MerlinDX Artikel M33.9
https://www.askep3s.org/e82f706ffd/artikel/M33.9
Artikel Klinis ICD-10: M33.9

M33.9: Dermatopolymyositis, Tidak Spesifik

6 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian Dermatopolymyositis
  2. Epidemiologi
  3. Penyebab dan Faktor Risiko
  4. Patofisiologi
  5. Gejala Klinis
  6. Diagnosis
  7. Tatalaksana
  8. Prognosis
  9. Referensi

01 Pengertian Dermatopolymyositis

Dermatopolymyositis (DPM) adalah penyakit autoimun sistemik yang ditandai oleh peradangan otot skelet (polimiositis) dan kulit (dermatomiositis). Kode ICD-10 M33.9 merujuk pada dermatopolymyositis yang tidak spesifik, artinya kondisi ini tidak dapat diklasifikasikan lebih lanjut ke dalam subtipe tertentu atau keterlibatan organnya tidak dapat ditentukan secara pasti. Dermatopolymyositis termasuk dalam kelompok penyakit mioinflamasi yang jarang terjadi, dengan spektrum klinis yang luas mulai dari bentuk klasik hingga varian atipik. Pada kasus M33.9, diagnosis ditegakkan berdasarkan temuan klinis dan laboratorium yang mendukung adanya proses autoimun terhadap otot dan kulit, namun belum memenuhi kriteria untuk klasifikasi yang lebih spesifik seperti dermatomiositis klasik atau polimiositis murni. Kondisi ini memerlukan evaluasi menyeluruh untuk menyingkirkan penyebab sekunder dan menentukan apakah ada keterlibatan organ lain seperti paru, jantung, atau gastrointestinal.

01 Epidemiologi

Dermatopolymyositis memiliki insidensi tahunan sekitar 5-10 kasus per juta penduduk. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria dengan rasio sekitar 2:1. Peak onset untuk wanita adalah pada dekade ke-5 kehidupan, sedangkan pada pria lebih sering terjadi pada dekade ke-6 dan ke-7. Varian tidak spesifik dari dermatopolymyositis (M33.9) menyumbang sekitar 10-15% dari seluruh kasus mioinflamasi. Distribusi geografis menunjukkan variasi global dengan insidensi lebih tinggi di negara-negara Nordik. Faktor lingkungan seperti paparan sinar ultraviolet, infeksi virus, dan merokok telah dikaitkan dengan peningkatan risiko. Pada populasi Asia, terdapat kecenderungan insidensi yang lebih tinggi dibandingkan populasi Kaukasia. Dermatopolymyositis dapat terjadi pada semua kelompok usia termasuk anak-anak (juvenile dermatopolymyositis) dan lansia, dengan manifestasi klinis yang berbeda antar kelompok usia.

01 Penyebab dan Faktor Risiko

Etiologi dermatopolymyositis belum sepenuhnya dipahami, namun dipercaya merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor genetik dan lingkungan yang memicu respons autoimun. Faktor genetik yang terlibat meliputi gen HLA (Human Leukocyte Antigen) kelas I dan II, terutama HLA-DRB1*03, HLA-DQA1*05, dan HLA-B*08 yang meningkatkan risiko penyakit. Faktor lingkungan yang berperan sebagai pemicu meliputi infeksi virus (coxsackievirus, parvovirus B19, hepatitis B dan C, HIV), paparan sinar ultraviolet yang berlebihan, merokok, dan penggunaan obat-obatan tertentu seperti statin, hydroxyurea, dan checkpoint inhibitors. Mekanisme autoimun yang mendasari melibatkan produksi autoantibodi terhadap antigen otot seperti miosin, actin, dan myosin-binding protein C, serta autoantibodi terhadap antigen sitosolik seperti SRP (Signal Recognition Particle) dan anti-Jo-1. Pada kasus M33.9, penyebab spesifik sering tidak dapat diidentifikasi dan dikategorikan sebagai idiopatik.

