01 Pengertian Askariasis dengan Komplikasi Lain (B77.8)
Askariasis dengan komplikasi lain (ICD-10: B77.8) adalah kondisi infeksi parasit yang disebabkan oleh cacing gelang Ascaris lumbricoides yang disertai dengan komplikasi di luar manifestasi klinis ringan. Askariasis merupakan infeksi cacing yang paling umum terjadi di seluruh dunia, terutama di daerah tropis dan subtropis dengan sanitasi yang buruk. Kode ICD-10 B77.8 secara spesifik digunakan untuk kasus askariasis yang mengalami komplikasi seperti obstruksi usus, kolestasis, pankreatitis, atau migrasi larva ke organ-organ di luar saluran pencernaan. Komplikasi ini dapat terjadi akibat beban parasit yang tinggi atau respons imun宿主 yang tidak memadai terhadap infeksi cacing gelang.
01 Etiologi dan Penyebab
Askariasis disebabkan oleh infeksi parasit Ascaris lumbricoides, yang merupakan salah satu cacing nematoda terbesar yang menginfeksi manusia. Cacing dewasa jantan memiliki panjang sekitar 15-30 cm dengan diameter 2-4 mm, sedangkan betina dapat mencapai panjang 20-35 cm dengan diameter 3-6 mm. Siklus hidup parasit ini dimulai dari telur yang telah dibuahi yang keluar bersama feses宿主, kemudian mengalami embryonasi di tanah selama 2-4 minggu hingga menjadi telur infektif. Penularan terjadi melalui ingesti telur infektif yang terkontaminasi pada makanan, minuman, atau tangan yang tidak bersih. Faktor risiko utama meliputi sanitasi yang buruk, hygiene personal yang kurang memadai, konsumsi sayuran dan buah-buahan yang tidak dicuci dengan bersih, serta tinggal di daerah endemis. Anak-anak lebih rentan mengalami infeksi berat dan komplikasi karena kebiasaan bermain di tanah dan tingkat hygiene yang belum optimal.
01 Epidemiologi
Askariasis merupakan salah satu infeksi parasit tanah yang paling prevalen di seluruh dunia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 800 juta hingga 1,2 miliar orang di dunia terinfeksi Ascaris lumbricoides, dengan sekitar 60.000 kematian terjadi setiap tahun akibat komplikasi serius. Prevalensi tertinggi ditemukan di wilayah Asia Tenggara, Afrika Sub-Sahara, Amerika Latin, dan Tiongkok. Di Indonesia, askariasis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di daerah pedesaan dengan sanitasi terbatas. Infeksi dapat terjadi pada semua kelompok usia, namun prevalensi tertinggi ditemukan pada anak-anak usia 5-15 tahun. Faktor lingkungan seperti kelembaban tinggi, suhu hangat, dan kontaminasi tanah dengan feses manusia menjadi kondisi ideal untuk embryonasi telur Ascaris.
01 Patofisiologi
Patofisiologi askariasis dengan komplikasi melibatkan beberapa mekanisme yang saling terkait. Setelah ingesti telur infektif, larva menetas di usus halus dan menembus dinding usus untuk masuk ke dalam sirkulasi portal. Fase migrasi larva berlangsung selama 4-16 hari, di mana larva melewati hati melalui vena porta, jantung kanan, arteri pulmonalis, dan akhirnya mencapai paru-paru. Di paru-paru, larva menembus alveoli, naik melalui bronkus dan trakea, kemudian ditelan kembali ke usus halus. Fase intestinal dimulai ketika larva yang tertelan berkembang menjadi cacing dewasa di dalam lumen usus halus, terutama di bagian jejunum. Komplikasi terjadi melalui beberapa mekanisme: (1) Obstruksi mekanis akibat akumulasi cacing dewasa dalam jumlah banyak yang dapat membentuk gumpalan atau bola cacing; (2) Migrasi ektopik ketika cacing dewasa mencari jalan keluar melalui saluran empedu, duktus pankreatikus, atau bahkan appendix; (3) Respon inflamasi lokal yang disebabkan oleh antigen cacing yang mengiritasi mukosa usus dan organ yang terlibat; (4) Malabsorpsi nutrisi akibat gangguan fungsi usus halus dan kompetisi nutrisi antara宿主 dan parasit.
