) dan haematoma subakut (24-72 jam). Klasifikasi ini penting untuk menentukan strategi penatalaksanaan yang tepat.

01 Gejala dan Tanda Klinis

Manifestasi klinis haematoma obstetric wound sangat bervariasi tergantung ukuran dan lokasi. Gejala lokal meliputi nyeri perineum yang progresif dan memberat, bengkak pada vulva atau perineum, perubahan warna kulit menjadi keunguan atau hitam, perasaan penuh atau tekanan di daerah perineum, dan discharge vagina yang meningkat. Gejala sistemik meliputi tanda-tanda hipovolemia seperti takikardia, hipotensi, pusing, dan sinkop. Pasien mungkin mengalami dispareunia pada follow-up. Pada pemeriksaan fisik ditemukan massa yang fluktuatif, terbatasi, dan nyeri tekan. Kulit di atasnya mungkin tegang dan mengkilap. Haematoma yang tidak terdiagnosis dapat mengalami infeksi sekunder menjadi abses.

01 Diagnosis

Diagnosis haematoma obstetric wound didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan investigasi penunjang. Anamnesis meliputi riwayat persalinan, penggunaan alat, robekan, dan keluhan nyeri postpartum. Pemeriksaan fisik lengkap mencakup inspeksi dan palpasi perineum, vulva, dan vagina untuk menilai ukuran, konsistensi, dan batas haematoma. Pemeriksaan speculum penting untuk melihat sumber perdarahan dan haematoma vagina. Investigasi penunjang meliputi Complete Blood Count (CBC) untuk menilai anemia, PT/PTT dan fibrinogen untuk menilai koagulopati, USG transperineal atau transvaginal untuk konfirmasi dan mengukur ukuran haematoma, dan CT scan/MRI untuk haematoma dalam atau怀疑 retroperitoneal. Diagnosis banding harus dipertimbangkan untuk menghindari kesalahan diagnosis.

01 Diagnosis Banding

Diagnosis banding haematoma obstetric wound meliputi beberapa kondisi. Pertama, abses perineum yang menunjukkan tanda infeksi (demam, leukositosis) dan fluktuasi dengan pus. Kedua, kista bartholin yang biasanya unilateral dan tidak nyeri kecuali terinfeksi. Ketiga, lipoma perineum yang konsistensi lunak dan tidak nyeri. Keempat, hernia inguinalis yang dapat direduksi dan memiliki batas tidak jelas. Kelima, edema vulva yang bilateral dan symmetris. Keenam, hematokolpos yang terkait dengan atresia himen atau septum vagina. Ketujuh, sarcoma botryoides pada kasus pediatric. Evaluasi diferensial yang cermat penting untuk menghindari penatalaksanaan yang tidak tepat.

01 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan haematoma obstetric wound tergantung pada ukuran, lokasi, dan kondisi hemodinamik pasien. Untuk haematoma kecil (< 5 cm) tanpa tanda infeksi: konservatif dengan kompres dingin, analgesik, antibiotik profilaksis, dan observasi. Untuk haematoma sedang-besar (> 5 cm) atau membesar: evakuasi bedah dengan eksplorasi luka, evakuasi bekuan darah, ligasi pembuluh darah yang berdarah, debridement jaringan nekrotik, pencucian dengan saline, dan penjahitan ulang dengan drain. Untuk kondisi gawat: resusitasi cairan dan transfusi PRC sesuai indikasi, koreksi koagulopati dengan FFP/trombosit, dan operasi segera jika ada tanda syok. Terapi antibiotik IV empiris (sefalosporin + metronidazole) diberikan untuk haematoma yang suspect infeksi atau pada prosedur bedah.

01 Komplikasi

Komplikasi haematoma obstetric wound dapat bersifat lokal dan sistemik. Komplikasi lokal meliputi infeksi luka dan abses, dehiscence luka, fistula recto-vaginal atau vesico-vaginal, dan nekrosis jaringan lokal. Komplikasi sistemik meliputi syok hipovolemik akibat kehilangan darah tersembunyi, anemia postpartum yang memerlukan transfusi, sepsis dari infeksi haematoma, dan koagulopati konsumtif (DIC) pada kasus berat. Komplikasi jangka panjang mencakup dispareunia kronis, disfungsi dasar panggul, dan psikologis trauma persalinan. Deteksi dini dan penatalaksanaan yang tepat sangat penting untuk mencegah morbiditas dan mortalitas yang signifikan.

01 Prognosis

Prognosis haematoma obstetric wound umumnya baik dengan deteksi dini dan penatalaksanaan yang adekuat. Waktu pemulihan rata-rata 4-6 minggu dengan follow-up yang tepat. Prognosis buruk dikaitkan dengan keterlambatan diagnosis, ukuran haematoma besar (> 10 cm), adanya koagulopati yang mendasari, dan infeksi sekunder. Faktor-faktor yang meningkatkan prognosis baik meliputi diagnosis dalam 24 jam pertama, evakuasi bedah yang adekuat, antibiotik yang tepat, dan koreksi gangguan koagulasi. Komplikasi jangka panjang seperti inkontinensia atau dispareunia dapat diminimalkan dengan rehabilitasi panggul postpartum.

01 Pencegahan

Pencegahan haematoma obstetric wound meliputi beberapa strategi. Pertama, teknik bedah yang cermat dengan hemostasis yang baik pada semua luka obstetrik. Kedua, penggunaan episiotomi yang selektif dan teknik yang tepat (mediolateral dengan sudut 45-60 derajat). Ketiga, menghindari penggunaan forceps atau vakum yang tidak perlu. Keempat, identifikasi dan koreksi gangguan koagulasi antepartum. Kelima, kontrol tekanan darah yang baik pada pasien dengan hipertensi. Keenam, inspeksi sistematis jalan lahir setelah persalinan untuk mendeteksi robekan. Ketujuh, penjahitan yang adekuat dengan material yang sesuai. Kedelapan, edukasi pasien tentang tanda-tanda bahaya dan kapan mencari pertolongan medis.

01 Detail ICD-10 O90.2

Kode ICD-10 O90.2 merupakan bagian dari kategori O90 yang mencakup komplikasi puerperium yang tidak diklasifikasikan di tempat lain. Subkategori O90.2 secara spesifik mengklasifikasikan haematoma of obstetric wound. Kategori terkait dalam O90 meliputi: O90.0 (Disruption of caesarean section wound), O90.1 (Disruption of perineal obstetric wound), O90.2 (Haematoma of obstetric wound), dan O90.3 (Cardiomyopathy in the puerperium). Kode ini digunakan untuk dokumentasi medis, klaim asuransi, statistik kesehatan, dan penelitian epidemiologi. Penggunaan kode yang tepat penting untuk pelaporan yang akurat dan reimbursement yang sesuai.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: O90.2

Pathway: O90.2 Hematoma Luka Obstetri & SDKI