01 Patofisiologi

Patofisiologi dermatopolymyositis melibatkan proses inflamasi autoimun yang menyerang otot skelet dan kulit melalui mekanisme humoral dan seluler. Pada komponen seluler, terjadi infiltrasi sel T CD4+ dan CD8+ sitotoksik ke dalam endomisium otot, menyebabkan kerusakan serat otot secara langsung. Sel T CD8+ mengenali dan menyerang miofiber yang mengekspresikan molekul MHC kelas I secara berlebihan. Komponen humoral melibatkan deposisi kompleks imun pada pembuluh darah mikro otot, menyebabkan aktivasi komplemen dan kerusakan vaskular. C5b-9 membrane attack complex (MAC) ditemukan pada pembuluh darah mikro otot dan berperan dalam patogenesis. Pada kulit, terjadi perubahan vaskular dengan dilatasi kapiler, degenerasi vakuol pada sel basal epidermis, dan infiltrat inflamasi perivaskular. Sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1, IL-6, dan interferon-α/β berperan dalam mempertahankan respons inflamasi. Pada kasus M33.9, pola inflamasi dapat bervariasi dan tidak menunjukkan karakteristik spesifik dari dermatomiositis atau polimiositis murni.

01 Gejala Klinis

Manifestasi klinis dermatopolymyositis sangat bervariasi, tergantung pada subtype dan organ yang terlibat. Gejala muskuloskeletal meliputi kelemahan otot proksimal simetris yang bersifat progresif, mengenai otot panggul, paha, bahu, dan lengan atas. Pasien mengalami kesulitan bangkit dari posisi duduk, naik tangga, mengangkat tangan ke atas, dan menyisir rambut. Nyeri otot (mialgia) dapat terjadi pada sekitar 50% kasus. Gejala kulit meliputi rash heliotropik (eritema ungu pada kelopak mata), papul Gottron (eritema skuamosa di atas sendi metacarpophalangeal dan interphalangeal), signo shawl (eritema pada punggung dan bahu), dan V-sign (eritema pada area胸前). Gejala sistemik meliputi demam, malaise, penurunan berat badan, dan fatigue. Keterlibatan pulmoner dapat bermanifestasi sebagai pneumonitis interstisial, aspirasi akibat disfagia, atau kelemahan otot respirasi. Keterlibatan kardiovaskular meliputi miokarditis, aritmia, dan gagal jantung. Keterlibatan gastrointestinal berupa disfagia, gastroparesis, dan kolitis. Pada M33.9, manifestasi dapat bersifat overlap dengan fitur dari beberapa subtipe atau tidak memenuhi kriteria untuk klasifikasi spesifik.

01 Diagnosis

Diagnosis dermatopolymyositis M33.9 didasarkan pada kriteria klasifikasi yang dimodifikasi, kombinasi temuan klinis, laboratorium, elektromiografi, dan histopatologi. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan enzim otot (CK, LDH, aldolase, AST, ALT) pada sekitar 70-90% kasus aktif. Autoantibodi yang dapat ditemukan meliputi anti-Mi-2, anti-Jo-1, anti-SRP, anti-MDA5, anti-TIF1-γ, anti-NXP-2, dan anti-SAE. Elektromiografi (EMG) menunjukkan pola miopatik dengan potensial motor unit pendek, polifasik, dan fibrilasi spontan. MRI otot dapat mendeteksi edema otot dan atrofi, berguna untuk mengidentifikasi lokasi biopsi. Biopsi otot menunjukkan infiltrat inflamasi perivaskular dan perimisial, degenerasi dan regenerasi serat otot, serta atrofi perifasikeral. Biopsi kulit menunjukkan degenerasi vakuol epidermal, nekrosis sel basal, dan infiltrat limfositik perivaskular. Evaluasi untuk keterlibatan organ lain meliputi fungsi paru (spirometri, DLCO, CT-scan dada), fungsi jantung (EKG, ekokardiografi, troponin, BNP), dan evaluasi disfagia (manometri esofagus, video fluoroscopy). Pada M33.9, diagnosis mungkin tidak memenuhi seluruh kriteria untuk subtipe spesifik.

