01 Pengertian
Subluksasi rekuren patela (M22.1) adalah kondisi berulang di mana tempurung lutut (patela) bergeser sebagian dari posisi normalnya di lekukan femoral anterior (trochlea femoris) tanpa mengalami dislokasi total. Berbeda dengan dislokasi patela penuh yang mana patela keluar sepenuhnya dari alur trochlea, pada subluksasi patela hanya terjadi pergeseran parsial yang memungkinkan patela kembali ke posisi semula secara spontan atau dengan manipulasi manual ringan. Kondisi ini termasuk dalam kategori gangguan tempurung lutut (patellofemoral disorders) dan merupakan salah satu penyebab tersering nyeri lutut anterior pada individu muda, terutama pada populasi atletis. Subluksasi rekuren patela sering kali dikaitkan dengan ketidakseimbangan otot quadriceps, kelemahan ligamen, atau kelainan anatomis pada struktur penyangga patela yang menyebabkan instabilitas kronis pada sendi patellofemoral.
01 Epidemiologi
Subluksasi rekuren patela merupakan kondisi yang relatif umum terjadi pada populasi umum dengan insiden yang bervariasi berdasarkan usia, jenis kelamin, dan aktivitas fisik. Insiden dislokasi dan subluksasi patela diperkirakan sekitar 5,8 per 100.000 orang per tahun pada populasi umum. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria dengan rasio sekitar 2:1 hingga 3:1, kemungkinan besar karena perbedaan anatomis pada sudut Q (Q-angle), lebar panggul, dan pola aktivitas fisik. Kelompok usia remaja hingga dewasa muda (10-30 tahun) merupakan kelompok yang paling sering terdampak, terutama pada individu yang aktif berpartisipasi dalam olahraga yang memerlukan gerakan memutar, melompat, dan perubahan arah secara tiba-tiba seperti sepak bola, basket, voli, dan senam. Sekitar 15-45% pasien dengan episode pertama dislokasi atau subluksasi patela akan mengalami episode berulang, dan risiko kekambuhan meningkat secara signifikan pada pasien dengan faktor risiko anatomis yang mendasari.
01 Etiologi dan Faktor Risiko
Subluksasi rekuren patela dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi, meliputi faktor anatomis, traumatis, dan neuromuskular. Faktor anatomis yang predisposisi termasuk torsi tibial eksternal, genu valgum, hipermobilitas sendi umum (generalized joint hypermobility), displasia trochlea femoris, tinggi posisi patela (patella alta), tuberositas tibiae lateral yang berlebihan, dan ligamentum patellofemorale mediale (MPFL) yang lemah atau rusak. Faktor traumatis meliputi cedera langsung pada lutut, gerakan memutar yang berlebihan pada lutut dalam posisi fleksi, atau trauma berulang akibat aktivitas olahraga tertentu. Faktor neuromuskular yang berkontribusi meliputi kelemahan otot quadriceps, ketidakseimbangan antara vastus medialis obliquus (VMO) dan vastus lateralis, serta kontrol neuromuskular yang buruk. Faktor risiko tambahan termasuk riwayat keluarga dengan instabilitas patela, jenis kelamin perempuan, usia muda, partisipasi dalam olahraga high-impact, dan adanya kondisi jaringan ikat seperti sindrom Ehlers-Danlos.
01 Patofisiologi
Patofisiologi subluksasi rekuren patela melibatkan gangguan kompleks pada biomekanika sendi patellofemoral yang mengakibatkan ketidakmampuan patela untuk tetap stabil dalam alur trochlea selama gerakan lutut. Normalnya, patela difiksasi dalam alur trochlea oleh beberapa struktur termasuk tonus otot quadriceps, ligamentum patellofemorale mediale (MPFL), retinakulum lateral, dan kongruens anatomis antara permukaan artikular patela dan trochlea femoris. Pada pasien dengan predisposisi anatomis atau setelah cedera traumatis, kekuatan kompensasi ini menjadi tidak adekuat sehingga patela cenderung bergeser ke arah lateral. Pergeseran lateral patela yang berulang akan menyebabkan kerusakan progresif pada struktur penstabil medialis, terutama MPFL yang merupakan penstabil utama terhadap subluksasi lateral. Kerusakan MPFL selanjutnya memperburuk instabilitas dan menciptakan siklus vicious circle yang menyebabkan episode subluksasi berulang. Perubahan degeneratif pada kartilago artikular juga dapat terjadi akibat gesekan abnormal antara patela dan trochlea selama episode subluksasi, yang berkontribusi pada nyeri kronis dan risiko osteoartritis prematur.
