MerlinDX Artikel M41.2
https://www.askep3s.org/bc4b8f3a34/artikel/M41.2
Artikel Klinis ICD-10: M41.2

M41.2: Skoliosis Idiopatik Lainnya

6 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Definisi
  2. Epidemiologi
  3. Etiologi dan Patofisiologi
  4. Klasifikasi
  5. Manifestasi Klinis
  6. Diagnosis
  7. Tatalaksana
  8. Prognosis
  9. Pencegahan
  10. Komplikasi
  11. Referensi

01 Definisi

Skoliosis idiopatik lainnya (M41.2) adalah kelainan deformitas tulang belakang tiga dimensi yang ditandai dengan kelengkungan lateral tulang belakang yang tidak diketahui penyebabnya dengan jelas, yang bukan termasuk dalam kategori skoliosis idiopatik infantil atau juvenil. Istilah 'idiopatik' berarti penyebabnya tidak dapat ditentukan secara pasti setelah进行了 evaluasi klinis dan pencitraan yang menyeluruh. Kondisi ini mencakup berbagai bentuk skoliosis yang muncul pada berbagai usia dan lokasi vertebra, namun tidak memenuhi kriteria untuk klasifikasi spesifik lainnya. Skoliosis idiopatik lainnya dapat mengenai region servikal, servikotoraks, toraks, torakolumbal, lumbar, atau lumbosakral tulang belakang.

01 Epidemiologi

Skoliosis idiopatik merupakan bentuk skoliosis yang paling umum, menyumbang sekitar 80% dari seluruh kasus skoliosis. Insiden skoliosis idiopatik di populasi umum bervariasi antara 0,5% hingga 3% tergantung pada kriteria diagnosis dan populasi yang diteliti. Kondisi ini lebih sering встречается pada perempuan dibandingkan laki-laki dengan rasio sekitar 4:1 hingga 7:1, terutama pada kasus dengan kelengkungan yang lebih besar dari 10 derajat. Peak incidence terjadi selama masa pertumbuhan pubertas, yaitu antara usia 10-15 tahun pada perempuan dan 12-16 tahun pada laki-laki. Namun, skoliosis idiopatik lainnya juga dapat ditemukan pada dewasa muda dan populasi yang lebih tua dengan manifestasi yang berbeda.

01 Etiologi dan Patofisiologi

Etiologi skoliosis idiopatik lainnya belum sepenuhnya dipahami dan dianggap bersifat multifaktorial. Beberapa teori yang telah diajukan meliputi faktor genetik dengan pola pewarisan poligenik, kelainan pada pertumbuhan vertebra yang asimetris, perubahan pada otot dan jaringan ikat, disfungsi neurologis subklinis, dan faktor hormonal. Studi genetik telah mengidentifikasi beberapa lokus kromosom yang terkait dengan kerentanan skoliosis idiopatik, termasuk LOC101929287, PAX1, dan gen-gen lainnya. Patofisiologi melibatkan ketidakseimbangan pertumbuhan asimetris pada kolum vertebralis selama periode pertumbuhan cepat, menyebabkan deformitas rotasional yang progresif. Perubahan biomekanik dan neurokontrol postural juga berperan dalam perkembangan dan progresi kelengkungan.

01 Klasifikasi

Skoliosis idiopatik lainnya dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa parameter. Berdasarkan usia onset, kondisi ini umumnya muncul setelah usia 10 tahun dan sebelum skeletal maturity. Berdasarkan lokasi anatomis, skoliosis diklasifikasikan menjadi: skoliosis region servikal (M41.22), skoliosis region servikotoraks (M41.23), skoliosis region toraks (M41.24), skoliosis region torakolumbal (M41.25), skoliosis region lumbar (M41.26), skoliosis region lumbosakral (M41.27), dan skoliosis dengan lokasi yang tidak spesifik (M41.20). Berdasarkan besaran kelengkungan menurut metode Cobb, skoliosis diklasifikasikan menjadi: ringan (10-25 derajat), sedang (25-40 derajat), berat (40-50 derajat), dan sangat berat (>50 derajat). Berdasarkan bentuk kelengkungan, dibedakan menjadi single curve (C-shaped) dan double curve (S-shaped).

