01 Definisi
M10.4 atau Gout Sekunder Lainnya (Other Secondary Gout) adalah kondisi artritis kristal yang disebabkan oleh penumpukan kristal monosodium urat (MSU) pada sendi dan jaringan lunak, yang dipicu oleh kondisi medis atau faktor sekunder lainnya di luar faktor metabolik primer. Berbeda dengan gout primer yang disebabkan oleh hiperurisemia idiopatik, gout sekunder lainnya muncul sebagai komplikasi dari penyakit atau kondisi yang mendasari seperti gangguan ginjal, gangguan hematologi, atau penggunaan obat-obatan tertentu. Kode ICD-10 M10.4 spesifik digunakan untuk mengklasifikasikan kasus gout yang etiologinya dapat diidentifikasi berasal dari penyebab sekunder yang tidak termasuk dalam kategori M10.0-M10.3.
01 Etiologi dan Penyebab
Gout sekunder lainnya dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis yang meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Penyebab utama meliputi:
1. **Gangguan Ginjal**: Insufisiensi ginjal kronis, penyakit ginjal polikistik, dan nefropati kronis dapat mengganggu ekskresi asam urat.
2. **Gangguan Hematologi**: Kondisi seperti leukemia, limfoma, polisitemia vera, dan anemia hemolitik dapat meningkatkan turnover sel yang menghasilkan asam urat berlebihan.
3. **Obat-obatan**: Diuretik tiazid, dosis rendah aspirin, siklosporin, dan obat sitotoksik dapat menurunkan klirens renal asam urat.
4. **Kondisi Metabolik**: Hipotiroidisme, diabetes mellitus tidak terkontrol, dan sindrom metabolik dapat berkontribusi pada hiperurisemia.
5. **Keracunan Timbal (Plumbism)**: Paparan kronis timbal dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dan hiperurisemia.
6. **Psoriasis**: Peningkatan turnover sel pada psoriasis dapat meningkatkan produksi asam urat.
7. **Dehidrasi dan Malnutrisi**: Kondisi yang menyebabkan konsentrasi asam urat serum meningkat.
1. **Gangguan Ginjal**: Insufisiensi ginjal kronis, penyakit ginjal polikistik, dan nefropati kronis dapat mengganggu ekskresi asam urat.
2. **Gangguan Hematologi**: Kondisi seperti leukemia, limfoma, polisitemia vera, dan anemia hemolitik dapat meningkatkan turnover sel yang menghasilkan asam urat berlebihan.
3. **Obat-obatan**: Diuretik tiazid, dosis rendah aspirin, siklosporin, dan obat sitotoksik dapat menurunkan klirens renal asam urat.
4. **Kondisi Metabolik**: Hipotiroidisme, diabetes mellitus tidak terkontrol, dan sindrom metabolik dapat berkontribusi pada hiperurisemia.
5. **Keracunan Timbal (Plumbism)**: Paparan kronis timbal dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dan hiperurisemia.
6. **Psoriasis**: Peningkatan turnover sel pada psoriasis dapat meningkatkan produksi asam urat.
7. **Dehidrasi dan Malnutrisi**: Kondisi yang menyebabkan konsentrasi asam urat serum meningkat.
01 Patofisiologi
Patofisiologi gout sekunder lainnya melibatkan peningkatan kadar asam urat serum yang disebabkan oleh mekanisme yang berbeda tergantung pada penyebab yang mendasari:
1. **Penurunan Ekskresi Asam Urat**: Pada gangguan ginjal dan penggunaan obat-obatan tertentu, ginjal tidak dapat mengekskresikan asam urat dengan efektif, menyebabkan akumulasi dalam darah.
2. **Peningkatan Produksi Asam Urat**: Pada gangguan hematologi dan kondisi dengan turnover sel tinggi, katabolisme nukleotida purin menghasilkan asam urat berlebihan.
3. **Pembentukan Kristal Monosodium Urat (MSU)**: Ketika konsentrasi asam urat serum melebihi titik jenuh (>6,8 mg/dL), kristal MSU mulai terbentuk dan mengendap di sendi, tendon, dan bursa.
