01 Pengertian
Neoplasma jinak dan ganas lambung dengan kode ICD-10 C16.6 merujuk pada kondisi keganasan atau kanker yang tumbuh pada bagian kurvatur mayor (kurva besar) lambung. Kurvatur mayor merupakan tepi luar lambung yang lebih panjang dibandingkan kurvatur minor, membentang dari联络处 kardia hingga pilorus. Kode C16.6 secara spesifik menunjukkan bahwa neoplasma ganas ini terletak pada kurvatur mayor lambung, namun sifatnya tidak terspesifikasi lebih lanjut mengenai jenis histologis atau tingkat diferensiasinya. Kanker lambung merupakan salah satu neoplasma ganas yang paling umum terjadi di seluruh dunia, dengan insidensi tertinggi di Asia Timur, Amerika Selatan, dan Eropa Timur. Keganasan ini berasal dari sel-sel epitel mukosa lambung yang mengalami transformasi maligna akibat berbagai faktor risiko yang berkepanjangan.
01 Epidemiologi
Kanker lambung merupakan jenis kanker keempat yang paling umum didiagnosis di seluruh dunia dan menjadi penyebab kematian akibat kanker kedua terbesar secara global. Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1 juta kasus baru kanker lambung tercatat setiap tahunnya di seluruh dunia. Insidensi tertinggi ditemukan di negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan China, serta di beberapa negara Amerika Selatan seperti Kolombia dan Ekuador. Di Indonesia, kanker lambung termasuk dalam sepuluh besar kanker paling umum dengan angka insidensi yang cenderung meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Keganasan kurvatur mayor lambung (C16.6) menyumbang sekitar 10-15% dari seluruh kasus kanker lambung. Penyakit ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita dengan rasio sekitar 2:1. Peak incidence umumnya terjadi pada kelompok usia 50-70 tahun, meskipun kasus pada individu yang lebih muda juga dapat ditemukan, terutama pada bentuk hereditary atau familial.
01 Penyebab dan Faktor Risiko
Keganasan kurvatur mayor lambung berkembang melalui interaksi kompleks antara faktor genetik, lingkungan, dan infeksi kronis. Penyebab utama dan faktor risiko yang berkontribusi terhadap perkembangan neoplasma ganas ini meliputi: Infeksi Helicobacter pylori merupakan faktor risiko paling signifikan yang berperan dalam pathogenesis kanker lambung. Infeksi bakteri ini menyebabkan gastritis kronis yang berkepanjangan, yang dapat berkembang menjadi atrophic gastritis, intestinal metaplasia, dysplasia, dan akhirnya karsinoma. Pola diet juga berperan penting, di mana konsumsi makanan yang diasap, diasinkan, dan mengandung nitrat tinggi secara signifikan meningkatkan risiko. Sebaliknya, diet kaya buah segar, sayuran, dan vitamin C memiliki efek protektif. Merokok meningkatkan risiko kanker lambung hampir dua kali lipat dibandingkan bukan perokok. Konsumsi alkohol berlebihan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko. Faktor genetik dan hereditary seperti sindrom Lynch, familial adenomatous polyposis (FAP), dan mutasi gen CDH1 meningkatkan predisposisi. Gastritis atrofik kronis dan penyakit refluks gastroesofageal (GERD) yang berkepanjangan juga merupakan kondisi prakanker yang signifikan.
01 Gejala Klinis
Gejala neoplasma ganas kurvatur mayor lambung sangat bervariasi dan sering tidak spesifik, terutama pada stadium awal. Banyak pasien tidak menunjukkan gejala yang mencolok hingga penyakit mencapai stadium lanjut. Gejala gastrointestinal yang umum meliputi dispepsia atau gangguan pencernaan yang persisten, nyeri atau ketidaknyamanan di area epigastrium yang sering diabaikan sebagai maag biasa, mual dan muntah yang dapat disertai darah (hematemesis), serta penurunan nafsu makan yang progresif. Gejala sistemik yang dapat menyertai antara lain penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya, kelelahan kronis dan kelemahan umum, serta anemia yang disebabkan oleh perdarahan kronis tersembunyi. Pada stadium lanjut, pasien dapat mengalami massa yang teraba di abdomen, asites (penumpukan cairan di rongga perut), hepatomegali (pembesaran hati) akibat metastasis, dan obstruksi gastric outlet jika tumor menghalangi jalan keluar lambung. Gejala alarm yang memerlukan perhatian medis segera meliputi muntah darah, tinja berwarna hitam (melena), anemia berat, dan penurunan berat badan drastis.
