MerlinDX Artikel J21.9
https://www.askep3s.org/5b1d51fadf/artikel/J21.9
Bronkiolitis Akut (J21.9): Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Penanganan
Photo by olia danilevich on Pexels
Artikel Klinis ICD-10: J21.9

Bronkiolitis Akut (J21.9): Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Penanganan

4 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Bagian 1
  2. Bagian 2
  3. Bagian 3
  4. Bagian 4
  5. Bagian 5
  6. Bagian 6
  7. Bagian 7
  8. Bagian 8

01

Bronkiolitis akut adalah peradangan akut yang terjadi pada bronkiolus, yaitu saluran udara kecil di dalam paru-paru. Kondisi ini menyebabkan obstruksi atau penyumbatan pada saluran napas bagian bawah akibat edema (pembengkakan) dinding bronkiolus, hipersekresi kelenjar mukosa, dan akumulasi debris seluler. Bronkiolitis akut paling sering terjadi pada bayi dan anak-anak usia di bawah 2 tahun, namun dapat juga menyerang dewasa. Kode ICD-10 untuk bronkiolitis akut yang disebabkan organisme yang tidak spesifik adalah J21.9.

02

Bronkiolitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan penyebab tersering, terutama pada bayi dan anak-anak. Virus lain yang dapat menyebabkan bronkiolitis akut meliputi rhinovirus, influenza, parainfluenza, adenovirus, dan metapneumovirus manusia. Pada kasus J21.9 (bronchiolitis due to unspecified organism), organisme penyebab tidak dapat diidentifikasi secara spesifik melalui pemeriksaan laboratorium. Faktor risiko yang meningkatkan kejadian bronkiolitis akut meliputi usia di bawah 6 bulan, prematuritas, paparan asap rokok, kepadatan hunian, dan عدم adanya pemberian ASI.

03

Gejala bronkiolitis akut biasanya dimulai dengan gejala saluran napas atas seperti pilek, hidung tersumbat, dan demam ringan. Dalam 1-3 hari, gejala berkembang menjadi kesulitan bernapas dengan karakteristik sebagai berikut: napas cepat (takipnea),tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernapas, mengi (bising napas tambahan berupa bunyi siulan), batuk, dan penurunan nafsu makan. Pada bayi, tanda dehidrasi dapat terlihat karena kesulitan minum. Dalam kasus berat, dapat terjadi sianosis (kulit membiru akibat kekurangan oksigen), apnea (henti napas sementara), dan distres napas berat.

04

Diagnosis bronkiolitis akut (J21.9) didasarkan pada anamnesis yang cermat mengenai riwayat gejala, pemeriksaan fisik yang komprehensif, dan pemeriksaan penunjang yang sesuai. Pemeriksaan fisik akan menemukan tanda-tanda seperti ronki halus, mengi, dan tarikan subkostal. Pada pemeriksaan penunjang, pulse oximetry penting untuk menilai saturasi oksigen. Rontgen dada dapat menunjukkan hiperinflasi paru dan penebalan pola bronkovaskular. Pemeriksaan virologi dengan rapid antigen test atau PCR dapat mengidentifikasi virus penyebab, namun pada kasus J21.9 hasil pemeriksaan tidak spesifik atau tidak tersedia. Diagnosis banding meliputi asma, pneumonia, dan benda asing yang teraspirasi.

05

Penanganan bronkiolitis akut bersifat suportif dan simptomatik. Terapi utama meliputi memastikan hidrasi yang adekuat melalui pemberian cairan oral atau intravena jika diperlukan, suplementasi oksigen jika saturasi oksigen di bawah 92%, dan suctioning nasal untuk membersihkan jalan napas. Bronkodilator seperti salbutamol dapat dicoba pada beberapa kasus, meskipun bukti efektivitasnya terbatas. Kortikosteroid sistemik tidak direkomendasikan secara rutin. Pada kasus berat dengan gagal napas, diperlukan rawat inap dengan kemungkinan ventilasi mekanik. Antibiotik hanya diberikan jika terdapat bukti infeksi bakteri sekunder.

06

Pencegahan bronkiolitis akut terutama dilakukan dengan menerapkan kebersihan yang baik. Cuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik merupakan langkah paling efektif. Hindari paparan asap rokok dan polutan udara lainnya. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan dapat memberikan perlindungan imunologis. Pada populasi risiko tinggi seperti bayi prematur, dapat dipertimbangkan profilaksis dengan palivizumab selama musim RSV. Hindari kontak dengan individu yang sedang sakit infeksi saluran napas dan batasi посещение tempat umum yang ramai selama musim epidemi.

07

Segera cari pertolongan medis jika penderita bronkiolitis akut menunjukkan tanda-tanda bahaya berikut: kesulitan bernapas yang berat dengan retraksi dinding dada yang nyata, sianosis atau perubahan warna kulit menjadi kebiruan terutama pada bibir dan ujung jari, dehidrasi yang ditandai dengan penurunan produksi urin dan mulut yang sangat kering, kesadaran yang menurun atau sulit dibangunkan, serta apnea atau henti napas sementara terutama pada bayi prematur. Konsultasi dokter juga diperlukan jika gejala tidak membaik setelah 3-5 hari atau terjadi perburukan meskipun sudah mendapat penanganan di rumah.

08

Prognosis bronkiolitis akut umumnya baik dengan mayoritas kasus membaik dalam 7-10 hari. Sebagian besar anak pulih sepenuhnya tanpa komplikasi jangka panjang. Namun, beberapa anak,尤其是 yang mengalami episode bronkiolitis berat, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan kondisi atopik seperti asma di kemudian hari. Faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi usia saat infeksi, beratnya gejala, adanya penyakit penyerta, dan status nutrisi. Rawat inap biasanya diperlukan pada kurang dari 3% kasus dan angka kematian sangat rendah pada anak yang sebelumnya sehat.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: J21.9