MerlinDX Artikel D71
https://www.askep3s.org/bf73ae2517/artikel/D71
Artikel Klinis ICD-10: D71

D71: Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear

5 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian D71: Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear
  2. Gejala Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear
  3. Penyebab Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear
  4. Diagnosis Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear
  5. Pengobatan Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear
  6. Pencegahan Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear
  7. Komplikasi Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear
  8. Prognosis Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear

01 Pengertian D71: Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear

D71 adalah kode ICD-10 yang digunakan untuk mengklasifikasikan gangguan fungsional neutrofil polimorfonuklear. Neutrofil polimorfonuklear (PMN) merupakan jenis sel darah putih yang paling banyak ditemukan dalam darah dan berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri dan jamur. Gangguan fungsional neutrofil polimorfonuklear terjadi ketika neutrofil tidak dapat berfungsi secara normal meskipun jumlah sel tersebut mungkin masih dalam batas normal. Kondisi ini menyebabkan tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi meskipun jumlah neutrofil dalam darah tampak cukup. Gangguan ini dapat bersifat kongenital (bawaan sejak lahir) atau acquired (didapat).

01 Gejala Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear

Gejala utama gangguan fungsional neutrofil polimorfonuklear berkaitan dengan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi. Pasien mungkin mengalami infeksi berulang yang tidak biasa atau infeksi yang sulit disembuhkan. Infeksi yang paling sering terjadi meliputi infeksi kulit seperti bisul, abses, dan selulitis. Selain itu, pasien juga dapat mengalami infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia, bronkitis, dan sinusitis. Infeksi telinga (otitis media) dan infeksi saluran kemih juga sering ditemukan pada penderita. Pada kasus yang lebih berat, dapat terjadi sepsis atau infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh. Gejala tambahan yang mungkin muncul meliputi demam berulang, kelelahan kronis, dan luka yang sulit sembuh. Pada beberapa kasus, pasien mungkin mengalami periodontitis atau radang gusi yang parah.

01 Penyebab Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear

Gangguan fungsional neutrofil polimorfonuklear dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab kongenital meliputi defek genetik yang mempengaruhi fungsi neutrofil, seperti sindrom Chediak-Higashi dan sindrom spesifik granula. Pada kondisi ini, neutrofil memiliki struktur yang abnormal sehingga tidak dapat bergerak dengan baik atau membunuh bakteri secara efektif. Penyebab acquired atau didapat meliputi penggunaan obat-obatan tertentu seperti kortikosteroid, imunosupresan, dan beberapa antibiotik yang dapat mengganggu fungsi neutrofil. Penyakit autoimun seperti lupus eritematosus sistemik juga dapat menyebabkan gangguan fungsi neutrofil. Selain itu, kondisi seperti diabetes mellitus, gagal ginjal kronis, dan malnutrisi dapat mempengaruhi fungsi neutrofil. Infeksi HIV/AIDS dan kondisi lain yang menyebabkan immunosupresi juga dapat mengganggu fungsi neutrofil.

01 Diagnosis Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear

Diagnosis gangguan fungsional neutrofil polimorfonuklear memerlukan pendekatan sistematis yang melibatkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis meliputi riwayat infeksi berulang, riwayat keluarga dengan kondisi serupa, dan penggunaan obat-obatan. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menilai tanda-tanda infeksi dan kondisi umum pasien. Pemeriksaan laboratorium yang penting meliputi hitung darah lengkap untuk menilai jumlah neutrofil, tes fungsi neutrofil seperti tes chemotaxis (kemotaksis), tes fagositosis, dan tes killing assay untuk menilai kemampuan neutrofil membunuh bakteri. Pemeriksaan tambahan seperti biopsi kulit pada area infeksi, kultur darah, dan kultur jaringan dapat membantu mengidentifikasi jenis infeksi. Pada kasus suspected kongenital, tes genetik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi mutasi spesifik. Pemeriksaan pencitraan seperti rontgen dada dapat dilakukan untuk menilai komplikasi infeksi paru.

