MerlinDX Artikel B27.1
https://www.askep3s.org/911ca6338e/artikel/B27.1
Artikel Klinis ICD-10: B27.1

B27.1: Mononukleosis Sitomegalovirus

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian
  2. Gejala
  3. Penyebab
  4. Diagnosis
  5. Pengobatan
  6. Pencegahan
  7. Komplikasi
  8. Prognosis

01 Pengertian

Mononukleosis sitomegalovirus (CMV) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus sitomegalovirus (CMV), yang merupakan bagian dari keluarga virus herpes (Herpesviridae). Virus ini termasuk dalam subkelompok beta-herpesvirus dan memiliki genom DNA linear. B27.1 adalah kode ICD-10 yang secara spesifik digunakan untuk mengklasifikasikan mononukleosis yang disebabkan oleh infeksi sitomegalovirus. Berbeda dengan mononukleosis yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV) yang dikodekan sebagai B27.0, B27.1 secara khusus merujuk pada kasus di mana CMV menjadi agen penyebab utama. CMV dapat ditularkan melalui berbagai cara termasuk kontak langsung dengan cairan tubuh seperti air liur, urine, darah, air mata, air mani, dan ASI. Setelah infeksi primer terjadi, virus akan tetap berada dalam tubuh secara laten dan dapat bereaktivasi terutama pada individu dengan sistem imun yang lemah. Penyakit ini dapat mengenai berbagai kelompok usia dan sering kali menunjukkan gejala yang mirip dengan mononukleosis infeksius klasik, namun dengan beberapa karakteristik klinis yang membedakannya.

01 Gejala

Gejala mononukleosis sitomegalovirus sangat bervariasi dan dapat berkisar dari asimtomatik hingga gejala sistemik yang signifikan. Pada banyak kasus, terutama pada anak-anak dan dewasa muda, infeksi CMV mungkin tidak menunjukkan gejala yang jelas (subklinis). Namun ketika gejala muncul, pasien biasanya mengalami demam yang berkepanjangan dengan suhu tubuh yang dapat mencapai 38-40 derajat Celsius dan berlangsung selama beberapa minggu. Pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) merupakan gejala yang sering ditemukan, terutama pada area leher, ketiak, dan selangkangan. Kelelahan dan kelemahan umum (malaise) juga sangat umum terjadi dan dapat menetap selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah infeksi akut. Pasien sering mengeluhkan sakit tenggorokan yang menyerupai faringitis, meskipun tonsilitis eksudatif lebih jarang dibandingkan pada mononukleosis EBV. Hepatomegali (pembesaran hati) dan splenomegali (pembesaran limpa) dapat terdeteksi pada pemeriksaan fisik. Beberapa pasien juga mengalami ruam kulit, terutama jika mereka telah mengonsumsi antibiotik golongan ampicillin atau amoxicillin. Gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, dan diare juga dapat terjadi pada beberapa kasus. Pada pasien immunocompromised, manifestasi klinis cenderung lebih berat dan dapat melibatkan organ-organ vital.

01 Penyebab

Mononukleosis sitomegalovirus disebabkan oleh infeksi virus sitomegalovirus (CMV), yang dikenal juga sebagai human herpesvirus 5 (HHV-5). CMV adalah virus DNA double-stranded yang memiliki kapsid ikosahedral dan selubung lipid. Virus ini tersebar luas di seluruh dunia dengan tingkat prevalensi yang bervariasi berdasarkan kelompok usia dan status sosial-ekonomi. Di negara maju, sekitar 50-60% orang dewasa telah terinfeksi CMV sebelum usia 40 tahun, sementara di negara berkembang prevalensinya dapat mencapai lebih dari 90% pada populasi dewasa. Penularan CMV terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh yang terinfeksi. Kontak langsung dengan air liur merupakan salah satu rute penularan yang paling umum, terutama melalui berbagi peralatan makan, ciuman, atau kontak dekat lainnya. Penularan juga dapat terjadi melalui transfusi darah dan transplantasi organ dari donor yang terinfeksi. Ibu hamil yang terinfeksi CMV dapat menularkan virus kepada janinnya melalui plasenta, yang dapat menyebabkan congenital CMV infection dengan potensi komplikasi serius. Penularan melalui ASI juga memungkinkan, meskipun risiko ini lebih rendah dibandingkan rute penularan lainnya. Setelah infeksi primer, CMV akan tetap berada dalam tubuh dalam keadaan laten, biasanya di dalam sel mononuklear dan sel epitel. Reaktivasi virus dapat terjadi pada kondisi immunosupresi seperti pada pasien HIV/AIDS, penerima transplantasi organ, atau pasien yang menjalani terapi imunosupresif.

