MerlinDX Artikel D59.5
https://www.askep3s.org/ccbc6724c7/artikel/D59.5
Hemoglobinuria Nokturnal Paroksismal (Sindrom Marchiafava-Micheli): Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan
Photo by SHVETS production on Pexels
Artikel Klinis ICD-10: D59.5

Hemoglobinuria Nokturnal Paroksismal (Sindrom Marchiafava-Micheli): Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

6 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian Hemoglobinuria Nokturnal Paroksismal
  2. Penyebab dan Mekanisme Terjadinya
  3. Gejala Klinis
  4. Diagnosis
  5. Pengobatan
  6. Komplikasi
  7. Prognosis
  8. Epidemiologi

01 Pengertian Hemoglobinuria Nokturnal Paroksismal

Hemoglobinuria nokturnal paroksismal (PNH), juga dikenal sebagai sindrom Marchiafava-Micheli, adalah penyakit darah yang langka dan mengancam jiwa. Penyakit ini ditandai dengan penghancuran prematur sel darah merah (eritrosit) oleh sistem komplemen, yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh bawaan. Proses destruktif ini terjadi akibat defisiensi protein permukaan sel darah merah yang disebut DAF (Decay-Accelerating Factor) atau CD55, yang normalnya berfungsi menghambat reaksi imun tersebut.

Karena kaskade komplemen menyerang sel darah merah di dalam pembuluh darah sistem sirkulasi, maka penghancuran sel darah merah (hemolisis) ini diklasifikasikan sebagai anemia hemolitik intravaskular. PNH merupakan satu-satunya anemia hemolitik yang disebabkan oleh faktor yang diperoleh (acquired) daripada diturunkan secara genetik. Penyakit ini dapat terjadi pada usia berapa pun, meskipun paling sering didiagnosis pada masa dewasa muda. PNH termasuk dalam kelompok penyakit langka dengan insiden yang sangat rendah di populasi umum.

02 Penyebab dan Mekanisme Terjadinya

Hemoglobinuria nokturnal paroksismal disebabkan oleh mutasi somatik pada gen PIGA yang terletak pada kromosom X. Mutasi ini terjadi pada sel punca (stem cell) di sumsum tulang, sehingga menghasilkan sel darah yang kekurangan protein pelindung di permukaannya. Sel darah merah pada pasien PNH kekurangan protein yang diikat oleh GPI (Glycosylphosphatidylinositol), terutama CD55 (DAF) dan CD59.

CD55 dan CD59 adalah protein pengatur komplemen yang berperan penting dalam melindungi sel darah merah dari serangan sistem komplemen. Tanpa protein-protein ini, sel darah merah menjadi sangat rentan terhadap lisis (penghancuran) oleh kompleks serangan membran (MAC) yang terbentuk selama aktivasi komplemen. Proses hemolisis intravaskular ini menyebabkan pelepasan hemoglobin bebas ke dalam plasma, yang kemudian difiltrasi oleh ginjal dan excreted melalui urine.

Perlu dipahami bahwa PNH bukan penyakit turunan (herediter). Penyakit ini merupakan kondisi yang diperoleh (acquired) akibat mutasi somatik yang terjadi setelah lahir. Dalam beberapa kasus, PNH dapat berkembang pada pasien dengan anemia aplastik atau sindrom mielodisplastik.

03 Gejala Klinis

Gejala hemoglobinuria nokturnal paroksismal sangat bervariasi antar individu, mulai dari gejala ringan hingga berat. Karakteristik utama penyakit ini adalah episode gejala yang muncul secara tiba-tiba dan berulang (paroksismal), yang dapat dipicu oleh stres pada tubuh seperti infeksi atau aktivitas fisik berlebihan.

Gejala utama yang sering ditemukan meliputi:

1. Hemoglobinuria: Pasien mungkin mengeluarkan urine berwarna gelap (merah atau coklat kehitaman) karena adanya hemoglobin dalam urine. Pada banyak kasus, hemoglobinuria paling jelas terlihat di pagi hari setelah urine terkumpul di kandung kemih sepanjang malam (nokturnal).

