MerlinDX Artikel I45.6
https://www.askep3s.org/711eb3fb6f/artikel/I45.6
Artikel Klinis ICD-10: I45.6

Sindrom Pre-eksitasi (Pre-excitation Syndrome)

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Definisi
  2. Epidemiologi
  3. Patofisiologi
  4. Klasifikasi
  5. Etiologi dan Penyebab
  6. Tanda dan Gejala
  7. Diagnosis
  8. Penatalaksanaan
  9. Komplikasi
  10. Prognosis
  11. Pencegahan
  12. Pertanyaan yang Sering Diajukan
  13. Referensi

01 Definisi

Sindrom pre-eksitasi adalah suatu kondisi jantung di mana impuls listrik atrium mencapai ventrikel lebih cepat dari normal melalui jalur aksesori konduksi. Kondisi ini terjadi akibat adanya jalur konduksi alternatif di antara atrium dan ventrikel yang memungkinkan depolarisasi ventrikel terjadi sebelum impuls normal melalui sistem konduksi His-Purkinje. Sindrom pre-eksitasi membuat individu predisposisi terhadap takiaritmia dan merupakan salah satu penyebab tersering aritmia pada jantung yang structurally normal.

02 Epidemiologi

Sindrom pre-eksitasi, khususnya Sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW), memiliki prevalensi sekitar 0,1-0,3% populasi umum. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio sekitar 1,5:1 hingga 2:1. Insidensi tertinggi terjadi pada dekade kedua dan ketiga kehidupan. Pada Autopsy Study, jalur aksesori ditemukan pada sekitar 0,5-1% populasi umum, namun tidak semua individu menunjukkan manifestasi klinis. Sekitar 40-60% individu dengan pre-eksitasi asimtomatik akan berkembang menjadi simtomatik sepanjang hidup mereka.

03 Patofisiologi

Jantung normal memiliki satu jalur konduksi utama dari atrium ke ventrikel melalui nodus AV dan sistem His-Purkinje. Pada sindrom pre-eksitasi, terdapat jalur aksesori tambahan yang menghubungkan atrium langsung ke ventrikel, bypassing nodus AV. Jalur aksesori ini tidak memiliki sifat dekremental seperti nodus AV, sehingga konduksi impuls melalui jalur ini lebih cepat. Hal ini menyebabkan pre-eksitasi ventrikel yang terlihat pada EKG sebagai interval PR pendek dan kompleks QRS lebar dengan delta wave. Jalur aksesori yang paling umum adalah Bundle Kent pada Sindrom WPW, yang menghubungkan atrium dan ventrikel secara langsung melalui annulus mitral atau trikuspidalis. Selain itu, terdapat juga jalur James pada Sindrom Lown-Ganong-Levine (LGL) yang menghubungkan atrium dengan bagian distal nodus AV atau bundle His. Pre-eksitasi dapat bersifat manifest (terlihat pada EKG istirahat) atau laten (hanya terlihat pada kondisi tertentu seperti takikardia). Mekanisme takiaritmia pada sindrom pre-eksitasi melibatkan re-entry circuit yang memanfaatkan jalur aksesori dan sistem konduksi normal. Orthodromic AVRT terjadi ketika impuls berjalan anterograd melalui nodus AV dan retrograd melalui jalur aksesori, sedangkan antidromic AVRT terjadi dengan arah sebaliknya. Fibrilasi atrium pada pasien dengan sindrom pre-eksitasi berbahaya karena konduksi cepat melalui jalur aksesori dapat menyebabkan respons ventrikel sangat cepat dan degenerasi menjadi fibrilasi ventrikel.

04 Klasifikasi

Sindrom pre-eksitasi diklasifikasikan berdasarkan lokasi dan jenis jalur aksesori. Sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW) merupakan tipe paling umum dengan jalur aksesori berupa Bundle Kent yang menghubungkan atrium dan ventrikel secara langsung. Sindrom Lown-Ganong-Levine (LGL) melibatkan jalur James yang menghubungkan atrium dengan bagian distal nodus AV atau bundle His, menyebabkan PR pendek dengan QRS normal. Sindrom Mahaim merupakan tipe yang lebih jarang dengan jalur aksesori yang menghubungkan nodus AV atau bundle His dengan miokardium ventrikel, menyebabkan pre-eksitasi kanan dengan morfologi QRS mirip RBBB. Berdasarkan manifestasi klinis, sindrom pre-eksitasi dapat bersifat simtomatik dengan episode takikardia berulang atau asimtomatik yang terdeteksi secara kebetulan pada pemeriksaan EKG rutin.