4. **Respons Inflamasi**: Kristal MSU fagosit oleh sel-sel imun (makrofag, neutrofil) melalui reseptor TLR-2 dan TLR-4, mengaktifkan inflamasom NLRP3, dan melepaskan sitokin pro-inflamasi (IL-1β, IL-6, TNF-α).
5. **Serangan Akut**: Aktivasi kaskade inflamasi menyebabkan gejala klasik gout berupa nyeri hebat, kemerahan, bengkak, dan panas pada sendi yang terkena.
1. **Penurunan Ekskresi Asam Urat**: Pada gangguan ginjal dan penggunaan obat-obatan tertentu, ginjal tidak dapat mengekskresikan asam urat dengan efektif, menyebabkan akumulasi dalam darah.
2. **Peningkatan Produksi Asam Urat**: Pada gangguan hematologi dan kondisi dengan turnover sel tinggi, katabolisme nukleotida purin menghasilkan asam urat berlebihan.
3. **Pembentukan Kristal Monosodium Urat (MSU)**: Ketika konsentrasi asam urat serum melebihi titik jenuh (>6,8 mg/dL), kristal MSU mulai terbentuk dan mengendap di sendi, tendon, dan bursa.
4. **Respons Inflamasi**: Kristal MSU fagosit oleh sel-sel imun (makrofag, neutrofil) melalui reseptor TLR-2 dan TLR-4, mengaktifkan inflamasom NLRP3, dan melepaskan sitokin pro-inflamasi (IL-1β, IL-6, TNF-α).
5. **Serangan Akut**: Aktivasi kaskade inflamasi menyebabkan gejala klasik gout berupa nyeri hebat, kemerahan, bengkak, dan panas pada sendi yang terkena.
01 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis gout sekunder lainnya serupa dengan gout primer, namun sering kali memiliki karakteristik khusus:
**Serangan Akut Gout (Flare):**
- Nyeri sendi hebat yang onsetnya tiba-tiba, sering terjadi pada malam hari
- Sendi bengkak, kemerahan, hangat, dan sangat nyeri saat disentuh
- Sendi yang sering terkena: sendi metatarsophalangeal pertama (podagra), pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan, dan jari tangan
- Demam dan menggigil dapat menyertai serangan akut
- Durasi serangan tanpa pengobatan: 7-14 hari
**Gout Kronis dengan Tofus:**
- Penumpukan kristal MSU yang terkonsentrasi di bawah kulit
- Tofus dapat terbentuk di daun telinga, siku, tendon Achilles, dan sendi
- Dapat menyebabkan kerusakan sendi permanen dan deformitas
**Gout Kronis Tanpa Tofus:**
- Serangan akut berulang yang lebih sering
- Kerusakan sendi progresif tanpa pembentukan tofus yang signifikan
- Mobilitas sendi berkurang akibat kerusakan kartilago
**Karakteristik Khusus Gout Sekunder:**
- Onset dapat terjadi pada usia lebih muda
- Mungkin memiliki pola sendi atipikal
- Seringkali lebih sulit dikontrol dengan terapi standar
**Serangan Akut Gout (Flare):**
- Nyeri sendi hebat yang onsetnya tiba-tiba, sering terjadi pada malam hari
- Sendi bengkak, kemerahan, hangat, dan sangat nyeri saat disentuh
- Sendi yang sering terkena: sendi metatarsophalangeal pertama (podagra), pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan, dan jari tangan
- Demam dan menggigil dapat menyertai serangan akut
- Durasi serangan tanpa pengobatan: 7-14 hari
**Gout Kronis dengan Tofus:**
- Penumpukan kristal MSU yang terkonsentrasi di bawah kulit
- Tofus dapat terbentuk di daun telinga, siku, tendon Achilles, dan sendi
- Dapat menyebabkan kerusakan sendi permanen dan deformitas
**Gout Kronis Tanpa Tofus:**
- Serangan akut berulang yang lebih sering
- Kerusakan sendi progresif tanpa pembentukan tofus yang signifikan
- Mobilitas sendi berkurang akibat kerusakan kartilago
**Karakteristik Khusus Gout Sekunder:**
- Onset dapat terjadi pada usia lebih muda
- Mungkin memiliki pola sendi atipikal
- Seringkali lebih sulit dikontrol dengan terapi standar