01 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis skoliosis idiopatik lainnya bervariasi tergantung pada lokasi, severitas, dan usia pasien. Gejala fisik yang dapat ditemukan meliputi: asimetri bahu dengan elevasi atau depresi pada salah satu sisi, asimetri skapula dengan penonjolan atau jarak yang tidak sama dari garis tengah, asimetri pinggang dengan unevenness garis pinggang, deviasi tubuh dari garis tengah, dan gibbus atau penonjolan costas pada sisi konveks kelengkungan toraks. Pasien mungkin mengeluhkan nyeri punggung, fatigue otot spinal, atau keterbatasan aktivitas fisik. Pada kasus yang berat, dapat terjadi gangguan pernapasan akibat restrictif pulmonary disease, gangguan kardiovaskular, dan dampak psikososial akibat perubahan penampilan tubuh. Pemeriksaan fisik menggunakan Adam's forward bend test dapat menunjukkan asimetri torsi yang khas.

01 Diagnosis

Diagnosis skoliosis idiopatik lainnya ditetapkan melalui pendekatan sistematis. Anamnesis komprehensif meliputi riwayat keluarga skoliosis, riwayat pertumbuhan, dan keluhan yang dialami pasien. Pemeriksaan fisik lengkap mencakup inspeksi postural, palpasi prosesus spinosus, Adam's forward bend test, pengukuran tinggi badan, dan evaluasi neurologis. Pemeriksaan pencitraan merupakan komponen utama diagnosis dengan radiographic evaluation menggunakan standing full-spine AP dan lateral radiograph untuk mengukur sudut Cobb dan menilai rotasi vertebra. Metode Risser sign digunakan untuk menilai skeletal maturity. MRI tulang belakang direkomendasikan pada kasus dengan kelengkungan >20 derajat, progresi cepat, nyeri atipikal, atau tanda neurologis untuk menyingkirkan penyebab sekunder. EOS imaging merupakan alternatif dengan radiasi lebih rendah. Pemantauan berkala dengan pengukuran sudut Cobb sangat penting untuk menilai progresi kelengkungan.

01 Tatalaksana

Tatalaksana skoliosis idiopatik lainnya bersifat individual berdasarkan severitas kelengkungan, lokasi, usia pasien, dan potensi progresi. Untuk kelengkungan <25 derajat pada skeletally immature patients, observasi dengan pemantauan berkala setiap 4-6 bulan direkomendasikan. Bracing direkomendasikan untuk kelengkungan 25-40 derajat pada pasien yang masih dalam masa pertumbuhan dengan skeletal maturity <Risser 3. Boston brace, Milwaukee brace, atau Charleston brace dapat digunakan tergantung pada lokasi kelengkungan. Physical therapy dengan pendekatan spesifik seperti Schroth method, SEAS (Scientific Exercises Approach to Scoliosis), atau BSPTS (Barcelona Scoliosis Physical Therapy School) direkomendasikan sebagai terapi konservatif. Untuk kelengkungan >40-50 derajat pada pasien yang masih tumbuh atau >50-55 derajat pada pasien skeletally mature dengan progresi, tatalaksana operatif dipertimbangkan dengan spinal fusion dan instrumentasi. Prosedur bedah meliputi posterior spinal fusion, anterior spinal fusion, atau kombinasi keduanya tergantung pada karakteristik kelengkungan.

01 Prognosis

Prognosis skoliosis idiopatik lainnya bergantung pada beberapa faktor prognostik utama. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi: usia saat diagnosis dengan prognosis lebih baik jika terdeteksi lebih awal, besaran kelengkungan awal dengan kelengkungan awal yang lebih kecil memiliki prognosis lebih baik, lokasi kelengkungan dengan kelengkungan toraks memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan lokasi lain, dan skeletal maturity dengan potensi pertumbuhan yang tersisa meningkatkan risiko progresi. Pasien dengan kelengkungan <30 derajat pada saat skeletal maturity umumnya tidak menunjukkan progresi signifikan di masa dewasa. Kelengkungan >50 derajat cenderung progresif bahkan setelah skeletal maturity dan dapat menyebabkan masalah kesehatan di kemudian hari. Deteksi dini dan intervensi yang tepat sangat penting untuk mengoptimalkan outcomes jangka panjang.

