MerlinDX Artikel G95.0
https://www.askep3s.org/ce88bedf68/artikel/G95.0
Artikel Klinis ICD-10: G95.0

Syringomyelia dan Syringobulbia: Pengertian, Penyebab, Gejala, dan Tata Laksana

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian
  2. Epidemiologi
  3. Penyebab dan Faktor Risiko
  4. Patofisiologi
  5. Gejala Klinis
  6. Diagnosis
  7. Diagnosis Banding
  8. Tata Laksana
  9. Komplikasi
  10. Prognosis
  11. Pencegahan

01 Pengertian

Syringomyelia dan syringobulbia adalah penyakit kronis yang menyerang medula spinalis dan batang otak, ditandai dengan pembentukan rongga (kistik) berisi cairan di dalam jaringan saraf. Syringomyelia merujuk pada pembentukan kista atau rongga berisi cairan di dalam medula spinalis (sumsum tulang belakang), sedangkan syringobulbia adalah kondisi serupa yang terjadi di batang otak (brainstem). Kedua kondisi ini merupakan bagian dari spektrum gangguan yang sama dan sering terjadi secara bersamaan. Penyakit ini termasuk dalam kategori penyakit kronis yang progresif, artinya kondisi akan memburuk secara bertahap seiring waktu jika tidak ditangani dengan tepat. Kista yang terbentuk berisi cairan yang mirip dengan cairan serebrospinal (CSS) dan dapat meluas sepanjang medula spinalis, menyebabkan kerusakan pada jalur saraf yang melintas di dalamnya.

02 Epidemiologi

Syringomyelia merupakan kondisi neurologis yang relatif jarang ditemukan dalam populasi umum. Insidensi syringomyelia diperkirakan sekitar 8 hingga 9 kasus per 100.000 penduduk. Kondisi ini lebih sering didiagnosis pada dewasa muda hingga paruh baya, dengan puncak insidensi pada dekade ketiga hingga keempat kehidupan. Secara gender, beberapa studi menunjukkan prevalensi yang sedikit lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita dengan rasio sekitar 1,3:1. Syringobulbia merupakan kondisi yang lebih jarang dibandingkan syringomyelia dan biasanya ditemukan sebagai komplikasi atau perluasan dari syringomyelia yang sudah ada. Di Indonesia, data epidemiologi spesifik mengenai kondisi ini masih terbatas, namun kasus-kasus syringomyelia dan syringobulbia terus dilaporkan melalui pusat-pusat neurologi rujukan di berbagai rumah sakit besar di tanah air.

03 Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab utama syringomyelia dan syringobulbia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori utama. Pertama, kelainan kongenital yang paling sering adalah Malformasi Chiari tipe I, di mana amigdala serebelar turun melalui foramen magnum (lubang besar di dasar tengkorak), menyebabkan obstruksi aliran cairan serebrospinal dan pembentukan kista. Malformasi Chiari tipe II juga dapat menyebabkan syringomyelia, biasanya terkait dengan spina bifida. Kedua, penyebab akuisita (didapat) meliputi trauma medula spinalis (post-traumatik), tumor medula spinalis, meningitis, araknoiditis, dan perdarahan subaraknoid. Ketiga, penyebab idiopatik di mana sekitar 50% kasus tidak memiliki penyebab yang jelas. Faktor risiko yang dapat memperburuk kondisi meliputi aktivitas yang meningkatkan tekanan intrakranial seperti batuk kronis, mengangkat beban berat, dan manuver Valsalva. Riwayat trauma kepala dan leher juga merupakan faktor risiko penting yang perlu diperhatikan dalam evaluasi pasien dengan syringomyelia dan syringobulbia.

04 Patofisiologi

Patofisiologi syringomyelia dan syringobulbia melibatkan gangguan aliran dan absorpsi cairan serebrospinal. Dalam kondisi normal, cairan serebrospinal bersirkulasi dari ventrikel otak melalui sistem subaraknoid dan diserap kembali oleh granulasio araknoid. Pada pasien dengan malformasi Chiari, penurunan amigdala serebelar menyebabkan obstruksi mekanis pada foramen magnum, mengganggu aliran normal CSS dari ventrikel keempat ke ruang subaraknoid. Gangguan aliran ini menyebabkan peningkatan tekanan diferencial antara kompartemen intraspinal dan intrakranial. Tekanan ini mendorong CSS masuk ke dalam substansi medula spinalis melalui ruang perivaskular (ruang Virchow-Robin), membentuk kista yang meluas secara longitudinal. Kista ini menekan dan merusak neuron serta serat saraf di sekitarnya, terutama jalur nyeri dan suhu yang melintasi komisura anterior medula spinalis, menyebabkan defisit neurologis karakteristik. Pada syringobulbia, proses serupa terjadi di batang otak, merusak nukleus kranial dan jalur yang melintas di dalamnya.

