MerlinDX Artikel B37.4
https://www.askep3s.org/98dfe65630/artikel/B37.4
Artikel Klinis ICD-10: B37.4

B37.4: Candidiasis of Other Urogenital Sites - Panduan Lengkap

9 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian
  2. Epidemiologi
  3. Etiologi dan Faktor Risiko
  4. Patofisiologi
  5. Manifestasi Klinis
  6. Diagnosis
  7. Diagnosis Banding
  8. Tata Laksana
  9. Komplikasi
  10. Prognosis
  11. Pencegahan
  12. Referensi

01 Pengertian

Candidiasis of other urogenital sites (B37.4) adalah infeksi jamur Candida pada situs urogenital selain vagina dan penis. ICD-10 mengklasifikasikan kode B37.4 untuk infeksi Candida pada traktus urogenital yang tidak termasuk dalam kategori kandidiasis vulvovaginal (N77.1) atau balanitis kandida (B37.4 yang juga digunakan untuk balanitis kandida dalam konteks berbeda). Kode ini mencakup infeksi Candida pada uretra, kandung kemih, ginjal, prostat, epididimis, dan struktur urogenital lainnya. Candidiasis urogenital merupakan bentuk infeksi Candida yang umum terjadi dan dapat mempengaruhi individu dari segala usia dan jenis kelamin. Jamur Candida merupakan flora normal pada saluran pencernaan dan kulit, namun dapat menjadi patogen oportunistik ketika terjadi perubahan kondisi lokal atau sistemik yang mendukung pertumbuhannya. Infeksi ini dapat bersifat akut atau kronis, dan dalam beberapa kasus dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.

01 Epidemiologi

Candidiasis urogenital merupakan salah satu infeksi jamur paling umum pada manusia. Data epidemiologi menunjukkan bahwa infeksi Candida pada traktus urogenital terjadi pada sekitar 5-10% populasi umum, dengan prevalensi yang lebih tinggi pada populasi tertentu. Wanita lebih sering terkena dibandingkan pria, dengan rasio sekitar 10:1 untuk infeksi saluran kemih kandida. Faktor-faktor yang mempengaruhi epidemiologi termasuk usia, jenis kelamin, status imun, penggunaan antibiotik, dan kondisi medis yang mendasari. Pada populasi immunocompromised, insiden infeksi Candida urogenital meningkat secara signifikan. Data dari berbagai studi menunjukkan bahwa sekitar 75% wanita akan mengalami setidaknya satu episode kandidiasis vulvovaginal seumur hidup, dan sebagian kecil dari kasus ini dapat menyebar ke struktur urogenital lainnya. Pada pria, kandidiasis urogenital lebih sering terjadi pada individu dengan diabetes, sunat, atau immunocompromised.

01 Etiologi dan Faktor Risiko

Etiologi utama candidiasis urogenital adalah Candida albicans, yang bertanggung jawab untuk sekitar 80-90% kasus. Spesies Candida lain yang dapat menyebabkan infeksi urogenital meliputi Candida glabrata, Candida tropicalis, Candida krusei, Candida parapsilosis, dan Candida dubliniensis. Faktor risiko untuk berkembangnya candidiasis urogenital sangat beragam dan dapat diklasifikasikan menjadi faktor lokal dan sistemik. Faktor risiko lokal meliputi penggunaan kateter urin jangka panjang, prosedur urologi, obstruksi saluran kemih, dan perubahan flora normal akibat penggunaan antibiotik spektrum luas. Faktor risiko sistemik meliputi diabetes mellitus, immunosupresi (termasuk infeksi HIV/AIDS, penggunaan kortikosteroid, kemoterapi), kehamilan, kontrasepsi oral, dan malnutrisi. Faktor perilaku seperti praktik higiene yang tidak adekuat, hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi, dan penggunaan pakaian dalam yang ketat dan tidak menyerap keringat juga berkontribusi terhadap risiko infeksi. Pasien dengan riwayat kandidiasis berulang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi pada situs urogenital lainnya.

