MerlinDX Artikel B47.1
https://www.askep3s.org/6b52d1cd75/artikel/B47.1
Artikel Klinis ICD-10: B47.1

Actinomycetoma (B47.1): Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Tatalaksana Komprehensif

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pendahuluan
  2. Definisi
  3. Epidemiologi
  4. Etiologi dan Penyebab
  5. Patofisiologi
  6. Perbedaan Actinomycetoma dan Eumycetoma
  7. Tanda dan Gejala
  8. Diagnosis
  9. Diagnosis Banding
  10. Tatalaksana dan Pengobatan
  11. Komplikasi
  12. Prognosis
  13. Pencegahan
  14. Kesimpulan

01 Pendahuluan

Actinomycetoma adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri dari genus Actinomyces dan Nocardia, yang termasuk dalam kelompok actinomycetes. Penyakit ini ditandai dengan pembentukan massa tumor-like yang mengandung granula di jaringan subkutan, biasanya terjadi pada ekstremitas bawah setelah trauma atau cedera kulit. Actinomycetoma merupakan bentuk klinis dari mycetoma yang disebabkan oleh organisme bakteri, berbeda dengan eumycetoma yang disebabkan oleh jamur. Penyakit ini memiliki prevalensi tinggi di daerah tropis dan subtropis, terutama di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara. Manifestasi klinis meliputi pembengkakan, pembentukan sinus, dan sekresi seropurulen yang mengandung granula. Diagnosis yang tepat dan tatalaksana yang adekuat sangat penting untuk mencegah morbiditas dan kecacatan jangka panjang.

01 Definisi

Actinomycetoma adalah infeksi bakteri kronis yang disebabkan oleh actinomycetes, terutama spesies Actinomyces dan Nocardia. Penyakit ini termasuk dalam kelompok mycetoma yang merupakan infeksi jaringan subkutan dan kulit yang ditandai dengan pembentukan massa, sinus, dan sekresi yang mengandung granula. Actinomycetoma berbeda dengan eumycetoma karena disebabkan oleh bakteri (actinomycetes) sedangkan eumycetoma disebabkan oleh jamur. Istilah 'actinomycetoma' berasal dari kata 'actinomyces' (bakteri Gram-positif anaerob/fakultatif) dan 'mycetoma' (penyakit tumor-like pada kaki). Penyakit ini bersifat progresif dan dapat merusak jaringan lunak hingga tulang di bawahnya jika tidak ditangani dengan tepat.

01 Epidemiologi

Actinomycetoma memiliki distribusi geografis yang spesifik, denganInsidensi tertinggi ditemukan di daerah 'mycetoma belt' yang membentang dari Senegal hingga India. Negara-negara dengan prevalensi tinggi meliputi Sudan, Senegal, India, Meksiko, Venezuela, Kolombia, dan Indonesia. Penyakit ini lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio 3:1 hingga 5:1, kemungkinan karena paparan occupational yang lebih tinggi. Kelompok usia yang paling sering terdampak adalah dewasa muda hingga paruh baya (20-50 tahun). Faktor risiko utama meliputi pekerjaan pertanian, paparan tanah dan tanaman, serta trauma kulit berulang. Di Indonesia, actinomycetoma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat terutama di daerah pedesaan dengan iklim tropis.

01 Etiologi dan Penyebab

Actinomycetoma disebabkan oleh bakteri dari kelompok actinomycetes yang terbagi menjadi dua genus utama: Actinomyces dan Nocardia. Actinomyces israelii adalah penyebab tersering actinomycetoma, bersama dengan A. naeslundii, A. viscosus, dan A. odontolyticus. Sementara itu, Nocardia brasiliensis, N. asteroides, N. caviae, dan N. transvalensis juga dapat menyebabkan actinomycetoma. Dari perspektif metabolisme, Actinomyces adalah bakteri anaerob fakultatif, sedangkan Nocardia bersifat aerob. Faktor predisposisi meliputi trauma kulit akibat tusukan duri, gigitan serangga, atau cedera occupational yang memungkinkan bakteri masuk ke jaringan subkutan. Kondisi immunocompromised juga meningkatkan risiko infeksi.

