MerlinDX Artikel Q10.2
https://www.askep3s.org/9a29cae776/artikel/Q10.2
Entropion Kongenital: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Tatalaksana
Photo by Marta Branco on Pexels
Artikel Klinis ICD-10: Q10.2

Entropion Kongenital: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Tatalaksana

9 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Bagian 1
  2. Bagian 2
  3. Bagian 3
  4. Bagian 4
  5. Bagian 5
  6. Bagian 6
  7. Bagian 7
  8. Bagian 8
  9. Bagian 9
  10. Bagian 10
  11. Bagian 11
  12. Bagian 12

01

Entropion kongenital adalah kelainan perkembangan pada kelopak mata di mana tepi kelopak mata (marginal) melipat ke arah dalam (inversi), sehingga menyebabkan bulu mata berkontak langsung dengan permukaan bola mata, khususnya kornea. Kondisi ini termasuk dalam kelompok malformasi kongenital sistem okulomotor dan dapat terjadi pada satu atau kedua mata. Entropion kongenital umumnya ditemukan sejak lahir atau dalam beberapa minggu pertama kehidupan bayi. Berbeda dengan entropion senilis atau spastik yang terjadi pada orang dewasa, entropion kongenital disebabkan oleh kelainan anatomis yang sudah ada sejak dalam kandungan. Kelainan ini dapat menyebabkan iritasi kronis pada kornea jika tidak ditangani dengan tepat, sehingga berpotensi mengganggu perkembangan penglihatan anak.

02

Entropion kongenital merupakan kondisi yang relatif jarang встречается dalam praktik oftalmologi pediatrik. Insidensi pastinya sulit ditentukan karena banyak kasus ringan yang tidak terdiagnosis atau tidak memerlukan intervensi. Entropion kongenital lebih sering ditemukan pada ras Asia Timur dan Asia Tenggara dibandingkan populasi Barat. Rasio jenis kelamin menunjukkan predominasi pada laki-laki dengan perbandingan sekitar 2:1. Pada sebagian besar kasus, entropion kongenital unilateral (satu mata) lebih sering встречается dibandingkan bentuk bilateral (dua mata). Kondisi ini dapat berdiri sendiri atau berasosiasi dengan kelainan kongenital lainnya seperti mikroftalmia, anoftalmia, atau sindrom tertentu.

03

Penyebab utama entropion kongenital adalah kelainan perkembangan pada struktur muskulus dan tarsus kelopak mata. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kondisi ini meliputi:

**1. Hipoplasia Tarsus**
Tarsus yang terlalu pendek atau tipis menyebabkan kelopak mata tidak memiliki struktur penopang yang cukup, sehingga tepi kelopak mata cenderung melipat ke dalam.

**2. Kelemahan Otot Orbikularis**
Keterlambatan atau ketidaksempurnaan perkembangan otot orbikularis okuli yang berfungsi untuk menutup kelopak mata dapat menyebabkan gangguan mekanisme lipatan kelopak.

**3. Kelainan Kulit dan Jaringan Lunak**
Kekurangan jaringan lunak di area preseptal atau kelebihan kulit di area pretarsal dapat menyebabkan tarikan yang tidak seimbang pada tepi kelopak.

**4. Faktor Genetik**
Beberapa kasus menunjukkan pola pewarisan autosomal dominan dengan penetrasi yang bervariasi. Mutasi pada gen-gen yang berperan dalam perkembangan jaringan ikat dan muskuloskeletal dapat berkontribusi.

**5. Kondisi Asosiasi**
Entropion kongenital dapat ditemukan pada pasien dengan sindrom Down, sindrom Crouzon, atau kelainan kraniofasial lainnya yang melibatkan perkembangan orbita.

