MerlinDX Artikel P39.3
https://www.askep3s.org/7be60c4e9e/artikel/P39.3
Artikel Klinis ICD-10: P39.3

P39.3: Infeksi Saluran Kemih Neonatal - Definisi, Gejala, Diagnosis, dan Tatalaksana

4 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Bagian 1
  2. Bagian 2
  3. Bagian 3
  4. Bagian 4
  5. Bagian 5
  6. Bagian 6
  7. Bagian 7
  8. Bagian 8
  9. Bagian 9
  10. Bagian 10
  11. Bagian 11

01

Infeksi saluran kemih neonatal (P39.3) adalah kondisi medis di mana terjadi infeksi bakteri pada sistem saluran kemih bayi baru lahir, meliputi ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Pada neonatus, diagnosis ditegakkan ketika ditemukan pertumbuhan bakteri patogen ≥10.000 colony forming unit (CFU)/mL dari spesimen urin yang diambil secara steril melalui kateterisasi suprapubik atau kateterisasi uretra. Periode neonatal didefinisikan sebagai 28 hari pertama kehidupan, di mana sistem imun bayi masih berkembang dan rentan terhadap infeksi.

02

Infeksi saluran kemih neonatal merupakan salah satu infeksi bakteri tersering pada bayi baru lahir. Insiden UTI neonatal bervariasi antara 0,1-1% dari seluruh kelahiran hidup. Bayi laki-laki lebih sering terkena dibandingkan bayi perempuan dengan rasio sekitar 2-4:1, terutama pada bayi yang tidak disirkumsisi. Insiden lebih tinggi ditemukan pada bayi dengan berat badan lahir rendah, prematur, dan mereka yang memerlukan kateterisasi atau intervensi urologis.

03

Echerichia coli merupakan organisme tersering penyebab UTI neonatal, bertanggung jawab atas sekitar 50-70% kasus. Organisme patogen lainnya meliputi Klebsiella pneumoniae, Proteus mirabilis, Enterococcus faecalis, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus coagulase negatif. Pada neonatus yang dirawat di unit perawatan intensif neonatus (NICU), organisme nosokomial seperti Klebsiella dan Pseudomonas lebih sering ditemukan.

04

Berbagai faktor meningkatkan risiko UTI neonatal meliputi prematuritas, jenis kelamin laki-laki tanpa sirkumsisi, obstruksi saluran kemih anatomis seperti katup uretra posterior, refluks vesikoureter, penggunaan kateter urin, prosedur urologis, dan imaturitas sistem imun. Riwayat infeksi saluran kemih ibu selama kehamilan juga dapat meningkatkan risiko transmisi bakteri ke neonatus.

05

Pada neonatus, sistem imun bawaan masih imatur sehingga kemampuan untuk membatasi infeksi terbatas. Bakteri yang masuk ke saluran kemih dapat berkembang biak dengan cepat karena konsentrasi osmolar urin dan faktor antimikroba lokal yang masih rendah. Infeksi dapat terbatas pada kandung kemih (sistitis) atau naik ke ginjal (pielonefritis). Pada kasus berat, bakteri dapat masuk ke sirkulasi darah menyebabkan bakteremia dan sepsis.

06

Gejala UTI neonatal sering tidak spesifik dan dapat menyerupai kondisi neonatal lainnya. Manifestasi klinis meliputi demam atau hipotermia, iritabilitas, sulit makan atau menolak menyusu, muntah, diare, ikterus berkepanjangan, letargi atau penurunan kesadaran, dan distensi abdomen. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan nyeri tekan suprapubik atau flank. Karena gejala yang tidak spesifik, indeks kecurigaan harus tinggi terutama pada neonatus dengan faktor risiko.

07

Diagnosis UTI neonatal memerlukan kombinasi pendekatan klinis dan laboratoris. Pemeriksaan urinalisis dapat menunjukkan piuria, bakteriuria, dan nitrit positif. Kultur urin merupakan gold standard untuk konfirmasi diagnosis dan harus dilakukan sebelum memulai terapi antibiotik. Spesimen urin diambil melalui kateterisasi uretra atau aspirasi suprapubik untuk menghindari kontaminasi. Pemeriksaan darah lengkap, CRP, prokalsitonin, dan kultur darah juga diperlukan untuk menilai keparahan dan kemungkinan bakteremia.

08

Terapi antibiotik empiris intravena harus segera dimulai setelah spesimen kultur diambil. Pilihan antibiotik bergantung pada pola sensitivitas lokal dan kondisi klinis neonatus. Ampisilin dikombinasikan dengan sefalosporin generasi ketiga seperti seftriakson atau sefotaxime merupakan regimen yang umum digunakan. Terapi diberikan selama 7-14 hari tergantung respons klinis dan hasil kultur. Pada kasus dengan bakteremia atau sepsis, terapi intravena dilanjutkan minimal 10-14 hari.

09

Komplikasi UTI neonatal meliputi bakteremia dan sepsis yang terjadi pada sekitar 10-30% kasus, pielonefritis yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan ginjal permanen, hidronefrosis akibat obstruksi, pembentukan abses perinefrik, dan gagal ginjal akut. Pada kasus berat, dapat terjadi syok septik dengan angka mortalitas yang meningkat signifikan. Kerusakan ginjal akibat pielonefritis berulang dapat menyebabkan hipertensi dan penyakit ginjal kronis di kemudian hari.

10

Pencegahan UTI neonatal meliputi identifikasi dan penanganan faktor risiko sedini mungkin, teknik aseptik dalam prosedur kateterisasi, membatasi penggunaan kateter urin seminimal mungkin, dan prophylactic antibiotics hanya pada kasus dengan indikasi spesifik. Pada bayi dengan refluks vesikoureter atau obstruksi saluran kemih, profilaksis antibiotik jangka panjang mungkin diperlukan. Edukasi orang tua tentang tanda-tanda infeksi dan kapan harus mencari pertolongan medis juga penting dalam pencegahan.

11

Dengan diagnosis dan terapi yang tepat, prognosis UTI neonatal umumnya baik. Angka mortalitas telah menurun secara signifikan dengan ketersediaan antibiotik yang efektif dan dukungan perawatan intensif. Namun, prognosis jangka panjang bergantung pada adanya komplikasi seperti refluks vesikoureter, jaringan parut ginjal, dan episode infeksi berulang. Follow-up jangka panjang dengan pemantauan fungsi ginjal dan tekanan darah direkomendasikan untuk mendeteksi dan mengelola komplikasi jangka panjang.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
. Urinary tract infection (UTI) - Symptoms and causes - Mayo Clinic
[2]
. Urinary tract infections (UTIs) - NHS
[3]
. Neonatology - Wikipedia
[4]
. Neonatal nursing - Wikipedia
[5]
. What Is Neonatal Care? Premature and Sick Newborns

🔗 Konten Terkait: P39.3

Pathway: P39.3 Neonatal UTI & SDKI