01 Diagnosis
Diagnosis gout sekunder lainnya memerlukan pendekatan sistematis:
**1. Anamnesis:**
- Riwayat serangan akut artritis sebelumnya
- Riwayat penyakit yang mendasari (penyakit ginjal, kanker, penggunaan obat-obatan)
- Riwayat keluarga gout
- Pola diet dan konsumsi alkohol
**2. Pemeriksaan Fisik:**
- Evaluasi sendi untuk tanda inflamasi akut
- Pencarian tofus di berbagai lokasi
- Penilaian fungsi sendi
**3. Pemeriksaan Laboratorium:**
- Kadar asam urat serum (umumnya >7 mg/dL, namun dapat normal saat serangan akut)
- Fungsi ginjal (kreatinin, BUN, eGFR)
- Hitung darah lengkap
- Laju endap darah (LED) dan C-reactive protein (CRP)
- Analisis cairan sendi (arthrocentesis)
**4. Analisis Cairan Sendi:**
- Pewarnaan bertentangan cahaya (polarized light microscopy)
- Kristal monosodium urat: bentuk jarum, negatif bertentangan
- Leukosit biasanya 10.000-70.000/μL
**5. Pemeriksaan Pencitraan:**
- Rontgen sendi: dapat menunjukkan 'punched-out' erosions, sklerosis, dan penebalan korteks
- Ultrasonografi: double contour sign, snowstorm appearance
- CT Scan dan MRI untuk evaluasi komplikasi
**6. Evaluasi Penyebab Sekunder:**
- Skrining fungsi tiroid
- Kadar铅 (lead) dalam darah jika dicurigai keracunan timbal
- Evaluasi penyakit hematologi
- Pemeriksaan lengkap urin
**1. Anamnesis:**
- Riwayat serangan akut artritis sebelumnya
- Riwayat penyakit yang mendasari (penyakit ginjal, kanker, penggunaan obat-obatan)
- Riwayat keluarga gout
- Pola diet dan konsumsi alkohol
**2. Pemeriksaan Fisik:**
- Evaluasi sendi untuk tanda inflamasi akut
- Pencarian tofus di berbagai lokasi
- Penilaian fungsi sendi
**3. Pemeriksaan Laboratorium:**
- Kadar asam urat serum (umumnya >7 mg/dL, namun dapat normal saat serangan akut)
- Fungsi ginjal (kreatinin, BUN, eGFR)
- Hitung darah lengkap
- Laju endap darah (LED) dan C-reactive protein (CRP)
- Analisis cairan sendi (arthrocentesis)
**4. Analisis Cairan Sendi:**
- Pewarnaan bertentangan cahaya (polarized light microscopy)
- Kristal monosodium urat: bentuk jarum, negatif bertentangan
- Leukosit biasanya 10.000-70.000/μL
**5. Pemeriksaan Pencitraan:**
- Rontgen sendi: dapat menunjukkan 'punched-out' erosions, sklerosis, dan penebalan korteks
- Ultrasonografi: double contour sign, snowstorm appearance
- CT Scan dan MRI untuk evaluasi komplikasi
**6. Evaluasi Penyebab Sekunder:**
- Skrining fungsi tiroid
- Kadar铅 (lead) dalam darah jika dicurigai keracunan timbal
- Evaluasi penyakit hematologi
- Pemeriksaan lengkap urin
01 Pengobatan
Pengobatan gout sekunder lainnya mencakup manajemen serangan akut, penurunan kadar asam urat jangka panjang, dan penanganan kondisi yang mendasari:
**A. Manajemen Serangan Akut:**
1. **Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS):**
- Indometasin 25-50 mg setiap 6-8 jam
- Naproksen 500 mg setiap 12 jam
- Diklofenak 50 mg setiap 8-12 jam
- Durasi: 5-7 hari atau hingga 2 minggu setelah gejala mereda
2. **Kolkisin:**
- Dosis awal: 1,2 mg, diikuti 0,6 mg satu jam kemudian
- Kemudian 0,6 mg setiap 12-24 jam
- Maksimal 6 mg per episode akut
- Efektif jika diberikan dalam 12-36 jam onset
3. **Kortikosteroid:**
- Prednison oral: 30-50 mg/hari selama 5-7 hari, kemudian tappering
- Methylprednisolone intra-artikular untuk sendi tunggal
- Triamcinolone intramuskular untuk kasus berat
4. **Inhibitor IL-1:**
- Anakinra 100 mg subkutan per hari selama 3-5 hari
- Untuk pasien dengan kontraindikasi terapi konvensional