01 Diagnosis

Diagnosis mononukleosis sitomegalovirus melibatkan kombinasi penilaian klinis dan pemeriksaan laboratorium yang spesifik. Pemeriksaan fisik akan dilakukan untuk menilai adanya limfadenopati, hepatosplenomegali, dan tanda-tanda klinis lainnya. Pemeriksaan laboratorium memiliki peran yang sangat penting dalam mengkonfirmasi diagnosis. Pemeriksaan serologi merupakan pendekatan diagnostik yang paling umum digunakan, meliputi deteksi antibodi IgM dan IgG spesifik CMV. Antibodi IgM CMV akan muncul dalam 1-2 minggu setelah infeksi primer dan menetap selama 2-3 bulan, sementara antibodi IgG akan muncul kemudian dan menetap seumur hidup. Peningkatan titer antibodi IgG empat kali lipat pada sampel berpasangan (paired serum) juga dapat digunakan sebagai bukti infeksi akut. Pemeriksaan antigenemia pp65 dapat digunakan untuk mendeteksi antigen virus CMV dalam leukosit, yang sangat berguna terutama pada pasien immunocompromised. Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat digunakan untuk mendeteksi DNA CMV dalam berbagai spesimen seperti darah, urine, CSF, atau jaringan. PCR memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dan dapat digunakan untuk kuantifikasi beban virus (viral load). Pemeriksaan fungsi hati biasanya menunjukkan peningkatan ringan hingga sedang pada enzim hati (transaminase). Pada pasien dengan gejala neurologis, analisis cairan serebrospinal (CSF) melalui pungsi lumbal mungkin diperlukan untuk menyingkirkan meningitis atau ensefalitis CMV. Hemoglobin dan trombosit mungkin menunjukkan penurunan ringan pada beberapa kasus. Diagnosis banding harus dipertimbangkan dengan kondisi lain yang dapat menyebabkan sindrom mononukleosis seperti infeksi EBV (B27.0), toksoplasmosis, HIV akut, dan hepatitis virus.

01 Pengobatan

Pengobatan mononukleosis sitomegalovirus umumnya bersifat suportif karena sistem imun tubuh yang sehat biasanya mampu mengendalikan infeksi secara alami. Terapi antivirus spesifik biasanya disediakan untuk pasien dengan risiko tinggi atau yang mengalami komplikasi serius. Ganciclovir merupakan obat antiviral lini pertama yang sering digunakan untuk pengobatan infeksi CMV berat, terutama pada pasien immunocompromised. Dosis standar ganciclovir adalah 5 mg/kgBB intravena setiap 12 jam selama 14-21 hari, yang dapat disesuaikan berdasarkan respons klinis dan fungsi ginjal pasien. Efek samping utama ganciclovir termasuk neutropenia, trombositopenia, dan toksisitas ginjal. Valganciclovir, yang merupakan prodrug oral ganciclovir, dapat digunakan sebagai alternatif untuk terapi oral dengan bioavailabilitas yang lebih baik. Foscarnet merupakan pilihan alternatif untuk pasien yang tidak merespons atau tidak toleran terhadap ganciclovir, meskipun memiliki profil keamanan yang berbeda termasuk nefrotoksisitas dan gangguan elektrolit. Cidofovir adalah pilihan lain yang dapat digunakan, namun penggunaannya terbatas karena nefrotoksisitas yang signifikan. Terapi suportif meliputi istirahat yang cukup, hidrasi yang adekuat, dan penggunaan antipiretik seperti parasetamol untuk mengendalikan demam. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dapat digunakan untuk meredakan nyeri dan peradangan. Kortikosteroid mungkin dipertimbangkan pada kasus-kasus dengan komplikasi berat seperti meningitis aseptik, sindrom Guillain-Barré, atau trombositopenia berat. Pasien harus menghindari aktivitas fisik yang berat selama fase akut untuk mengurangi risiko ruptur limpa, terutama jika splenomegali terdeteksi.

