MerlinDX Artikel M48.5
https://www.askep3s.org/d280403320/artikel/M48.5
Artikel Klinis ICD-10: M48.5

M48.5: Collapsed Vertebra (Kolaps Vertebra) - Tatalaksana Komprehensif

8 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian
  2. Epidemiologi
  3. Penyebab
  4. Patofisiologi
  5. Gejala Klinis
  6. Diagnosis
  7. Tatalaksana
  8. Prognosis
  9. Pencegahan
  10. Komplikasi
  11. Kode ICD-10 M48.5

01 Pengertian

Kolaps vertebra atau collapsed vertebra adalah kondisi patologis di mana terjadi keruntuhan atau penurunan tinggi badan (height loss) pada tubuh vertebra (vertebral body) yang tidak dapat diklasifikasikan dalam kategori cedera traumatis atau kondisi spesifik lainnya. Kondisi ini terjadi ketika kekuatan tulang belakang tidak mampu lagi menahan beban yang diberikan, sehingga vertebra mengalami kolaps atau runtuh. Istilah 'not elsewhere classified' menunjukkan bahwa kondisi ini tidak termasuk dalam kategori fraktur kompresi traumatis, spondilitis, atau kondisi vertebra lainnya yang sudah diklasifikasikan secara spesifik dalam sistem ICD-10. Kolaps vertebra dapat terjadi di berbagai region tulang belakang termasuk servikal, torakal, dan lumbar, dan sering kali dikaitkan dengan kondisi degeneratif atau metabolik yang mendasari.

02 Epidemiologi

Kolaps vertebra lebih sering terjadi pada populasi lanjut usia, terutama pada individu di atas 60 tahun. Prevalensi meningkat secara signifikan seiring dengan bertambahnya usia. Wanita post-menopause memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pria pada kelompok usia yang sama, dengan rasio wanita:laki-laki sekitar 2:1 hingga 3:1. Insiden kolaps vertebra meningkat secara dramatis pada individu dengan osteoporosis, di mana sekitar 30-50% wanita dan 20-30% pria akan mengalami fraktur vertebra terkait osteoporosis seumur hidup. Di Indonesia, dengan populasi lanjut usia yang terus meningkat, insiden kolaps vertebra juga menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Faktor risiko utama meliputi usia lanjut, jenis kelamin wanita, riwayat osteoporosis, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, dan gaya hidup sedentari.

03 Penyebab

Kolaps vertebra dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang secara umum dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok utama. Pertama, osteoporosis merupakan penyebab tersering kolaps vertebra, di mana penurunan densitas mineral tulang menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah kolaps di bawah tekanan normal. Kedua, neoplasma atau metastasis tulang belakang dapat melemahkan struktur vertebra dan menyebabkan kolaps patologis. Ketiga, infeksi tulang belakang seperti spondilitis atau tuberkulosis spinal (penyakit Pott) dapat merusak korpus vertebra. Keempat, penyakit metabolik tulang seperti penyakit Paget, hiperparatiroidisme, atau defisiensi vitamin D dapat menyebabkan kelemahan tulang. Kelima, penggunaan kortikosteroid jangka panjang (steroid-induced osteoporosis) merupakan faktor risiko signifikan. Keenam, trauma minor atau aktivitas sehari-hari normal pada tulang yang sudah melemahkan dapat memicu kolaps. Ketujuh, kondisi degeneratif seperti osteoartritis berat dapat berkontribusi pada kolaps vertebra.

