MerlinDX Artikel O61.0
https://www.askep3s.org/4fea8a527e/artikel/O61.0
Artikel Klinis ICD-10: O61.0

O61.0: Kegagalan Induksi Persalinan Medis - Definisi, Etiologi, Diagnosis, dan Tatalaksana

15 Jan 2024 9 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian
  2. Etiologi dan Faktor Risiko
  3. Patofisiologi
  4. Gejala dan Tanda
  5. Diagnosis
  6. Diagnosis Banding
  7. Tatalaksana
  8. Komplikasi
  9. Prognosis
  10. Pencegahan

01 Pengertian

Kegagalan induksi persalinan medis (failed medical induction of labour) adalah kondisi ketika proses induksi persalinan yang dilakukan dengan menggunakan metode farmakologis atau mekanis tidak berhasil memicu aktivitas persalinan yang adekuat setelah periode waktu tertentu. Secara definisi, kegagalan induksi persalinan terjadi ketika induksi tidak menghasilkan persalinan pervaginam dalam waktu yang ditentukan, sehingga memerlukan intervensi tambahan berupa seksio sesarea atau metode persalinan operatif lainnya. Kondisi ini merupakan salah satu komplikasi yang signifikan dalam praktik obstetri modern dan berkontribusi terhadap peningkatan angka seksio sesarea. Kegagalan induksi persalinan medis berbeda dengan kegagalan induksi persalinan secara umum karena melibatkan penggunaan agen farmakologis spesifik seperti oksitosin atau prostaglandin sebagai modalitas utama untuk menginduksi kontraksi uterus. Diagnosis kegagalan induksi persalinan medis memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap respons uterus terhadap induksi, kondisi serviks, serta faktor-faktor maternal dan fetal yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses persalinan.

01 Etiologi dan Faktor Risiko

Kegagalan induksi persalinan medis dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Faktor-faktor utama meliputi ketidakcocokan antara ukuran janin dan panggul maternal (disproporsi sefalopelvik), kelainan posisi janin seperti presentasi bokong atau posisi oksipito-posterior, serta immaturitas serviks yang ditunjukkan dengan skor Bishop rendah. Faktor risiko maternal yang signifikan termasuk usia ibu di atas 35 tahun, obesitas dengan indeks massa tubuh lebih dari 30 kg/m², primigravida, serta riwayat persalinan sebelumnya yang berakhir dengan seksio sesarea. Faktor-faktor obstetrik seperti ketuban pecah dini yang berkepanjangan, oligohidramnion, dan preeklampsia juga meningkatkan risiko kegagalan induksi. Dari sisi metodologi, pemilihan agen induksi yang tidak tepat, dosis yang tidak adekuat, serta interval pemberian yang tidak sesuai dapat berkontribusi terhadap kegagalan. Selain itu, kondisi serviks yang tidak menguntungkan dengan skor Bishop kurang dari 6 umumnya dikaitkan dengan tingkat keberhasilan induksi yang lebih rendah. Faktor-faktor fetal seperti makrosomia, pertumbuhan janin terhambat, atau kelainan kongenital juga dapat mempengaruhi respons terhadap induksi persalinan.

01 Patofisiologi

Patofisiologi kegagalan induksi persalinan medis melibatkan interaksi kompleks antara faktor hormonal, mekanis, dan histologis. Proses persalinan normal bergantung pada koordinasi antara kontraksi uterus yang efektif, pematangan serviks, dan respons jaringan ikat serviks terhadap mediator inflamasi. Pada kegagalan induksi, terjadi gangguan pada kaskade ini yang dapat terjadi pada beberapa level. Pertama, resistensi serviks dapat menghambat respons terhadap agen induksi karena matriks kolagen serviks yang masih rigid dan kurang responsif terhadap prostaglandin. Kedua, sensitivitas miometrium terhadap oksitosin dapat menurun akibat down-regulation reseptor oksitosin atau defisiensi reseptor kontraksi. Ketiga, aktivasi kaskade inflamasi yang diperlukan untuk inisiasi persalinan spontan mungkin tidak terjadi secara adekuat pada induksi medis. Proses remodeling serviks yang normal melibatkan degradasi kolagen, peningkatan hidrasi jaringan, dan infiltrasi leukosit yang dimediasi oleh sitokin proinflamasi. Pada kegagalan induksi, proses remodeling ini tidak berjalan optimal sehingga serviks tetap rigid dan tidak mengalami pemendekan serta pelunakan yang diperlukan untuk persalinan. Selain itu, kontraksi uterus yang terinduksi mungkin tidak efektif dalam menghasilkan tekanan intrauterin yang cukup untuk mendorong janin melalui jalan lahir.