01 Diagnosis
Diagnosis neoplasma ganas kurvatur mayor lambung memerlukan pendekatan diagnostik multimodal yang komprehensif. Pemeriksaan endoskopi upper GI dengan esophagogastroduodenoscopy (EGD) merupakan gold standard untuk visualisasi langsung dan biopsi lesi mencurigakan. Prosedur ini memungkinkan identifikasi lesi, evaluasi luasnya, serta pengambilan sampel jaringan untuk pemeriksaan histopatologis. Biopsi multiple sebaiknya dilakukan dari berbagai area lesi untuk meningkatkan akurasi diagnostik. Pemeriksaan histopatologis dari spesimen biopsi atau reseksi bedah akan mengkonfirmasi diagnosis dan menentukan subtipe histologis seperti adenocarcinoma (intestinal atau diffuse type), lymphoma, atau gastrointestinal stromal tumor (GIST). Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan abdomen dan toraks penting untuk staging dan evaluasi metastasis. PET-CT dapat memberikan informasi tambahan mengenai aktivitas metabolik tumor dan metastasis. Endoscopic ultrasound (EUS) sangat berguna untuk menilai kedalaman invasi tumor dan keterlibatan kelenjar getah bening regional. Pemeriksaan laboratorium meliputi complete blood count (CBC) untuk mendeteksi anemia, liver function test, tumor markers seperti CEA, CA 19-9, dan CA 72-4, serta tes untuk H. pylori.
01 Stadium Kanker Lambung
Penentuan stadium neoplasma ganas kurvatur mayor lambung mengikuti sistem TNM (Tumor, Node, Metastasis) yang direkomendasikan oleh American Joint Committee on Cancer (AJCC). Stadium 0 (Tis, N0, M0) menunjukkan carcinoma in situ tanpa invasi laminar propria atau submukosa. Stadium I terbagi menjadi IA (T1, N0, M0) dan IB (T1, N1, M0 atau T2, N0, M0) dengan tumor yang terbatas pada mukosa atau submukosa dan mungkin melibatkan beberapa kelenjar getah bening. Stadium II dibagi menjadi IIA (T1, N2, M0; T2, N1, M0; atau T3, N0, M0) dan IIB (T1, N2, M0; T2, N1, M0; T3, N1, M0; atau T4, N0, M0) dengan invasi yang lebih dalam ke muskularis propria atau subserosa. Stadium III (T2-T4a, N0-N2, M0) menunjukkan tumor yang menginvasi semua lapisan lambung dengan keterlibatan kelenjar getah bening regional. Stadium IV (T4b, N0-N3, M0 atau T1-T4a, N0-N3, M1) merupakan stadium lanjut dengan metastasis jauh ke organ lain seperti hati, paru-paru, atau peritoneum. Prognosis sangat bergantung pada stadium saat diagnosis, dengan survival rate 5 tahun yang menurun secara signifikan dari stadium awal ke stadium lanjut.
01 Pengobatan dan Tatalaksana
Tatalaksana neoplasma ganas kurvatur mayor lambung bersifat multidisipliner dan disesuaikan berdasarkan stadium penyakit, kondisi umum pasien, serta karakteristik tumor. Pembedahan merupakan satu-satunya modalitas kuratif untuk kanker lambung stadium awal hingga lanjut yang dapat direseksi. Prosedur bedah yang umum dilakukan meliputi subtotal gastrectomy untuk tumor di antrum atau kurvatur mayor, total gastrectomy untuk tumor yang luas, dan gastrectomy dengan limfadenektomi D1 atau D2 untuk mengangkat kelenjar getah bening regional. Kemoterapi neoadjuvan dengan regimen seperti FLOT (5-FU, leucovorin, oxaliplatin, docetaxel) atau SOX (S-1, oxaliplatin) direkomendasikan untuk stadium II dan III untuk mengecilkan tumor sebelum operasi dan meningkatkan hasil survival. Kemoterapi adjuvan setelah pembedahan juga direkomendasikan untuk pasien dengan risiko tinggi kekambuhan. Radioterapi dapat diberikan sebagai bagian dari multimodal treatment, terutama untuk tumor yang tidak dapat direseksi sepenuhnya atau untuk palliasi gejala. Targeted therapy dengan trastuzumab direkomendasikan untuk tumor dengan overexpresi HER2. Immunotherapy dengan checkpoint inhibitors seperti pembrolizumab atau nivolumab menunjukkan hasil menjanjikan pada subgroup pasien tertentu. Perawatan suportif dan paliatif meliputi manajemen nutrisi, kontrol nyeri, dan dukungan psikososial.