05 Etiologi dan Penyebab

Sindrom pre-eksitasi umumnya merupakan kelainan kongenital yang hadir sejak lahir, meskipun manifestasi klinis sering muncul kemudian dalam kehidupan. Penyebab pasti tidak selalu jelas, namun beberapa faktor berkontribusi. Kelainan embriologis pada perkembangan sistem konduksi jantung selama minggu ke-5 hingga ke-15 gestasi dapat menyebabkan persistensi jalur aksesori yang seharusnya menghilang. Faktor genetik berperan pada beberapa kasus, terutama pada sindrom pre-eksitasi familial yang diturunkan secara autosom dominant. Mutasi pada gen PRKAG2 telah dikaitkan dengan sindrom pre-eksitasi familial yang dikombinasikan dengan hipertrofi ventrikel kiri. Beberapa kondisi jantung struktural seperti penyakit Ebstein dan defek septum atrium dapat dikaitkan dengan peningkatan insidensi sindrom pre-eksitasi. Pada kasus yang jarang, sindrom pre-eksitasi dapat acquired melalui prosedur kateter ablation yang tidak berhasil sempurna atau trauma jantung.

06 Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis sindrom pre-eksitasi sangat bervariasi, dari asimtomatik hingga episode takiaritmia yang mengancam jiwa. Palpitasi merupakan gejala tersering yang dirasakan pasien sebagai detak jantung cepat, tidak teratur, atau berdebar-debar di dada. Episodes takikardia dapat disertai dengan sensasi berdenyut di leher, pusing, atau lightheadedness. Pada kasus yang berat, pasien dapat mengalami presinkop atau sinkop akibat penurunan curah jantung akut selama takiaritmia. Nyeri dada dapat terjadi selama episode takikardia akibat peningkatan kebutuhan oksigen miokardium. Gejala lain termasuk dispnea, kelelahan, dan kecemasan. Pada beberapa pasien, fibrilasi atrium dengan konduksi cepat melalui jalur aksesori dapat menyebabkan hipotensi, gagal jantung akut, atau bahkan henti jantung pada kasus yang tidak tertangani. Individu asimtomatik mungkin tidak menyadari kondisi mereka sampai terdeteksi pada pemeriksaan EKG rutin atau evaluasi untuk masalah kesehatan lain.

07 Diagnosis

Diagnosis sindrom pre-eksitasi melibatkan kombinasi evaluasi klinis, pemeriksaan elektrokardiogram, dan studi elektrofisiologi. Elektrokardiogram (EKG) istirahat merupakan pemeriksaan lini pertama dengan temuan karakteristik berupa interval PR kurang dari 120 milidetik, kompleks QRS lebih lebar dari normal dengan durasi lebih dari 120 milidetik, dan presence of delta wave yang merepresentasikan pre-eksitasi ventrikel awal. Pada Sindrom WPW tipikal, dapat terlihat pola pre-eksitasi ventrikel kiri atau kanan tergantung lokasi jalur aksesori. EKG 12 sadapan penting untuk menentukan morfologi delta wave dan lokalisasi jalur aksesori. Pemantauan Holter 24 jam berguna untuk menangkap episode takiaritmia intermiten pada pasien dengan gejala episodik. Exercise stress test dapat dilakukan untuk menilai konduksi anterograd melalui jalur aksesori dan mengidentifikasi pasien dengan risiko tinggi. Studi elektrofisiologi invasif (EPS) merupakan gold standard untuk konfirmasi diagnosis, pemetaan lokasi jalur aksesori, dan evaluasi sifat konduksi jalur aksesori. Pada EPS, dapat dinilai refractory period jalur aksesori, kemampuan konduksi anterograd dan retrograd, serta induktibilitas takiaritmia. Treadmill test dengan protokol Bruce dapat menunjukkan konduksi intermiten atau persisten melalui jalur aksesori. Ekokardiografi direkomendasikan untuk menilai struktur jantung dan menyingkirkan kelainan jantung struktural yang sering dikaitkan dengan sindrom pre-eksitasi.