04

Entropion kongenital dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa parameter:

**A. Berdasarkan Lokasi:**
- Entropion involusional: Melibatkan seluruh tepi kelopak mata
- Entropion siklikal: Melibatkan hanya sebagian tepi kelopak, biasanya di region medial atau lateral

**B. Berdasarkan Tingkat Keparahan:**
- Derajat Ringan: Bulu mata hanya sedikit berkontak dengan kornea, gejala minimal
- Derajat Sedang: Kontak signifikan dengan iritasi kornea yang dapat dilihat pada pemeriksaan
- Derajat Berat: Trikiasis berat dengan ulserasi kornea dan gangguan penglihatan

**C. Berdasarkan Kelopak Mata yang Terlibat:**
- Kelopak atas (superior)
- Kelopak bawah (inferior)
- Keduanya (superior dan inferior)

**D. Berdasarkan Keterlibatan Uni/Bilateral:**
- Unilateral: Hanya satu mata yang terlibat
- Bilateral: Kedua mata terlibat

05

Patofisiologi entropion kongenital melibatkan interaksi kompleks antara berbagai struktur kelopak mata. Pada kondisi normal, keseimbangan antara kekuatan retraktor (penarik ke belakang) dan protractor (penarik ke depan) menjaga posisi tepi kelopak mata yang tepat. Pada entropion kongenital, terjadi ketidakseimbangan yang disebabkan oleh:

**1. Kelemahan Horizontal Kelopak Mata**
Kurangangnya dukungan tarsal dalam arah horizontal menyebabkan kelopak mata memendek dan melipat ke dalam.

**2. Hiperaktivitas Otot Retraktor**
Kontraksi berlebihan dari otot-otot retraktor kelopak bawah (musculus orbitalis dan musculus infraorbitalis) menarik tepi kelopak ke arah inferior-posterior.

**3. Redistribusi Kulit Kelopak**
Pada beberapa kasus, distribusi kulit yang tidak merata menciptakan tarikan yang mendorong tepi kelopak ke arah dalam.

**4. Kelainan Tarsus**
Tarsus yang hipoplastik atau malformasi tarsus lainnya mengurangi kekakuan struktural yang diperlukan untuk mempertahankan posisi kelopak yang normal.

Akibat dari mekanisme-mekanisme tersebut, bulu mata dan permukaan kulit kelopak berkontak langsung dengan kornea dan konjungtiva, menyebabkan iritasi mekanis yang berlanjut menjadi inflamasi.

06

Manifestasi klinis entropion kongenital bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan usia pasien. Gejala-gejala yang dapat ditemukan meliputi:

**Gejala Utama:**
- Lipatan kelopak mata ke arah dalam yang terlihat sejak lahir atau usia dini
- Bulu mata yang terlihat menumpuk di atas atau di bawah kornea
- Iritasi mata yang ditandai dengan mata merah, berair, dan sensitif terhadap cahaya
- Blefarospasme (kedipan mata yang berlebihan) sebagai respons terhadap iritasi
- Sensasi benda asing di mata

**Gejala Sekunder:**
- Epifora (air mata berlebihan) akibat stimulasi refleks kelenjar lakrimal
- Discharge mukopurulen jika terjadi infeksi sekunder
- Fotofobia (ketakutan terhadap cahaya)

**Komplikasi yang Mungkin Terjadi:**
- Keratitis pungtata superficial
- Ulserasi kornea
- Neovaskularisasi kornea
- Scar kornea yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen
- Ambliopia jika terjadi pada masa kritis perkembangan penglihatan

07

Diagnosis entropion kongenital ditegakkan melalui kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan oftalmologi komprehensif:

**1. Anamnesis**
- Riwayat kelahiran dan perkembangan neonatal
- Keluhan yang dirasakan bayi (sulit ditentukan pada usia sangat muda)
- Riwayat keluarga dengan kelainan okular serupa
- Riwayat kelainan kongenital lainnya

**2. Pemeriksaan Fisik**
- Inspeksi: Melihat lipatan kelopak mata ke arah dalam saat mata dalam keadaan terbuka dan tertutup
- Pengukuran jarak margin-refleks (MRD): Menilai posisi tepi kelopak relatif terhadap refleks kornea
- Evaluasi kekuatan kelopak mata: Mengukur kemampuan kelopak untuk mempertahankan posisi normal

