01 Pengertian Limfoma Non-Hodgkin Sel Kecil (Diffuse)
Limfoma Non-Hodgkin sel kecil tipe diffuse (Small lymphocytic lymphoma/SLL) adalah jenis kanker sistem limfatik yang termasuk dalam kelompok limfoma sel B yang tumbuh lambat (indolent). Kode ICD-10 untuk kondisi ini adalah C83.0. Penyakit ini характеризуется proliferasi sel limfosit B kecil yang tersebar secara difus di kelenjar getah bening atau jaringan limfoid lainnya.
SLL sangat terkait erat dengan leukemia limfositik kronis (CLL), sehingga keduanya sering dianggap sebagai manifestasi berbeda dari penyakit yang sama. Perbedaannya terletak pada lokasi utama sel kanker: pada SLL, sel kanker terutama ditemukan di kelenjar getah bening, sementara pada CLL, sel kanker lebih banyak ditemukan di dalam darah perifer dan sumsum tulang.
SLL sangat terkait erat dengan leukemia limfositik kronis (CLL), sehingga keduanya sering dianggap sebagai manifestasi berbeda dari penyakit yang sama. Perbedaannya terletak pada lokasi utama sel kanker: pada SLL, sel kanker terutama ditemukan di kelenjar getah bening, sementara pada CLL, sel kanker lebih banyak ditemukan di dalam darah perifer dan sumsum tulang.
02 Epidemiologi
Limfoma Non-Hodgkin merupakan kelompok kanker kelenjar getah bening yang cukup umum. SLL sendiri menyumbang sekitar 6-7% dari semua kasus Limfoma Non-Hodgkin. Penyakit ini lebih sering terjadi pada orang dewasa, dengan usia rata-rata diagnosis sekitar 60-65 tahun. Insiden SLL sedikit lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita, dengan rasio sekitar 1,5:1.
Di Indonesia, data spesifik tentang SLL masih terbatas, namun tren global menunjukkan peningkatan insiden Limfoma Non-Hodgkin secara keseluruhan dalam beberapa dekade terakhir, sebagian besar karena peningkatan diagnosis dan penuaan populasi.
Di Indonesia, data spesifik tentang SLL masih terbatas, namun tren global menunjukkan peningkatan insiden Limfoma Non-Hodgkin secara keseluruhan dalam beberapa dekade terakhir, sebagian besar karena peningkatan diagnosis dan penuaan populasi.
03 Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab pasti SLL belum sepenuhnya dipahami, namun kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan imunologis berperan dalam pathogenesis penyakit ini. Berikut adalah faktor-faktor yang meningkatkan risiko:
**Faktor Risiko Utama:**
- Mutasi genetik somatik seperti delesi kromosom 13q14, delesi 11q22-23, dan trisomi 12
- Riwayat keluarga dengan limfoma atau leukemia limfositik kronis
- Paparan bahan kimia tertentu (pestisida, pelarut organik)
- Infeksi virus tertentu seperti Virus Epstein-Barr (EBV) dan Hepatitis C
- Gangguan autoimun seperti rheumatoid arthritis, lupus eritematosus sistemik
- Imunosupresi kronis
**Faktor Lingkungan:**
- Paparan radiasi ionisasi
- Riwayat transplantasi organ dengan terapi imunosupresif
- Obesitas dan gaya hidup tidak sehat
**Faktor Risiko Utama:**
- Mutasi genetik somatik seperti delesi kromosom 13q14, delesi 11q22-23, dan trisomi 12
- Riwayat keluarga dengan limfoma atau leukemia limfositik kronis
- Paparan bahan kimia tertentu (pestisida, pelarut organik)
- Infeksi virus tertentu seperti Virus Epstein-Barr (EBV) dan Hepatitis C
- Gangguan autoimun seperti rheumatoid arthritis, lupus eritematosus sistemik
- Imunosupresi kronis
**Faktor Lingkungan:**
- Paparan radiasi ionisasi
- Riwayat transplantasi organ dengan terapi imunosupresif
- Obesitas dan gaya hidup tidak sehat
04 Gejala Klinis
Gejala SLL dapat berkembang secara perlahan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Banyak pasien tidak menunjukkan gejala pada stadium awal dan penyakit terdeteksi secara kebetulan melalui pemeriksaan rutin.