**B. Terapi Penurunan Asam Urat Jangka Panjang:**
1. **Inhibitor Xantin Oksidase:**
- Allopurinol: dosis awal 100 mg/hari, titrasi hingga 300-900 mg/hari
- Febuxostat: 40-120 mg/hari
- Target: asam urat serum <6 mg/dL (atau <5 mg/dL pada kasus berat)
2. **Uricosuric:**
- Probenesid: 250-2000 mg/hari dalam dosis terbagi
- Sulfinpyrazone: 200-800 mg/hari
- Benzbromarone: 50-150 mg/hari
- Kontraindikasi pada pasien dengan batu ginjal urat
3. **Pegloticase:**
- Untuk gout tofaceous berat yang tidak responsif terhadap terapi lain
- Infus intravena 8 mg setiap 2 minggu
**C. Penanganan Penyebab Sekunder:**
- Optimalisasi fungsi ginjal
- Modifikasi atau penghentian obat penyebab (jika memungkinkan)
- Pengobatan kondisi hematologi atau metabolik yang mendasari
- Koreksi faktor risiko yang dapat dimodifikasi
**D. Modifikasi Gaya Hidup:**
- Diet rendah purin
- Pembatasan alkohol
- Hidrasi adekuat (2-3 liter/hari)
- Penurunan berat badan jika overweight/obesitas
- Hindari makanan tinggi fruktosa
**A. Manajemen Serangan Akut:**
1. **Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS):**
- Indometasin 25-50 mg setiap 6-8 jam
- Naproksen 500 mg setiap 12 jam
- Diklofenak 50 mg setiap 8-12 jam
- Durasi: 5-7 hari atau hingga 2 minggu setelah gejala mereda
2. **Kolkisin:**
- Dosis awal: 1,2 mg, diikuti 0,6 mg satu jam kemudian
- Kemudian 0,6 mg setiap 12-24 jam
- Maksimal 6 mg per episode akut
- Efektif jika diberikan dalam 12-36 jam onset
3. **Kortikosteroid:**
- Prednison oral: 30-50 mg/hari selama 5-7 hari, kemudian tappering
- Methylprednisolone intra-artikular untuk sendi tunggal
- Triamcinolone intramuskular untuk kasus berat
4. **Inhibitor IL-1:**
- Anakinra 100 mg subkutan per hari selama 3-5 hari
- Untuk pasien dengan kontraindikasi terapi konvensional
**B. Terapi Penurunan Asam Urat Jangka Panjang:**
1. **Inhibitor Xantin Oksidase:**
- Allopurinol: dosis awal 100 mg/hari, titrasi hingga 300-900 mg/hari
- Febuxostat: 40-120 mg/hari
- Target: asam urat serum <6 mg/dL (atau <5 mg/dL pada kasus berat)
2. **Uricosuric:**
- Probenesid: 250-2000 mg/hari dalam dosis terbagi
- Sulfinpyrazone: 200-800 mg/hari
- Benzbromarone: 50-150 mg/hari
- Kontraindikasi pada pasien dengan batu ginjal urat
3. **Pegloticase:**
- Untuk gout tofaceous berat yang tidak responsif terhadap terapi lain
- Infus intravena 8 mg setiap 2 minggu
**C. Penanganan Penyebab Sekunder:**
- Optimalisasi fungsi ginjal
- Modifikasi atau penghentian obat penyebab (jika memungkinkan)
- Pengobatan kondisi hematologi atau metabolik yang mendasari
- Koreksi faktor risiko yang dapat dimodifikasi
**D. Modifikasi Gaya Hidup:**
- Diet rendah purin
- Pembatasan alkohol
- Hidrasi adekuat (2-3 liter/hari)
- Penurunan berat badan jika overweight/obesitas
- Hindari makanan tinggi fruktosa
01 Komplikasi
Gout sekunder lainnya dapat menyebabkan berbagai komplikasi jika tidak ditangani dengan baik:
**1. Komplikasi Muskuloskeletal:**
- Kerusakan sendi irreversibel dan degenerasi kartilago
- Deformitas sendi permanen
- Kekakuan dan keterbatasan gerak sendi
- Tofus yang besar dapat menyebabkan kompresi saraf dan jaringan sekitar
- Kerusakan tendon dan ligamen
**2. Komplikasi Renal:**
- Nefrolitiasis (batu ginjal urat)
- Nefropati urat kronis
- Gagal ginjal progresif
**3. Komplikasi Metabolik:**
- Peningkatan risiko penyakit kardiovaskular
- Asosiasi dengan sindrom metabolik
- Peningkatan risiko diabetes tipe 2
**4. Komplikasi Infeksi:**
- Tofus dapat mengalami infeksi sekunder
- Risiko selulitis dan sepsis
