MerlinDX Artikel Q67.6
https://www.askep3s.org/c29323b064/artikel/Q67.6
Artikel Klinis ICD-10: Q67.6

Pectus Excavatum (Q67.6): Panduan Lengkap Gejala, Penyebab, dan Penanganan

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Bagian 1
  2. Bagian 2
  3. Bagian 3
  4. Bagian 4
  5. Bagian 5
  6. Bagian 6
  7. Bagian 7
  8. Bagian 8
  9. Bagian 9
  10. Bagian 10
  11. Bagian 11
  12. Bagian 12

01

Pectus excavatum adalah kelainan bentuk dinding dada kongenital yang ditandai dengan cekungan atau depresi abnormal pada bagian tengah atau bawah tulang dada (sternum). Kondisi ini juga dikenal sebagai 'dada cekung' atau 'funnel chest' dalam bahasa Inggris. Pectus excavatum merupakan kelainan dada yang paling sering ditemukan, dengan prevalensi sekitar 1 per 300-400 kelahiran. Kelainan ini lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio sekitar 3:1. Pada sebagian besar kasus, pectus excavatum sudah dapat dideteksi sejak lahir atau pada masa kanak-kanak awal, dan biasanya semakin terlihat jelas seiring dengan pertumbuhan anak. Pectus excavatum dapat bersifat simetris atau asimetris, serta bervariasi dalam tingkat keparahan dari yang ringan hingga berat. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi penampilan fisik tetapi juga dapat berdampak pada fungsi kardiovaskular dan pulmoner, terutama pada kasus yang berat.

02

Penyebab pasti pectus excavatum belum sepenuhnya dipahami, namun diyakini merupakan kombinasi dari faktor genetik dan perkembangan. Beberapa teori menyebutkan bahwa kelainan ini terjadi akibat pertumbuhan abnormal tulang rusuk dan tulang dada, kelemahan otot diafragma, atau posisi abnormal janin dalam rahim. Sekitar 35-45% pasien memiliki riwayat keluarga dengan kelainan dinding dada, menunjukkan komponen genetik yang signifikan. Pectus excavatum lebih sering terjadi pada individu dengan sindrom tertentu seperti Sindrom Marfan, Sindrom Poland, dan gangguan jaringan ikat lainnya. Faktor risiko tambahan meliputi jenis kelamin laki-laki, ras Kaukasia, dan adanya riwayat keluarga dengan kelainan serupa. Pada beberapa kasus, pectus excavatum dapat dikaitkan dengan skoliosis, defek septum ventrikel, atau kelainan jantung kongenital lainnya.

03

Manifestasi klinis pectus excavatum sangat bervariasi, tergantung pada tingkat keparahan kelainan. Gejala fisik utama adalah cekungan pada sternum yang dapat bersifat dangkal hingga sangat dalam. Pada kasus ringan, cekungan mungkin hanya terlihat saat inspirasi dalam atau saat otot dada berkontraksi. Gejala kardiorespiratorik yang dapat muncul meliputi sesak napas saat aktivitas fisik, intoleransi terhadap olahraga, palpitasi, dan nyeri dada. Beberapa pasien mengeluhkan kelelahan kronis dan penurunan daya tahan tubuh. Gejala gastrointestinal seperti refluks asam dan disfagia juga dapat terjadi akibat tekanan organ abdomen oleh sternum yang cekung. Secara psikologis, banyak pasien mengalami gangguan citra tubuh, kecemasan sosial, dan depresi akibat penampilan dada yang tidak normal. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan deviasi sternum ke posterior, asimetri dada, dan pada beberapa kasus terdengar bunyi jantung yang bergeser dari posisi normal.

04

Pectus excavatum sering dikaitkan dengan beberapa kondisi medis lain yang perlu diperhatikan dalam penatalaksanaan. Hubungan dengan Sindrom Ehlers-Danlos (EDS) cukup signifikan karena keduanya melibatkan gangguan jaringan ikat. Pasien dengan EDS memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan pectus excavatum akibat kelemahan kolagen pada struktur dada. Hubungan dengan skoliosis juga umum ditemukan, di mana sekitar 15-30% pasien pectus excavatum memiliki kelainan kurvatura tulang belakang. Pectus excavatum dan dekstrokardia dapat terjadi bersamaan, meskipun jarang, di mana posisi jantung bergeser ke kanan akibat depresi sternum yang berat. Kondisi ini memerlukan evaluasi kardiovaskular menyeluruh sebelum perencanaan operasi. Selain itu, pectus excavatum dapat berasosiasi dengan Sindrom Poland (hipoplasia otot pektoralis), prolaps katup mitral, dan defek septum atrium. Pemahaman tentang hubungan ini penting untuk deteksi dini dan penatalaksanaan komprehensif.