**Gejala Umum:**
- Limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening) yang tidak nyeri, terutama di leher, ketiak, dan selangkangan
- Splenomegali (pembesaran limpa)
- Hepatomegali (pembesaran hati) pada beberapa kasus
- Kelelahan kronis yang tidak dapat dijelaskan
- Penurunan berat badan yang tidak disengaja
- Demam ringan berulang tanpa sumber infeksi yang jelas
- Keringat malam berlebihan (night sweats)
**Gejala Spesifik:**
- Anemia yang menyebabkan pusing dan sesak napas
- Trombositopenia yang dapat menyebabkan mudah memar atau perdarahan
- Infeksi berulang akibat immunocompromised
- Pada kasus lanjut, dapat terjadi infiltrasi organ lain seperti paru-paru, saluran cerna, atau sistem saraf pusat
**Gejala Umum:**
- Limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening) yang tidak nyeri, terutama di leher, ketiak, dan selangkangan
- Splenomegali (pembesaran limpa)
- Hepatomegali (pembesaran hati) pada beberapa kasus
- Kelelahan kronis yang tidak dapat dijelaskan
- Penurunan berat badan yang tidak disengaja
- Demam ringan berulang tanpa sumber infeksi yang jelas
- Keringat malam berlebihan (night sweats)
**Gejala Spesifik:**
- Anemia yang menyebabkan pusing dan sesak napas
- Trombositopenia yang dapat menyebabkan mudah memar atau perdarahan
- Infeksi berulang akibat immunocompromised
- Pada kasus lanjut, dapat terjadi infiltrasi organ lain seperti paru-paru, saluran cerna, atau sistem saraf pusat
05 Diagnosis
Diagnosis SLL memerlukan pendekatan multimodal yang komprehensif untuk memastikan diagnosis dan menentukan stadium penyakit.
**1. Pemeriksaan Fisik:**
- Penilaian kelenjar getah bening perifer (leher, aksila, inguinal)
- Pemeriksaan abdomen untuk menilai hepatosplenomegali
- Evaluasi tanda-tanda anemia atau perdarahan
**2. Pemeriksaan Laboratorium:**
- Hitung darah lengkap (CBC) dengan diferensial
- Pemeriksaan darah perifer dengan apusan darah tepi
- Profil kimia darah termasuk LDH, β2-microglobulin
- Tes fungsi hati dan ginjal
- Analisis imunofenotip dengan flow cytometry untuk mendeteksi penanda sel B (CD19+, CD20+, CD5+, CD23+)
**3. Pemeriksaan Histopatologi:**
- Biopsi kelenjar getah bening atau jaringan yang terlibat
- Immunohistokimia untuk konfirmasi penanda sel B
- Pemeriksaan histologi menunjukkan infiltrat sel kecil difus dengan proliferasi sel套 (proliferation centers)
**4. Pemeriksaan Pencitraan:**
- CT scan dada, abdomen, dan panggul
- PET-CT scan untuk menilai aktivitas metabolik dan menentukan stadium
- USG abdomen jika diperlukan
**5. Pemeriksaan Tambahan:**
- Aspirasi dan biopsi sumsum tulang
- Sitogenetik dan FISH untuk kelainan kromosom spesifik
- Tes β2-microglobulin serum
**1. Pemeriksaan Fisik:**
- Penilaian kelenjar getah bening perifer (leher, aksila, inguinal)
- Pemeriksaan abdomen untuk menilai hepatosplenomegali
- Evaluasi tanda-tanda anemia atau perdarahan