2. Anemia hemolitik: Penghancuran prematur sel darah merah menyebabkan kekurangan sel darah merah dalam darah (anemia). Gejala anemia meliputi kelelahan, lemas, pusing, dan sesak napas.

3. Trombosis (pembentukan bekuan darah): PNH memiliki insiden tinggi pembentukan bekuan darah di vena (venous thrombosis), terutama di vena hepatik (sindrom Budd-Chiari), vena portal, dan vena di anggota tubuh.

4. Gejala lainnya: Demam, nyeri perut, disfagia (kesulitan menelan), dan erectile dysfunction pada pria.

Pada beberapa pasien, gejala mungkin tidak muncul secara klasik atau hemoglobinuria mungkin tidak selalu ada, sehingga diagnosis bisa tertunda.

04 Diagnosis

Diagnosis hemoglobinuria nokturnal paroksismal memerlukan pendekatan diagnostik yang komprehensif, meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium spesifik.

Pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mendiagnosis PNH meliputi:

1. Hitung darah lengkap (CBC): Dapat menunjukkan anemia, retikulositosis, dan penurunan hemoglobin.

2. Analisis urine: Mendeteksi hemoglobinuria dan hemosiderinuria.

3. Tes Coombs langsung: Negatif pada PNH (membedakan dari anemia hemolitik autoimun).

4. Flow cytometry: Merupakan gold standard untuk diagnosis PNH. Pemeriksaan ini mendeteksi отсутствие protein GPI-anchored (CD55, CD59) pada permukaan sel darah. clone PNH diidentifikasi berdasarkan ekspresi marker CD55 dan CD59.

5. Tes Ham (acid hemolysis test): Tes historis yang mendeteksi sensitivitas sel darah merah terhadap asam.

6. Tes sukrosa (sugar water test): Tes skrining untuk hemolisis komplemen-dependent.

7. LDH (Lactate Dehydrogenase): Biasanya meningkat signifikan pada PNH aktif.

8. Haptoglobin: Biasanya menurun atau tidak terdeteksi karena habis terikat dengan hemoglobin bebas.

Diagnosis banding meliputi anemia hemolitik autoimun, anemia sel sabit, talasemia, dan kondisi lain yang menyebabkan hemolisis.

05 Pengobatan

Pengobatan hemoglobinuria nokturnal paroksismal bertujuan untuk meredakan gejala, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Pendekatan pengobatan disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit dan kebutuhan individual pasien.

Terapi suportif meliputi:

1. Transfusi darah: Untuk mengatasi anemia berat.

2. Suplementasi asam folat dan zat besi: Untuk mendukung produksi sel darah merah.

3. Antikoagulan (pengencer darah): Untuk mencegah dan mengobati trombosis.

4. Kortikosteroid: Dapat digunakan untuk menekan episode hemolisis akut.

Terapi spesifik modern:

1. Eculizumab dan Ravulizumab: Antibody monoklonal yang menghambat protein C5 komplemen, mencegah lisis sel darah merah. Terapi ini merupakan breakthrough dalam pengobatan PNH dan terbukti efektif mengurangi transfusi, meningkatkan hemoglobin, dan menurunkan risiko trombosis.

2. C5 inhibitor generasi baru: Dengan durasi aksi lebih panjang.

3. C3 inhibitor: Dalam pengembangan untuk mengatasi hemolisis ekstravaskular.

4. Transplantasi sumsum tulang: Merupakan satu-satunya pilihan kuratif, namun memiliki risiko tinggi dan biasanya dipertimbangkan pada kasus yang tidak responsif terhadap terapi lain atau terjadi transformasi menjadi leukemia.

Pasien juga harus menerima vaksinasi terhadap Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae, dan Haemophilus influenzae sebelum memulai terapi komplemen inhibitor.