01 Tatalaksana

Tatalaksana dermatopolymyositis M33.9 bertujuan untuk mengontrol inflamasi, mencegah kerusakan organ, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Terapi lini pertama adalah kortikosteroid sistemik seperti prednison 0,5-1 mg/kgBB/hari selama 4-8 minggu, kemudian diturunkan bertahap. Pada kasus berat atau yang tidak responsif, dapat digunakan pulse methylprednisolone 1 gram/hari selama 3 hari. Agen imunosupresif yang digunakan sebagai steroid-sparing agent meliputi methotrexate (15-25 mg/minggu), azathioprine (2-3 mg/kgBB/hari), mycophenolate mofetil (2-3 gram/hari), dan cyclosporine. Untuk penyakit yang refrakter, dapat diberikan intravenous immunoglobulin (IVIG) 2 g/kgBB per bulan, rituximab, atau agen biologis lainnya. Terapi suportif meliputi fisioterapi untuk mencegah kontraktur dan mempertahankan fungsi otot, proteksi matahari untuk manifestasi kulit, dan rehabilitasi. Monitoring teratur diperlukan untuk menilai respons terapi dan mendeteksi efek samping obat. Pada kasus dengan keterlibatan organ vital seperti pneumonitis interstisial atau miokarditis, diperlukan pendekatan agresif dengan kombinasi imunosupresan.

01 Prognosis

Prognosis dermatopolymyositis M33.9 sangat bervariasi tergantung pada subtipe, keterlibatan organ, dan respons terhadap terapi. Dengan terapi yang tepat, sebagian besar pasien mengalami perbaikan fungsi otot dalam 3-6 bulan pertama. Namun, sekitar 20-30% pasien mengalami kekambuhan dan memerlukan penyesuaian terapi. Faktor prognosa buruk meliputi usia lanjut saat onset, keterlibatan jantung (miokarditis, aritmia), keterlibatan pulmoner (pneumonitis interstisial, hipertensi pulmoner), disfagia berat, dan kanker yang mendasari. Mortalitas meningkat pada pasien dengan komplikasi sistemik, terutama pneumonitis interstisial dan penyakit kardiovaskular. Angka kelangsungan hidup 5 tahun telah meningkat dari 60-70% menjadi 80-90% dengan kemajuan terapi. Pada kasus M33.9, prognosis bergantung pada manifestasi spesifik yang muncul dan respons terhadap terapi imunosupresif. Pemantauan jangka panjang diperlukan untuk mendeteksi kekambuhan dan komplikasi tardif.

01 Referensi

1. Lundberg IE, Fujimoto M, Vencovsky J, et al. Idiopathic inflammatory myopathies. Nat Rev Dis Primers. 2021;7(1):86.
2. Selva-O'Callaghan A, Pinal-Fernandez I, Trallero-Araguas E, et al. Classification and management of adult inflammatory myopathies. Lancet Neurol. 2018;17(9):816-828.
3. Dalakas MC. Inflammatory muscle diseases. N Engl J Med. 2015;372(18):1734-1747.
4. Marie I. Morbidity and mortality in adult polymyositis and dermatomyositis. Curr Rheumatol Rep. 2012;14(3):275-285.
5. Lundberg IE, de Visser M, Werth VP. Classification of myositis. Nat Rev Rheumatol. 2018;14(5):269-278.
6. Tiniakou E, Mammen AL. Idiopathic inflammatory myopathies: current insights and future horizons. J Allergy Clin Immunol Pract. 2021;9(1):149-158.
7. Oldroyd A, Sergeant J, New P, et al. The incidence, prevalence and survival of systemic sclerosis and dermatomyositis in the UK. Rheumatology (Oxford). 2021;60(5):2285-2294.
8. DeWane ME, Waldman R, Lu J. Dermatomyositis: Clinical features and pathogenesis. J Am Acad Dermatol. 2020;82(2):267-281.
9. Marco JL, Collins BF. Dermatomyositis and polymyositis. Med Clin North Am. 2021;105(2):223-236.
10. Findlay AR, Goyal NA, Mozaffar T. An overview of polymyositis and dermatomyositis. Muscle Nerve. 2015;51(5):638-656.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: M33.9

Pathway: Dermatopolymyositis (M33.9) & SDKI