**3. Pemeriksaan Oftalmologi**
- Pemeriksaan dengan lampu celah (slit lamp): Menilai detail struktur kelopak, konjungtiva, dan kornea
- Tes fluorescein: Mendeteksi erosi epitel kornea dan ulserasi
- Pengukuran tajam penglihatan: Dilakukan pada anak yang sudah dapat cooperate
- Pemeriksaan funduskopi: Menilai kemungkinan komplikasi intraokular

**4. Pemeriksaan Penunjang**
- Fotografi serial: Dokumentasi untuk memantau progresi
- Pemeriksaan genetik: Jika dicurigai sindrom genetik
- Imaging orbita (CT/MRI): Pada kasus dengan kelainan struktural kompleks

08

Beberapa kondisi yang perlu dibedakan dari entropion kongenital meliputi:

**1. Epiblepharon**
Kondisi di mana lipatan kulit berlebih di bawah kelopak bawah menyebabkan bulu mata terangkat ke atas, bukan tepi kelopak yang melipat ke dalam. Epiblepharon lebih umum ditemukan pada populasi Asia.

**2. Trichiasis**
Kelainan di mana bulu mata tumbuh dalam posisi yang salah (menuju bola mata) tanpa adanya kelainan lipatan kelopak. Trichiasis dapat bersifat kongenital atau didapat.

**3. Distichiasis**
Kondisi di mana terdapat barisan kedua bulu mata yang tumbuh dari kelenjar meibom, biasanya muncul setelah lahir.

**4. Blefarofimosis**
Sindrom yang ditandai dengan kelopak mata yang sempit, ptosis, dan telecanthus. Dapat menyerupai entropion tetapi memiliki fitur yang lebih kompleks.

**5. Lagophthalmos Kongenital**
Ketidakmampuan untuk menutup mata sepenuhnya, yang dapat menyebabkan eksposure kornea dan kompensasi berupa lipatan kelopak.

**6. Ptosis Kongenital**
Penurunan kelopak mata yang dapat menyebabkan kompensasi berupa gerakan kepala atau lipatan kelopak yang tidak biasa.

09

Penanganan entropion kongenital tergantung pada tingkat keparahan, usia pasien, dan ada tidaknya komplikasi. Berikut pendekatan tatalaksana yang dapat dilakukan:

**A. Konservatif (Non-Operatif):**
- **Observasi:** Pada kasus ringan tanpa komplikasi, observasi rutin direkomendasikan karena beberapa kasus dapat membaik spontan seiring pertumbuhan wajah anak.
- **Lubrikan:** Penggunaan tetes mata artifisial atau salep okular untuk melindungi kornea dari gesekan bulu mata.
- **Taping:** Pada beberapa kasus, penggunaan plester medis untuk menarik kelopak ke posisi yang lebih baik, meskipun jarang efektif untuk entropion sejati.
- **Massase:** Teknik tertentu untuk meregangkan jaringan dan memperbaiki posisi kelopak.

**B. Farmakologis:**
- Antibiotik topikal jika terdapat tanda infeksi sekunder
- Anti-inflamasi topikal untuk mengurangi inflamasi konjungtiva
- Pelumas okular untuk proteksi kornea

**C. Tindakan Operatif:**
Indikasi operasi meliputi:
- Entropion yang persisten dan tidak membaik
- Keratitis atau ulserasi kornea yang progresif
- Gangguan penglihatan yang signifikan
- Fotofobia berat yang mengganggu aktivitas

Teknik operasi yang umum digunakan:
- **Prosedur Quickert:** Membuat sayatan horizontal dengan jahitan yang memperbaiki posisi kelopak
- **Prosedur Tarsal Wedge Resection:** Reseksi sebagian tarsus untuk memendekkan kelopak secara horizontal
- **Prosedur Kombinasi:** Menggabungkan beberapa teknik sesuai kebutuhan individual
- **Sutur Everting:** Teknik sederhana dengan jahitan yang menarik tepi kelopak ke luar

**D. Follow-up:**
Kontrol rutin setiap 3-6 bulan hingga stabil, kemudian annual follow-up untuk memantau perkembangan dan mendeteksi kekambuhan.

