MerlinDX Artikel Q91.0
https://www.askep3s.org/db23358bb6/artikel/Q91.0
Trisomy 18 (Sindrom Edwards) oleh Non-disjungsi Meiotik: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Prognosis
Photo by PIPE RODRIGUEZ on Pexels
Artikel Klinis ICD-10: Q91.0

Trisomy 18 (Sindrom Edwards) oleh Non-disjungsi Meiotik: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Prognosis

7 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Definisi Trisomy 18
  2. Epidemiologi Trisomy 18
  3. Penyebab dan Mekanisme Non-disjungsi Meiotik
  4. Tanda dan Gejala Trisomy 18
  5. Diagnosis Trisomy 18
  6. Penanganan Trisomy 18
  7. Prognosis Trisomy 18
  8. Referensi

01 Definisi Trisomy 18

Trisomy 18, yang juga dikenal sebagai Sindrom Edwards, adalah suatu kondisi genetik yang ditandai dengan adanya salinan ketiga kromosom 18 pada setiap sel tubuh. Secara normal, manusia memiliki dua salinan kromosom 18 (satu dari ibu dan satu dari ayah). Namun, pada kondisi trisomy 18, terdapat tiga salinan kromosom 18 yang menyebabkan gangguan serius dalam perkembangan tubuh. ICD-10 untuk kondisi ini adalah Q91.0 yang secara spesifik merujuk pada Trisomy 18 akibat non-disjungsi meiotik.

Kondisi ini termasuk dalam kelompok aneuploidi, yaitu kelainan jumlah kromosom yang terjadi akibat kesalahan pada proses pembelahan sel. Dalam konteks non-disjungsi meiotik, kesalahan terjadi saat sel reproduksi (sperma atau sel telur) terbentuk, di mana pasangan kromosom gagal terpisah dengan benar selama meiosis. Hal ini menghasilkan zigot trisomik yang memiliki tiga salinan kromosom 18, bukan dua seperti normalnya.

Trisomy 18 merupakan trisomi autosomal kedua yang paling umum terjadi pada manusia, setelah Trisomy 21 (Sindrom Down). Kelainan ini pertama kali dideskripsikan oleh John H. Edwards pada tahun 1960, sehingga dinamakan Sindrom Edwards untuk menghormatinya.

02 Epidemiologi Trisomy 18

Trisomy 18 terjadi pada sekitar 1 dari 5.000 kelahiran hidup, menjadikannya kondisi kromosom yang relatif jarang namun signifikan dalam dunia medis. Angka ini menunjukkan bahwa setiap tahun, ribuan bayi di seluruh dunia dilahirkan dengan kondisi ini. Perlu dicatat bahwa angka kejadian sebenarnya jauh lebih tinggi pada tahap kehamilan, karena banyak janin dengan trisomy 18 yang tidak bertahan hingga lahir dan mengalami keguguran spontan.

Berdasarkan data penelitian yang melibatkan 171 kasus, sumber kesalahan meiotik dapat diidentifikasi sebagai berikut: kesalahan meiotik paternal terjadi pada 7% kasus, sementara 93% kasus disebabkan oleh non-disjungsi yang terjadi pada ibu. Dari sudut pandang tahap meiosis, 16% kasus terjadi pada meiosis I (MI), 31% pada meiosis II (MII), dan 53% sisanya terjadi pada mitosis pasca-zigot atau tahap yang tidak dapat ditentukan.

Usia ibu merupakan faktor risiko utama yang meningkatkan kemungkinan memiliki anak dengan trisomy 18. Semakin tua usia ibu saat hamil, semakin tinggi risiko terjadinya non-disjungsi meiotik. Meskipun demikian, wanita dari segala usia tetap memiliki kemungkinan untuk memiliki anak dengan kondisi ini, sehingga skrining prenatal tetap direkomendasikan untuk semua kehamilan.

03 Penyebab dan Mekanisme Non-disjungsi Meiotik

Penyebab utama Trisomy 18 adalah non-disjungsi meiotik, yaitu kegagalan kromosom untuk terpisah dengan benar selama proses pembelahan sel reproduksi. Meiosis adalah proses pembelahan sel khusus yang menghasilkan sel gamet (sel sperma dan sel telur) dengan jumlah kromosom setengah dari sel normal. Pada meiosis normal, setiap pasangan kromosom homolog harus terpisah dan pergi ke sel anak yang berbeda. Namun, pada non-disjungsi, pasangan kromosom gagal terpisah, sehingga satu sel anak mendapatkan dua kromosom dan sel anak lainnya tidak mendapatkan kromosom sama sekali.