01 Pencegahan

Pencegahan mononukleosis sitomegalovirus memerlukan pendekatan multifaktor yang disesuaikan dengan populasi target. Untuk populasi umum, praktik kebersihan yang baik merupakan langkah pencegahan utama. Cuci tangan secara teratur dan menyeluruh dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah kontak dengan orang yang sakit atau setelah menyentuh permukaan yang berpotensi terkontaminasi. Hindari berbagi peralatan makan, minuman, dan barang-barang pribadi lainnya. Untuk wanita hamil, pencegahan transmisi vertikal CMV ke janin sangat penting. Wanita hamil harus menghindari kontak dengan air liur dan urine anak-anak kecil, termasuk tidak mencium anak di bibir, tidak berbagi makanan atau peralatan makan dengan mereka, dan menggunakan sarung tangan saat mengganti popok atau membersihkan urine anak. Pemeriksaan serologi CMV pada wanita hamil dapat dipertimbangkan untuk menilai status imunitas mereka. Pada pasien immunocompromised seperti penerima transplantasi organ atau pasien HIV, profilaksis antivirus dapat diberikan untuk mencegah infeksi CMV atau reaktivasi. Pemantauan rutin dengan pemeriksaan antigenemia pp65 atau PCR CMV dapat dilakukan untuk deteksi dini dan intervensi preemptif. Di lingkungan rumah sakit, isolasi kontak dan prosedur pengendalian infeksi harus diterapkan untuk mencegah nosokomial transmission, terutama di unit transplantasi dan unit perawatan intensif. Edukasi pasien dan keluarga tentang cara penularan dan langkah pencegahan juga merupakan komponen penting dalam strategi pencegahan.

01 Komplikasi

Mononukleosis sitomegalovirus dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang bervariasi dari ringan hingga mengancam jiwa, tergantung pada status imun宿主 dan kondisi kesehatan umum pasien. Komplikasi hematologi yang sering terjadi meliputi anemia hemolitik autoimun, trombositopenia imun, dan neutropenia. Komplikasi neurologis merupakan kelompok komplikasi yang serius dan dapat bermanifestasi sebagai meningitis aseptik, ensefalitis, sindrom Guillain-Barré, polineuropati, dan mielitis transversa. Untuk komplikasi neurologis, kode ICD-10 yang tepat adalah G02 sebagai meningitis pada penyakit virus yang diklasifikasikan di tempat lain, atau G05 untuk ensefalitis, mielitis, dan ensefalomielitis pada penyakit yang diklasifikasikan di tempat lain, dengan tambahan kode untuk infeksi CMV. Komplikasi hepatik termasuk hepatitis CMV yang dapat bermanifestasi sebagai kolestasis atau nekrosis hepatoseluler. Komplikasi pulmoner seperti pneumonitis interstisial dapat terjadi, terutama pada pasien immunocompromised. Komplikasi okular termasuk retinitis CMV yang merupakan komplikasi serius pada pasien AIDS dengan CD4 count rendah, yang dapat menyebabkan kebutaan jika tidak diobati. Komplikasi gastrointestinal dapat bermanifestasi sebagai kolitis CMV, esofagitis, atau gastritis. Komplikasi kardiovaskular seperti miokarditis dan perikarditis juga telah dilaporkan. Pada wanita hamil, infeksi CMV primer dapat menyebabkan congenital CMV infection yang dapat mengakibatkan mikrosefali, kalsifikasi intrakranial, hepatosplenomegali, ikterus, dan gangguan pendengaran sensorineural pada janin. Ruptur limpa merupakan komplikasi yang jarang namun berpotensi fatal yang dapat terjadi akibat splenomegali yang signifikan.

01 Prognosis

Prognosis mononukleosis sitomegalovirus pada individu dengan sistem imun yang sehat umumnya baik dengan pemulihan penuh yang diharapkan dalam beberapa minggu hingga bulan. Kelelahan residual dapat menetap selama 3-6 bulan atau bahkan lebih lama pada beberapa pasien, namun kondisi ini biasanya akan membaik secara bertahap. Angka kematian pada pasien immunocompetent sangat rendah dan komplikasi serius jarang terjadi. Prognosis menjadi lebih bervariasi pada populasi khusus seperti pasien immunocompromised, wanita hamil dengan infeksi CMV primer, dan neonatus dengan congenital CMV infection. Pada pasien transplantasi organ, infeksi CMV dapat menyebabkan morbiditas yang signifikan dan meningkatkan risiko rejeksi graft serta infeksi oportunistik lainnya. Terapi antiviral telah menunjukkan efektivitas dalam mengurangi mortalitas dan morbiditas pada populasi ini. Pada congenital CMV infection, prognosis bergantung pada tingkat keparahan manifestasi klinis dan organ yang terlibat. Sekitar 10-15% neonatus dengan gejala congenital CMV akan meninggal, dan sebagian besar penyintas akan mengalami sequelae neurologis termasuk gangguan pendengaran sensorineural, retardasi mental, dan gangguan penglihatan. Deteksi dan intervensi dini sangat penting untuk mengoptimalkan hasil jangka panjang. Pemantauan jangka panjang direkomendasikan untuk anak-anak dengan congenital CMV untuk mendeteksi dan mengelola gangguan pendengaran progresif dan defisit perkembangan neurologis.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: B27.1

Pathway: B27.1 Mononukleosis Cytomegaloviral & S…