08 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan sindrom pre-eksitasi disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala, karakteristik jalur aksesori, dan risiko komplikasi. Pada pasien asimtomatik dengan pre-eksitasi manifest, pendekatan watchful waiting dapat dilakukan dengan monitoring berkala. Namun, ablation kateter direkomendasikan bahkan pada pasien asimtomatik jika jalur aksesori memiliki sifat konduksi anterograd cepat dengan refractory period pendek yang meningkatkan risiko aritmia maligna. Untuk episode akut takiaritmia, manuver vagal seperti Valsalva dan massage sinus karotis merupakan lini pertama terminasi. Jika manuver vagal gagal, adenosin intravena merupakan obat pilihan dengan dosis awal 6 mg rapid IV push yang dapat diulang hingga 12 mg. Adenosin bekerja dengan memblokir konduksi nodus AV sementara, memutus circuit re-entry. Pada fibrilasi atrium dengan pre-eksitasi, elektrokardioversi sinkron direkomendasikan segera jika pasien tidak stabil. Obat antiaritmia seperti ibutilide atau procainamide IV dapat dipertimbangkan untuk mengontrol laju. Pencegahan jangka panjang meliputi catheter ablation sebagai pilihan kuratif dengan tingkat keberhasilan tinggi sekitar 90-95% untuk jalur aksesori manifest. Obat antiaritmia seperti propafenone atau flecainide dapat digunakan sebagai alternatif jika ablation tidak memungkinkan atau ditolak pasien. Pada pasien dengan sindrom pre-eksitasi dan fibrilasi atrium, obat yang memperlambat konduksi nodus AV seperti beta-blocker, kalsium channel blocker, dan digoxin kontraindikasi karena dapat memfasilitasi konduksi eksklusif melalui jalur aksesori dan memperburuk takiaritmia.

09 Komplikasi

Komplikasi tersering sindrom pre-eksitasi adalah episode takikardia re-entry yang berulang yang meskipun tidak mengancam jiwa secara langsung, dapat严重影响 kualitas hidup pasien. Fibrilasi atrium dengan konduksi cepat melalui jalur aksesori merupakan komplikasi berbahaya yang dapat menyebabkan respons ventrikel sangat cepat dan degenerasi menjadi fibrilasi ventrikel. Henti jantung mendadak terjadi pada sekitar 0,25-0,5% pasien sindrom WPW per tahun, terutama pada pasien dengan jalur aksesori dengan refractory period sangat pendek dan kemampuan konduksi anterograd efisien. Gagal jantung kongestif dapat berkembang pada pasien dengan episode takikardia sering dan berkepanjangan akibat disfungsi ventrikel yang diinduksi takikardia. Kardiomiopati yang diinduksi aritmia dapat terjadi pada kasus yang tidak terdiagnosis atau tidak ditangani dengan baik dalam jangka panjang. Komplikasi prosedur ablation termasuk kerusakan sistem konduksi normal yang memerlukan pacemaker permanen, robekan kateter, tromboembolisme, dan sangat jarang, kematian.

10 Prognosis

Prognosis sindrom pre-eksitasi bervariasi tergantung pada karakteristik jalur aksesori dan kepatuhan pasien terhadap penatalaksanaan. Dengan catheter ablation yang berhasil, prognosis sangat baik dengan tingkat kesembuhan mendekati 95% dan tingkat rekurensi rendah sekitar 5-10%. Pasien yang menjalani ablation sukses memiliki harapan hidup normal tanpa pembatasan aktivitas. Pada pasien yang tidak menjalani ablation, risiko aritmia seumur hidup tetap ada, namun banyak individu tetap asimtomatik atau hanya mengalami episode jarang yang dapat ditangani dengan baik. Faktor risiko untuk prognosis buruk meliputi jalur aksesori dengan refractory period pendek kurang dari 250 milidetik, konduksi anterograd eksklusif melalui jalur aksesori pada exercise stress test, dan riwayat fibrilasi atrium atau sinkop. Prognosis jangka panjang umumnya baik dengan penatalaksanaan yang tepat, namun pasien perlu memahami bahwa kondisi ini memerlukan monitoring lifelong dan kesadaran terhadap gejala yang memerlukan perhatian medis segera.

11 Pencegahan

Pencegahan primer sindrom pre-eksitasi tidak memungkinkan karena kondisi ini umumnya kongenital. Namun, pencegahan sekunder sangat penting untuk mencegah komplikasi. Pasien dengan sindrom pre-eksitasi terdiagnosis harus edukasi untuk mengenali gejala takiaritmia dan mencari pertolongan medis segera jika mengalami palpitasi persisten, pusing, atau sinkop. Menghindari faktor pemicu seperti kafein berlebihan, alkohol, dan stimulan dapat membantu mengurangi episode takiaritmia. Olahraga teratur dengan intensitas moderat umumnya aman, namun pasien harus berkonsultasi dengan dokter mengenai pembatasan aktivitas kompetitif atau olahraga berat. Pemantauan EKG berkala direkomendasikan untuk menilai perubahan konduksi jalur aksesori dari waktu ke waktu. Pada pasien dengan riwayat fibrilasi atrium, penggunaan antikoagulan mungkin diperlukan tergantung pada skor CHA2DS2-VASc dan karakteristik jalur aksesori. Pencegahan sudden cardiac death pada pasien risiko tinggi melibatkan implantasi ICD jika ablation tidak berhasil atau tidak memungkinkan.

12 Pertanyaan yang Sering Diajukan

Array

13 Referensi

Array
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: I45.6

Pathway: Pre-excitation Syndrome (I45.6) & SDKI