01 Gejala dan Tanda

Manifestasi klinis kegagalan induksi persalinan medis meliputi отсутствие progressi persalinan despite adequate uterine contractions, serviks yang tidak mengalami perubahan signifikan setelah periode induksi yang adekuat, serta отсутствие onset persalinan aktif. Secara objektif, tanda-tanda kegagalan induksi meliputi tidak terjadinya perubahan skor Bishop lebih dari 2-3 poin setelah 12-24 jam pemberian prostaglandin, atau отсутствие dilatasi serviks progresif setelah fase laten yang memanjang dengan infus oksitosin. Kontraksi uterus yang terinduksi dapat terdeteksi melalui monitoring uterus, namun tidak disertai dengan effacement dan dilatasi serviks yang progresif. Pasien mungkin mengeluhkan kontraksi yang teratur namun tidak efektif, atau sebaliknya, отсутствие aktivitas kontraktil yang adekuat meskipun telah diberikan agen induksi. Pada pemeriksaan dalam, serviks tetap panjang, tebal, dan закрытый atau hanya sedikit membuka. Tanda-tanda fetal distress seperti perubahan denyut jantung janin yang tidak reassuring dapat muncul secondary terhadap kontraksi yang tidak efektif atau pemanjangan proses persalinan. Secara umum, kriteria kegagalan induksi persalinan medis menurut ACOG adalah отсутствие perubahan serviks yang adekuat setelah minimal 12-18 jam pemberian oksitosin dengan dosis optimal, atau отсутствие progressi ke fase aktif persalinan.

01 Diagnosis

Diagnosis kegagalan induksi persalinan medis ditetapkan berdasarkan evaluasi komprehensif yang mencakup anamnesis detail, pemeriksaan fisik menyeluruh, dan investigations penunjang yang tepat. Anamnesis harus mencakup usia gestasi, riwayat obstetrik sebelumnya, indikasi induksi, metode dan durasi induksi, serta respons yang observed selama proses induksi. Pemeriksaan fisik meliputi palpasi abdomen untuk menilai tinggi fundus dan presentasi janin, auskultasi denyut jantung janin, serta pemeriksaan dalam per vagam untuk menilai kondisi serviks. Evaluasi serviks dilakukan menggunakan skor Bishop yang menilai lima parameter: posisi serviks, konsistensi, effacement, dilatasi, dan tinggi presentasi. Skor Bishop kurang dari 6 menunjukkan serviks yang tidak favorable untuk induksi. Investigations penunjang meliputi cardiotocography untuk menilai respons janin dan aktivitas uterus, ultrasonografi untuk menilai presentasi janin, estimasi berat janin, volume amnion, dan posisi plasenta. Pada kasus-kasus tertentu, pelvikimetri radiologis dapat dipertimbangkan untuk menilai proporsi sefalopelvik. Diagnosis kegagalan induksi ditegakkan ketika setelah periode induksi yang adekuat dengan agen yang appropriate dan dosis yang optimal, tidak terjadi progressi persalinan yang ditandai dengan отсутствие dilatasi serviks atau отсутствие effacement yang signifikan. Kriteria waktu yang digunakan bervariasi, namun umumnya mencakup 12-24 jam untuk fase laten dan 2-3 jam stasis pada fase aktif.

