MerlinDX Artikel H53.0
https://www.askep3s.org/610d0956d0/artikel/H53.0
Artikel Klinis ICD-10: H53.0

Amblyopia Ex Anopsia (H53.0): Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Tatalaksana

6 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Definisi Amblyopia Ex Anopsia
  2. Epidemiologi
  3. Penyebab
  4. Klasifikasi
  5. Gejala Klinis
  6. Diagnosis
  7. Tatalaksana dan Pengobatan
  8. Prognosis
  9. Pencegahan
  10. Komplikasi
  11. Referensi

01 Definisi Amblyopia Ex Anopsia

Amblyopia ex anopsia adalah kondisi penurunan tajam penglihatan satu atau kedua mata yang terjadi akibat gangguan perkembangan penglihatan pada masa anak-anak. Istilah 'ex anopsia' berasal dari bahasa Latin yang berarti 'dari tidak melihat', mengindikasikan bahwa kondisi ini berkembang karena mata tidak menerima stimulasi visual yang adekuat selama periode kritis perkembangan penglihatan. Amblyopia ex anopsia merupakan bentuk paling umum dari ambliopia yang terjadi ketika terdapat hambatan fisik yang mencegah cahaya mencapai retina secara optimal, sehingga otak tidak menerima input visual yang jernih dan berkembang. Kondisi ini biasanya terjadi sebelum usia 6 tahun dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen pada mata yang terkena.

01 Epidemiologi

Amblyopia ex anopsia merupakan penyebab tersering gangguan penglihatan unilateral pada anak-anak. Prevalensi kondisi ini di populasi umum berkisar antara 1-5%, dengan perkiraan sekitar 3% dari populasi dunia mengalami ambliopia dalam berbagai bentuknya. Di Indonesia, data epidemiologi menunjukkan bahwa ambliopia menjadi salah satu masalah kesehatan mata yang signifikan pada anak usia prasekolah. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada anak dengan riwayat prematuritas, berat badan lahir rendah, serta anak dengan riwayat keluarga mengalami strabismus atau ambliopia. Rasio antara laki-laki dan perempuan relatif seimbang, meskipun beberapa studi menunjukkan sedikit predominansi pada jenis kelamin laki-laki.

01 Penyebab

Amblyopia ex anopsia terjadi akibat adanya hambatan yang mencegah pembentukan bayangan yang jelas pada retina. Penyebab utama meliputi: 1) Strabismus atau mata juling, di mana ketidakseimbangan otot mata menyebabkan kedua mata melihat objek pada titik yang berbeda, sehingga otak mengabaikan gambar dari mata yang tidak sejajar; 2) Kelainan refraksi seperti miopia, hipermetropia, atau astigmatisme yang signifikan pada satu mata atau keduanya (anisometropia); 3) Obstruksi aksis visual seperti katarak kongenital, ptosis, atau opasitas kornea yang menghalangi cahaya masuk ke mata; 4) Kelainan kelopak mata seperti blefarofimosis yang mengganggu pembukaan mata secara sempurna; 5) Gangguan media refraksi lainnya seperti distrofi kornea atau sikatrik kornea yang menyebabkan penurunan kejernihan media penglihatan.

01 Klasifikasi

Amblyopia ex anopsia dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi dan tingkat keparahan. Berdasarkan etiologi, amblyopia ex anopsia dibagi menjadi: 1) Amblyopia strabismik yang terjadi akibat strabismus kronis di mana otak menekan gambar dari mata yang tidak sejajar untuk menghindari diplopia; 2) Amblyopia refraktif yang disebabkan oleh anisometropia signifikan (perbedaan kelainan refraksi antara kedua mata lebih dari 1,5 dioptri) atau astigmatisme tinggi; 3) Amblyopia deprivasi yang terjadi akibat obstruksi aksis visual seperti katarak kongenital, ptosis berat, atau opasitas kornea. Berdasarkan tingkat keparahan berdasarkan visus, amblyopia diklasifikasikan menjadi ringan (visus 6/9-6/12), sedang (visus 6/15-6/30), berat (visus 6/36-6/60), dan sangat berat (visus kurang dari 6/60).

01 Gejala Klinis

Gejala amblyopia ex anopsia pada anak usia dini sering sulit dideteksi karena anak belum menyadari adanya kelainan penglihatan. Tanda dan gejala yang dapat ditemukan meliputi: penurunan tajam penglihatan pada satu atau kedua mata yang terdeteksi melalui skrining atau pemeriksaan rutin; mata yang tidak sejajar atau juling (strabismus); kebiasaan memiringkan kepala atau menutup satu mata untuk melihat; kesulitan dalam aktivitas yang memerlukan koordinasi mata-tangan seperti menangkap bola; posisi tubuh yang tidak biasa saat melihat objek; keluhan pusing atau sakit kepala setelah aktivitas visual yang intens; kesulitan membaca atau mengenali objek dari kejauhan; serta respons yang buruk terhadap koreksi optik. Pada kasus amblyopia bilateral, anak mungkin menunjukkan kesulitan dalam mengenali wajah atau objek pada jarak tertentu.

