MerlinDX Artikel A54.1
https://www.askep3s.org/44b1a5421c/artikel/A54.1
Artikel Klinis ICD-10: A54.1

A54.1: Infeksi Gonore Traktus Genitourinarius Bawah dengan Abses Periuretra dan Kelenjar Aksesori

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Definisi
  2. Epidemiologi
  3. Etiologi dan Faktor Risiko
  4. Patofisiologi
  5. Presentasi Klinis
  6. Diagnosis
  7. Pengobatan
  8. Komplikasi
  9. Prognosis
  10. Pencegahan

01 Definisi

A54.1 adalah kode ICD-10 yang digunakan untuk mengklasifikasikan infeksi gonore (gonococcal infection) yang mengenai traktus genitourinarius bagian bawah, disertai dengan pembentukan abses periuretra dan kelenjar aksesori. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae, yang merupakan patogen spesifik manusia dan ditularkan terutama melalui kontak seksual. Abses periuretra dan kelenjar aksesori merupakan komplikasi lokal dari infeksi gonore yang tidak ditangani dengan tepat, di mana proses inflamasi menyebabkan akumulasi nanah pada jaringan sekitar uretra dan kelenjar aksesori genital seperti kelenjar Cowper, kelenjar Littré, atau kelenjar prostat pada pria, serta kelenjar Bartholin dan kelenjar Skene pada wanita. Kondisi ini menunjukkan stadium lanjut dari infeksi gonore yang memerlukan intervensi medis segera untuk mencegah kerusakan jaringan permanen dan komplikasi sistemik.

01 Epidemiologi

Infeksi gonore tetap menjadi salah satu infeksi menular seksual (IMS) yang paling umum di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 82 juta kasus baru gonore setiap tahunnya secara global. Insiden tertinggi ditemukan pada populasi dewasa muda yang aktif secara seksual, terutama mereka yang memiliki multiple partner seksual dan tidak menggunakan proteksi secara konsisten. Abses periuretra dan kelenjar aksesori sebagai komplikasi spesifik dari A54.1 lebih sering dilaporkan pada pria dibandingkan wanita, dengan rasio sekitar 10:1. Kondisi ini umumnya terjadi pada pasien yang tidak menjalani pengobatan atau pengobatan yang tidak adekuat dalam waktu 2-4 minggu sebelum onset gejala abses. Faktor-faktor seperti status sosioekonomi rendah, akses terbatas terhadap layanan kesehatan, dan stigma sosial yang terkait dengan IMS berkontribusi terhadap keterlambatan diagnosis dan peningkatan risiko komplikasi seperti abses.

01 Etiologi dan Faktor Risiko

Etiologi utama kondisi A54.1 adalah infeksi oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae, diplokokus gram-negatif yang bersifat aerobik dan fakultatif anaerobik. Bakteri ini memiliki afinitas tinggi terhadap sel epitel kolumnar mukosa genitourinarius. Faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap perkembangan kondisi ini meliputi: (1) Aktivitas seksual tanpa proteksi dengan pasangan yang terinfeksi; (2) Riwayat infeksi gonore sebelumnya atau IMS berulang; (3) Penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau tidak menyelesaikan regimen terapi yang diresepkan; (4) Keterlambatan pencarian perawatan medis setelah onset gejala; (5) Praktik seksual yang menyebabkan trauma mikroskopis pada mukosa uretra; (6) Kondisi immunocompromised seperti infeksi HIV, diabetes mellitus, atau penggunaan kortikosteroid; (7) Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) pada wanita; (8) Riwayat prosedur urologis atau ginekologis sebelumnya; dan (9) Poor genital hygiene. Strain Neisseria gonorrhoeae yang resisten terhadap antibiotik juga berkontribusi terhadap kegagalan terapi awal yang dapat berkembang menjadi komplikasi abses.

01 Patofisiologi

Patofisiologi kondisi A54.1 melibatkan serangkaian proses yang dimulai dari kolonisasi bakteri hingga pembentukan abses. Tahap awal terjadi ketika Neisseria gonorrhoeae menempel pada sel epitel kolumnar uretra melalui protein pilus tipe IV dan protein permukaan Opa yang berikatan dengan reseptor CD46 pada sel inang. Bakteri kemudian menembus lapisan epitel melalui proses transitosis dan mencapai lamina propria. Respons imun bawaan inang teraktivasi, menyebabkan pelepasan sitokin pro-inflamasi seperti IL-1, IL-6, TNF-α, dan kemokin yang merekrut neutrofil ke lokasi infeksi. Infiltrasi neutrofil yang masif menyebabkan pembentukan eksudat purulen. Pada kasus yang berkembang menjadi abses periuretra, proses inflamasi yang berlanjut menyebabkan destruksi jaringan lokal, akumulasi nanah yang terlokalisasi, dan pembentukan kapsul fibrosa di sekitar fokus infeksi. Kelenjar aksesori seperti kelenjar Cowper pada pria dapat terlibat melalui infeksi asendens dari uretra pars prostatika, menyebabkan obstruksi duktus kelenjar dan akumulasi sekret yang terinfeksi. Pada wanita, kelenjar Bartholin dapat mengalami obstruksi duktus akibat inflamasi, menyebabkan kista retention yang dapat menjadi terinfeksi sekunder dan membentuk abses.

