01 Apa Itu Trichomoniasis?
Trichomoniasis adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh parasit protozoa bersel satu yang dikenal sebagai Trichomonas vaginalis. Trichomoniasis unspecified (A59.9) merujuk pada kondisi trichomoniasis yang tidak spesifik atau tidak diklasifikasikan lebih lanjut. Penyakit ini termasuk salah satu infeksi menular seksual yang paling umum di seluruh dunia. Trichomonas vaginalis menyerang organ reproduksi baik pada pria maupun wanita, meskipun gejala lebih sering muncul pada wanita. Parasit ini ditularkan melalui kontak seksual dengan pasangan yang terinfeksi, baik melalui hubungan vaginal, oral, maupun anal. Tanpa pengobatan yang tepat, trichomoniasis dapat meningkatkan risiko tertular infeksi menular seksual lainnya termasuk HIV.
01 Penyebab Trichomoniasis
Trichomoniasis disebabkan oleh infeksi parasit Trichomonas vaginalis. Parasit ini hidup dan berkembang biak di area genital dan saluran kemih. Trichomonas vaginalis adalah protozoa flagellate yang berbentuk buah pir dengan empat flagela di bagian anterior dan satu membran bergelombang. Parasit ini ditularkan melalui hubungan seksual vaginal langsung dengan seseorang yang sudah terinfeksi. Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan tertular trichomoniasis meliputi: melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan, memiliki riwayat infeksi menular seksual sebelumnya, tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual, dan pernah mengalami trichomoniasis sebelumnya. Parasit ini tidak dapat bertahan hidup lama di luar tubuh manusia, sehingga penularan melalui kontak tidak langsung seperti berbagi handuk atau duduk di toilet umum sangat jarang terjadi.
01 Gejala Trichomoniasis
Gejala trichomoniasis bervariasi antara pria dan wanita. Pada wanita, gejala yang umum muncul meliputi: keputihan yang berbau tidak sedap berwarna kuning kehijauan atau abu-abu, gatal dan iritasi pada area genital, nyeri saat buang air kecil, nyeri saat berhubungan seksual, perdarahan ringan setelah berhubungan seksual, dan peradangan pada area kemaluan. Pada pria, gejala yang mungkin muncul meliputi: keluarnya cairan dari uretra, nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil, gatal atau iritasi pada ujung penis, dan ketidaknyamanan pada skrotum. Namun, penting untuk dicatat bahwa sekitar 70% orang yang terinfeksi trichomoniasis tidak menunjukkan gejala sama sekali, sehingga mereka dapat menularkan infeksi tanpa disadari. Gejala biasanya muncul dalam waktu 5 hingga 28 hari setelah terinfeksi.
01 Diagnosis Trichomoniasis
Diagnosis trichomoniasis dapat ditegakkan melalui beberapa metode pemeriksaan. Pemeriksaan fisik oleh dokter akan meliputi inspeksi visual organ genital untuk mencari tanda-tanda infeksi. Tes laboratorium yang umum dilakukan meliputi: pemeriksaan mikroskopis langsung (wet mount) dari sampel keputihan atau uretra untuk melihat adanya Trichomonas vaginalis, kultur jaringan untuk mengidentifikasi parasit, tes amplifikasi asam nukleat (NAAT) yang merupakan metode paling sensitif dan spesifik, dan pemeriksaan pewarnaan Pap smear yang dapat mendeteksi adanya trichomonas. Pemeriksaan NAAT saat ini dianggap sebagai gold standard untuk diagnosis trichomoniasis karena memiliki sensitivitas tinggi. Dokter mungkin juga akan merekomendasikan pemeriksaan untuk infeksi menular seksual lainnya mengingat trichomoniasis sering terjadi bersamaan dengan infeksi lain seperti gonore dan klamidia.
01 Pengobatan Trichomoniasis
Trichomoniasis dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Pengobatan lini pertama untuk trichomoniasis adalah penggunaan obat antiprotozoa metronidazole atau tinidazole yang diminum secara oral. Dosis standar metronidazole adalah 2 gram dalam dosis tunggal atau 500 mg dua kali sehari selama 7 hari. Tinidazole diberikan dengan dosis 2 gram dalam dosis tunggal. Penting untuk menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatan meskipun gejala sudah membaik. Pasangan seksual juga harus menjalani pemeriksaan dan pengobatan secara bersamaan untuk mencegah infeksi ulang (ping-pong infection). Pasien harus menghindari konsumsi alkohol selama pengobatan dengan metronidazole dan minimal 48 jam setelah mengonsumsi tinidazole karena dapat menyebabkan reaksi disulfiram-like. Hubungan seksual harus dihindari sampai pengobatan selesai dan gejala menghilang sepenuhnya.
01 Pencegahan Trichomoniasis
Pencegahan trichomoniasis dapat dilakukan melalui beberapa langkah penting. Penggunaan kondom secara konsisten dan benar setiap kali berhubungan seksual dapat mengurangi risiko penularan. Membatasi jumlah pasangan seksual dan menghindari hubungan seksual dengan pasangan yang memiliki banyak pasangan dapat menurunkan risiko infeksi. Pemeriksaan rutin untuk infeksi menular seksual sangat dianjurkan bagi individu yang aktif secara seksual, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko tinggi. Jika terdiagnosis trichomoniasis, pasangan seksual harus menjalani pemeriksaan dan pengobatan. Tidak berbagi alat bantu seksual atau membersihkannya dengan benar setelah digunakan juga dapat membantu mencegah penularan. Edukasi tentang kesehatan reproduksi dan infeksi menular seksual sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
01 Komplikasi Trichomoniasis
Jika tidak diobati, trichomoniasis dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan. Pada wanita hamil, trichomoniasis dikaitkan dengan kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan rendah. Infeksi ini juga dapat meningkatkan risiko keguguran. Trichomoniasis meningkatkan kerentanan terhadap infeksi HIV karena peradangan pada jaringan genital memudahkan virus masuk ke dalam tubuh. Pada wanita, trichomoniasis yang tidak diobati dapat menyebabkan penyakit radang panggul (PID) yang dapat merusak tuba falopi dan menyebabkan infertilitas. Komplikasi pada pria meliputi prostatitis dan epididimitis. Selain itu, trichomoniasis kronis dapat menyebabkan peradangan kronis pada organ reproduksi dan meningkatkan risiko kanker serviks pada wanita.
01 Trichomoniasis dalam Kehamilan
Trichomoniasis selama kehamilan memerlukan perhatian khusus karena dapat berdampak pada kesehatan ibu dan janin. Pada ibu hamil, trichomoniasis dapat menyebabkan persalinan prematur, ketuban pecah dini, dan berat badan lahir rendah pada bayi. Pengobatan trichomoniasis pada wanita hamil umumnya direkomendasikan meskipun ada beberapa pertimbangan. Metronidazole dianggap aman untuk digunakan pada trimester kedua dan ketiga kehamilan, namun penggunaannya pada trimester pertama harus dipertimbangkan secara hati-hati dengan mempertimbangkan manfaat dan risiko. Wanita hamil dengan trichomoniasis harus berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan aman. Pemeriksaan prenatal rutin sangat penting untuk mendeteksi dan mengobati trichomoniasis sedini mungkin.