**2. Pemeriksaan Laboratorium:**
- Hitung darah lengkap (CBC) dengan diferensial
- Pemeriksaan darah perifer dengan apusan darah tepi
- Profil kimia darah termasuk LDH, β2-microglobulin
- Tes fungsi hati dan ginjal
- Analisis imunofenotip dengan flow cytometry untuk mendeteksi penanda sel B (CD19+, CD20+, CD5+, CD23+)
**3. Pemeriksaan Histopatologi:**
- Biopsi kelenjar getah bening atau jaringan yang terlibat
- Immunohistokimia untuk konfirmasi penanda sel B
- Pemeriksaan histologi menunjukkan infiltrat sel kecil difus dengan proliferasi sel套 (proliferation centers)
**4. Pemeriksaan Pencitraan:**
- CT scan dada, abdomen, dan panggul
- PET-CT scan untuk menilai aktivitas metabolik dan menentukan stadium
- USG abdomen jika diperlukan
**5. Pemeriksaan Tambahan:**
- Aspirasi dan biopsi sumsum tulang
- Sitogenetik dan FISH untuk kelainan kromosom spesifik
- Tes β2-microglobulin serum
06 Klasifikasi dan Stadium
**Klasifikasi WHO 2016 untuk SLL/CLL:**
SLL diklasifikasikan berdasarkan karakteristik immunophenotypic dan sitogenetik. Sistem staging yang digunakan adalah sistem Rai (di AS) atau Binet (di Eropa).
**Stadium Rai (0-IV):**
- Stadium 0: Limfositosis murni tanpa limfadenopati, hepatomegali, atau splenomegali
- Stadium I: Limfositosis dengan limfadenopati saja
- Stadium II: Limfositosis dengan hepatomegali atau splenomegali dengan atau tanpa limfadenopati
- Stadium III: Limfositosis dengan anemia (Hb <11 g/dL) dengan atau tanpa limfadenopati atau organomegali
- Stadium IV: Limfositosis dengan trombositopenia (<100.000/μL) dengan atau tanpa manifestasi lain
**Stadium Binet (A-C):**
- Stadium A: Limfositosis dengan <3 area limfoid yang membesar
- Stadium B: Limfositosis dengan ≥3 area limfoid yang membesar
- Stadium C: Anemia (Hb <10 g/dL) atau trombositopenia (<100.000/μL)
SLL diklasifikasikan berdasarkan karakteristik immunophenotypic dan sitogenetik. Sistem staging yang digunakan adalah sistem Rai (di AS) atau Binet (di Eropa).
**Stadium Rai (0-IV):**
- Stadium 0: Limfositosis murni tanpa limfadenopati, hepatomegali, atau splenomegali
- Stadium I: Limfositosis dengan limfadenopati saja
- Stadium II: Limfositosis dengan hepatomegali atau splenomegali dengan atau tanpa limfadenopati
- Stadium III: Limfositosis dengan anemia (Hb <11 g/dL) dengan atau tanpa limfadenopati atau organomegali
- Stadium IV: Limfositosis dengan trombositopenia (<100.000/μL) dengan atau tanpa manifestasi lain
**Stadium Binet (A-C):**
- Stadium A: Limfositosis dengan <3 area limfoid yang membesar
- Stadium B: Limfositosis dengan ≥3 area limfoid yang membesar
- Stadium C: Anemia (Hb <10 g/dL) atau trombositopenia (<100.000/μL)
07 Pengobatan
Pengobatan SLL tergantung pada stadium penyakit, gejala, usia pasien, dan kondisi umum kesehatan. SLL adalah penyakit yang tumbuh lambat dan banyak pasien pada stadium awal tidak memerlukan terapi segera, melainkan hanya observasi aktif (watchful waiting).