**5. Komplikasi Psikososial:**
- Nyeri kronis yang mempengaruhi kualitas hidup
- Gangguan tidur
- Depresi dan kecemasan
- Keterbatasan aktivitas sehari-hari
**6. Komplikasi dari Terapi:**
- Efek samping gastrointestinal dari OAINS
- Reaksi alergi terhadap allopurinol (SJS/TEN)
- Disfungsi hati dan ginjal dari obat-obatan
**1. Komplikasi Muskuloskeletal:**
- Kerusakan sendi irreversibel dan degenerasi kartilago
- Deformitas sendi permanen
- Kekakuan dan keterbatasan gerak sendi
- Tofus yang besar dapat menyebabkan kompresi saraf dan jaringan sekitar
- Kerusakan tendon dan ligamen
**2. Komplikasi Renal:**
- Nefrolitiasis (batu ginjal urat)
- Nefropati urat kronis
- Gagal ginjal progresif
**3. Komplikasi Metabolik:**
- Peningkatan risiko penyakit kardiovaskular
- Asosiasi dengan sindrom metabolik
- Peningkatan risiko diabetes tipe 2
**4. Komplikasi Infeksi:**
- Tofus dapat mengalami infeksi sekunder
- Risiko selulitis dan sepsis
**5. Komplikasi Psikososial:**
- Nyeri kronis yang mempengaruhi kualitas hidup
- Gangguan tidur
- Depresi dan kecemasan
- Keterbatasan aktivitas sehari-hari
**6. Komplikasi dari Terapi:**
- Efek samping gastrointestinal dari OAINS
- Reaksi alergi terhadap allopurinol (SJS/TEN)
- Disfungsi hati dan ginjal dari obat-obatan
01 Prognosis
Prognosis gout sekunder lainnya bergantung pada beberapa faktor:
**Faktor Prognosis Baik:**
- Diagnosis dini dan pengobatan segera
- Identifikasi dan penanganan penyebab yang mendasari
- Kepatuhan pasien terhadap terapi jangka panjang
- Modifikasi gaya hidup yang konsisten
- Kadar asam urat serum yang terkontrol dengan baik (<6 mg/dL)
**Faktor Prognosis Buruk:**
- Gagal mengidentifikasi dan mengatasi penyebab sekunder
- Keterlambatan diagnosis dan pengobatan
- Kepatuhan rendah terhadap terapi
- Komorbiditas berat (penyakit ginjal stadium lanjut, kanker aktif)
- Serangan akut yang sering dan berat
- Tofus multipel yang besar
**Harapan Hidup:**
- Dengan pengelolaan yang tepat, harapan hidup tidak terpengaruh secara signifikan
- Risiko mortalitas meningkat terutama jika terkait dengan penyakit kardiovaskular atau komplikasi renal
- Kualitas hidup dapat sangat ditingkatkan dengan kontrol yang adekuat
**Prognosis Berdasarkan Penyebab:**
- Gout akibat gangguan ginjal: bergantung pada fungsi ginjal residual
- Gout akibat obat: perbaikan mungkin terjadi jika obat dapat dihentikan
- Gout akibat gangguan hematologi: bergantung pada kontrol penyakit dasar
**Faktor Prognosis Baik:**
- Diagnosis dini dan pengobatan segera
- Identifikasi dan penanganan penyebab yang mendasari
- Kepatuhan pasien terhadap terapi jangka panjang
- Modifikasi gaya hidup yang konsisten
- Kadar asam urat serum yang terkontrol dengan baik (<6 mg/dL)
**Faktor Prognosis Buruk:**
- Gagal mengidentifikasi dan mengatasi penyebab sekunder
- Keterlambatan diagnosis dan pengobatan
- Kepatuhan rendah terhadap terapi
- Komorbiditas berat (penyakit ginjal stadium lanjut, kanker aktif)
- Serangan akut yang sering dan berat
- Tofus multipel yang besar
**Harapan Hidup:**
- Dengan pengelolaan yang tepat, harapan hidup tidak terpengaruh secara signifikan
- Risiko mortalitas meningkat terutama jika terkait dengan penyakit kardiovaskular atau komplikasi renal
- Kualitas hidup dapat sangat ditingkatkan dengan kontrol yang adekuat
**Prognosis Berdasarkan Penyebab:**
- Gout akibat gangguan ginjal: bergantung pada fungsi ginjal residual
- Gout akibat obat: perbaikan mungkin terjadi jika obat dapat dihentikan