Dalam konteks Trisomy 18, non-disjungsi paling sering terjadi pada sel telur ibu (93% kasus). Proses ini dapat terjadi pada dua tahap utama: Meiosis I (MI) dan Meiosis II (MII). Pada Meiosis I, kromosom homolog gagal terpisah, sedangkan pada Meiosis II, kromatid saudara gagal terpisah. Kedua mekanisme ini menghasilkan sel gamet dengan jumlah kromosom yang tidak normal.

Ketika sel gamet yang mengandung kromosom 18 ekstra bertemu dengan sel gamet normal selama pembuahan, mereka membentuk zigot trisomik dengan tiga salinan kromosom 18. Materi genetik berlebih ini mengganggu jalannya perkembangan normal, menyebabkan berbagai kelainan struktural dan fungsional pada organ-organ tubuh.

Dalam kasus yang sangat jarang (sekitar 1-2%), trisomy 18 dapat diwariskan. Hal ini dapat terjadi jika salah satu orang tua memiliki susunan kromosom yang tidak seimbang, seperti translokasi robertsonian, di mana bagian dari kromosom 18 menempel pada kromosom lain.

04 Tanda dan Gejala Trisomy 18

Trisomy 18 menghasilkan berbagai tanda dan gejala yang kompleks, mempengaruhi hampir setiap sistem organ tubuh. Manifestasi klinis dapat bervariasi dalam tingkat keparahan, namun secara umum mencakup beberapa ciri khas yang sering ditemukan pada individu dengan kondisi ini.

Pertumbuhan sebelum lahir (intrauterin) biasanya terhambat, yang dikenal sebagai intrauterine growth retardation (IUGR). Bayi yang lahir dengan trisomy 18 umumnya memiliki berat badan lahir yang rendah dan ukuran tubuh yang lebih kecil dari normal. Pertumbuhan ini terus berlanjut dengan lambat setelah kelahiran.

Kelainan kraniofasial yang khas meliputi kepala kecil (mikrosefali), rahang dan mulut kecil (mikrognatia), serta bentuk kepala yang abnormal. Mata mungkin tampak kecil atau memiliki jarak yang lebar. Telinga mungkin terletak lebih rendah dari posisi normal, dan terdapat lipatan kulit yang berlebihan di leher.

Kelainan pada tangan dan kaki sangat khas, dengan kepalan tangan yang rapat dan jari-jari yang menumpuk, di mana jari telunjuk dan jari manis saling tumpang tindih. Kaki mungkin memiliki bentuk "rocker-bottom" dengan tumit yang membulat. Jari kaki juga mungkin bersatu sebagian atau memiliki kelainan bentuk.

Defek jantung kongenital hadir pada hampir semua individu dengan trisomy 18. Jenis kelainan jantung yang paling umum meliputi defek septum ventrikel (VSD), defek septum atrium (ASD), patent ductus arteriosus (PDA), dan koarktasio aorta. Kelainan jantung ini sering kali merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas.

Kelainan sistem organ lainnya termasuk hernia diafragmatik, kelainan ginjal (seperti ginjal polikistik atau horseshoe kidney), omphalocele (usus yang menonjol melalui pusar), dan masalah gastrointestinal. Otak mungkin memiliki struktur yang tidak normal, dan banyak individu mengalami disabilitas intelektual yang mendalam.

05 Diagnosis Trisomy 18

Diagnosis Trisomy 18 dapat dilakukan melalui berbagai metode, baik secara prenatal (sebelum kelahiran) maupun postnatal (setelah kelahiran). Pendekatan diagnostik yang komprehensif sangat penting untuk memberikan informasi yang akurat kepada orang tua dan tim medis.

Skrining prenatal non-invasif (NIPT) dapat dilakukan dengan menganalisis DNA janin yang bebas sel dalam darah ibu. Tes ini dapat mendeteksi risiko tinggi trisomy 18 dengan akurasi yang tinggi, meskipun hasil positif memerlukan konfirmasi lebih lanjut dengan tes diagnostik.

Pemeriksaan USG (ultrasonografi) prenatal dapat menunjukkan tanda-tanda awal trisomy 18, seperti pertumbuhan janin yang terhambat, kelainan jantung, kepala kecil, rahang kecil, kepalan tangan dengan jari yang menumpuk, dan defek dinding perut. Pemeriksaan USG detail pada trimester pertama dan kedua dapat mendeteksi sekitar 70-90% kasus.

Untuk konfirmasi definitif, diperlukan tes diagnostik invasif seperti amniosentesis atau sampling vilus korionik (CVS). Amniosentesis dilakukan dengan mengambil sampel cairan amnion, sedangkan CVS mengambil sampel jaringan plasenta. Kedua tes ini memungkinkan analisis kariotipe untuk menentukan jumlah kromosom secara pasti.