**1. Watchful Waiting (Observasi Aktif):**
- Untuk pasien stadium awal (Rai 0-II atau Binet A) tanpa gejala
- Pemantauan rutin setiap 3-6 bulan
- Terapi dimulai saat ada tanda-tanda progresi penyakit
**2. Kemoterapi:**
- **Regimen berbasis fludarabine:** Fludarabine + cyclophosphamide ± rituximab (FCR)
- **Regimen bendamustine:** Bendamustine + rituximab (BR)
- **Regimen lain:** CHOP, CVP dengan atau tanpa rituximab
- **Obat oral:** Ibrutinib (inhibitor BTK), venetoclax (inhibitor BCL-2)
**3. Imunoterapi:**
- **Rituximab (anti-CD20):** Antibodi monoklonal yang targeting sel B
- **Obinutuzumab:** Alternatif anti-CD20 dengan afinitas lebih tinggi
- **Ofatumumab:** Untuk pasien yang resisten terhadap rituximab
**4. Terapi Target:**
- **Ibrutinib:** Inhibitor Bruton's tyrosine kinase, lini pertama untuk pasien tua atau dengan komorbiditas
- **Venetoclax:** Untuk pasien dengan delesi 17p atau yang relaps/refraktori
- **Idelalisib:** Inhibitor PI3Kδ untuk penyakit relaps
**5. Terapi Radiasi:**
- Untuk penyakit lokal yang menyebabkan gejala
- Radiasi pada kelenjar getah bening yang membesar
- Total lymphoid irradiation untuk kasus tertentu
**6. Terapi Supportif:**
- Transfusi darah untuk anemia atau trombositopenia berat
- Profilaksis antibiotik untuk mencegah infeksi
- Vaksinasi (influenza, pneumokokus)
- Faktor pertumbuhan koloni (G-CSF) untuk neutropenia
**1. Watchful Waiting (Observasi Aktif):**
- Untuk pasien stadium awal (Rai 0-II atau Binet A) tanpa gejala
- Pemantauan rutin setiap 3-6 bulan
- Terapi dimulai saat ada tanda-tanda progresi penyakit
**2. Kemoterapi:**
- **Regimen berbasis fludarabine:** Fludarabine + cyclophosphamide ± rituximab (FCR)
- **Regimen bendamustine:** Bendamustine + rituximab (BR)
- **Regimen lain:** CHOP, CVP dengan atau tanpa rituximab
- **Obat oral:** Ibrutinib (inhibitor BTK), venetoclax (inhibitor BCL-2)
**3. Imunoterapi:**
- **Rituximab (anti-CD20):** Antibodi monoklonal yang targeting sel B
- **Obinutuzumab:** Alternatif anti-CD20 dengan afinitas lebih tinggi
- **Ofatumumab:** Untuk pasien yang resisten terhadap rituximab
**4. Terapi Target:**
- **Ibrutinib:** Inhibitor Bruton's tyrosine kinase, lini pertama untuk pasien tua atau dengan komorbiditas
- **Venetoclax:** Untuk pasien dengan delesi 17p atau yang relaps/refraktori
- **Idelalisib:** Inhibitor PI3Kδ untuk penyakit relaps
**5. Terapi Radiasi:**
- Untuk penyakit lokal yang menyebabkan gejala
- Radiasi pada kelenjar getah bening yang membesar
- Total lymphoid irradiation untuk kasus tertentu
**6. Terapi Supportif:**
- Transfusi darah untuk anemia atau trombositopenia berat
- Profilaksis antibiotik untuk mencegah infeksi
- Vaksinasi (influenza, pneumokokus)
- Faktor pertumbuhan koloni (G-CSF) untuk neutropenia
08 Prognosis
Prognosis SLL bervariasi tergantung pada beberapa faktor prognostik penting. Secara umum, SLL memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan limfoma agresif, namun tetap merupakan penyakit yang belum dapat disembuhkan secara definitif.