01 Pengobatan Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear

Pengobatan gangguan fungsional neutrofil polimorfonuklear bersifat suportif dan simptomatik, dengan fokus utama pada pencegahan dan pengobatan infeksi. Terapi antibiotik profilaksis mungkin direkomendasikan untuk pasien dengan infeksi berulang, menggunakan antibiotik seperti trimethoprim-sulfamethoxazole atau makrolid. Pengobatan infeksi aktif dilakukan dengan antibiotik spektrum luas sesuai hasil kultur dan sensitivitas. Pada kasus yang berat, faktor pertumbuhan koloni granulosit (G-CSF) dapat diberikan untuk meningkatkan produksi dan fungsi neutrofil. Terapi suportif meliputi transfusi granulosit pada kondisi tertentu, nutrisi adekuat, dan penanganan luka yang baik. Untuk kasus kongenital, transplantasi sel punca dapat menjadi pilihan kuratif pada beberapa kondisi. Pasien juga disarankan untuk menghindari paparan infeksi dan menjaga kebersihan diri yang baik. Konsultasi dengan dokter spesialis imunologi dan penyakit dalam sangat dianjurkan untuk manajemen jangka panjang.

01 Pencegahan Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear

Pencegahan pada pasien dengan gangguan fungsional neutrofil polimorfonuklear terutama berfokus pada pencegahan infeksi. Pasien disarankan untuk menjaga kebersihan tangan yang baik dengan mencuci tangan secara teratur menggunakan sabun dan air mengalir. Hindari kontak dengan orang yang sedang sakit atau mengalami infeksi aktif. Vaksinasi lengkap sangat penting termasuk vaksin pneumokokus, influenza, dan vaksin lainnya sesuai jadwal yang direkomendasikan. Hindari aktivitas yang meningkatkan risiko cedera atau luka pada kulit. Gunakan perlindungan saat bekerja atau beraktivitas di lingkungan yang berpotensi menyebabkan cedera. Jaga kesehatan mulut dan gigi dengan menyikat gigi secara teratur dan kontrol ke dokter gigi secara berkala. Konsumsi makanan bergizi seimbang untuk mendukung sistem imun. Istirahat cukup dan hindari kelelahan berlebihan. Hindari penggunaan obat-obatan yang dapat menekan sistem imun tanpa rekomendasi dokter. Pada pasien dengan riwayat keluarga positif, konseling genetik sangat dianjurkan sebelum merencanakan kehamilan.

01 Komplikasi Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear

Komplikasi utama gangguan fungsional neutrofil polimorfonuklear berkaitan dengan infeksi yang tidak terkontrol dengan baik. Infeksi kulit yang berulang dapat menyebabkan jaringan parut dan kerusakan kosmetik. Pneumonia berulang dapat menyebabkan kerusakan paru permanen dan fibrosis paru. Sepsis merupakan komplikasi serius yang dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Infeksi kronis dapat menyebabkan anemia kronis akibat penyakit dan malnutrisi. Abses berulang dapat memerlukan intervensi bedah berulang. Pada kasus yang berat, dapat terjadi kegagalan organ multiple akibat infeksi sistemik yang berkepanjangan. Komplikasi dari terapi seperti efek samping antibiotik jangka panjang juga perlu diwaspadai. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan dapat terjadi pada anak-anak dengan infeksi berulang yang tidak terkontrol dengan baik.

01 Prognosis Gangguan Fungsional Neutrofil Polimorfonuklear

Prognosis gangguan fungsional neutrofil polimorfonuklear bervariasi tergantung pada penyebab yang mendasari, tingkat keparahan gangguan, dan keberhasilan manajemen infeksi. Pada kasus acquired yang disebabkan oleh faktor reversibel seperti penggunaan obat, prognosis umumnya baik jika faktor penyebab dapat diidentifikasi dan dihilangkan. Pasien dengan gangguan fungsional kongenital memerlukan manajemen jangka panjang dan prognosis tergantung pada jenis defek genetik spesifik. Dengan diagnosis yang tepat, profilaksis antibiotik yang adekuat, dan monitoring yang ketat, banyak pasien dapat menjalani kehidupan yang relatif normal dengan kualitas hidup yang baik. Prognosis memburuk jika terjadi komplikasi serius seperti sepsis atau jika pasien tidak patuh terhadap regimen pencegahan. Transplantasi sel punca dapat memberikan kesembuhan pada beberapa kasus kongenital tertentu. Prognosis jangka panjang sangat bergantung pada deteksi dini, kepatuhan terhadap terapi, dan pencegahan infeksi yang konsisten.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: D71

Pathway: D71 Functional Neutrophil Disorders & S…