04 Patofisiologi

Patofisiologi kolaps vertebra melibatkan interaksi kompleks antara berbagai faktor yang mempengaruhi integritas struktural tulang belakang. Pada kondisi osteoporosis, terjadi ketidakseimbangan antara aktivitas osteoklas (sel yang meresorpsi tulang) dan osteoblas (sel yang membentuk tulang), dengan dominasi proses resorpsi. Hal ini menyebabkan penurunan massa tulang dan deteriorasi mikroarsitektur trabekular tulang spongiosa dalam korpus vertebra. Tulang vertebra yang normal memiliki struktur trabekular internal yang menyerupai kisi-kisi (trabecular network) yang memberikan kekuatan kompresi. Pada osteoporosis, penipisan dan hilangnya trabekula ini mengurangi kemampuan vertebra untuk menahan beban. Ketika beban yang diberikan melebihi kapasitas struktural tulang yang tersisa, terjadi kegagalan struktural berupa kolaps atau fraktur kompresi. Pada kolaps vertebra akibat neoplasma, sel-sel tumor menggantikan sumsum tulang normal dan merusak integritas struktural tulang melalui produksi sitokin dan enzim proteolitik. Proses inflamasi kronis pada infeksi tulang belakang menyebabkan destruksi tulang dan kartilago endplate, melemahkan struktur vertebra secara progresif.

05 Gejala Klinis

Manifestasi klinis kolaps vertebra sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik hingga nyeri punggung akut yang hebat. Nyeri punggung merupakan gejala utama yang paling sering dikeluhkan pasien. Karakteristik nyeri biasanya berupa nyeri terlokalisasi di area kolaps vertebra, yang dapat menjalar ke area sekitar tergantung pada saraf yang terlibat. Nyeri umumnya memburuk dengan aktivitas, terutama saat membungkuk, mengangkat benda, atau berdiri dalam waktu lama, dan berkurang dengan posisi berbaring. Pada kolaps vertebra akut, pasien dapat merasakan onset nyeri mendadak yang hebat, sering kali digambarkan seperti 'terdengar bunyi retakan' di punggung. Deformitas spinal dapat terjadi, dengan manifestasi sebagai kifosis (punggung membungkuk ke depan) atau skoliosis. Penurunan tinggi badan merupakan tanda klasik pada kolaps vertebra multipel. Defisit neurologis dapat terjadi jika kolaps menyebabkan kompresi akar saraf atau medula spinalis, dengan gejala berupa parestesia (kesemutan), kelemahan otot, atau bahkan paralisis jika tidak ditangani. Pada kasus kronis, pasien mungkin mengalami keterbatasan mobilitas, gangguan keseimbangan, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.

06 Diagnosis

Diagnosis kolaps vertebra memerlukan pendekatan sistematis yang mencakup anamnesis detail, pemeriksaan fisik komprehensif, dan investigasi pencitraan yang tepat. Anamnesis harus mencakup riwayat nyeri, faktor risiko osteoporosis, penggunaan obat-obatan (terutama kortikosteroid), riwayat trauma, gejala konstitusional (demam, penurunan berat badan), dan riwayat kanker. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi spinal untuk deformitas (kifosis, skoliosis), palpasi untuk mengidentifikasi titik nyeri tekan, dan pemeriksaan neurologis lengkap untuk menilai fungsi motorik, sensorik, dan refleks. Pemeriksaan pencitraan merupakan komponen krusial dalam diagnosis. Foto rontgen tulang belakang (spinal X-ray) dalam posisi lateral dan anterior-posterior dapat menunjukkan penurunan tinggi korpus vertebra, deformitas bikonkaf atau wedge-shaped, dan perubahan sklerotik. Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah modalitas pilihan untuk menilai kompresi medula spinalis, edema tulang, dan membedakan kolaps benigna dari maligna berdasarkan karakteristik sinyal. Computer Tomography (CT) scan memberikan detail struktural tulang yang lebih baik dan berguna untuk perencanaan bedah. Pemeriksaan densitometri tulang (DEXA scan) dilakukan untuk menilai densitas mineral tulang dan mengkonfirmasi osteoporosis. Pemeriksaan laboratorium meliputi kadar kalsium, fosfat, alkaline phosphatase, vitamin D, hormon paratiroid, dan penanda tumor jika dicurigai keganasan.