01 Diagnosis Banding

Beberapa kondisi dapat menyerupai kegagalan induksi persalinan medis dan perlu dipertimbangkan dalam diagnosis diferensial. Persalinan presipitata merupakan kondisi dengan progressi persalinan yang sangat cepat yang dapat memberikan kesan bahwa induksi berhasil, namun sebenarnya merupakan variasi normal dari persalinan. Persalinan terlambat atau prolonged labor adalah kondisi di mana persalinan berlangsung lebih lama dari waktu normal namun masih menunjukkan progressi, berbeda dengan kegagalan induksi yang menunjukkan отсутствие progressi total. Disproporsi sefalopelvik yang sebenarnya dapat bermanifestasi serupa dengan kegagalan induksi karena kontraksi uterus tidak mampu mendorong janin melalui panggul yang sempit. Kontraksi uterus yang tidak koordinat atau uncoordinated uterine contractions dapat menyebabkan nyeri persalinan yang signifikan namun tidak efektif dalam menghasilkan dilatasi serviks. Hipotonia uterus, yaitu kontraksi uterus yang lemah atau infrequent, juga dapat menyebabkan kegagalan progressi persalinan. Selain itu, kesalahan dalam menentukan fase persalinan, di mana pasien sebenarnya masih dalam fase laten yang memanjang, harus dipertimbangkan sebelum menyatakan kegagalan induksi. Evaluasi yang cermat diperlukan untuk membedakan antara kegagalan induksi sejati dengan simplemente fase laten yang memanjang atau respons lambat terhadap induksi yang masih dalam batas normal.

01 Tatalaksana

Penatalaksanaan kegagalan induksi persalinan medis bergantung pada penyebab yang mendasari, kondisi maternal dan fetal, serta usia gestasi. Tatalaksana konservatif meliputi penilaian ulang terhadap metode induksi yang digunakan dan penyesuaian strategi. Jika induksi awal menggunakan prostaglandin intravaginal dan gagal,可以考虑 penambahan oksitosin intravena dengan protokol yang escalating. Penilaian ulang serviks dengan skor Bishop harus dilakukan untuk menentukan apakah serviks sudah lebih favorable untuk persalinan. Jika setelah optimalisasi induksi tetap tidak ada progressi, maka keputusan untuk melakukan seksio sesarea harus diambil. Pada kondisi serviks yang unfavorable, ripening serviks dengan prostaglandin dapat dilakukan terlebih dahulu sebelum induksi dengan oksitosin. Tatalaksana operatif berupa seksio sesarea diindikasikan ketika kegagalan induksi telah dikonfirmasi dan kondisi maternal atau fetal memerlukan terminasi kehamilan segera. Pada kasus dengan disproporsi sefalopelvik yang dicurigai, seksio sesarea elektif merupakan pilihan yang lebih appropriate daripada mencoba induksi ulang. Monitoring fetal secara kontinu harus dilakukan selama proses induksi dan evaluasi ulang. Konseling kepada pasien dan keluarga mengenai prognosis, risiko, dan alternatif penanganan sangat penting dalam pengambilan keputusan bersama. Dokumentasi yang lengkap mengenai indikasi, durasi, dan alasan kegagalan induksi diperlukan untuk keperluan medicolegal.

01 Komplikasi

Kegagalan induksi persalinan medis dapat mengakibatkan berbagai komplikasi baik pada ibu maupun janin. Komplikasi maternal meliputi peningkatan risiko seksio sesarea yang pada gilirannya meningkatkan morbiditas terkait operasi seperti infeksi luka operasi, perdarahan, dan tromboemboli vena. Persalinan operatif juga meningkatkan risiko ruptur uteri pada kehamilan berikutnya, terutama pada wanita dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya. Pemanjangan masa persalinan dapat menyebabkan kelelahan maternal, dehidrasi, dan ketidakseimbangan elektrolit. Infeksi intra-amnionik dapat terjadi akibat pemanjangan ketuban pecah sebelum persalinan. Komplikasi pada janin meliputi peningkatan risiko infeksi neonatal, trauma persalinan akibat intervensi operatif, serta asfiksia yang terkait dengan persalinan yang memanjang atau distress janin yang berkembang selama proses induksi yang gagal. Paparan terhadap agen induksi seperti oksitosin dalam dosis tinggi dapat menyebabkan hiperstimulasi uterus yang berpotensi menyebabkan gangguan denyut jantung janin. Pada kasus-kasus tertentu, upaya persalinan pervaginam yang dilanjutkan meskipun ada tanda-tanda kegagalan dapat mengakibatkan ruptur uteri, trauma jalan lahir pada ibu, atau trauma kepala pada janin akibat disproporsi sefalopelvik yang tidak terdeteksi.