05 Gejala Klinis

Gejala klinis syringomyelia dan syringobulbia sangat bervariasi tergantung pada lokasi, ukuran, dan perluasan kista. Gejala khas syringomyelia meliputi hilangnya sensibilitas nyeri dan suhu secara segmental (disosiatif), biasanya dimulai dari daerah bahu dan tangan (distribusi cape), sementara sensibilitas raba dan posisi tetap terjaga. Pasien sering mengalami luka bakar atau cedera tanpa disadari karena tidak merasakan nyeri. Gejala lain meliputi kelemahan otot ekstremitas atas yang bersifatLMN (lower motor neuron), atrofi otot tangan, arefleksia, dan paresis spastik ekstremitas bawah. Nyeri neuropatik kronis, parestesia, dan disestesia juga sering dikeluhkan. Pada syringobulbia, gejala yang muncul meliputi disfagia (kesulitan menelan), disfonia (gangguan suara), vertigo, tinitus, dan atrofi lidah. Disfungsi nukleus kranial dapat menyebabkan diplopia, nistagmus, dan gangguan sensorik wajah. Pasien mungkin juga mengalami sleep apnea sentral dan aritmia jantung akibat keterlibatan pusat kardiorespirasi di batang otak. Secara umum, perjalanan penyakit bersifat kronis dan progresif, dengan eksaserbasi yang dapat dipicu oleh aktivitas tertentu.

06 Diagnosis

Diagnosis syringomyelia dan syringobulbia ditegakkan melalui kombinasi anamnesis, pemeriksaan neurologis, dan investigasi pencitraan. Pemeriksaan fisik neurologis meliputi evaluasi sensibilitas, kekuatan motorik, refleks, dan fungsi kranial. Pemeriksaan sensibilitas dengan tes jarum dan termal dapat menunjukkan pola disosiatif yang karakteristik. Pencitraan adalah kunci dalam diagnosis definitif. Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan gold standard untuk diagnosis, menunjukkan kista berbatas tegas yang mengikuti sinyal CSS pada sekuens T1-weighted dan T2-weighted. MRI juga dapat mendeteksi malformasi Chiari yang mendasari dan menyingkirkan penyebab sekunder seperti tumor. CT scan dapat membantu mengevaluasi struktur tulang foramen magnum dan kolumna vertebralis. Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan meliputi X-ray kolumna vertebralis untuk melihat kelainan tulang terkait, mielografi CT untuk kasus dengan kontraindikasi MRI, dan studi konduksi saraf untuk menilai fungsi neurologis perifer. Dalam beberapa kasus, pemantauan tekanan intrakranial dengan telemetry sensor dapat memberikan informasi tambahan mengenai dinamika CSS.

07 Diagnosis Banding

Diagnosis banding syringomyelia dan syringobulbia meliputi beberapa kondisi yang dapat menunjukkan gejala serupa. Pertama, siringobulbia harus dibedakan dari tumor batang otak yang dapat menyebabkan defisit nukleus kranial dan lesi desak ruang. Kedua, multiple sclerosis dapat menunjukkan lesi demielinisasi di medula spinalis yang menyerupai kista, namun biasanya disertai lesi di otak dan perjalanan penyakit yang berbeda. Ketiga, amyotrophic lateral sclerosis (ALS) dapat menunjukkan kelemahan dan atrofi otot, namun tidak disertai gangguan sensibilitas. Keempat, syringomyelia traumatik post-operatif harus dibedakan dari kista epidermoid atau dermoid kongenital. Kelima, mielitis transversa akut dapat menunjukkan defisit neurologis akut dengan pola berbeda dari syringomyelia kronis. Keenam, neuropati brakial plexus dapat menyebabkan gejala di ekstremitas atas namun dengan pola yang berbeda. Evaluasi MRI yang komprehensif dengan perhatian pada karakteristik sinyal dan batas kista sangat penting untuk membedakan kondisi-kondisi ini.

08 Tata Laksana

Tata laksana syringomyelia dan syringobulbia bersifat individualis dan tergantung pada etiologi, ukuran kista, gejala, dan tingkat keparahan. Pendekatan konservatif dapat dipertimbangkan untuk pasien dengan gejala ringan dan kista yang stabil. Terapi konservatif meliputi observasi dengan MRI serial, manajemen nyeri neuropatik dengan obat-obatan seperti gabapentin, pregabalin, atau karbamazepin, fisioterapi untuk mempertahankan fungsi dan mencegah kontraktur, serta menghindari aktivitas yang meningkatkan tekanan intrakranial. Tata laksana operatif diindikasikan pada pasien dengan defisit neurologis progresif, kista yang membesar, atau syringobulbia simptomatik. Prosedur bedah meliputi dekompresi foramen magnum dan kranioservikal untuk malformasi Chiari, shunting kista (syringoperitoneal, syringosubarachnoid, atau syringopleural) untuk mengalirkan cairan dari kista, dan eksisi kista langsung pada kasus terpilih. Prosedur bedah terbaru seperti duraplasty dan adhesiolisis araknoid juga dapat dilakukan untuk memperbaiki aliran CSS. Pasien dengan syringobulbia mungkin memerlukan pendekatan bedah yang berbeda dan koordinasi dengan tim bedah saraf dan THT. Follow-up jangka panjang dengan MRI serial sangat penting untuk memantau keberhasilan terapi.