07 Tatalaksana

Penatalaksanaan kolaps vertebra bersifat multimodal dan disesuaikan dengan etiologi yang mendasari, keparahan gejala, dan kondisi umum pasien. Untuk kolaps vertebra akibat osteoporosis, tatalaksana mencakup pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Terapi farmakologis meliputi bifosfonat (alendronat, risedronat, zoledronat) sebagai lini pertama, denosumab (antibodi monoklonal anti-RANKL), teriparatid atau abaloparatid (analog hormon paratiroid), romosozumab, dan suplemen kalsium serta vitamin D. Untuk kolaps vertebra akut dengan nyeri hebat, tirah baring singkat (2-3 hari) dapat direkomendasikan, diikuti dengan mobilisasi bertahap dengan alat bantu. Korset spinal (brace) dapat memberikan stabilisasi dan mengurangi nyeri pada fase akut. Vertebroplasti dan kifoplasti merupakan prosedur intervensi minimal invasif yang efektif untuk mengurangi nyeri dan memulihkan tinggi vertebra pada kolaps vertebra osteoporotik. Untuk kolaps vertebra akibat neoplasma, tatalaksana melibatkan terapi spesifik terhadap tumor primer, yang dapat mencakup radioterapi, kemoterapi, atau reseksi bedah. Terapi analgesik sesuai tangga nyeri WHO direkomendasikan untuk kontrol nyeri, dengan penggunaan NSAID, parasetamol, opioid lemah, atau opioid kuat sesuai kebutuhan. Rehabilitasi fisik meliputi program latihan untuk memperkuat otot paraspinal, meningkatkan fleksibilitas, dan edukasi postur tubuh yang benar. Pembedahan diindikasikan pada kolaps vertebra dengan defisit neurologis progresif, instabilitas spinal, atau kegagalan terapi konservatif.

08 Prognosis

Prognosis kolaps vertebra sangat bergantung pada etiologi yang mendasari, usia pasien, kondisi kesehatan umum, dan ketepatan tatalaksana. Pada kolaps vertebra osteoporotik yang ditangani dengan tepat, prognosis umumnya baik dengan resolusi nyeri dalam 6-12 minggu pada sebagian besar pasien. Prosedur vertebroplasti dan kifoplasti menunjukkan tingkat keberhasilan tinggi dalam mengurangi nyeri dan memperbaiki kualitas hidup. Namun, risiko kolaps vertebra berulang pada vertebra lain tetap tinggi, terutama pada pasien dengan osteoporosis yang tidak terkontrol. Pada kolaps vertebra akibat neoplasma, prognosis lebih buruk dan sangat bergantung pada stadium dan jenis kanker primer. Kolaps vertebra akibat infeksi memiliki prognosis yang bervariasi tergantung pada agen infeksius dan respons terhadap terapi antimikroba. Pasien dengan kolaps vertebra yang mengalami defisit neurologis persisten memiliki prognosis fungsional yang lebih buruk. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis negatif meliputi usia lanjut, komorbiditas berat, keterlibatan multilevel, deformitas spinal progresif, dan keterlambatan diagnosis serta tatalaksana.

09 Pencegahan

Pencegahan kolaps vertebra terutama difokuskan pada pencegahan dan pengobatan osteoporosis. Asupan kalsium yang adekuat (1000-1200 mg/hari untuk dewasa) dan vitamin D (800-1000 IU/hari) sangat penting untuk kesehatan tulang. Paparan sinar matahari yang cukup secara teratur membantu sintesis vitamin D endogen. Latihan fisik teratur, terutama aktivitas weight-bearing seperti jalan kaki, jogging, dan latihan resistensi, membantu mempertahankan densitas tulang. Penghentian kebiasaan merokok dan pembatasan konsumsi alkohol sangat direkomendasikan karena keduanya berkontribusi pada penurunan densitas tulang. Skrining densitas mineral tulang secara rutin direkomendasikan untuk wanita di atas 65 tahun, pria di atas 70 tahun, dan individu dengan faktor risiko osteoporosis. Penggunaan obat-obatan yang diketahui menyebabkan kehilangan tulang harus direview secara berkala, dan profilaksis farmakologis harus dipertimbangkan pada pasien risiko tinggi. Pencegahan jatuh pada lanjut usia merupakan aspek penting, yang mencakup modifikasi lingkungan rumah, koreksi gangguan penglihatan, dan latihan keseimbangan. Edukasi pasien tentang postur tubuh yang benar dan teknik mengangkat benda yang aman juga berperan dalam pencegahan.