01 Patofisiologi

Patofisiologi actinomycetoma dimulai ketika actinomycetes masuk ke jaringan subkutan melalui trauma kulit. Bakteri kemudian memicu respons inflamasi kronis yang menghasilkan pembentukan granulasi jaringan dan koloni bakteri yang terorganisasi membentuk granula. Granula ini terdiri dari koloni bakteri yang dikelilingi oleh sel-sel inflamasi dan jaringan granulasi. Proses inflamasi kronis menyebabkan destruksi jaringan lokal dan pembentukan sinus yang menghubungkan kavitas berisi nanah ke permukaan kulit. Granula yang terbentuk memiliki ukuran dan warna yang bervariasi tergantung spesies penyebab. Pada tahap lanjut, infeksi dapat menyebar ke fascia, otot, dan tulang melalui perluasan langsung. Respons imun tubuh terhadap infeksi ini bersifat inefektif karena bakteri mampu bertahan di dalam jaringan dengan membentuk agregat yang resisten terhadap fagositosis.

01 Perbedaan Actinomycetoma dan Eumycetoma

Perbedaan utama antara actinomycetoma dan eumycetoma terletak pada agen etiologi dan karakteristik granula. Actinomycetoma disebabkan oleh bakteri dari genus Actinomyces dan Nocardia (actinomycetes), sedangkan eumycetoma disebabkan oleh jamur seperti Madurella mycetomatis, Fusarium, dan Aspergillus. Dari segi aerob atau anaerob, Actinomyces bersifat anaerob fakultatif sedangkan Nocardia bersifat aerob obligat. Granula pada actinomycetoma umumnya lebih kecil (0,5-2 mm) dengan warna kuning, putih, atau merah, sedangkan granula eumycetoma lebih besar (3-5 mm) dengan warna hitam atau coklat. Secara klinis, actinomycetoma cenderung lebih responsif terhadap terapi antibiotik dibandingkan eumycetoma yang memerlukan antifungal. Prognosis actinomycetoma umumnya lebih baik dibandingkan eumycetoma dengan tingkat kesembuhan lebih tinggi.

01 Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis actinomycetoma berkembang secara perlahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah inokulasi awal. Gejala awal meliputi pembengkakan lokal yang tidak nyeri pada area yang terkena, biasanya ekstremitas bawah. Seiring perkembangan penyakit, terbentuk nodul yang kemudian berubah menjadi massa yang lebih besar dengan konsistensi keras. Pembentukan sinus adalah ciri khas dengan sekresi seropurulen atau purulen yang mengandung granula. Granula yang keluar bersama sekresi dapat berwarna kuning, putih, atau merah muda tergantung spesies penyebab. Pasien mungkin mengeluhkan nyeri ringan hingga sedang, terutama saat sinus aktif mengeluarkan sekresi. Pada kasus lanjut, dapat terjadi deformitas lokal, keterbatasan gerak sendi, dan keterlibatan tulang yang menyebabkan osteomielitis. Gejala sistemik seperti demam dan penurunan berat badan umumnya tidak ada atau hanya ringan.

01 Diagnosis

Diagnosis actinomycetoma memerlukan pendekatan multimodal yang mencakup anamnesis, pemeriksaan fisik, dan investigations. Anamnesis harus mencakup riwayat trauma, paparan tanah, dan perjalanan penyakit. Pemeriksaan fisik menemukan massa tumor-like dengan sinus dan sekresi. Pemeriksaan mikroskopis granula dari sekret atau biopsi adalah langkah diagnostik utama dengan pewarnaan Gram yang menunjukkanfilamen bakteri Gram-positif. Pewarnaan Zielh-Neelsen dapat membantu membedakan Nocardia (asam-basa parsial) dari Mycobacteria. Kultur bakteri dari spesimen jaringan atau sekret pada media aerob dan anaerob diperlukan untuk identifikasi spesies dan uji kepekaan antibiotik. Biopsi jaringan dari lesi menunjukkan granula yang dikelilingi oleh infiltrat inflamasi kronis. Pemeriksaan radiologis seperti rontgen dan MRI dapat menilai perluasan penyakit ke tulang dan jaringan lunak dalam. Pemeriksaan serologis dan molekuler (PCR) dapat membantu konfirmasi diagnosis.