01 Tanda dan Gejala Klinis
Manifestasi klinis askariasis sangat bervariasi tergantung pada fase infeksi dan tingkat beban parasit. Pada fase migrasi larva, pasien dapat mengalami sindrom Loeffler yang ditandai dengan demam ringan, batuk kering, dispnea, dan infiltrat pulmoner pada pemeriksaan radiologis. Gejala ini sering tidak spesifik dan dapat disalahartikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas biasa. Pada fase intestinal, infeksi ringan biasanya asymptomatic, sedangkan infeksi sedang hingga berat dapat menyebabkan nyeri perut difus, mual, muntah, diare, dan penurunan nafsu makan. Komplikasi yang dapat terjadi meliputi: (1) Obstruksi usus yang ditandai dengan nyeri abdomen kolik, distensi abdomen, muntah profus, dan tidak dapat deflasi flatus; (2) Kolestasis atau kolangitis yang ditandai dengan ikterus, nyeri hipokondrium kanan, dan demam; (3) Pankreatitis akut yang ditandai dengan nyeri epigastrik yang menjalar ke punggung, mual, muntah, dan peningkatan amilase/lipase serum; (4) Apendisitis atau peritonitis jika cacing bermigrasi ke appendix; (5) Malnutrisi dan defisiensi vitamin terutama pada infeksi kronis berulang.
01 Diagnosis
Diagnosis askariasis dengan komplikasi memerlukan pendekatan sistematis yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis harus mencakup riwayat perjalanan ke daerah endemis, kebiasaan hygiene, konsumsi makanan dan minuman yang berpotensi terkontaminasi, serta gejala yang dialami pasien. Pemeriksaan fisik dapat menemukan abdomen yang distensi dan nyeri tekan, massa abdomen yang teraba seperti gumpalan (bola cacing), ikterus pada komplikasi hepatobilier, atau tanda-tanda obstruksi usus. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan meliputi: (1) Pemeriksaan mikroskopis feses untuk menemukan telur Ascaris (sensitifitas meningkat pada pemeriksaan berulang 3 kali); (2) Pemeriksaan hitung telur dalam feses untuk menilai intensitas infeksi; (3) Pemeriksaan darah lengkap yang dapat menunjukkan eosinofilia terutama pada fase migrasi larva; (4) Foto rontgen abdomen dapat menunjukkan gambaran radio-opak seperti garis lurus atau spiral yang merupakan cacing dewasa; (5) Ultrasonografi abdomen untuk mendeteksi cacing di dalam usus, saluran empedu, atau pankreas; (6) CT-scan atau MRI abdomen pada kasus komplikasi untuk menilai extent dan lokasi komplikasi; (7) Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP) untuk diagnosis dan tatalaksana komplikasi hepatobilier.
01 Diagnosis Banding
Diagnosis banding askariasis dengan komplikasi sangat luas karena gejala yang ditimbulkan dapat menyerupai berbagai kondisi medis lainnya. Diagnosis banding utama meliputi: (1) Obstruksi usus mekanik akibat penyebab lain seperti hernia inkarserata, volvulus, atau adhesi; (2) Kolangitis atau kolelitiasis yang menyebabkan ikterus dan nyeri hipokondrium kanan; (3) Pankreatitis akut akibat batu empedu atau konsumsi alkohol; (4) Apendisitis akut; (5) Giardiasis yang juga menyebabkan malabsorpsi dan gangguan gastrointestinal; (6) Strongiloidiasis yang memiliki fase migrasi larva serupa; (7) Infeksi cacing pita seperti Taenia saginata atau Taenia solium; (8) Enterobiasis yang menyebabkan pruritus ani; (9) Trikinosis yang juga menyebabkan eosinofilia dan gejala gastrointestinal; (10) Penyakit Crohn atau kolitis ulseratif yang dapat menyebabkan gejala serupa. Pemeriksaan laboratorium dan pencitraan yang tepat sangat penting untuk membedakan askariasis dengan komplikasi dari kondisi-kondisi di atas.