01 Gejala Klinis
Manifestasi klinis subluksasi rekuren patela sangat bervariasi, mulai dari episode subluksasi yang asimptomatik hingga nyeri dan ketidakstabilan yang signifikan. Gejala utama yang sering dikeluhkan pasien meliputi nyeri anterior lutut yang memburuk saat aktivitas seperti menaiki tangga, berlutut, atau duduk dalam waktu lama (tanda theater). Pasien sering melaporkan sensasi palsu atau ketidakpastian pada lutut, seolah-olah lutut akan bergeser atau 'buckle'. Episode subluksasi aktual biasanya disertai dengan sensasi popping atau clicking yang terdengar atau terasa di sekitar tempurung lutut, diikuti dengan pembengkakan ringan hingga sedang akibat iritasi sinovial. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan tenderness pada aspek medial dan lateral patela, krepitasi saat gerakan lutut, dan apprehension sign positif yang menunjukkan ketakutan pasien terhadap pergerakan patela ke lateral. Pada kasus yang kronis, dapat ditemukan atrofi otot quadriceps, khususnya vastus medialis obliquus, serta keterbatasan gerak akibat efusi sendi berulang.
01 Diagnosis
Diagnosis subluksasi rekuren patela ditetapkan berdasarkan anamnesis yang komprehensif, pemeriksaan fisik yang sistematis, dan investigations pencitraan yang tepat. Anamnesis harus mencakup detail lengkap tentang episode subluksasi sebelumnya, aktivitas pencetus, lokasi dan karakteristik nyeri, sensasi instabilitas, dan riwayat trauma. Pemeriksaan fisik dimulai dengan inspeksi untuk menilai alignment lutut, posisi patela, dan adanya atrofi quadriceps. Tes Apprehension Test dilakukan dengan mendorong patela ke lateral sementara lutut dalam posisi 20-30 derajat fleksi; respons positif berupa ketakutan atau resistensi dari pasien mengindikasikan instabilitas patela. Tes J-sign digunakan untuk menilai tracking patela abnormal, di mana patela terlihat bergeser secara berlebihan ke lateral saat lutut bergerak dari fleksi ke ekstensi. Investigations pencitraan meliputi radiografi lutut dalam posisi AP, lateral, dan axial (Merchant view) untuk menilai alignment, tinggi patela (menggunakan indeks Insall-Savati), dan adanya displasia trochlea. MRI merupakan modalitas pilihan untuk menilai kondisi MPFL, kartilago artikular, dan struktur lunak lainnya, sementara CT scan dapat memberikan informasi detail tentang torsi dan alignment tulang.
01 Diagnosis Banding
Beberapa kondisi ortopedi lain dapat menunjukkan gejala yang menyerupai subluksasi rekuren patela dan perlu dipertimbangkan dalam diagnosis diferensial. Patellofemoral Pain Syndrome (PFPS) atau chondromalacia patelae menyebabkan nyeri anterior lutut kronis namun tanpa episode subluksasi yang nyata. Dislokasi patela akut atau sebelumnya harus dibedakan karena melibatkan perpindahan total patela dari alur trochlea. Ligament cruciate anterior (ACL) injury dapat menyebabkan sensasi instabilitas lutut, namun biasanya terkait dengan mekanisme cedera spesifik dan tes Lachman positif. Meniscal tears dapat menyebabkan nyeri, bengkak, dan locking pada lutut, dengan tes McMurray positif. Patellar tendinitis (jumper's knee) menyebabkan nyeri pada tendon patela yang memburuk dengan aktivitas melompat. Iliotibial band syndrome menyebabkan nyeri lateral lutut yang memburuk dengan aktivitas berlari. Sindrom plica mediastinalis dapat menyebabkan nyeri anterior lutut dengan sensasi clicking, namun tidak disertai instabilitas yang nyata. Osteochondritis dissecans dapat menyebabkan nyeri dan bengkak, biasanya dengan riwayat trauma, dan terlihat pada pencitraan radiografik.