01 Pencegahan

Pencegahan skoliosis idiopatik lainnya sulit dilakukan karena etiologi yang belum sepenuhnya dipahami. Namun, beberapa strategi dapat membantu dalam deteksi dini dan pencegahan progresi. Screening rutin pada anak sekolah usia 10-12 tahun menggunakan Adam's forward bend test direkomendasikan untuk mendeteksi kelainan postural. Edukasi orang tua dan guru mengenai tanda-tanda skoliosis sangat penting. Pemantauan berkala pada anak dengan riwayat keluarga skoliosis direkomendasikan. Menjaga aktivitas fisik yang teratur dan postur tubuh yang baik dapat mendukung kesehatan spinal. Program olahraga seperti swimming yang melibatkan simetri gerakan dapat bermanfaat. Deteksi dan intervensi dini pada kasus yang teridentifikasi dapat mencegah progresi ke kelengkungan yang lebih berat dan mengurangi kebutuhan intervensi operatif.

01 Komplikasi

Skoliosis idiopatik lainnya yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Komplikasi pulmoner meliputi restrictif lung disease, decreased vital capacity, dan pada kasus berat dapat menyebabkan cor pulmonale. Komplikasi muskuloskeletal meliputi nyeri punggung kronis, degenerasi diskus intervertebralis prematur, osteoarthritis facet joint, dan ketidakseimbangan otot. Komplikasi neurologis dapat terjadi akibat stenosis spinal atau tethering of cord pada kasus dengan kelengkungan berat. Komplikasi kosmetik dan psikososial meliputi deformitas tubuh yang terlihat, masalah citra tubuh, dan dampak pada kualitas hidup. Komplikasi pasca-operatif jika intervensi bedah diperlukan meliputi infeksi, perdarahan, kerusakan neurologis, nonunion, implant failure, dan flatback syndrome. Komplikasi jangka panjang lainnya termasuk progression of curve di adulthood dan need for revision surgery.

01 Referensi

1. World Health Organization. (2019). International Classification of Diseases, 10th Revision, Clinical Modification (ICD-10-CM). Geneva: WHO.
2. Negrini, S., Donzelli, S., Aulisa, A. G., et al. (2018). 2016 SOSORT guidelines: Orthopaedic and Rehabilitation treatment of idiopathic scoliosis during growth. Scoliosis and Spinal Disorders, 13(1), 3.
3. Weinstein, S. L., Dolan, L. A., Cheng, J. C. Y., et al. (2008). Adolescent idiopathic scoliosis. The Lancet, 371(9623), 1527-1537.
4. Lonstein, J. E., & Carlson, J. M. (1984). The prediction of curve progression in untreated idiopathic scoliosis during growth. Journal of Bone and Joint Surgery, 66(7), 1061-1071.
5. Hresko, M. T. (2013). Clinical practice. Idiopathic scoliosis in adolescents. New England Journal of Medicine, 368(9), 834-841.
6. Cheng, J. C., Castelein, R. M., Chu, W. C., et al. (2015). Adolescent idiopathic scoliosis. Nature Reviews Disease Primers, 1, 15030.
7. Kaspiris, A., Grivas, T. B., & Weiss, H. R. (2013). Congenital scoliosis in monozygotic twins: Genotype-phenotype inconsistency. Scoliosis and Spinal Disorders, 8(1), 1-5.
8. Altaf, F., Gibson, A., Dannawi, Z., & Noordeen, H. (2013). Adolescent idiopathic scoliosis. BMJ, 346, f2508.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: M41.2

Pathway: M41.2 Other Idiopathic Scoliosis & SDKI