01 Tatalaksana dan Pengobatan
Tatalaksana askariasis dengan komplikasi memerlukan pendekatan yang komprehensif meliputi terapi farmakologis, intervensi bedah jika diperlukan, dan terapi suportif. Terapi farmakologis lini pertama meliputi: (1) Albendazol 400 mg dosis tunggal oral untuk dewasa, atau 200 mg untuk anak-anak di atas 2 tahun; (2) Mebendazol 100 mg dua kali sehari selama 3 hari atau 500 mg dosis tunggal; (3) Pirantel pamoat 11 mg/kgBB dosis tunggal dengan dosis maksimal 1 gram. Terapi alternatif meliputi piperazin sitrat yang memiliki efek antikolinergik terhadap cacing sehingga melumpuhkan cacing dan memudahkan ekspulsi. Pada kasus komplikasi obstruksi usus, tatalaksana awal adalah dekompresi nasogastrik, puasa, dan rehidrasi intravena, serta pemberian antelmintik setelah obstruksi teratasi. Pada kasus komplikasi hepatobilier atau pankreatik, diperlukan intervensi endoskopi (ERCP) untuk ekstraksi cacing dari saluran empedu atau pankreas. Tindakan bedah dilakukan jika terjadi perforasi usus, peritonitis, atau obstruksi yang tidak dapat diatasi secara konservatif. Terapi suportif meliputi rehidrasi, koreksi ketidakseimbangan elektrolit, dan nutrisi adekuat untuk mengatasi malnutrisi.
01 Komplikasi
Askariasis dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius yang memerlukan penanganan segera. Komplikasi gastrointestinal meliputi obstruksi usus parsial atau total akibat akumulasi cacing dewasa yang membentuk bola cacing, perforasi usus, invaginasi, dan peritonitis. Komplikasi hepatobilier meliputi kolangitis, kolestasis, abses hati, dan sirosis bilier sekunder akibat obstruksi dan inflamasi kronis saluran empedu. Komplikasi pankreatik meliputi pankreatitis akut yang dapat berkembang menjadi pankreatitis nekrotikan jika tidak ditangani dengan baik. Komplikasi pulmoner meliputi sindrom Loeffler yang ditandai dengan infiltrat pulmoner, pneumonitis, dan dalam kasus jarang dapat terjadi perdarahan pulmoner. Komplikasi nutrisi meliputi malnutrisi protein-energi, defisiensi vitamin A, vitamin C, dan zat besi akibat malabsorpsi dan kompetisi nutrisi. Pada anak-anak, infeksi kronis dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan kognitif. Komplikasi yang jarang namun fatal meliputi migrasi cacing ke otak yang menyebabkan neuroaskariasis dengan manifestasi neurologis.
01 Pencegahan
Pencegahan askariasis dengan komplikasi memerlukan pendekatan kesehatan masyarakat yang komprehensif dan perubahan perilaku individu. Upaya kesehatan masyarakat meliputi: (1) Penyediaan sanitasi dasar yang memadai termasuk akses ke toilet yang layak dan sistem pembuangan feses yang higienis; (2) Pengolahan air bersih untuk konsumsi rumah tangga; (3) Pendidikan kesehatan masyarakat tentang hygiene personal dan bahaya infeksi parasit; (4) Pengendalian infeksi di daerah endemis melalui program deworming massal pada anak sekolah; (5) Pemantauan dan surveilans penyakit secara berkala. Upaya individu meliputi: (1) Cuci tangan dengan sabun secara teratur terutama sebelum makan dan setelah buang air besar; (2) Cuci bersih sayuran dan buah-buahan sebelum dikonsumsi; (3) Masak makanan hingga matang sempurna; (4) Minum air yang sudah dimasak atau air kemasan; (5) Gunakan alas kaki saat berjalan di tanah yang berpotensi terkontaminasi; (6) Jaga kebersihan kuku dan potong secara teratur; (7) Lakukan pemeriksaan feses secara berkala terutama bagi mereka yang tinggal di daerah endemis.