01 Tatalaksana
Penatalaksanaan subluksasi rekuren patela bersifat multimodal dan disesuaikan dengan tingkat keparahan, frekuensi episode, dan faktor penyebab yang mendasari. Pendekatan konservatif merupakan lini pertama terapi untuk sebagian besar kasus dan mencakup program rehabilitasi yang komprehensif. Latihan penguatan otot quadriceps, khususnya vastus medialis obliquus, merupakan komponen esensial untuk meningkatkan stabilitas patela. Latihan closed chain seperti squat dan leg press dilakukan dalam rentang gerakan yang tidak memicu nyeri. Latihan proprioseptif dan keseimbangan juga penting untuk meningkatkan kontrol neuromuskular. Modalitas tambahan seperti penggunaan knee brace atau patellar tracking brace dapat memberikan dukungan eksternal dan mengurangi risiko subluksasi selama aktivitas. Modifikasi aktivitas dan penggunaan NSAID untuk manajemen nyeri juga direkomendasikan. Tatalaksana operatif dipertimbangkan pada pasien yang gagal dengan terapi konservatif, memiliki kelainan anatomis signifikan, atau mengalami episode subluksasi yang sangat sering. Prosedur bedah dapat bersifat soft tissue procedure (MPFL reconstruction, lateral release, medial reefing) atau bony procedure (tibial tubercle transfer, trochleoplasty) tergantung pada patologi yang mendasari. Rekonstruksi MPFL saat ini merupakan prosedur yang paling umum dilakukan dengan tingkat keberhasilan tinggi dalam mengembalikan stabilitas patela.
01 Komplikasi
Subluksasi rekuren patela yang tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang mempengaruhi fungsi lutut secara signifikan. Kerusakan kartilago artikular progresif akibat gesekan abnormal dan tekanan tidak merata pada sendi patellofemoral dapat menyebabkan osteoartritis prematur pada kompartemen patellofemoral. Chondromalacia patelae, yaitu pelunakan dan degenerasi kartilago permukaan posterior patela, sering ditemukan pada pasien dengan instabilitas patela kronis. Episode subluksasi berulang dapat menyebabkan kerusakan progresif pada struktur penstabil medialis, khususnya MPFL, sehingga semakin memperburuk instabilitas. Efusi sendi berulang akibat iritasi sinovial kronis dapat menyebabkan keterbatasan gerak dan atrophy quadriceps sekunder. Komplikasi psikologis seperti ketakutan berlebihan (kinesiophobia) dan penurunan aktivitas fisik juga sering terjadi, yang pada gilirannya dapat berkontribusi pada deconditioning dan penurunan kualitas hidup. Pada kasus yang menjalani tatalaksana operatif, komplikasi potensial meliputi infeksi, trombosis vena dalam, kekakuan sendi, dan kegagalan graft pada prosedur rekonstruksi MPFL.
01 Prognosis
Prognosis subluksasi rekuren patela sangat bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti keparahan kondisi, kepatuhan pasien terhadap program rehabilitasi, dan adanya kelainan anatomis yang mendasari. Dengan terapi konservatif yang adekuat, sebagian besar pasien mengalami perbaikan signifikan dalam nyeri dan fungsi, meskipun beberapa pasien mungkin tetap memiliki beberapa tingkat instabilitas. Pasien dengan displasia trochlea berat atau kelainan alignment yang signifikan cenderung memiliki prognosis yang kurang baik dengan terapi konservatif saja dan lebih sering memerlukan intervensi bedah. Rekonstruksi MPFL telah menunjukkan hasil yang sangat baik dengan tingkat keberhasilan lebih dari 80% dalam hal pengurangan episode subluksasi dan perbaikan fungsi. Namun demikian, risiko kekambuhan tetap ada terutama pada pasien dengan faktor risiko yang persisten. Prognosis jangka panjang bergantung pada pencegahan komplikasi seperti osteoartritis, yang dapat diminimalkan dengan penanganan yang tepat waktu dan program pemeliharaan jangka panjang.
