MerlinDX Artikel A68.9
https://www.askep3s.org/dfdf8e30a9/artikel/A68.9
Artikel Klinis ICD-10: A68.9

A68.9: Relapsing Fever, Unspecified - Demam Kambuh yang Tidak Spesifik

6 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian Relapsing Fever
  2. Etiologi dan Penyebab
  3. Epidemiologi
  4. Gejala Klinis
  5. Diagnosis
  6. Diagnosis Banding
  7. Tatalaksana dan Pengobatan
  8. Pencegahan
  9. Komplikasi
  10. Prognosis
  11. Klasifikasi Relapsing Fever

01 Pengertian Relapsing Fever

Relapsing fever atau demam kambuh adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri genus Borrelia. Penyakit ini ditandai dengan episode demam berulang yang terjadi secara periodik, dengan interval waktu tertentu di antara episode tersebut. Istilah 'unspecified' atau tidak spesifik dalam kode ICD-10 A68.9 menunjukkan bahwa penyakit ini didiagnosis tanpa spesifikasi lebih lanjut mengenai jenis atau sumber infeksi yang jelas. Relapsing fever merupakan penyakit yang ditularkan melalui vektor, baik melalui kutu (tick) maupun kutu badan (louse), dan dapat menyerang siapa saja yang terpapar pada kondisi lingkungan yang sesuai untuk vektor penularnya.

01 Etiologi dan Penyebab

Demam kambuh disebabkan oleh infeksi bakteri dari genus Borrelia, yang merupakan bakteri spirochete. Terdapat beberapa spesies Borrelia yang dapat menyebabkan relapsing fever, antara lain Borrelia recurrentis yang ditularkan melalui kutu badan (Pediculus humanus corporis), Borrelia duttoni dan Borrelia hermsii yang ditularkan melalui gigitan kutu lunak (soft ticks), serta Borrelia persica dan Borrelia latyschewii. Bakteri Borrelia memiliki kemampuan unik untuk mengubah struktur permukaan antigeniknya secara periodik, yang menyebabkan sistem imun tubuh tidak dapat mengenali dan mengeliminasi bakteri secara efektif. Proses perubahan antigen ini yang bertanggung jawab atas pola demam yang khas bersifat kambuhan pada penyakit ini. Bakteri ini masuk ke dalam aliran darah setelah gigitan vektor dan berkembang biak dengan cepat, menyebabkan respons inflamasi sistemik yang manifestasi sebagai episode demam akut.

01 Epidemiologi

Relapsing fever memiliki distribusi global dengan pola epidemiologi yang berbeda-beda tergantung pada jenis vektor penularnya. Bentuk yang ditularkan melalui kutu badan (louse-borne relapsing fever) umumnya ditemukan di daerah dengan sanitasi buruk dan kepadatan penduduk tinggi, seperti di Afrika Timur, Ethiopia, dan beberapa wilayah di Asia. Sementara itu, bentuk yang ditularkan melalui kutu (tick-borne relapsing fever) lebih banyak ditemukan di Amerika Utara, Afrika, dan beberapa wilayah di Eropa. Penyakit ini sering terjadi pada kondisiCrowding dan kebersihan yang buruk, serta pada pelancong yang mengunjungi daerah endemik. Insiden tertinggi biasanya terjadi pada kelompok usia produktif yang tinggal di daerah kumuh atau pengungsian dengan kondisi sanitasi yang tidak memadai.

