Identifikasi keinginan dan pikiran rencana bunuh diri
Monitor lingkungan bebas bahaya secara rutin (mis: barang pribadi, pisau cukur, jendela)
Monitor adanya perubahan mood atau perilaku
Terapeutik
Libatkan dalam perencanaan perawatan mandiri
Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
Lakukan pendekatan langsung dan tidak menghakimi saat membahas bunuh diri
Berikan lingkungan dengan pengamanan ketat dan mudah dipantau (mis: tempat tidur dekat ruang perawat)
Tingkatkan pengawasan pada kondisi tertentu (mis: rapat staf, pergantian shift)
Lakukan intervensi perlindungan (mis: pembatasan area, pengekangan fisik), jika diperlukan
Hindari diskusi berulang tentang bunuh diri sebelumnya, diskusi berorientasi pada masa sekarang dan masa depan
Diskusikan rencana menghadapi ide bunuh diri di masa depan (mis: orang yang dihubungi, ke mana mencari bantuan)
Pastikan obat ditelan
Edukasi
Anjurkan mendiskusikan perasaan yang dialami kepada orang lain
Anjurkan menggunakan sumber pendukung (mis: layanan spiritual, penyedia layanan)
Jelaskan tindakan pencegahan bunuh diri kepada keluarga atau orang terdekat
Informasikan sumber daya masyarakat dan program yang tersedia
Latih pencegahan risiko bunuh diri (mis: latihan asertif, relaksasi otot progresif)
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat antiansietas atau antipsikotik, sesuai indikasi
Kolaborasi tindakan keselamatan kepada PPA
Rujuk ke pelayanan kesehatan mental, jika perlu
Etiologi5
Gangguan perilaku (mis: euphoria mendadak setelah depresi, perilaku mencari senjata berbahaya, membeli obat dalam jumlah banyak, membuat surat warisan)
Demografi (mis: lansia, status perceraian, janda/duda, ekonomi rendah, pengangguran)
Gangguan fisik (mis: nyeri kronis, penyakit terminal)
Masalah sosial (mis: berduka, tidak berdaya, putus asa, kesepian, kehilangan hubungan yang penting, isolasi sosial)
Gangguan psikologis (mis: penganiayaan masa kanak-kanak, riwayat bunuh diri sebelumnya, remaja homoseksual, gangguan psikiatrik, penyakit psikiatrik, penyalahgunaan zat)