01 Diagnosis Banding

Diagnosis banding actinomycetoma meliputi beberapa kondisi yang memiliki manifestasi klinis serupa. Eumycetoma adalah diagnosis banding utama dengan perbedaan utama pada agen etiologi (jamur vs bakteri). Osteomielitis kronis dapat menunjukkan gambaran klinis serupa dengan pembengkakan dan sinus. Tuberkulosis kulit (lupus vulgaris) dapat menyerupai actinomycetoma dengan pembentukan nodul dan ulserasi. Karsinoma sel skuamosa yang ulserasi perlu disingkirkan karena dapat terjadi pada lesi kronis. Limfoma kutaneus dan sarkoma Kaposi juga dapat dipertimbangkan. Furunkulosis kronis dan abses berulang perlu dibedakan dari actinomycetoma. Chromoblastomycosis dan sporotrichosis adalah infeksi jamur yang juga dapat menyerupai actinomycetoma. Diagnosis pasti melalui biopsi dan kultur sangat penting untuk membedakan kondisi-kondisi tersebut.

01 Tatalaksana dan Pengobatan

Terapi actinomycetoma memerlukan kombinasi antibiotik jangka panjang dan intervensi bedah. Terapi lini pertama adalah kombinasi trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX) dengan dapson atau amikasin, diberikan selama 6-12 bulan hingga lesi sembuh total. Alternatif lain meliputi regimen yang mengandung streptomisin, imipenem, atau seftriakson. Untuk kasus yang disebabkan oleh Nocardia, terapi dengan TMP-SMX alone atau dikombinasikan dengan imipenem dan amikasin direkomendasikan. Terapi bedah berupa eksisi lesi atau debridement dilakukan sebagai terapi ajuvan, bukan sebagai terapi tunggal. Penilaian respons terapi dilakukan secara klinis dan radiologis setiap 3-6 bulan. Durasi terapi ditentukan hingga resolusi lengkap manifestasi klinis dan radiologis. Monitoring efek samping obat seperti toksisitas hepar dan ginjal diperlukan selama terapi. Kemajuan dalam tatalaksana actinomycetoma meliputi penggunaan antibiotik baru dan regimen kombinasi yang lebih efektif.

01 Komplikasi

Komplikasi actinomycetoma terjadi akibat progresivitas penyakit dan keterlambatan penanganan. Komplikasi lokal meliputi destruksi jaringan lunak yang ekstensif, deformitas permanen pada ekstremitas yang terkena, dan keterbatasan gerak sendi akibat fibrosis dan kontraktur. Keterlibatan tulang (osteomielitis) merupakan komplikasi serius yang dapat menyebabkan fraktur patologis dan amputasi. Penyebaran infeksi secara hematogen sangat jarang namun dapat terjadi pada pasien immunocompromised. Komplikasi sekunder meliputi infeksi bakteri sekunder pada sinus yang dapat memperburuk kondisi. Bekas luka dan jaringan parut yang extensive dapat menyebabkan kecacatan kosmetik dan fungsional. Pada kasus yang sangat lanjut, amputasi mungkin diperlukan sebagai pilihan terakhir. Komplikasi sistemik seperti amiloidosis sekunder akibat inflamasi kronis juga dapat terjadi meskipun jarang.