01 Patofisiologi

Patofisiologi candidiasis urogenital melibatkan interaksi kompleks antara faktor virulensi jamur Candida dan mekanisme pertahanan host. Candida adalah jamur dimorfik yang dapat berbentuk ragi (yeast) dan hifa (hyphae). Bentuk hifa lebih invasif dan dianggap lebih patogenik karena kemampuannya untuk menembus jaringan epitel. Proses infeksi dimulai ketika Candida yang merupakan flora komensal berubah menjadi bentuk patogenik akibat perubahan lingkungan lokal atau penurunan imunitas host. Faktor virulensi utama Candida meliputi adhesin yang memfasilitasi perlekatan pada epitel urogenital, proteinase dan fosfolipase yang merusak jaringan host, serta kemampuan biofilm formation yang melindungi koloni jamur dari sistem imun dan terapi antifungal. Respons imun host terhadap infeksi Candida melibatkan imunitas innate dan adaptif. Neutrofil dan makrofag berperan penting dalam fagositosis dan eliminasi Candida. Pada individu dengan defek imun seluler atau neutrofil, risiko infeksi Candida sistemik meningkat signifikan. Proses inflamasi yang dihasilkan sebagai respons terhadap infeksi menyebabkan gejala klinis seperti eritema, edema, dan discharge yang karakteristik pada infeksi urogenital.

01 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis candidiasis urogenital sangat bervariasi tergantung pada lokasi infeksi spesifik dan status imun宿主. Pada infeksi Candida uretra, gejala主要包括 uretritis dengan discharge uretra yang tipis dan berwarna putih keabu-abuan, disuria (nyeri saat berkemih), dan pruritus uretra. Pasien mungkin juga mengeluhkan poliuria dan urgensi miksi. Pada infeksi kandung kemih (sistitis kandida), gejalanya mirip dengan sistitis bakterial dan meliputi disuria, frekuensi miksi meningkat, urgensi, dan nyeri suprapubik. Dalam beberapa kasus, hematuria (darah dalam urin) dapat terjadi. Infeksi Candida prostat jarang terjadi tetapi dapat bermanifestasi sebagai prostatitis dengan gejala nyeri perineal, disuria, dan demam. Pada epididimitis kandida, pasien dapat mengalami nyeri skrotal, pembengkakan, dan demam. Secara umum, gejala sistemik seperti demam dan menggigil lebih sering terjadi pada infeksi Candida urogenital yang melibatkan struktur atas saluran kemih atau pada pasien immunocompromised. Discharge uretra yang khas berwarna putih seperti keju cottage sering menjadi petunjuk diagnostik penting untuk kandidiasis uretra.

01 Diagnosis

Diagnosis candidiasis urogenital memerlukan pendekatan sistematis yang mencakup anamnesis, pemeriksaan fisik, dan investigasi laboratorium. Anamnesis yang cermat meliputi riwayat gejala saluran kemih, faktor risiko yang relevan seperti diabetes, penggunaan antibiotik baru-baru ini, prosedur urologi, dan status imun. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi dan palpasi area urogenital untuk menilai adanya eritema, edema, discharge, atau massa. Pemeriksaan mikroskopis discharge uretra atau urin dengan KOH 10% merupakan pemeriksaan lini pertama yang dapat menunjukkan pseudohyphae dan budding yeast dengan sensitivitas sekitar 40-60%. Kultur jamur tetap gold standard untuk konfirmasi diagnosis dengan sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi. Kultur dapat dilakukan dari spesimen urin, swab uretra, atau jaringan biopsi jika diperlukan. Pemeriksaan urinalisis dapat menunjukkan piuria, hematuria, dan adanya yeast. Tes sensitivitas antifungal direkomendasikan untuk mengidentifikasi resistensi, terutama pada pasien dengan infeksi berulang atau yang sebelumnya telah menerima terapi antifungal. Pada kasus yang tidak responsif terhadap terapi, evaluasi tambahan seperti sistoskopi atau pencitraan traktus urinarius mungkin diperlukan untuk menyingkirkan abnormalitas struktural atau benda asing.