Setelah kelahiran, diagnosis dapat dikonfirmasi melalui analisis kariotipe dari sampel darah. Pemeriksaan fisik yang komprehensif juga penting untuk mengidentifikasi semua manifestasi klinis dan kelainan terkait. Ekokardiogram, USG ginjal, dan pemeriksaan lainnya mungkin diperlukan untuk menilai keterlibatan organ.

06 Penanganan Trisomy 18

Penanganan Trisomy 18 bersifat suportif dan disesuaikan dengan kebutuhan individual setiap pasien. Tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan kondisi dasar, yaitu kelebihan kromosom 18. Namun, intervensi medis yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup dan, dalam beberapa kasus, memperpanjang harapan hidup.

Manajemen kardiovaskular merupakan prioritas utama karena kelainan jantung sangat umum terjadi. Tim kardiovaskular akan mengevaluasi dan memantau fungsi jantung secara teratur. Beberapa kelainan jantung mungkin memerlukan intervensi bedah, namun keputusan untuk melakukan operasi harus dipertimbangkan dengan hati-hati mengingat prognosis keseluruhan kondisi ini.

Nutrisi dan pertumbuhan perlu dipantau secara ketat. Banyak bayi dengan trisomy 18 mengalami kesulitan makan dan memerlukan dukungan nutrisi melalui selang nasogastrik atau gastrostomi. Konsultasi dengan ahli gizi dan gastroenterologi sering diperlukan untuk memastikan asupan kalori dan nutrisi yang memadai.

Manajemen pernapasan juga penting karena banyak individu dengan trisomy 18 mengalami masalah pernapasan, termasuk apnea dan infeksi saluran napas berulang. Posisi tidur yang tepat, fisioterapi dada, dan penggunaan alat bantu pernapasan mungkin diperlukan.

Terapi suportif lainnya meliputi terapi okupasi dan fisik untuk memaksimalkan fungsi motorik, terapi wicara jika memungkinkan, dan manajemen nyeri. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan ahli genetika, kardiolog, gastroenterolog, pulmonolog, dan spesialis lainnya sangat penting untuk memberikan perawatan holistik.

07 Prognosis Trisomy 18

Prognosis Trisomy 18 sangat bervariasi dan sebagian besar bergantung pada tingkat keparahan kelainan yang menyertainya, terutama kelainan jantung. Secara umum, kondisi ini memiliki prognosis yang serius dengan tingkat kelangsungan hidup yang rendah.

Banyak janin dengan trisomy 18 tidak bertahan hingga lahir dan mengalami keguguran spontan pada trimester pertama atau kedua kehamilan. Angka kematian prenatal sangat tinggi, menunjukkan bahwa kondisi ini sering tidak kompatibel dengan kehidupan di luar rahim.

Di antara bayi yang lahir hidup, sekitar 50% tidak bertahan lebih dari minggu pertama kehidupan. Hanya 5-10% anak dengan trisomy 18 yang berhasil bertahan hidup melewati usia satu tahun. Kelangsungan hidup jangka panjang sangat jarang, dan individu yang bertahan biasanya memiliki disabilitas intelektual yang parah dan berbagai masalah kesehatan kronis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi jenis trisomy (non-mosaik vs mosaik), ada tidaknya kelainan jantung mayor, beratnya kelainan organ lainnya, dan respons terhadap intervensi medis. Individu dengan bentuk mosaik dari trisomy 18, di mana tidak semua sel memiliki kromosom ekstra, mungkin memiliki prognosis yang sedikit lebih baik.

Konseling genetik sangat penting bagi keluarga yang memiliki anak dengan trisomy 18. Orang tua perlu memahami bahwa risiko kekambuhan untuk kehamilan berikutnya umumnya rendah (kurang dari 1%) untuk kasus non-mosaik, meskipun risiko meningkat seiring usia ibu.

08 Referensi

1. Parental origin of the extra chromosome 18 in Edwards syndrome. PubMed NCBI. PMID: 8766143. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8766143/

2. Trisomy 18. MedlinePlus Genetics. https://medlineplus.gov/genetics/condition/trisomy-18/

3. Trisomy 18. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Trisomy_18
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
. Parental origin of the extra chromosome 18 in Edwards syndrome
[2]
. Trisomy 18: MedlinePlus Genetics
[3]
. Trisomy 18 - Wikipedia

🔗 Konten Terkait: Q91.0

Pathway: Trisomi 18 (Q91.0) menuju SDKI