01 Prognosis

Prognosis actinomycetoma umumnya lebih baik dibandingkan eumycetoma karena respons yang lebih baik terhadap terapi antibiotik. Prognosis sangat bergantung pada stadium penyakit saat diagnosis ditegakkan, kepatuhan terapi, dan kondisi imun宿主. Kasus dengan keterlibatan tulang memiliki prognosis yang lebih buruk dengan tingkat kesembuhan lebih rendah. Prognosis juga dipengaruhi oleh spesies penyebab; infeksi oleh Nocardia umumnya memiliki respons lebih baik terhadap terapi dibandingkan Actinomyces. Dengan terapi yang adekuat dan jangka panjang, tingkat kesembuhan dapat mencapai 60-90% untuk kasus tanpa keterlibatan tulang. Keterlambatan diagnosis dan terapi dapat menyebabkan progresivitas penyakit dan memperburuk prognosis. Faktor-faktor yang memperbaiki prognosis meliputi deteksi dini, terapi kombinasi yang tepat, dan monitoring teratur selama masa terapi.

01 Pencegahan

Pencegahan actinomycetoma terutama berfokus pada menghindari faktor risiko utama. Penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu boots dan sarung tangan direkomendasikan bagi individu yang bekerja di bidang pertanian atau konstruksi. Perawatan segera luka kulit dengan antiseptik yang adekuat dapat mencegah kolonisasi dan infeksi oleh actinomycetes. Edukasi masyarakat tentang bahaya травмы kulit dan pentingnya kebersihan sangat penting, terutama di daerah endemik. Tidak ada vaksinasi spesifik untuk actinomycetoma. Peningkatan akses ke layanan kesehatan dan kapasitas diagnostik di daerah endemik dapat membantu deteksi dini dan penanganan yang lebih baik. Penelitian lebih lanjut tentang faktor virulensi dan respons imun terhadap actinomycetes diperlukan untuk pengembangan strategi pencegahan yang lebih efektif.

01 Kesimpulan

Actinomycetoma adalah penyakit infeksichronic yang disebabkan oleh bakteri actinomycetes, terutama dari genus Actinomyces dan Nocardia. Penyakit ini memiliki prevalensi tinggi di daerah tropis dan subtropis, dengan manifestasi klinis berupa massa tumor-like pada ekstremitas yang disertai pembentukan sinus dan sekresi mengandung granula. Diagnosis memerlukan pendekatan multimodal termasuk pemeriksaan mikroskopis, kultur, dan biopsi. Perbedaan utama dengan eumycetoma terletak pada agen etiologi dan karakteristik granula. Terapi kombinasi antibiotik jangka panjang dengan atau tanpa intervensi bedah memberikan hasil yang memuaskan. Prognosis umumnya baik dengan deteksi dini dan terapi adekuat. Pencegahan melalui perlindungan diri dan penanganan luka yang tepat sangat penting untuk mengurangi insidensi penyakit ini.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
Welsh O, Vera-Cabrera L, Welsh E, Salinas MC. Actinomycetoma: an update on diagnosis, treatment, and prevention. Expert Rev Anti Infect Ther. 2012;10(10):1173-1186.
[2]
Fahal AH, Hassan MA. Mycetoma: a thorn in the flesh. Trans R Soc Trop Med Hyg. 1992;86(1):93-94.
[3]
Ahmed AA, van de Sande WW, Fahal AH. Mycetoma in the Sudan: an update. Trans R Soc Trop Med Hyg. 2014;108(12):727-732.
[4]
Lichon V, Khachemoune A. Mycetoma: a review. Am J Clin Dermatol. 2006;7(5):315-321.
[5]
McNeil NI, Brown CH. Actinomycetoma. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024.
[6]
Sampaio FM, Wanke B, Freitas DF, et al. Actinomycetoma and eumycetoma: an overview. An Bras Dermatol. 2021;96(4):397-404.
[7]
WHO. Report of the WHO Global Meeting on Mycetoma. World Health Organization; 2018.
[8]
Fahal AH, el Toham K, Hassan MA, et al. Development of the mycetoma research center. Khartoum Med J. 2011;4(1):456-460.

🔗 Konten Terkait: B47.1

Pathway: Actinomycetoma (B47.1) & SDKI