01 Diagnosis Banding

Diagnosis banding candidiasis urogenital sangat luas karena gejala dapat menyerupai berbagai kondisi lain pada traktus urogenital. Diagnosis banding utama meliputi infeksi bakteri saluran kemih yang disebabkan oleh Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Proteus mirabilis, atau organisme lain yang dapat menyebabkan uretritis dan sistitis. Gonore (Neisseria gonorrhoeae) dan infeksi Chlamydia trachomatis juga harus disingkirkan karena dapat menyebabkan gejala uretritis yang serupa. Infeksi saluran kemih oleh jamur lain seperti Cryptococcus neoformans atau Candida non-albicans dapat menjadi pertimbangan pada populasi immunocompromised. Balanitis bacterial atau dermatitis kontak pada pria dapat menyerupai kandidiasis urogenital. Pada wanita, vaginitis bakterial, trikomoniasis, dan herpes genital harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding. Prostatitis bacterial akut atau kronis dapat menyerupai prostatitis kandida. Sistitis interstisial dan batu saluran kemih juga dapat menyebabkan gejala yang tumpang tindih. Evaluasi diagnostik yang tepat diperlukan untuk membedakan candidiasis urogenital dari kondisi-kondisi ini, termasuk pemeriksaan mikrobiologis dan kultivasi yang sesuai.

01 Tata Laksana

Tata laksana candidiasis urogenital tergantung pada lokasi infeksi, keparahan gejala, dan status imun pasien. Untuk kandidiasis uretra tanpa komplikasi pada pasien immunocompetent, terapi lini pertama adalah fluconazole 150 mg dosis tunggal per oral atau itraconazole 200 mg dua kali sehari selama 1 hari. Alternatif termasuk nystatin suspensi untuk berkumur atau aplikasi topikal miconazole atau clotrimazole. Untuk sistitis kandida, fluconazole 200-400 mg per hari selama 7-14 hari direkomendasikan untuk kasus ringan hingga sedang. Pada kasus yang lebih berat atau infeksi Candida non-albicans, dosis fluconazole dapat ditingkatkan atau diberikan amphotericin B deoxycholate intravena dosis rendah atau flucytosine (5-FC) oral. Untuk prostatitis kandida, terapi jangka panjang 2-4 minggu dengan fluconazole dosis tinggi (400 mg/hari) diperlukan. Pada pasien dengan kateter urin yang terpasang, pengangkatan atau penggantian kateter merupakan langkah penting selain terapi antifungal. Untuk infeksi berulang, terapi suppressive jangka panjang dengan fluconazole mingguan dapat dipertimbangkan. Pasien immunocompromised mungkin memerlukan terapi yang lebih agresif dan jangka panjang. Konsultasi dengan spesialis penyakit infeksi atau urologi direkomendasikan untuk kasus yang kompleks atau tidak responsif terhadap terapi lini pertama.

01 Komplikasi

Komplikasi candidiasis urogenital dapat terjadi terutama pada pasien dengan faktor risiko tinggi atau ketika terapi tidak adekuat. Komplikasi lokal meliputi penyebaran infeksi ke struktur urogenital sekitarnya, seperti perkembangan dari uretritis menjadi sistitis atau prostatitis. Striktur uretra dapat terjadi sebagai komplikasi dari inflamasi kronis. Pada pasien dengan kateter urin, biofilm Candida dapat terbentuk pada permukaan kateter, menyebabkan infeksi persisten yang sulit dieradikasi. Komplikasi sistemik lebih sering terjadi pada populasi immunocompromised dan meliputi pielonefritis kandida yang dapat berkembang menjadi abses ginjal, fungemia (Candida dalam darah), dan candidemia terkait kateter. Komplikasi serius lainnya termasuk endoftalmitis Candida pada pasien candidemia, hepatosplenik candidiasis, dan disseminated candidiasis. Pada wanita hamil, infeksi Candida urogenital dapat dikaitkan dengan risiko persalinan prematur, meskipun bukti masih terbatas. Pada pasien diabetes, candidiasis urogenital yang tidak terkontrol dapat memperburuk kontrol glikemik. Komplikasi dari terapi antifungal sendiri juga harus diperhatikan, termasuk hepatotoksisitas dari fluconazole dan nefrotoksisitas dari amphotericin B.

