01 Pendahuluan
Defisiensi Faktor XI Herediter atau Hemofilia C adalah kelainan perdarahan herediter yang relatif jarang terjadi dibandingkan dengan hemofilia A dan B. Kondisi ini disebabkan oleh defisiensi atau disfungsi Faktor XI, suatu glikoprotein yang berperan penting dalam jalur koagulasi intrinsik (intrinsic pathway) kaskade pembekuan darah. Meskipun termasuk kelainan perdarahan ringan hingga sedang, defisiensi Faktor XI dapat menyebabkan komplikasi perdarahan yang signifikan terutama pada prosedur bedah atau trauma. Penyakit ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1953 dan hingga kini masih menjadi fokus penelitian dalam bidang hematologi.
02 Epidemiologi
Defisiensi Faktor XI Herediter memiliki prevalensi yang bervariasi di berbagai populasi di dunia. Pada populasi Ashkenazi Yahudi, prevalensi kondisi ini jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum, dengan angka heterozygositas mencapai 8-10% dan homozigositas sekitar 0,2-0,5%. Di populasi umum, prevalensi defisiensi Faktor XI Herediter diperkirakan sekitar 1:1.000.000 untuk bentuk homozigot dan lebih tinggi untuk bentuk heterozigot. Rasio antara laki-laki dan perempuan yang terdampak relatif seimbang karena sifat pewarisan yang autosomal.
03 Etiologi dan Penyebab
Defisiensi Faktor XI Herediter disebabkan oleh mutasi genetik pada gen F11 yang terletak di kromosom 4q35.2. Gen ini mengkode protein Faktor XI yang terdiri dari dua subunit identik yang saling terikat. Hingga saat ini, lebih dari 200 mutasi berbeda telah diidentifikasi pada gen F11. Mutasi yang paling sering ditemukan pada populasi Ashkenazi Yahudi adalah tipe II (Glu117stop) dan tipe III (Phe283Leu). Mutasi-mutasi ini menyebabkan penurunan produksi Faktor XI secara signifikan atau menghasilkan protein Faktor XI yang tidak fungsional.
04 Patofisiologi
Faktor XI merupakan komponen penting dalam jalur koagulasi intrinsik (intrinsic pathway) atau yang dikenal juga sebagai jalur aktivasi Faktor XII. Faktor XI diaktifkan menjadi Faktor XIa oleh Faktor XIIa, trombin, atau melalui mekanisme umpan balik positif. Faktor XIa kemudian mengaktifkan Faktor IX menjadi Faktor IXa, yang selanjutnya berpartisipasi dalam kompleks tenase (Faktor VIIIa-Faktor IXa) untuk mengaktifkan Faktor X. Aktivasi Faktor X ini merupakan langkah kritis dalam pembentukan bekuan darah. Pada defisiensi Faktor XI, proses aktivasi Faktor IX terganggu sehingga pembentukan bekuan fibrin menjadi tidak optimal, meskipun jalur ekstrinsik (Faktor VIIa-tissue factor) masih berfungsi normal. Hal ini menjelaskan mengapa pasien dengan defisiensi Faktor XI umumnya mengalami perdarahan yang lebih ringan dibandingkan pasien hemofilia A atau B.
05 Gejala dan Tanda Klinis
Manifestasi klinis defisiensi Faktor XI Herediter sangat bervariasi, bahkan di antara anggota keluarga yang memiliki mutasi yang sama. Banyak individu dengan defisiensi Faktor XI tidak menunjukkan gejala sama sekali dan kondisi ini sering terdeteksi secara kebetulan melalui pemeriksaan laboratorium rutin. Gejala perdarahan yang paling sering dilaporkan meliputi: perdarahan setelah prosedur bedah atau pencabutan gigi, memar yang mudah terjadi bahkan tanpa trauma yang signifikan, epistaksis (mimisan) yang berulang, menoragia (perdarahan menstruasi yang berlebihan) pada perempuan, perdarahan gusi, dan dalam kasus yang jarang terjadi, hemarthrosis (perdarahan sendi) spontan. Perdarahan pasca-operasi dapat terjadi beberapa hari setelah prosedur bedah, berbeda dengan hemofilia A dan B yang biasanya perdarahan terjadi segera setelah prosedur.
06 Diagnosis
Diagnosis defisiensi Faktor XI herediter memerlukan pendekatan diagnostik yang sistematis meliputi anamnesis menyeluruh tentang riwayat perdarahan pasien dan keluarga, pemeriksaan fisik untuk menilai tanda-tanda perdarahan, serta serangkaian pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium awal meliputi waktu perdarahan (bleeding time) yang umumnya normal, waktu pembekuan (clotting time) yang dapat memanjang atau normal, activated Partial Thromboplastin Time (aPTT) yang memanjang, dan waktu protrombin (PT) yang normal. Untuk konfirmasi diagnosis, dilakukan pemeriksaan tingkat Faktor XI dalam plasma menggunakan metode one-stage assay atau chromogenic assay. Diagnosis pasti ditegakkan ketika tingkat Faktor XI kurang dari 70% dari nilai normal. Pemeriksaan genetik molekuler dapat dilakukan untuk mengidentifikasi mutasi spesifik, meskipun tidak selalu diperlukan untuk diagnosis klinis.