10 Komplikasi

Kolaps vertebra dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang signifikan jika tidak ditangani dengan tepat. Komplikasi akut meliputi nyeri kronis yang persisten meskipun sudah menjalani terapi konservatif, yang dapat严重影响 kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari pasien. Kompresi medula spinalis atau akar saraf merupakan komplikasi serius yang dapat menyebabkan defisit neurologis permanen seperti paresis, paralisis, atau gangguan sfingter. Deformitas spinal progresif, terutama kifosis, dapat berkembang menyebabkan ketidakseimbangan postur, keterbatasan mobilitas, dan gangguan pernapasan restriktif akibat pengurangan volume toraks. Pada kolaps vertebra multipel, pasien dapat mengalami penurunan tinggi badan yang signifikan dan sindrom老太 atau 'dowager's hump'. Komplikasi terkait tatalaksana juga perlu diperhatikan, seperti infeksi atau kebocoran semen pada prosedur vertebroplasti, dan komplikasi bedah seperti perdarahan, infeksi luka operasi, atau kegagalan fusi pada prosedur spinal fusion. Komplikasi psikososial meliputi depresi, kecemasan, dan isolasi sosial akibat keterbatasan fisik dan nyeri kronis. Pada kolaps vertebra akibat keganasan, komplikasi dapat mencakup metastasis lanjut dan deteriorasi sistemik.

11 Kode ICD-10 M48.5

Kode ICD-10 M48.5 digunakan untuk mengklasifikasikan kolaps vertebra yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain. Sistem pengkodean ICD-10 menyediakan beberapa subkategori untuk M48.5 yang memungkinkan identifikasi lokasi anatomis dan konteks klinis encounter. Kode M48.50 tanpa qualifiers menunjukkan kolaps vertebra pada region spinal yang tidak spesifik. Untuk encounter awal fraktur, digunakan kode dengan seventh character 'A' (initial encounter for fracture), seperti M48.55A untuk region lumbar. Seventh character 'D' digunakan untuk encounter subsequent untuk fraktur yang sudah sembuh, sementara 'S' digunakan untuk sequelae atau komplikasi lanjut dari fraktur. Seventh character extensions dalam ICD-10-CM memerlukan pengkodean yang tepat untuk menggambarkan tahap encounter dan kondisi spesifik. Kode tambahan mungkin diperlukan untuk menunjukkan etiologi yang mendasari seperti osteoporosis (M80.- untuk osteoporosis dengan fraktur patologis) atau neoplasma (kode neoplasma yang sesuai). Penggunaan kode yang tepat memerlukan pemahaman mendalam tentang pedoman pengkodean ICD-10 dan dokumentasi klinis yang akurat.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
WHO. (2019). International Classification of Diseases, 10th Revision (ICD-10). Geneva: World Health Organization.
[2]
American Academy of Orthopaedic Surgeons. (2021). Guidelines for Management of Vertebral Compression Fractures.
[3]
Kanis, J.A. et al. (2020). European Guidance for the Diagnosis and Management of Osteoporosis in Postmenopausal Women. Osteoporosis International.
[4]
K中华骨科杂志编辑委员会. (2019). 脊柱骨折诊疗指南. 中华骨科杂志.
[5]
Indonesian Rheumatology Association. (2020). Panduan Tatalaksana Osteoporosis di Indonesia.

🔗 Konten Terkait: M48.5