**Faktor Prognostik Baik:**
- Mutasi gen IGHV (mutated IGHV)
- Tidak ada delesi 17p atau mutasi TP53
- Stadium awal saat diagnosis
- LDH normal
- β2-microglobulin normal
- Usia muda saat diagnosis
- Respon lengkap terhadap terapi lini pertama
**Faktor Prognostik Buruk:**
- Delesi 17p atau mutasi TP53
- IGHV unmutated
- LDH meningkat
- β2-microglobulin meningkat
- Proliferasi tinggi (Ki-67 >30%)
- Transformasi menjadi limfoma agresif (Richter's transformation)
**Survival Rate:**
- Median survival untuk SLL adalah sekitar 10-15 tahun untuk pasien yang memenuhi syarat untuk terapi
- Angka survival 5 tahun sekitar 72-93%
- Pasien dengan faktor prognostik buruk memiliki prognosis lebih pendek
**Faktor Prognostik Baik:**
- Mutasi gen IGHV (mutated IGHV)
- Tidak ada delesi 17p atau mutasi TP53
- Stadium awal saat diagnosis
- LDH normal
- β2-microglobulin normal
- Usia muda saat diagnosis
- Respon lengkap terhadap terapi lini pertama
**Faktor Prognostik Buruk:**
- Delesi 17p atau mutasi TP53
- IGHV unmutated
- LDH meningkat
- β2-microglobulin meningkat
- Proliferasi tinggi (Ki-67 >30%)
- Transformasi menjadi limfoma agresif (Richter's transformation)
**Survival Rate:**
- Median survival untuk SLL adalah sekitar 10-15 tahun untuk pasien yang memenuhi syarat untuk terapi
- Angka survival 5 tahun sekitar 72-93%
- Pasien dengan faktor prognostik buruk memiliki prognosis lebih pendek
09 Pencegahan
Karena penyebab pasti SLL belum diketahui, pencegahan spesifik belum dapat ditetapkan. Namun, beberapa langkah dapat membantu mengurangi risiko:
**Pencegahan Primer:**
- Menghindari paparan bahan kimia berbahaya seperti pestisida dan pelarut organik
- Mengurangi paparan radiasi ionisasi yang tidak perlu
- Menjaga berat badan ideal dengan diet seimbang dan olahraga teratur
- Menghentikan kebiasaan merokok
- Mengelola stres dan menjaga kesehatan mental
**Pencegahan Sekunder (Deteksi Dini):**
- Pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi individu dengan faktor risiko
- Tidak mengabaikan pembengkakan kelenjar getah bening yang persisten
- Konsultasi medis segera jika mengalami gejala yang mencurigakan
- Pemantauan rutin untuk individu dengan riwayat keluarga limfoma
**Pencegahan Tersier:**
- Kepatuhan terhadap jadwal kontrol dan pemantauan
- Deteksi dini kekambuhan atau progresi penyakit
- Menjaga daya tahan tubuh dengan nutrisi adekuat
**Pencegahan Primer:**
- Menghindari paparan bahan kimia berbahaya seperti pestisida dan pelarut organik
- Mengurangi paparan radiasi ionisasi yang tidak perlu
- Menjaga berat badan ideal dengan diet seimbang dan olahraga teratur
- Menghentikan kebiasaan merokok
- Mengelola stres dan menjaga kesehatan mental
**Pencegahan Sekunder (Deteksi Dini):**
- Pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi individu dengan faktor risiko
- Tidak mengabaikan pembengkakan kelenjar getah bening yang persisten
- Konsultasi medis segera jika mengalami gejala yang mencurigakan
- Pemantauan rutin untuk individu dengan riwayat keluarga limfoma
**Pencegahan Tersier:**
- Kepatuhan terhadap jadwal kontrol dan pemantauan
- Deteksi dini kekambuhan atau progresi penyakit
- Menjaga daya tahan tubuh dengan nutrisi adekuat
10 Kapan Harus ke Dokter
Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami:
**Gejala Darurat:**
- Pembengkakan kelenjar getah bening yang cepat membesar atau tidak nyeri
- Penurunan berat badan drastis (>10% berat badan dalam 6 bulan)
- Demam berulang tanpa sebab jelas
- Keringat malam berlebihan hingga membasahi pakaian
- Kelelahan ekstrem yang mengganggu aktivitas sehari-hari
**Gejala Lain yang Perlu Perhatian:**
- Splenomegali atau hepatomegali yang teraba
- Mudah memar atau perdarahan yang tidak biasa
- Infeksi berulang
- Sesak napas atau pusing (tanda anemia)
**Kondisi Khusus:**
- Riwayat keluarga dengan limfoma atau leukemia
- Riwayat paparan bahan kimia berbahaya
- Riwayat penyakit autoimun
- Sedang menjalani terapi imunosupresif
Deteksi dan diagnosis dini sangat penting untuk memulai pengobatan lebih awal dan meningkatkan prognosis. Jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis hematologi-onkologi jika Anda memiliki kekhawatiran terkait gejala-gejala tersebut.