01 Prognosis
Prognosis neoplasma ganas kurvatur mayor lambung sangat bergantung pada stadium penyakit saat diagnosis ditegakkan. Pasien dengan kanker lambung stadium awal yang terdeteksi dan ditangani secara tepat memiliki prognosis yang relatif baik dengan survival rate 5 tahun mencapai 60-80%. Namun, sebagian besar kasus kanker lambung didiagnosis pada stadium lanjut ketika gejala mulai muncul, sehingga prognosis secara keseluruhan tetap kurang menguntungkan. Survival rate 5 tahun untuk stadium II adalah sekitar 30-40%, sedangkan untuk stadium III berkisar antara 10-20%. Stadium IV dengan metastasis jauh memiliki prognosis yang sangat buruk dengan survival rate 5 tahun kurang dari 5%. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi kedalaman invasi tumor (T stage), keterlibatan kelenjar getah bening, ada tidaknya metastasis jauh, status reseksi bedah (R0 vs R1/R2), subtipe histologis, dan kondisi umum pasien. Deteksi dini melalui skrining pada populasi berisiko tinggi dapat meningkatkan prognosis secara signifikan.
01 Pencegahan
Pencegahan neoplasma ganas kurvatur mayor lambung dapat dilakukan melalui beberapa strategi. Modifikasi gaya hidup merupakan langkah preventif yang penting, termasuk menghentikan kebiasaan merokok, membatasi konsumsi alkohol, dan menghindari makanan yang diasap, diasinkan, atau mengandung pengawet tinggi. Peningkatan konsumsi buah segar, sayuran, dan makanan kaya vitamin C, beta-karoten, dan vitamin E memiliki efek protektif. Eradikasi Helicobacter pylori direkomendasikan untuk individu yang terdiagnosis terinfeksi, terutama di daerah dengan prevalensi tinggi kanker lambung. Skrining endoskopi secara berkala direkomendasikan untuk individu dengan faktor risiko tinggi seperti riwayat keluarga kanker lambung, sindrom hereditary tertentu, atau gastritis atrofik yang terdokumentasi. Di negara-negara dengan insidensi tinggi seperti Jepang dan Korea Selatan, program skrining populasi telah terbukti menurunkan angka kematian akibat kanker lambung. Pengelolaan kondisi prakanker seperti gastritis atrofik, intestinal metaplasia, dan dysplasia secara tepat dapat mencegah progresi menuju keganasan.
01 Komplikasi
Neoplasma ganas kurvatur mayor lambung dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius baik akibat penyakit itu sendiri maupun sebagai efek dari tatalaksana. Komplikasi lokal meliputi obstruksi gastric outlet yang menyebabkan mual, muntah, dan ketidakmampuan intake makanan secara adekuat, perdarahan gastrointestinal yang dapat bermanifestasi sebagai hematemesis atau melena, serta perforasi tumor ke rongga peritoneal yang menyebabkan peritonitis. Komplikasi metastatik meliputi metastasis hati yang dapat menyebabkan gagal hati, metastasis paru-paru yang mengganggu fungsi respirasi, metastasis ke kelenjar getah bening retroperitoneal, dan karsinomatosis peritonei yang menyebabkan asites dan obstruksi usus. Komplikasi dari tatalaksana bedah meliputi kebocoran anastomosis, infeksi luka operasi, sindrom dumping, dan malabsorpsi nutrisi. Kemoterapi dan radioterapi dapat menyebabkan myelosupresi, mukositis, dan efek samping gastrointestinal lainnya. Komplikasi nutrisi seperti cachexia cancer dan defisiensi vitamin B12 akibat gastrectomy total memerlukan manajemen jangka panjang.