01 Gejala Klinis

Gejala relapsing fever umumnya muncul secara akut setelah masa inkubasi 4-18 hari. Gejala utama adalah episode demam tinggi yang dapat mencapai 39-40°C atau lebih, disertai menggigil, sakit kepala hebat, mialgia (nyeri otot), dan arthralgia (nyeri sendi). Gejala khas lainnya termasuk mual, muntah, nyeri abdomen, dan batuk kering. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan konjungtiva ikterik (kuning pada mata), hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa), serta ruam makulopapular pada tubuh. Episode demam biasanya berlangsung selama 3-7 hari, kemudian diikuti periode afebril selama 7-14 hari sebelum episode demam berikutnya muncul. Jumlah episode demam dapat bervariasi antara 1-10 kali, dengan intensitas yang cenderung menurun pada episode-episode berikutnya. Pada kasus berat, dapat terjadi manifestasi neurologis seperti meningitis, konfusi, dan gangguan kesadaran.

01 Diagnosis

Diagnosis relapsing fever didasarkan pada kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis yang penting meliputi riwayat perjalanan ke daerah endemik, paparan terhadap vektor, dan pola demam yang khas bersifat kambuhan. Pemeriksaan laboratorium yang dapat membantu diagnosis meliputi pemeriksaan mikroskopis darah tebal dan tipis untuk melihat adanya spirochete Borrelia pada saat episode demam. Pewarnaan Giemsa atau Wright digunakan untuk visualisasi bakteri. Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) dapat dilakukan untuk identifikasi spesies Borrelia secara spesifik. Pemeriksaan serologi juga dapat dilakukan, meskipun interpretasinya perlu hati-hati karena adanya reaksi silang dengan penyakit spirochete lainnya seperti sifilis. Pada pemeriksaan laboratorium rutin, dapat ditemukan leukositosis, trombositopenia, dan peningkatan enzim hati.

01 Diagnosis Banding

Beberapa kondisi yang perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding relapsing fever meliputi malaria yang disebabkan oleh Plasmodium vivax atau Plasmodium falciparum karena pola demam yang dapat berulang. Demam tifoid juga perlu dipertimbangkan karena gejalanya yang serupa meliputi demam tinggi, sakit kepala, dan gejala gastrointestinal. Leptospirosis dapat menunjukkan gejala yang tumpang tindih dengan relapsing fever. Demam berdarah dengue dan infeksi virus lainnya yang menyebabkan demam tinggi juga perlu disingkirkan. Infeksi rickettsia seperti typhus dan scrub typhus juga memiliki manifestasi klinis yang mirip. Selain itu, infeksi bakteri sistemik lainnya seperti sepsis dan brucellosis juga perlu dipertimbangkan dalam diagnosis diferensial.

01 Tatalaksana dan Pengobatan

Pengobatan relapsing fever primarily menggunakan antibiotik yang efektif terhadap Borrelia. Terapi lini pertama adalah doxycycline 100 mg dua kali sehari selama 10-14 hari untuk dewasa, atau alternatifnya adalah tetracycline. Pada pasien yang tidak dapat menggunakan tetracycline seperti ibu hamil atau anak-anak, dapat diberikan erythromycin atau azithromycin. Untuk kasus berat atau komplikasi neurologis, dapat dipertimbangkan penggunaan penisilin G kristalin intravena. Terapi suportif juga penting meliputi rehidrasi yang adekuat, kontrol demam dengan antipiretik seperti paracetamol, dan istirahat yang cukup. Pada kasus dengan komplikasi berat seperti syok atau gagal organ, perlu dilakukan perawatan di unit perawatan intensif dengan monitoring ketat. Penting untuk diperhatikan bahwa reaksi Jarisch-Herxheimer dapat terjadi pada 30-50% pasien setelah memulai terapi antibiotik, yang ditandai dengan eksaserbasi gejala akibat pelepasan endotoksin.