01 Prognosis
Prognosis askariasis dengan komplikasi sangat bergantung pada jenis dan keparahan komplikasi yang terjadi, serta kecepatan dan ketepatan tatalaksana. Pada kasus askariasis tanpa komplikasi atau dengan komplikasi ringan yang ditangani dengan tepat menggunakan antelmintik yang adekuat, prognosis umumnya baik dengan tingkat kesembuhan mendekati 100%. Prognosis menjadi lebih buruk pada kasus dengan komplikasi serius seperti obstruksi usus total, pankreatitis akut berat, atau kolangitis yang tidak ditangani secara cepat. Keterlambatan diagnosis dan tatalaksana dapat menyebabkan morbiditas yang signifikan dan dalam kasus yang jarang dapat menyebabkan kematian. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi status nutrisi pasien sebelumnya, ada tidaknya komorbiditas, status imunologis, dan usia pasien. Anak-anak dan lansia memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan dewasa muda karena cadangan nutrisi dan respons imun yang lebih rendah. Dengan tatalaksana yang tepat dan cepat, sebagian besar komplikasi dapat diatasi tanpa sequela jangka panjang.
01 Referensi
1. World Health Organization. Soil-transmitted helminth infections: Fact sheet. Geneva: WHO; 2023.
2. Dold C, Holland CV. Ascaris lumbricoides: A review of its epidemiology and relationship to other infections. Trans R Soc Trop Med Hyg. 2019;113(5):245-254.
3. Jourdan PM, Lamberton PHL, Fenwick A, Addiss DG. Soil-transmitted helminth infections. Lancet. 2018;391(10117):252-265.
4. Centers for Disease Control and Prevention. Ascariasis - Biology. Atlanta: CDC; 2022.
5. Bethony J, Brooker S, Albonico M, et al. Soil-transmitted helminth infections: Ascariasis, trichuriasis, and hookworm. Lancet. 2006;367(9521):1521-1532.
6. Hall A, Hewitt G, Tuffrey V, de Silva N. A review and meta-analysis of the impact of intestinal worms on child growth and nutrition. Matern Child Nutr. 2008;4(Suppl 1):118-236.
7. Pullan RL, Smith JL, Jasrasaria R, Brooker SJ. Global numbers of infection and disease burden of soil transmitted helminth infections in 2010. Parasit Vectors. 2014;7:37.
8. Hotez PJ, Brindley PJ, Bethony JM, King CH, Pearce EJ, Jacobson J. Helminth infections: The great neglected tropical diseases. J Clin Invest. 2008;118(4):1311-1321.
9. International Classification of Diseases, 10th Revision (ICD-10). Geneva: WHO; 2019.
10. Stephenson LS, Holland CV, Cooper ES. The public health significance of Trichuris trichiura. Parasitology. 2000;121(Suppl):S73-S95.
2. Dold C, Holland CV. Ascaris lumbricoides: A review of its epidemiology and relationship to other infections. Trans R Soc Trop Med Hyg. 2019;113(5):245-254.
3. Jourdan PM, Lamberton PHL, Fenwick A, Addiss DG. Soil-transmitted helminth infections. Lancet. 2018;391(10117):252-265.
4. Centers for Disease Control and Prevention. Ascariasis - Biology. Atlanta: CDC; 2022.
5. Bethony J, Brooker S, Albonico M, et al. Soil-transmitted helminth infections: Ascariasis, trichuriasis, and hookworm. Lancet. 2006;367(9521):1521-1532.
6. Hall A, Hewitt G, Tuffrey V, de Silva N. A review and meta-analysis of the impact of intestinal worms on child growth and nutrition. Matern Child Nutr. 2008;4(Suppl 1):118-236.
7. Pullan RL, Smith JL, Jasrasaria R, Brooker SJ. Global numbers of infection and disease burden of soil transmitted helminth infections in 2010. Parasit Vectors. 2014;7:37.
8. Hotez PJ, Brindley PJ, Bethony JM, King CH, Pearce EJ, Jacobson J. Helminth infections: The great neglected tropical diseases. J Clin Invest. 2008;118(4):1311-1321.
9. International Classification of Diseases, 10th Revision (ICD-10). Geneva: WHO; 2019.
10. Stephenson LS, Holland CV, Cooper ES. The public health significance of Trichuris trichiura. Parasitology. 2000;121(Suppl):S73-S95.