01 Prognosis

Prognosis candidiasis urogenital umumnya baik pada pasien immunocompetent dengan terapi yang tepat dan tepat waktu. Sebagian besar kasus merespons dengan baik terhadap terapi antifungal lini pertama, dan resolusi gejala biasanya terjadi dalam 7-14 hari. Prognosis menjadi lebih bervariasi pada pasien dengan faktor komorbiditas atau immunocompromised. Pada pasien diabetes, prognosis tergantung pada kontrol glikemik yang baik; infeksi Candida cenderung berulang jika kontrol diabetes tidak optimal. Prognosis juga dipengaruhi oleh adanya abnormalitas struktural pada traktus urogenital atau keberadaan benda asing seperti kateter urin. Pada pasien dengan candidemia atau infeksi Candida sistemik, mortalitas meningkat secara signifikan dan dapat mencapai 30-40% pada populasi kritis. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis buruk meliputi keterlambatan diagnosis dan terapi, strain Candida yang resisten terhadap antifungal, immunosupresi berat, dan adanya komorbiditas yang mendasari. Dengan diagnosis dini dan tata laksana yang tepat, mayoritas kasus candidiasis urogenital dapat disembuhkan tanpa sequelae jangka panjang.

01 Pencegahan

Pencegahan candidiasis urogenital melibatkan pendekatan multifaktorial yang mencakup modifikasi faktor risiko dan intervensi spesifik. Untuk populasi umum, rekomendasi pencegahan meliputi menjaga higiene urogenital yang baik dengan membersihkan area genital secara teratur dan menjaga kelembaban yang adekuat. Penggunaan pakaian dalam katun yang longgar dan menyerap keringat dapat membantu mengurangi lingkungan yang mendukung pertumbuhan Candida. Menghindari penggunaan antibiotik spektrum luas yang tidak perlu sangat penting untuk menjaga flora normal dan mencegah superinfeksi Candida. Pada pasien dengan diabetes, kontrol glikemik yang optimal merupakan kunci dalam pencegahan infeksi Candida berulang. Untuk pasien dengan kateter urin jangka panjang, strategi pencegahan meliputi pengangkatan kateter segera setelah tidak diperlukan lagi, teknik aseptik saat pemasangan, dan perawatan kateter yang sesuai dengan panduan. Pada pasien dengan riwayat kandidiasis berulang, profilaksis antifungal dengan fluconazole dosis rendah mungkin dipertimbangkan. Edukasi pasien tentang pengenalan dini gejala dan pencarian pertolongan medis segera juga merupakan komponen penting dalam pencegahan komplikasi.

01 Referensi

1. World Health Organization. ICD-10 Version: 2019. Geneva: WHO; 2019. B37.4 Candidiasis of other urogenital sites.

2. Pappas PG, Kauffman CA, Andes DR, et al. Clinical Practice Guideline for the Management of Candidiasis: 2016 Update by the Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 2016;62(4):e1-e50.

3. Sobel JD. Candidiasis. In: Bennett JE, Dolin R, Blaser MJ, eds. Mandell, Douglas, and Bennett's Principles and Practice of Infectious Diseases. 9th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.

4. Kauffman CA. Candiduria. Clin Infect Dis. 2005;41 Suppl 6:S371-S376.

5. Fisher JF. Candida urinary tract infections - epidemiology, pathogenesis, diagnosis, and treatment: executive summary. Clin Infect Dis. 2011;52 Suppl 6:S429-S432.

6. Achkar JM, Fries BC. Candida infections of the genitourinary tract. Clin Microbiol Rev. 2010;23(2):253-273.

7.卫生部. ICD-10疾病和有关健康问题的国际统计分类第十次修订本第二版. 北京: 人民卫生出版社; 2004.

8. Centers for Disease Control and Prevention. Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021. MMWR Recomm Rep. 2021;70(4):1-187.

9. European Association of Urology. Urological Infections Guidelines. Arnhem: EAU; 2023.

10. Colombo AL, Guimaraes T, Silva LR, et al. In vitro susceptibility of Candida species isolated from blood cultures as determined by BMD and Etest. J Antimicrob Chemother. 2004;53(2):239-242.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: B37.4

Pathway: B37.4 - Candidiasis of Other Urogenital…