01 Prognosis

Prognosis kegagalan induksi persalinan medis bervariasi tergantung pada penyebab yang mendasari, kondisi maternal dan fetal saat diagnosis, serta kecepatan intervensi yang dilakukan. Secara umum, prognosis maternal baik jika kegagalan induksi dikenali secara dini dan ditangani dengan seksio sesarea yang tepat waktu sebelum terjadi komplikasi serius. Prognosis fetal juga umumnya baik dengan penatalaksanaan yang adekuat, asalkan seksio sesarea dilakukan sebelum terjadi asfiksia atau trauma persalinan yang signifikan. Namun, terdapat peningkatan risiko morbiditas maternal terkait dengan seksio sesarea dibandingkan persalinan pervaginam yang berhasil. Pada kehamilan berikutnya, wanita dengan riwayat kegagalan induksi memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk memerlukan induksi ulang, meskipun tingkat keberhasilan bervariasi tergantung pada penyebab kegagalan sebelumnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis negatif meliputi usia maternal lanjut, obesitas, diabetes mellitus, dan kondisi serviks yang sangat unfavorable pada awal induksi. Konseling prenatal yang komprehensif mengenai kemungkinan kegagalan induksi dan alternatif penatalaksanaan sangat penting untuk mempersiapkan pasien dan keluarga menghadapi kemungkinan tersebut.

01 Pencegahan

Pencegahan kegagalan induksi persalinan medis dimulai dengan seleksi kasus yang tepat untuk induksi dan persiapan serviks yang adekuat sebelum induksi. Indikasi induksi harus dievaluasi secara cermat, dan induksi elektif sebaiknya dihindari pada kondisi-kondisi yang diketahui memiliki tingkat keberhasilan rendah. Penilaian serviks dengan skor Bishop harus dilakukan sebelum memulai induksi; jika skor kurang dari 6, ripening serviks dengan prostaglandin harus dilakukan terlebih dahulu untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan. Penggunaan protokol induksi yang standardized dan berbasis bukti dapat membantu mengoptimalkan hasil. Monitoring yang ketat selama proses induksi memungkinkan deteksi dini kegagalan dan intervensi yang tepat waktu. Edukasi pasien mengenai proses induksi, ekspektasi yang realistis, dan tanda-tanda yang memerlukan perhatian medis juga merupakan bagian penting dari pencegahan. Pada wanita dengan faktor risiko tinggi untuk kegagalan induksi seperti skor Bishop rendah, primigravida dengan usia gestasi lanjut, atau suspected fetal macrosomia, pertimbangan untuk melakukan seksio sesarea elektif mungkin lebih appropriate daripada mencoba induksi. Dokumentasi yang lengkap mengenai proses induksi, respons yang observed, dan keputusan klinis yang diambil sangat penting untuk quality assurance dan improvement.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
American College of Obstetricians and Gynecologists. (2021). Induction of Labor. ACOG Practice Bulletin No. 217.
[2]
World Health Organization. (2018). WHO Recommendations: Induction of Labour at or Beyond Term. Geneva: WHO Press.
[3]
Cunningham, F.G., et al. (2022). Williams Obstetrics, 26th Edition. New York: McGraw-Hill Education.
[4]
NICE Clinical Guideline. (2021). Inducing Labour. National Institute for Health and Care Excellence.
[5]
Indonesian Society of Obstetrics and Gynecology. (2020). Panduan Praktik Klinis: Induksi Persalinan. Jakarta: POGI Press.

🔗 Konten Terkait: O61.0