10

Prognosis entropion kongenital umumnya baik jika ditangani dengan tepat dan tepat waktu. Beberapa hal yang mempengaruhi prognosis meliputi:

**Faktor Prognosis Baik:**
- Diagnosis dini sebelum terjadi komplikasi kornea
- Entropion ringan hingga sedang
- Respons baik terhadap terapi konservatif
- Tindakan bedah yang dilakukan sebelum terjadi ambliopia
- Kepatuhan orang tua dalam follow-up

**Faktor Prognosis Buruk:**
- Terlambatnya diagnosis sehingga terjadi kerusakan kornea permanen
- Entropion berat dengan trikiasis total
- Komorbiditas okular atau sistemik yang signifikan
- Kegagalan operasi awal dengan rekurensi

**Komplikasi Jangka Panjang:**
- Ambliopia akibat deprivasi stimulus visual
- Scar kornea yang menyebabkan astigmatisme ireguler
- Gangguan penglihatan permanen
- Recurrence yang memerlukan revision surgery

Dengan penanganan yang adekuat, sebagian besar anak dengan entropion kongenital dapat mencapai fungsi penglihatan yang normal dan kualitas hidup yang baik.

11

Meskipun entropion kongenital tidak selalu dapat dicegah, beberapa langkah dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak dan mencegah komplikasi:

**1. Deteksi Dini**
- Pemeriksaan mata neonatal rutin untuk mendeteksi kelainan kelopak mata
- Edukasi orang tua untuk mengenali tanda-tanda iritasi mata pada bayi
- Skrining pada bayi dengan faktor risiko (riwayat keluarga, kelainan kongenital lain)

**2. Pencegahan Komplikasi**
- Penggunaan pelumas okular secara rutin jika terdiagnosis
- Menghindari menggosok mata
- Menjaga kebersihan area mata
- Segera berkonsultasi jika ada tanda-tanda worsening

**3. Edukasi Orang Tua**
- Penjelasan tentang kondisi dan prognosis
- Teknik perawatan mata di rumah
- Tanda-tanda darurat yang memerlukan kunjungan segera
- Pentingnya kepatuhan follow-up

**4. Modifikasi Lingkungan**
- Mengurangi paparan debu dan angin
- Menggunakan kacamata pelindung pada anak yang lebih besar
- Mengontrol alergi yang dapat memperburuk gejala

**5. Dukungan Psikososial**
- Memberikan dukungan emosional kepada keluarga
- Menghubungkan dengan kelompok dukungan jika tersedia
- Menjelaskan bahwa kondisi ini dapat ditangani dengan baik

12

Entropion kongenital merupakan kelainan perkembangan kelopak mata yang ditandai oleh lipatan tepi kelopak ke arah dalam, menyebabkan bulu mata berkontak dengan kornea. Kondisi ini terjadi akibat kelainan anatomis yang sudah ada sejak lahir, meliputi hipoplasia tarsus, kelemahan otot orbikularis, dan kelainan distribusi jaringan lunak kelopak mata. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan klinis yang cermat, sedangkan tatalaksana mencakup pendekatan konservatif untuk kasus ringan dan tindakan operatif untuk kasus yang lebih berat atau dengan komplikasi. Prognosis umumnya baik jika didiagnosis secara dini dan ditangani dengan tepat. Edukasi orang tua dan follow-up rutin sangat penting untuk memastikan hasil yang optimal dan mencegah gangguan penglihatan permanen akibat komplikasi kornea.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
American Academy of Ophthalmology. (2023). Pediatric Ophthalmology and Strabismus. San Francisco: AAO.
[2]
Taylor, D., & Hoyt, C.S. (2021). Pediatric Ophthalmology and Strabismus (5th ed.). Elsevier.
[3]
Nelson, L.B., & Harley, R.D. (2020). Harley's Pediatric Ophthalmology. Lippincott Williams & Wilkins.
[4]
Olitsky, S.E., et al. (2022). Disorders of the Eyelids. In Nelson Textbook of Pediatrics.
[5]
World Health Organization. (2023). Prevention of Blindness in Children. WHO Press.
[6]
ICHD-10 Classification. World Health Organization. Q10.2 - Congenital malformation of eyelid.

🔗 Konten Terkait: Q10.2

Pathway: Entropion Kongenital (Q10.2) & SDKI