01 Pencegahan

Pencegahan relapsing fever berfokus pada pengendalian vektor dan perlindungan individu dari gigitan vektor. Pengendalian vektor meliputi peningkatan sanitasi lingkungan, pemberantasan kutu dan kutu badan dengan insektisida, serta perbaikan kondisi perumahan yang overcrowded. Untuk perlindungan individu, disarankan menggunakan pakaian tertutup dan insektisida pengusir serangga (repellent) yang mengandung DEET pada area yang terbuka. Pada daerah endemik, program kesehatan masyarakat yang meliputi pendidikan masyarakat tentang penyakit ini dan cara penularannya sangat penting. Untuk pelancong ke daerah endemik, disarankan untuk menghindari akomodasi dengan sanitasi buruk dan menggunakan kelambu saat tidur. Pengawasan dan deteksi dini kasus juga merupakan bagian penting dari strategi pencegahan untuk mencegah outbreak.

01 Komplikasi

Relapsing fever dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik. Komplikasi neurologis merupakan yang paling dikhawatirkan, meliputi meningitis, ensefalitis, dan gangguan saraf kranial yang dapat menyebabkan kebutaan atau tuli. Komplikasi kardiologis dapat berupa miokarditis dan aritmia jantung. Komplikasi hematologi meliputi perdarahan akibat trombositopenia berat dan koagulopati. Komplikasi hepatik berupa hepatitis dan ikterus yang berat. Pada ibu hamil, relapsing fever dapat menyebabkan abortus, persalinan prematur, atau infeksi kongenital. Komplikasi pulmoner seperti pneumonia aspirasi dapat terjadi pada pasien dengan kesadaran menurun. Syok septik dan gagal organ multipel dapat terjadi pada kasus yang berat dan tidak ditangani dengan tepat.

01 Prognosis

Prognosis relapsing fever umumnya baik jika diagnosis ditegakkan secara dini dan terapi antibiotik diberikan dengan tepat. Angka kematian pada bentuk louse-borne relapsing fever yang tidak ditangani dapat mencapai 30-40%, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan individu dengan kondisi immunocompromised. Dengan pengobatan yang adekuat, angka kematian dapat diturunkan menjadi kurang dari 5%. Prognosis juga bergantung pada adanya komplikasi, di mana komplikasi neurologis dan kardiovaskular dapat meninggalkan sequelae jangka panjang. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis buruk meliputi keterlambatan diagnosis, kondisi immunocompromised, usia lanjut, dan infeksi dengan beban bakteri yang tinggi. Prognosis umumnya lebih baik pada bentuk tick-borne relapsing fever dibandingkan dengan bentuk louse-borne.

01 Klasifikasi Relapsing Fever

Relapsing fever dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria. Berdasarkan vektor penularnya, penyakit ini dibedakan menjadi dua kelompok utama: Louse-borne relapsing fever (LBRF) yang disebabkan oleh Borrelia recurrentis dan ditularkan melalui kutu badan (Pediculus humanus corporis), serta Tick-borne relapsing fever (TBRF) yang disebabkan oleh berbagai spesies Borrelia dan ditularkan melalui gigitan kutu lunak (Ornithodoros spp). Berdasarkan lokasi geografis, TBRF dapat dibagi lagi menjadi beberapa subtipe regional seperti American TBRF (Borrelia hermsii), African TBRF (Borrelia duttoni), dan Asian TBRF (Borrelia persica). Kode ICD-10 A68.9 digunakan ketika penyakit didiagnosis sebagai relapsing fever tetapi tanpa spesifikasi lebih lanjut mengenai jenis atau lokasi geografis yang jelas, sehingga klasifikasi yang lebih spesifik tidak dapat ditentukan.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
World Health Organization. (2023). Relapsing Fever - Fact Sheet.
[2]
CDC. (2022). Tickborne Relapsing Fever.
[3]
Dworkin, M.S., et al. (2021). The Relapsing Fevers. In: Hunter's Tropical Medicine and Emerging Infectious Diseases.
[4]
Cutler, S.J. (2020). Relapsing Fever - A Forgotten Disease. Journal of Infection.
[5]
Bhat, R., et al. (2019). Louse-Borne Relapsing Fever. Current Infectious Disease Reports.

🔗 Konten Terkait: A68.9

Pathway: A68.9 Relapsing Fever & SDKI