01 Presentasi Klinis

Manifestasi klinis kondisi A54.1 sangat bervariasi tergantung pada lokasi dan extent infeksi. Pada pria, gejala khas meliputi discharge uretra purulen atau mukopurulen yang profus, disuria (nyeri saat berkemih), pollakisuria (frekuensi berkemih meningkat), dan perasaan tidak tuntas setelah berkemih. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan pembengkakan dan kemerahan pada daerah periuretra, sedangkan palpasi dapat mengungkapkan massa yang fluktuatif dan nyeri tekan pada area abses. Pada kasus abses kelenjar Cowper, pasien mungkin mengeluhkan nyeri perineal, demam ringan, dan dispareunia. Pada wanita, gejala dapat lebih subtil dan mencakup discharge vaginal yang abnormal, disuria, dispareunia, dan nyeri panggul. Abses kelenjar Bartholin tampak sebagai pembengkakan unilateral pada labia mayor yang nyeri, kemerahan, dan fluktuatif. Gejala sistemik seperti demam, malaise, dan nyeri tubuh dapat hadir terutama jika abses mengalami ruptur atau terjadi perluasan infeksi. Pada kedua jenis kelamin, pasien mungkin memiliki riwayat gejala uretritis yang tidak ditangani dalam beberapa minggu sebelum perkembangan gejala abses.

01 Diagnosis

Diagnosis kondisi A54.1 didasarkan pada kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan investigations laboratorium. Anamnesis harus mencakup riwayat seksual, onset gejala, durasi, dan riwayat pengobatan IMS sebelumnya. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi dan palpasi genitalia eksterna untuk menilai adanya discharge, pembengkakan, eritema, dan massa fluktuatif. Investigations laboratorium yang direkomendasikan meliputi: (1) Pemeriksaan mikroskopis Gram stain dari discharge uretra atau vagina yang menunjukkan diplokokus gram-negatif intraseluler; (2) Kultur bakteri pada media Thayer-Martin untuk konfirmasi dan uji sensitivitas antibiotik; (3) Tes amplifikasi asam nukleat (NAAT) seperti PCR untuk deteksi Neisseria gonorrhoeae dengan sensitivitas tinggi; (4) Pemeriksaan darah lengkap yang mungkin menunjukkan leukositosis; (5) Pemeriksaan fungsi ginjal dan urinalisis; dan (6) Pemeriksaan serologi untuk HIV dan sifilis sebagai bagian dari skrining IMS komprehensif. Pada kasus dengan abses yang signifikan, imaging seperti ultrasound transrectal (TRUS) pada pria atau ultrasound transperineal pada wanita dapat membantu menilai extent abses dan perencanaan terapi. Diagnosis banding meliputi abses parauretra dari penyebab non-gonococcal seperti Staphylococcus aureus, infeksi Chlamydia trachomatis dengan komplikasi, dan neoplasma yang mengalami infeksi sekunder.

01 Pengobatan

Pengobatan kondisi A54.1 memerlukan pendekatan kombinasi yang mencakup terapi antimikroba sistemik dan intervensi bedah untuk drainase abses. Terapi antimikroba lini pertama menurut pedoman CDC yang direvisi meliputi Ceftriaxone 1 gram intramuskular dalam dosis tunggal ditambah Azithromycin 1 gram oral sebagai regimen kombinasi untuk mengatasi potensi ko-infeksi Chlamydia dan memperkecil risiko resistensi. Alternatif terapi meliputi Cefixime 400 mg oral dosis tunggal ditambah Azithromycin 1 gram, atau Gentamicin 240 mg intramuskular tunggal ditambah Azithromycin 2 gram oral. Untuk pasien dengan alergi penisilin atau sefalosporin, dapat dipertimbangkan Spectinomycin 2 gram intramuskular tunggal. Durasi antibiotik sistemik umumnya 7-14 hari tergantung pada respons klinis. Intervensi bedah meliputi insisi dan drainase abses periuretra atau kelenjar aksesori yang harus dilakukan segera setelah diagnosis ditegakkan untuk mencegah destruksi jaringan lebih lanjut. Prosedur ini dilakukan dengan anestesi lokal atau regional, insisi kulit di atas abses, evakuasi nanah, irigasi kavitas dengan saline, dan pemasangan drain jika diperlukan. Pasien harus menjalani follow-up 1-2 minggu setelah terapi untuk memastikan resolusi klinis dan mikrobiologis. Partner seksual pasien juga harus dievaluasi dan ditangani.