01 Pencegahan
Pencegahan subluksasi rekuren patela berfokus pada identifikasi dan modifikasi faktor risiko, serta pemeliharaan kekuatan dan stabilitas struktur penstabil lutut. Program latihan pencegahan yang teratur sangat direkomendasikan, terutama bagi atlet dan individu dengan faktor risiko tinggi. Latihan penguatan quadriceps yang konsisten, dengan fokus khusus pada vastus medialis obliquus, membantu menjaga tracking patela yang normal. Latihan fleksibilitas untuk otot-otot posterior paha, gastrocnemius, dan iliotibial band juga penting untuk menjaga keseimbangan otot di sekitar lutut. Latihan proprioseptif dan plyometric yang bertahap dapat meningkatkan kontrol neuromuskular dan respons refleks terhadap perubahan arah gerakan. Penggunaan knee support atau patellar brace selama aktivitas olahraga dapat memberikan dukungan tambahan, terutama bagi individu dengan riwayat instabilitas patela. Modifikasi teknik olahraga untuk menghindari gerakan yang meningkatkan stres pada sendi patellofemoral juga merupakan bagian penting dari strategi pencegahan. Edukasi pasien tentang tanda-tanda awal instabilitas dan pentingnya pencarian pertolongan medis segera saat gejala muncul dapat membantu mencegah progresi kondisi.
01 Referensi
1. Dejour H, Walch G, Nove-Josserand L, Guier C. Factors of patellar instability: an anatomic radiographic study. Knee Surg Sports Traumatol Arthrosc. 1994;2(1):19-26.
2. Colvin AC, West RV. Patellar instability. J Am Acad Orthop Surg. 2008;16(12):687-694.
3. Stefancin JJ, Parker RD. First-time traumatic patellar dislocation: a systematic review. Clin Orthop Relat Res. 2007;455:93-101.
4. Smith TO, Davies L, Chester R, Clark A, Donell ST. Clinical outcomes of rehabilitation for patients following lateral patellar dislocation: a systematic review. Physiotherapy. 2010;96(4):269-281.
5. Nomura E, Inoue M, Kurimura M. Medial patellofemoral ligament reconstruction for recurrent dislocation of the patella. J Orthop Surg (Hong Kong). 2003;11(2):165-170.
6. Fithian DC, Paxton EW, Stone ML, et al. Epidemiology and natural history of acute patellar dislocation. Am J Sports Med. 2004;32(5):1114-1121.
7. Sillanpää PJ, Mäenpää HM, Mattila VM, Visuri T, Pihlajamäki H. Arthroscopic surgery for primary traumatic patellar dislocation. Clin Orthop Relat Res. 2008;466(6):1475-1484.
8. Amis AA, Firer P, Mountney J, Senavongse W, Thomas NP. Anatomy and biomechanics of the medial patellofemoral ligament. Knee. 2003;10(3):215-220.
2. Colvin AC, West RV. Patellar instability. J Am Acad Orthop Surg. 2008;16(12):687-694.
3. Stefancin JJ, Parker RD. First-time traumatic patellar dislocation: a systematic review. Clin Orthop Relat Res. 2007;455:93-101.
4. Smith TO, Davies L, Chester R, Clark A, Donell ST. Clinical outcomes of rehabilitation for patients following lateral patellar dislocation: a systematic review. Physiotherapy. 2010;96(4):269-281.
5. Nomura E, Inoue M, Kurimura M. Medial patellofemoral ligament reconstruction for recurrent dislocation of the patella. J Orthop Surg (Hong Kong). 2003;11(2):165-170.
6. Fithian DC, Paxton EW, Stone ML, et al. Epidemiology and natural history of acute patellar dislocation. Am J Sports Med. 2004;32(5):1114-1121.
7. Sillanpää PJ, Mäenpää HM, Mattila VM, Visuri T, Pihlajamäki H. Arthroscopic surgery for primary traumatic patellar dislocation. Clin Orthop Relat Res. 2008;466(6):1475-1484.
8. Amis AA, Firer P, Mountney J, Senavongse W, Thomas NP. Anatomy and biomechanics of the medial patellofemoral ligament. Knee. 2003;10(3):215-220.