05

Diagnosis pectus excavatum dimulai dengan anamnesis detail dan pemeriksaan fisik menyeluruh. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi dinding dada anterior untuk menilai kedalaman dan simetri cekungan, palpasi untuk menilai kontur tulang rusuk dan sternum, serta auskultasi untuk menilai bunyi jantung dan napas. Indeks Haller merupakan parameter radiologis penting yang dihitung dari rasio diameter anteroposterior toraks melalui CT scan, dengan nilai >3,25 menunjukkan pectus excavatum sedang hingga berat. Pemeriksaan pencitraan tambahan meliputi foto rontgen dada (PA dan lateral) untuk menilai derajat depresi sternum dan posisi jantung, CT scan toraks untuk pengukuran akurat dan evaluasi organ mediastinum, serta MRI untuk kasus yang memerlukan evaluasi jaringan lunak detail. Evaluasi fungsi kardiovaskular meliputi elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiografi untuk menilai fungsi ventrikel dan posisi jantung. Tes fungsi paru dapat dilakukan untuk menilai kapasitas vital dan volume paru pada kasus dengan gejala respiratorik.

06

Penatalaksanaan pectus excavatum tergantung pada tingkat keparahan, gejala, dan usia pasien. Untuk kasus ringan hingga sedang dengan gejala minimal, pendekatan konservatif dapat dicoba terlebih dahulu. Terapi vakum (vacuum bell) adalah alat non-invasif yang menggunakan tekanan negatif untuk mengangkat sternum secara bertahap. Latihan fisioterapi spesifik untuk memperkuat otot dada dan postur juga dapat membantu. Untuk kasus sedang hingga berat atau yang tidak responsif terhadap terapi konservatif, intervensi bedah diperlukan. Prosedur Nuss adalah teknik bedah minimal invasif yang paling umum dilakukan saat ini, menggunakan bar titanium yang dimasukkan secara torakoskopik di belakang sternum untuk mengangkatnya. Prosedur Ravitch adalah teknik bedah terbuka yang melibatkan reseksi kartilago costa abnormal dan reposisi sternum. Pemilihan prosedur tergantung pada usia pasien, keparahan, dan preferensi ahli bedah. Terapi kombinasi dengan bracing eksternal dan latihan fisik pasca-operasi memberikan hasil optimal.

07

Prosedur Nuss untuk pectus excavatum dilakukan di bawah anestesi umum dengan dua sayatan kecil di samping dada. Bar titanium berbentuk lengkung dimasukkan melalui sayatan di bawah ketiak dan diposisikan di belakang sternum menggunakan panduan torakoskopi. Bar kemudian diputar untuk mengangkat sternum ke posisi normal dan difiksasi ke tulang rusuk dengan jahitan atau plat. Prosedur ini biasanya memakan waktu 1-2 jam. Masa pemulihan pasca-operasi awal memerlukan rawat inap selama 3-5 hari dengan manajemen nyeri yang adekuat. Pasien biasanya dapat kembali ke aktivitas ringan dalam 2-4 minggu dan aktivitas penuh dalam 6-8 minggu. Bar implan umumnya dibiarkan selama 2-3 tahun sebelum diangkat melalui prosedur kedua yang lebih singkat. Komplikasi potensial meliputi pneumotoraks, perdarahan, infeksi luka operasi, dan migrasi bar. Hasil kosmetik umumnya sangat memuaskan dengan perbaikan signifikan pada fungsi kardiorespiratorik pada sebagian besar pasien dewasa dan anak-anak.

08

Anestesi pada pasien pectus excavatum memerlukan perencanaan khusus karena beberapa faktor risiko. Evaluasi preoperatif harus mencakup penilaian fungsi kardiovaskular dan pulmoner menyeluruh, termasuk ekokardiografi untuk menilai kompresi jantung potensial. Pasien dengan indeks Haller tinggi memiliki risiko lebih tinggi untuk kompresi mediastinum selama anestesi. Pertimbangan posisi pasien sangat penting karena posisi supine dapat memperburuk kompresi jantung dan vena cava inferior. Monitoring invasif seperti arterial line dan central venous pressure mungkin diperlukan untuk kasus berat. Teknik anestesi umum dengan intubasi endotrakeal adalah standar untuk prosedur bedah. Hindari penggunaan relajan otot yang berlebihan karena dapat memperburuk kolaps dinding dada. Manajemen nyeri pasca-operasi multimodal dengan kombinasi opioid, NSAID, dan blok saraf toraks direkomendasikan. Pasien dengan pectus excavatum dan kondisi terkait seperti EDS memerlukan penyesuaian dosis anestetik dan perhatian khusus terhadap risiko dislokasi sendi serta perdarahan abnormal.