**Gejala Darurat:**
- Pembengkakan kelenjar getah bening yang cepat membesar atau tidak nyeri
- Penurunan berat badan drastis (>10% berat badan dalam 6 bulan)
- Demam berulang tanpa sebab jelas
- Keringat malam berlebihan hingga membasahi pakaian
- Kelelahan ekstrem yang mengganggu aktivitas sehari-hari
**Gejala Lain yang Perlu Perhatian:**
- Splenomegali atau hepatomegali yang teraba
- Mudah memar atau perdarahan yang tidak biasa
- Infeksi berulang
- Sesak napas atau pusing (tanda anemia)
**Kondisi Khusus:**
- Riwayat keluarga dengan limfoma atau leukemia
- Riwayat paparan bahan kimia berbahaya
- Riwayat penyakit autoimun
- Sedang menjalani terapi imunosupresif
Deteksi dan diagnosis dini sangat penting untuk memulai pengobatan lebih awal dan meningkatkan prognosis. Jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis hematologi-onkologi jika Anda memiliki kekhawatiran terkait gejala-gejala tersebut.
11 Referensi
1. Swerdlow SH, Campo E, Harris NL, et al. WHO Classification of Tumours of Haematopoietic and Lymphoid Tissues. Revised 4th Edition. IARC: Lyon 2017.
2. Hallek M, Cheson BD, Catovsky D, et al. iwCLL guidelines for diagnosis, indications for treatment, response assessment, and supportive management of CLL. Blood. 2018;131(25):2745-2760.
3. Zelenetz AD, Gordon LI, Abramson JS, et al. NCCN Guidelines Insights: B-Cell Lymphomas, Version 3.2019. J Natl Compr Canc Netw. 2019;17(6):650-661.
4. Eichhorst B, Robak T, Montserrat E, et al. Chronic lymphocytic leukaemia: ESMO Clinical Practice Guidelines for diagnosis, treatment and follow-up. Ann Oncol. 2021;32(1):23-33.
5. Kipps TJ, Stevenson FK, Wu CJ, et al. Chronic lymphocytic leukemia. Nat Rev Dis Primers. 2017;3:16096.
6. WHO. International Classification of Diseases, 10th Revision (ICD-10). Geneva: World Health Organization; 2019.
2. Hallek M, Cheson BD, Catovsky D, et al. iwCLL guidelines for diagnosis, indications for treatment, response assessment, and supportive management of CLL. Blood. 2018;131(25):2745-2760.
3. Zelenetz AD, Gordon LI, Abramson JS, et al. NCCN Guidelines Insights: B-Cell Lymphomas, Version 3.2019. J Natl Compr Canc Netw. 2019;17(6):650-661.
4. Eichhorst B, Robak T, Montserrat E, et al. Chronic lymphocytic leukaemia: ESMO Clinical Practice Guidelines for diagnosis, treatment and follow-up. Ann Oncol. 2021;32(1):23-33.
5. Kipps TJ, Stevenson FK, Wu CJ, et al. Chronic lymphocytic leukemia. Nat Rev Dis Primers. 2017;3:16096.
6. WHO. International Classification of Diseases, 10th Revision (ICD-10). Geneva: World Health Organization; 2019.