01 Komplikasi

Komplikasi kondisi A54.1 dapat bersifat lokal maupun sistemik. Komplikasi lokal utama meliputi pembentukan fistula uretrokutaneus akibat destruksi dinding uretra oleh proses inflamasi, striktur uretra akibat jaringan parut dari proses penyembuhan, dan kerusakan permanen kelenjar aksesori yang dapat mengganggu fungsi seksual dan reproduksi. Pada pria, abses periuretra yang tidak ditangani dapat menyebar ke jaringan corpora spongiosum menyebabkan fornitis atau abses corpus spongiosum, atau ke ruang perineal profunda menyebabkan abses perineal. Komplikasi sistemik terjadi melalui disseminasi bakteri melalui bloodstream, menyebabkan sindrom artritis-dermatitis gonokokal yang ditandai dengan trias dermatitis, artritis, dan tenosinovitis. Komplikasi lain yang jarang namun serius meliputi endocarditis gonokokal, meningitis, dan sepsis. Pada wanita, abses kelenjar Bartholin yang ruptur dapat menyebabkan fistula vaginal atau infeksi jaringan perineal. Infertilitas dapat terjadi akibat kerusakan tuba falopii pada wanita atau epididimitis pada pria sebagai komplikasi dari infeksi gonore yang tidak ditangani. Risiko ko-infeksi HIV meningkat 2-5 kali lipat pada individu dengan infeksi gonore aktif.

01 Prognosis

Prognosis kondisi A54.1 umumnya baik jika didiagnosis secara tepat dan ditangani dengan terapi antimikroba yang adekuat serta drainase bedah yang sesuai. Waktu resolusi gejala setelah pengobatan yang tepat biasanya 3-7 hari untuk gejala akut, dengan resolusi lengkap abses dalam 2-4 minggu. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi: (1) Keparahan infeksi pada saat diagnosis; (2) Kepatuhan pasien terhadap regimen antibiotik; (3) Kehadiran kondisi komorbid seperti diabetes atau immunocompromise; (4) Kemungkinan resistensi antibiotik dari strain yang menginfeksi; dan (5) Kualitas follow-up dan evaluasi partner seksual. Prognosis menjadi lebih buruk jika terjadi komplikasi seperti fistula, striktur, atau disseminasi sistemik. Kerusakan jaringan yang sudah terjadi sebelum pengobatan mungkin tidak sepenuhnya reversibel, terutama jika telah terjadi destruksi kelenjar aksesori yang signifikan. Dengan penanganan yang tepat, tingkat kesembuhan mikrobiologis mencapai lebih dari 95%, namun tingkat kekambuhan tetap menjadi perhatian terutama pada pasien dengan faktor risiko yang persisten.

01 Pencegahan

Pencegahan kondisi A54.1 dan infeksi gonore secara umum mencakup strategi edukasi, perubahan perilaku, dan intervensi medis. Edukasi kesehatan seksual yang komprehensif harus diberikan kepada populasi berisiko tinggi, menekankan tentang pentingnya penggunaan kondom secara konsisten dan benar, pengenalan gejala IMS, dan pentingnya pencarian perawatan medis segera jika gejala muncul. Skrining rutin untuk IMS direkomendasikan untuk individu yang aktif secara seksual dengan multiple partner atau yang memiliki riwayat IMS sebelumnya. Pendekatan partner notification and treatment (PNT) sangat penting untuk memutus rantai penularan, di mana semua partner seksual dalam 60 hari terakhir sebelum onset gejala harus dievaluasi dan ditangani. Vaksinasi terhadap Neisseria gonorrhoeae saat ini belum tersedia secara luas, namun penelitian untuk pengembangan vaksin masih berlangsung. Penggunaan profilaksis pre-exposure (PrEP) untuk HIV juga merupakan kesempatan untuk memberikan konseling tentang pencegahan IMS. Pada pasien dengan episode sebelumnya, reinforcement tentang pentingnya kepatuhan pengobatan dan follow-up sangat penting untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
Centers for Disease Control and Prevention. (2021). Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021. MMWR Recommendations and Reports, 70(4), 1-187.
[2]
World Health Organization. (2021). Global Health Sector Strategy on Sexually Transmitted Infections 2016-2021. Geneva: WHO.
[3]
Unemo, M., Lahra, M. M., Escher, M., Eremin, S., Cole, M. J., Galarza, P., ... & Wi, T. (2021). WHO Global Gonococcal Antimicrobial Surveillance Programme (WHO GASP): review of new data and evidence to inform international collaborative actions and research efforts. Sexually Transmitted Infections, 97(Supplement_1), S1-S8.
[4]
Handsfield, H. H. (2020). Gonococcal infections in adults and adolescents. In Remington and Klein's Infectious Diseases of the Fetus and Newborn Infant (pp. 1067-1088). Elsevier.
[5]
Bignell, C., & FitzGerald, M. (2011). UK national guideline on the management of gonorrhoea in adults. International Journal of STD & AIDS, 22(10), 541-547.
[6]
Workowski, K. A., Bachmann, L. H., Chan, P. A., Johnston, C. M., Muzny, C. A., Park, I., ... & Bolan, G. A. (2021). Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021. MMWR Recommendations and Reports, 70(4), 1-187.

🔗 Konten Terkait: A54.1

Pathway: A54.1 Abses Gonokokal & SDKI