07 Diagnosis Banding
Beberapa kondisi lain dapat menunjukkan gambaran klinis dan laboratorium yang serupa dengan defisiensi Faktor XI herediter sehingga perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding. Defisiensi Faktor VIII (Hemofilia A) dan defisiensi Faktor IX (Hemofilia B) memiliki manifestasi klinis yang mirip namun umumnya lebih berat. Defisiensi Faktor XII tidak menyebabkan perdarahan klinis meskipun aPTT memanjang. Penyakit von Willebrand, terutama tipe 2N, dapat menunjukkan aPTT memanjang dan harus disingkirkan. Defisiensi Faktor IX, X, dan XIII juga perlu dipertimbangkan dalam diagnosis banding. Konsultasi dengan spesialis hematologi sangat dianjurkan untuk membedakan kondisi-kondisi ini secara akurat.
08 Tata Laksana dan Pengobatan
Penatalaksanaan defisiensi Faktor XI herediter bergantung pada tingkat keparahan perdarahan dan jenis prosedur yang akan dilakukan. Untuk perdarahan ringan atau prosedur bedah minor, terapi antifibrinolitik seperti asam traneksamat atau asam aminokaproat dapat diberikan secara tunggal. Untuk prosedur bedah mayor atau perdarahan yang signifikan, pengganti Faktor XI diperlukan berupa plasma beku segar (Fresh Frozen Plasma/FFP), cryoprecipitate, atau konsentrat Faktor XI jika tersedia. Konsentrat Faktor XI recombinan belum tersedia secara luas. Pada beberapa kasus, Desmopressin (DDAVP) dapat digunakan untuk meningkatkan kadar Faktor XI endogen, meskipun responsnya bervariasi. Pencegahan perdarahan sebelum prosedur bedah elektif sangat penting dan harus direncanakan secara multidisciplinary bersama tim hematologi dan bedah.
09 Komplikasi
Komplikasi utama defisiensi Faktor XI herediter berkaitan dengan episode perdarahan yang tidak terkontrol. Perdarahan pasca-operasi yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan anemia berat dan memerlukan transfusi darah. Hemarthrosis berulang, meskipun jarang, dapat menyebabkan kerusakan sendi kronis dan keterbatasan gerak. Perdarahan pada area vital seperti otak atau saluran cerna dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani segera. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah pengembangan inhibitor (antibodi terhadap Faktor XI) pada beberapa pasien yang menerima terapi pengganti, yang dapat mempersulit penatalaksanaan perdarahan selanjutnya. Pasien dengan defisiensi Faktor XI juga berisiko mengalami perdarahan berlebihan saat prosedur invasif jika profilaksis yang tepat tidak diberikan.
10 Prognosis
Prognosis defisiensi Faktor XI herediter umumnya baik dengan penatalaksanaan yang tepat. Sebagian besar pasien dapat menjalani kehidupan normal dengan kualitas hidup yang baik. Prognosis sangat bergantung pada kepatuhan pasien terhadap rekomendasi medis, terutama dalam hal profilaksis sebelum prosedur bedah atau tindakan invasif. Pasien dengan riwayat perdarahan signifikan memerlukan pemantauan rutin dan perencanaan yang matang sebelum menjalani prosedur apapun. Dengan kemajuan dalam pilihan terapi dan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi ini, angka morbiditas dan mortalitas terkait perdarahan pada defisiensi Faktor XI herediter terus menurun.
11 Pencegahan
Pencegahan episode perdarahan pada defisiensi Faktor XI herediter meliputi beberapa strategi penting. Pasien harus menghindari penggunaan obat-obatan yang mempengaruhi fungsi trombosit seperti aspirin dan NSAID. Konsultasi genetik sangat dianjurkan bagi pasien dan keluarga untuk memahami pola pewarisan dan risiko transmisi ke generasi berikutnya. Pasien harus membawa kartu identifikasi kondisi perdarahan setiap saat. Sebelum prosedur bedah atau tindakan invasif, profilaksis yang tepat harus direncanakan. Olahraga teratur dengan aktivitas fisik yang aman direkomendasikan untuk menjaga kesehatan sendi dan otot. Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda perdarahan yang perlu diwaspadai sangat penting untuk deteksi dini dan penanganan cepat.
12 Referensi
1. Duga, R., & Asselta, R. (2014). Rare bleeding disorders. Hämostaseologie, 34(2), 127-137.
2. Gomez, K., & Bolton-Maggs, P. (2018). Factor XI deficiency. Haemophilia, 24(S4), 74-81.
3. James, P., & Salomon, O. (2014). Rare bleeding disorders—genetics, pathophysiology, and management. Current Opinion in Hematology, 21(6), 485-492.
4. Pautard, B. (2019).因子XI欠乏症 [Factor XI deficiency]. Rinsho Ketsueki, 60(7), 735-742.
5. Wheeler, A. P., & Gailani, D. (2016). Why the contact pathway matters in bleeding. Research and Practice in Thrombosis and Haemostasis, 1(1), 30-37.
2. Gomez, K., & Bolton-Maggs, P. (2018). Factor XI deficiency. Haemophilia, 24(S4), 74-81.
3. James, P., & Salomon, O. (2014). Rare bleeding disorders—genetics, pathophysiology, and management. Current Opinion in Hematology, 21(6), 485-492.
4. Pautard, B. (2019).因子XI欠乏症 [Factor XI deficiency]. Rinsho Ketsueki, 60(7), 735-742.
5. Wheeler, A. P., & Gailani, D. (2016). Why the contact pathway matters in bleeding. Research and Practice in Thrombosis and Haemostasis, 1(1), 30-37.