- Gout akibat gangguan hematologi: bergantung pada kontrol penyakit dasar
01 Pencegahan
Pencegahan gout sekunder lainnya meliputi strategi untuk mencegah serangan akut dan mengendalikan kadar asam urat jangka panjang:
**1. Pencegahan Serangan Akut:**
- Hindari pemicu serangan: alkohol, makanan tinggi purin, dehidrasi
- Pertahankan hidrasi yang adekuat (minimal 2 liter/hari)
- Hindari perubahan cepat dalam kadar asam urat saat memulai terapi urate-lowering
- Pertimbangkan profilaksis dengan kolkisin atau OAINS saat memulai terapi penurun asam urat
**2. Kontrol Kadar Asam Urat:**
- Targetkan asam urat serum <6 mg/dL
- Minum obat penurun asam urat secara teratur
- Monitoring berkala kadar asam urat serum
- Hindari diet sangat tinggi purin
**3. Modifikasi Gaya Hidup:**
- Diet Mediterania atau DASH yang dimodifikasi
- Pembatasan alkohol, terutama bir dan minuman keras
- Hindari fruktosa tinggi dan minuman manis
- Konsumsi buah ceri yang dapat membantu menurunkan risiko serangan
- Olahraga teratur dengan intensitas moderat
- Pertahankan berat badan ideal
**4. Pencegahan Berdasarkan Penyebab:**
- Pada pasien dengan gangguan ginjal: optimalkan fungsi ginjal, hindari nephrotoxic agents
- Pada pasien yang menggunakan obat pemicu: evaluasi risiko-manfaat, pertimbangkan alternatif
- Pada pasien dengan gangguan hematologi: kontrol penyakit dasar dengan efektif
**5. Edukasi Pasien:**
- Pahami penyakit dan pengobatannya
- Kenali tanda-tanda serangan akut
- Ketahui kapan harus mencari pertolongan medis
- Pentingnya kepatuhan jangka panjang
**6. Monitoring dan Follow-up:**
- Pemeriksaan asam urat serum setiap 2-4 minggu saat titrasi obat
- Evaluasi fungsi ginjal secara berkala
- Pemeriksaan sendi untuk mendeteksi tofus
- Skrining komplikasi kardiovaskular
**1. Pencegahan Serangan Akut:**
- Hindari pemicu serangan: alkohol, makanan tinggi purin, dehidrasi
- Pertahankan hidrasi yang adekuat (minimal 2 liter/hari)
- Hindari perubahan cepat dalam kadar asam urat saat memulai terapi urate-lowering
- Pertimbangkan profilaksis dengan kolkisin atau OAINS saat memulai terapi penurun asam urat
**2. Kontrol Kadar Asam Urat:**
- Targetkan asam urat serum <6 mg/dL
- Minum obat penurun asam urat secara teratur
- Monitoring berkala kadar asam urat serum
- Hindari diet sangat tinggi purin
**3. Modifikasi Gaya Hidup:**
- Diet Mediterania atau DASH yang dimodifikasi
- Pembatasan alkohol, terutama bir dan minuman keras
- Hindari fruktosa tinggi dan minuman manis
- Konsumsi buah ceri yang dapat membantu menurunkan risiko serangan
- Olahraga teratur dengan intensitas moderat
- Pertahankan berat badan ideal
**4. Pencegahan Berdasarkan Penyebab:**
- Pada pasien dengan gangguan ginjal: optimalkan fungsi ginjal, hindari nephrotoxic agents
- Pada pasien yang menggunakan obat pemicu: evaluasi risiko-manfaat, pertimbangkan alternatif
- Pada pasien dengan gangguan hematologi: kontrol penyakit dasar dengan efektif
**5. Edukasi Pasien:**
- Pahami penyakit dan pengobatannya
- Kenali tanda-tanda serangan akut
- Ketahui kapan harus mencari pertolongan medis
- Pentingnya kepatuhan jangka panjang
**6. Monitoring dan Follow-up:**
- Pemeriksaan asam urat serum setiap 2-4 minggu saat titrasi obat
- Evaluasi fungsi ginjal secara berkala
- Pemeriksaan sendi untuk mendeteksi tofus
- Skrining komplikasi kardiovaskular
01 Referensi
1. Kuo CF, Grainge MJ, Zhang W, Doherty M. Global epidemiology of gout: prevalence, incidence and risk factors. Nat Rev Rheumatol. 2015;11(11):649-662.