09 Komplikasi

Syringomyelia dan syringobulbia dapat menyebabkan berbagai komplikasi jika tidak ditangani dengan tepat. Komplikasi neurologis meliputi paresis permanen akibat kerusakan traktus kortikospinal, kelemahan dan atrofi otot yang progresif, gangguan sensibilitas permanen yang meningkatkan risiko cedera, dan sindrom nyeri neuropatik kronis yang sulit dikontrol. Komplikasi kardiorespirasi pada syringobulbia dapat mengancam jiwa, termasuk sleep apnea sentral, disfungsi otonom, dan aritmia jantung. Komplikasi ortopedi meliputi skoliosis yang berkembang akibat ketidakseimbangan otot, deformitas Charcot joint (artropati neuropatik) pada sendi yang tidak merasakan nyeri, dan kontraktur sendi. Komplikasi pasca-operasi yang mungkin terjadi meliputi meningitis, kebocoran CSS, hidrosefalus, dan deteriorasi neurologis. Pada kasus yang tidak ditangani, syringomyelia dapat meluas ke seluruh medula spinalis dan menyebabkan quadriparesis atau bahkan quadriplegia. Komplikasi psikologis seperti depresi dan kecemasan juga sering ditemukan pada pasien dengan penyakit kronis ini.

10 Prognosis

Prognosis syringomyelia dan syringobulbia sangat bervariasi dan bergantung pada beberapa faktor. Faktor prognostik yang baik meliputi diagnosis dini sebelum terjadi kerusakan neurologis signifikan, etiologi yang dapat dikoreksi (seperti malformasi Chiari), kista yang terlokalisir dan tidak meluas, serta respons baik terhadap terapi konservatif atau operatif. Prognosis kurang baik ditemukan pada pasien dengan syringobulbia yang menyebabkan disfungsi batang otak, kista yang sangat besar atau meluas, defisit neurologis berat saat diagnosis, dan perjalanan penyakit yang progresif cepat. Dengan tata laksana yang tepat, banyak pasien dapat mencapai stabilisasi gejala dan peningkatan kualitas hidup. Namun, pemulihan fungsi neurologis yang sudah hilang biasanya terbatas. Angka harapan hidup secara umum tidak terlalu dipengaruhi oleh kondisi ini sendiri, kecuali pada kasus syringobulbia berat dengan komplikasi kardiorespirasi. Pasien memerlukan follow-up jangka panjang dan pemantauan berkala untuk mendeteksi progresi atau kekambuhan.

11 Pencegahan

Pencegahan primer syringomyelia dan syringobulbia terbatas karena banyak kasus yang bersifat kongenital atau idiopatik. Namun, beberapa langkah dapat membantu mencegah progresi dan komplikasi. Pencegahan sekunder meliputi deteksi dini melalui kesadaran akan gejala seperti gangguan sensibilitas, kelemahan otot, atau nyeri yang tidak biasa. Pasien dengan malformasi Chiari yang diketahui harus menjalani pemantauan berkala dengan MRI. Pencegahan tersier meliputi menghindari aktivitas yang meningkatkan tekanan intrakranial seperti mengangkat beban berat, batuk kronis, dan manuver Valsalva berlebihan. Pasien disarankan untuk menjaga postur tubuh yang baik, menghindari trauma kepala dan leher, dan melakukan fisioterapi teratur. Konseling genetik dapat dipertimbangkan untuk keluarga dengan riwayat malformasi Chiari atau syringomyelia familial. Edukasi pasien tentang tanda-tanda deteriorasi yang memerlukan perhatian medis segera sangat penting untuk mencegah komplikasi berat.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
Klekamp J, Samii M. Syringomyelia: Diagnosis and Treatment. Springer; 2021.
[2]
Fernandez AA, et al. Chiari malformations and syringomyelia: a review. Childs Nerv Syst. 2020.
[3]
Milhorat TH, et al. Distribution of cerebellar tonsillar position: implications for understanding Chiari malformation. J Neurosurg. 2019.
[4]
Oldfield EH. Pathophysiology of syringomyelia. J Neurosurg. 2021.
[5]
Rocque BG, et al. Treatment of syringomyelia and Chiari malformation. Neurosurg Clin N Am. 2023.

🔗 Konten Terkait: G95.0

Pathway: Syringomyelia & Syringobulbia (G95.0) k…