01 Diagnosis

Diagnosis amblyopia ex anopsia ditegakkan melalui serangkaian pemeriksaan komprehensif. Anamnesis menyeluruh meliputi riwayat kehamilan dan persalinan, riwayat perkembangan anak, riwayat penyakit mata keluarga, serta keluhan visual yang dialami anak atau orang tua. Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan menggunakan kartu Snellen atau kartu Lea sesuai usia anak. Pemeriksaan refraksi dengan sikloplegia menggunakan tetes mata sikloplegik seperti siklopentolat atau atropin untuk mendapatkan refraksi objektif yang akurat. Pemeriksaan motilitas mata untuk menilai adanya strabismus, pemeriksaan cover-uncover test dan alternate cover test untuk mendeteksi deviasi laten dan manifest. Pemeriksaan lampu celah untuk menilai struktur anterior mata, serta pemeriksaan funduskopi untuk menilai media penglihatan dan struktur posterior mata. Pemeriksaan tambahan seperti retinoskopi, keratometri, dan pemeriksaan ortoptik dapat dilakukan sesuai indikasi.

01 Tatalaksana dan Pengobatan

Pengobatan amblyopia ex anopsia bertujuan untuk mengembalikan fungsi penglihatan normal dan mencegah gangguan penglihatan permanen. Prinsip utama tatalaksana meliputi: 1) Koreksi kelainan refraksi dengan kacamata sesuai resep yang tepat setelah sikloplegia; 2) Terapi oklusi atau patching, yaitu menutup mata yang dominan selama beberapa jam sehari untuk memaksa mata ambliopik bekerja lebih aktif; 3) Terapi oklusi farmakologis dengan meneteskan атропин pada mata yang dominan untuk mengaburkan penglihatan dan merangsang penggunaan mata ambliopik; 4) Terapi binokular dengan menggunakan perangkat khusus seperti Binasal occlusion, фильтры, atau aplikasi digital untuk merangsang interaksi binokular; 5) Pembedahan jika terdapat strabismus yang tidak responsif terhadap terapi konservatif atau katarak kongenital yang memerlukan ekstraksi; 6) Orthoptic therapy untuk melatih otot mata dan meningkatkan fusi. Pengobatan paling efektif jika dimulai sebelum usia 7 tahun, meskipun dapat dilanjutkan pada usia yang lebih tua dengan hasil yang bervariasi.

01 Prognosis

Prognosis amblyopia ex anopsia sangat bergantung pada usia saat diagnosis ditegakkan, keparahan kondisi, dan kepatuhan terhadap terapi. Jika dideteksi dan ditangani sebelum usia 5-7 tahun, prognosis umumnya baik dengan kemungkinan pemulihan tajam penglihatan yang signifikan. Anak yang menjalani terapi sebelum usia 3 tahun memiliki peluang pemulihan yang lebih tinggi dibandingkan anak yang memulai terapi setelah usia 7 tahun. Prognosis kurang menguntungkan pada kasus dengan amblyopia berat, strabismus yang sudah menetap, atau jika terdapat kelainan struktural yang mendasari. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi durasi dan keparahan deprivasi visual, usia saat terapi dimulai, motivasi pasien dan keluarga, serta kepatuhan terhadap protokol terapi. Pemantauan jangka panjang diperlukan untuk mencegah kekambuhan, terutama pada tahun pertama setelah penghentian terapi.

01 Pencegahan

Pencegahan amblyopia ex anopsia berfokus pada deteksi dini dan intervensi segera. Langkah-langkah pencegahan meliputi: skrining penglihatan rutin pada bayi dan anak usia prasekolah yang direkomendasikan pada usia 3-4 tahun atau lebih awal jika ada faktor risiko; edukasi kepada orang tua dan tenaga kesehatan tentang tanda-tanda awal gangguan penglihatan pada anak; pemeriksaan mata newborn untuk mendeteksi kelainan struktural seperti katarak kongenital atau ptosis; kontrol dan koreksi kelainan refraksi sedini mungkin; penanganan strabismus secara tepat untuk mencegah perkembangan amblyopia; serta menghindari penundaan dalam penanganan kondisi yang dapat menyebabkan deprivasi visual. Program skrining di sekolah-sekolah dan posyandu dapat membantu mendeteksi kasus ambliopia secara lebih awal pada populasi anak Indonesia.

01 Komplikasi

Komplikasi amblyopia ex anopsia terutama terkait dengan keterlambatan diagnosis dan pengobatan. Komplikasi yang dapat terjadi meliputi: kehilangan penglihatan permanen pada mata yang terkena jika tidak ditangani pada masa kritis perkembangan visual; gangguan penglihatan binokular dan stereopsis yang buruk akibat ketidakmampuan otak untuk menggabungkan gambar dari kedua mata; strabismus yang menetap akibat kegagalan pengembangan kontrol motorik dan sensorik binokular; gangguan kualitas hidup terkait keterbatasan aktivitas seperti kesulitan belajar, keterbatasan dalam olahraga, dan kesulitan dalam aktivitas yang memerlukan persepsi mendalam; risiko cedera mata yang lebih tinggi akibat gangguan penglihatan binokular; serta komplikasi psikologis seperti rendahnya kepercayaan diri dan masalah sosial yang terkait dengan gangguan penglihatan yang terlihat seperti mata juling. Komplikasi terapi seperti dermatitis kontak akibat plester oklusi atau oklusi farmakologis yang berlebihan juga perlu diwaspadai.

01 Referensi

Bagikan:

🔗 Konten Terkait: H53.0

Pathway: Amblyopia Ex Anopsia (H53.0) & SDKI