2. Richette P, Bardin T. Gout. Lancet. 2010;375(9711):318-328.
3. FitzGerald JD, Dalbeth N, Mikuls T, et al. 2020 American College of Rheumatology Guideline for the Management of Gout. Arthritis Care Res (Hoboken). 2020;72(6):744-760.
4. Khanna D, Fitzgerald JD, Khanna PP, et al. 2012 American College of Rheumatology guidelines for management of gout. Part 1: systematic nonpharmacologic and pharmacologic therapeutic approaches to hyperuricemia. Arthritis Care Res (Hoboken). 2012;64(10):1431-1446.
5. Choi HK, Mount DB, Reginato AM. Pathogenesis of gout. Ann Intern Med. 2005;143(7):499-516.
6. Perez-Ruiz F, Calabozo M, Pijoan JI, Herrero-Beites AM, Ruibal A. Effect of urate-lowering therapy on the velocity of size reduction of tophi in chronic gout. Arthritis Rheum. 2002;47(4):356-360.
7. Stamp LK, Chapman PT. Gout and its comorbidities: implications for therapy. Rheumatology (Oxford). 2013;52(1):34-44.
8. Singh JA, Gaffo A. Gout epidemiology and comorbidities. Semin Arthritis Rheum. 2020;50(3S):S11-S16.
9. Indonesian Rheumatology Association. Pedoman Penatalaksanaan Gout. Jakarta: IRA; 2019.
10. World Health Organization. ICD-10 Version:2016. Geneva: WHO; 2016.
2. Richette P, Bardin T. Gout. Lancet. 2010;375(9711):318-328.
3. FitzGerald JD, Dalbeth N, Mikuls T, et al. 2020 American College of Rheumatology Guideline for the Management of Gout. Arthritis Care Res (Hoboken). 2020;72(6):744-760.
4. Khanna D, Fitzgerald JD, Khanna PP, et al. 2012 American College of Rheumatology guidelines for management of gout. Part 1: systematic nonpharmacologic and pharmacologic therapeutic approaches to hyperuricemia. Arthritis Care Res (Hoboken). 2012;64(10):1431-1446.
5. Choi HK, Mount DB, Reginato AM. Pathogenesis of gout. Ann Intern Med. 2005;143(7):499-516.
6. Perez-Ruiz F, Calabozo M, Pijoan JI, Herrero-Beites AM, Ruibal A. Effect of urate-lowering therapy on the velocity of size reduction of tophi in chronic gout. Arthritis Rheum. 2002;47(4):356-360.
7. Stamp LK, Chapman PT. Gout and its comorbidities: implications for therapy. Rheumatology (Oxford). 2013;52(1):34-44.
8. Singh JA, Gaffo A. Gout epidemiology and comorbidities. Semin Arthritis Rheum. 2020;50(3S):S11-S16.
9. Indonesian Rheumatology Association. Pedoman Penatalaksanaan Gout. Jakarta: IRA; 2019.
10. World Health Organization. ICD-10 Version:2016. Geneva: WHO; 2016.