09

Prognosis pectus excavatum sangat bergantung pada tingkat keparahan dan ketepatan penatalaksanaan. Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar pasien mencapai perbaikan signifikan baik secara kosmetik maupun fungsional. Studi menunjukkan peningkatan kapasitas kardiovaskular hingga 20-30% pasca-operasi pada pasien dengan gejala signifikan. Kualitas hidup secara keseluruhan meningkat setelah perbaikan, dengan berkurangnya gejala seperti sesak napas, nyeri dada, dan intoleransi aktivitas. Pasien yang menjalani prosedur Nuss melaporkan tingkat kepuasan tinggi terhadap hasil kosmetik dan fungsional. Prognosis jangka panjang umumnya baik dengan tingkat kekambuhan rendah setelah pengangkatan bar pada waktu yang tepat. Pada kasus yang tidak ditangani, pectus excavatum progresif dapat menyebabkan gangguan kardiorespiratorik yang semakin berat seiring bertambahnya usia. Konseling psikologis direkomendasikan untuk pasien dengan gangguan citra tubuh yang signifikan.

10

Pectus excavatum pada dewasa menghadirkan tantangan unik dalam penatalaksanaan karena skeletal maturity yang sudah tercapai. Tulang dan kartilago yang sudah mengeras membuat koreksi lebih sulit dibandingkan pada anak-anak atau remaja. Indeks Haller pada dewasa cenderung lebih tinggi karena dada sudah tidak berkembang secara signifikan. Prosedur Nuss tetap dapat dilakukan pada dewasa, namun hasilnya mungkin tidak seoptimal pada pasien muda. Waktu prosedur cenderung lebih lama dan risiko komplikasi sedikit lebih tinggi. Namun, perbaikan signifikan masih dapat dicapai dengan teknik yang tepat dan pengalaman surgeon yang memadai. Pertimbangan khusus meliputi evaluasi komorbiditas yang lebih komprehensif dan persiapan psikologis yang lebih matang. Pasien dewasa sering memiliki motivasi yang lebih kuat untuk menjalani operasi setelah bertahun-tahun mengalami gejala atau ketidakpuasan kosmetik. Post-operative recovery mungkin sedikit lebih lambat dibandingkan pasien muda, namun hasil akhir tetap memuaskan.

11

Pertanyaan apakah pectus excavatum bisa sembuh sering ditanyakan oleh pasien dan keluarga. Secara realistis, pectus excavatum tidak dapat sembuh sendiri tanpa intervensi medis. Kelainan struktural tulang dan kartilago tidak akan mengalami perbaikan spontan seiring waktu. Pada kasus ringan tanpa gejala signifikan, penatalaksanaan konservatif dengan fisioterapi dan latihan postur dapat membantu mengelola gejala dan mencegah perburukan. Terapi vakum dapat memberikan perbaikan parsial pada beberapa pasien, terutama anak-anak dengan kartilago yang masih fleksibel. Untuk perbaikan definitif, intervensi bedah tetap diperlukan. Prognosis setelah operasi sangat baik dengan tingkat keberhasilan tinggi. Penting untuk dipahami bahwa 'sembuh' dalam konteks pectus excavatum berarti koreksi struktural yang signifikan, bukan kembali ke kondisi anatomi sempurna 100%. Dengan penatalaksanaan yang tepat, mayoritas pasien dapat mencapai fungsi normal dan penampilan dada yang normal atau near-normal.

12

Tingkat bahaya pectus excavatum sangat bervariasi tergantung pada keparahan dan gejala yang ditimbulkan. Pada kasus ringan dengan cekungan dangkal, kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan lebih bersifat kosmetik. Pasien dengan pectus excavatum ringan dapat menjalani hidup normal tanpa pembatasan aktivitas. Namun, pada kasus sedang hingga berat, beberapa risiko kesehatan potensial perlu diwaspadai. Kompresi jantung dan paru dapat menyebabkan gangguan fungsi kardiorespiratorik yang bermanifestasi sebagai sesak napas, intoleransi aktivitas, dan palpitasi. Risiko aritmia dan prolaps katup mitral juga meningkat pada pasien dengan depresi sternum berat. Gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi akibat masalah citra tubuh tidak boleh diremehkan. Pectus excavatum yang tidak ditangani dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit jantung koroner prematur dan hipertensi pulmoner. Konsultasi dengan spesialis diperlukan untuk menilai tingkat keparahan dan merekomendasikan penatalaksanaan yang sesuai.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
American Pediatric Surgical Association (APSA) Guidelines on Pectus Excavatum
[2]
Nuss D, et al. A 10-Year Review of a Minimally Invasive Technique for the Correction of Pectus Excavatum. Journal of Pediatric Surgery
[3]
European Society of Thoracic Surgeons (ESTS) Consensus Document
[4]
Indonesian Pediatric Society Guidelines on Chest Wall Deformities

🔗 Konten Terkait: Q67.6

Pathway: Pectus Excavatum (Q67.6) menuju SDKI