06 Komplikasi

Hemoglobinuria nokturnal paroksismal dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius yang memengaruhi morbiditas dan mortalitas pasien.

Komplikasi utama meliputi:

1. Trombosis vena: Merupakan komplikasi paling serius dan penyebab utama kematian pada pasien PNH. Trombosis dapat terjadi di berbagai lokasi termasuk vena hepatik (menyebabkan sindrom Budd-Chiari), vena porta, vena mesenterika, vena renal, dan vena profunda di tungkai. Mekanisme trombosis pada PNH melibatkan отсутствие protein CD55 dan CD59 pada trombosit PNH dan konsumsi nitric oxide (NO) yang berlebihan.

2. Anemia aplastik: Beberapa pasien PNH dapat mengembangkan atau memiliki anemia aplastik yang mendasari, menyebabkan pansitopenia (penurunan semua lini sel darah).

3. Gagal ginjal: Hemolisis kronis dan hemosiderinuria dapat menyebabkan kerusakan ginjal progresif.

4. Hipertensi pulmonal: Akibat hemolisis dan defisiensi NO.

5. Transformasi maligna: Meskipun jarang, PNH dapat bertransformasi menjadi sindrom mielodisplastik atau leukemia akut.

6. Komplikasi kehamilan: PNH meningkatkan risiko komplikasi pada kehamilan termasuk keguguran, preeklampsia, dan trombosis.

Monitoring rutin dan deteksi dini komplikasi sangat penting dalam manajemen pasien PNH.

07 Prognosis

Prognosis hemoglobinuria nokturnal paroksismal telah berubah secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir, terutama dengan ketersediaan terapi komplemen inhibitor seperti eculizumab dan ravulizumab.

Sebelum era terapi komplemen inhibitor, prognosis PNH cukup buruk dengan:

- Median survival sekitar 10-15 tahun setelah diagnosis
- Penyebab kematian utama adalah trombosis vena dan komplikasi anemia
- Kualitas hidup menurun signifikan akibat gejala kronis

Dengan terapi komplemen inhibitor modern, prognosis telah membaik secara dramatis:

- Peningkatan survival yang signifikan
- Penurunan dramatis dalam insiden trombosis
- Pengurangan kebutuhan transfusi
- Peningkatan kualitas hidup
- Beberapa pasien dapat mencapai respons hematologi yang hampir normal

Namun, terapi ini memerlukan penggunaan jangka panjang dan memiliki biaya yang sangat tinggi. Pasien tetap memerlukan monitoring jangka panjang untuk mendeteksi komplikasi dan menilai respons terhadap terapi.

Faktor-faktor yang memengaruhi prognosis meliputi ukuran clone PNH, adanya anemia aplastik yang menyertai, frekuensi episode hemolisis, dan respons terhadap terapi.

08 Epidemiologi

Hemoglobinuria nokturnal paroksismal adalah penyakit yang sangat langka dengan insiden sekitar 1-1,5 kasus per juta penduduk per tahun. Prevalensi penyakit ini diperkirakan sekitar 15-30 kasus per juta penduduk.

PNH dapat terjadi pada semua ras dan etnis, meskipun beberapa studi menunjukkan variasi dalam distribusi geografis. Penyakit ini lebih sering didiagnosis pada dewasa muda, dengan usia rata-rata saat diagnosis sekitar 30-40 tahun. Insiden pada pria dan wanita relatif seimbang, meskipun beberapa studi menunjukkan slight predominance pada wanita.

Di Indonesia, data epidemiologi spesifik tentang PNH masih terbatas. Penyakit ini termasuk dalam kategori penyakit langka (rare disease) yang seringkali underdiagnosed atau terdiagnosis terlambat karena kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan yang masih terbatas. Peningkatan kesadaran dan ketersediaan fasilitas diagnostik seperti flow cytometry sangat penting untuk meningkatkan deteksi dan manajemen penyakit ini di Indonesia.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
.
[2]
.
[3]
.
[4]
.

🔗 Konten Terkait: D59.5