MerlinDX โ€บ Artikel โ€บ D60.9
https://www.askep3s.org/e856afd0cd/artikel/D60.9
Aplasia Sel Merah Murni Didapat (Acquired Pure Red Cell Aplasia): Tinjauan Komprehensif
Photo by turek on Pexels
Artikel Klinis ICD-10: D60.9

Aplasia Sel Merah Murni Didapat (Acquired Pure Red Cell Aplasia): Tinjauan Komprehensif

5 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

๐Ÿ“‹ Daftar Isi

  1. Bagian 1
  2. Bagian 2
  3. Bagian 3
  4. Bagian 4
  5. Bagian 5
  6. Bagian 6
  7. Bagian 7
  8. Bagian 8
  9. Bagian 9
  10. Bagian 10
  11. Bagian 11
  12. Bagian 12
  13. Bagian 13
  14. Bagian 14
  15. Bagian 15
  16. Bagian 16
  17. Bagian 17
  18. Bagian 18
  19. Bagian 19
  20. Bagian 20
  21. Bagian 21
  22. Bagian 22
  23. Bagian 23
  24. Bagian 24
  25. Bagian 25
  26. Bagian 26
  27. Bagian 27
  28. Bagian 28
  29. Bagian 29
  30. Bagian 30
  31. Bagian 31
  32. Bagian 32
  33. Bagian 33
  34. Bagian 34
  35. Bagian 35

01

Aplasia sel merah murni didapat atau <em>Acquired Pure Red Cell Aplasia</em> (PRCA) merupakan kelainan hematologi yang jarang terjadi, ditandai dengan kegagalan progresif dalam produksi sel darah merah (eritrosit) di sumsum tulang. Kondisi ini diklasifikasikan dalam ICD-10 dengan kode D60.9 dan ั…ะฐั€ะฐะบั‚ะตั€ะธะทัƒะตั‚ัั normochromic anemia yang parah dengan retikulositopenia yang signifikan. Berbeda dengan anemia aplastik yang mengenai semua lini sel darah, PRCA hanya mempengaruhi lini eritroid secara selektif, menjadikan kondisi ini unik dalam spektrum penyakit sumsum tulang.

02

Definisi dan Klasifikasi

03

Aplasia sel merah murni didapat didefinisikan sebagai sindrom klinis yang ditandai dengan anemia normositik normokromik berat, retikulositopenia absolut, dan hipoplasia atau aplasia lini eritroid pada pemeriksaan aspirasi sumsum tulang dengan sel-sel myeloid dan megakariosit yang tetap normal atau relatif utuh. Klasifikasi WHO 2016 untuk tumor organ hematopoietik dan limfoid menempatkan PRCA dalam kategori gangguan proliferasi sel darah merah murni, dengan subklasifikasi mencakup PRCA acquired (D60.0-D60.9), PRCA kongenital (D61.01), dan PRCA yang diinduksi obat.

04

Epidemiologi

05

PRCA acquired merupakan penyakit hematologi yang sangat jarang dengan insidensi tahunan yang diperkirakan sekitar 1-5 kasus per 10 juta penduduk. Kondisi ini dapat terjadi pada semua kelompok usia dengan distribusi gender yang relatif seimbang, meskipun beberapa laporan menunjukkan sedikit predominasi pada wanita dewasa muda. Median usia saat diagnosis adalah sekitar 50-60 tahun, namun kasus juga dapat ditemukan pada anak-anak dan lansia. Karena kelangkaannya, sebagian besar data epidemiologi berasal dari laporan kasus dan seri kasus retrospektif dari pusat-pusat hematologi rujukan.

06

Etiologi dan Faktor Penyebab

07

Aplasia sel merah murni didapat dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori utama. Pemahaman terhadap etiologi sangat penting untuk menentukan strategi pengobatan yang tepat dan prognosis pasien.

08

Array

09

Patofisiologi

10

Patofisiologi aplasia sel merah murni didapat sangat kompleks dan melibatkan berbagai mekanisme yang berbeda tergantung pada etiologi yang mendasari. Pada kasus yang dimediasi imun, produksi autoantibodi terhadap eritropoietin atau antigen permukaan sel progenitor eritroid merupakan mekanisme utama. Antibodi terhadap eritropoietin dapat bersifat menetralisasi, sehingga hormon yang diproduksi secara endogen tidak dapat bekerja pada reseptor eritropoietin di sel progenitor. Alternatifnya, antibodi sitotoksik dapat menginduksi apoptosis atau kematian seluler melalui aktivasi komplemen.

11

Pada tingkat seluler, PRCA acquired ditandai dengan penghambatan selektif lini eritroid di sumsum tulang, sementara lini mieloid dan megakariosit tetap relatif tidak terpengaruh. Keseimbangan antara sitokin proinflamasi (seperti interferon-gamma dan TNF-alpha) dengan sitokin yang mendukung eritropoiesis (eritropoietin, IL-3, GM-CSF) terganggu secara signifikan.

12

Pada kasus yang berkaitan dengan timoma, mekanisme yang terlibat mencakup produksi sitokin imunosupresif oleh sel-sel tumor thymus, defisiensi sel T regulator, dan produksi antibodi silang terhadap antigen eritroid. Sementara itu, pada infeksi parvovirus B19, virus ini secara langsung menginfeksi dan menghancurkan sel progenitor eritroid yang mengekspresikan reseptor P antigen (globoside), menyebabkan penghentian sementara produksi eritrosit.

13

Manifestasi Klinis dan Gejala

14

Gejala klinis aplasia sel merah murni didapat terutama berkaitan dengan anemia berat yang berkembang secara gradual atau akut. Pasien biasanya mengeluhkan kelelahan yang progresif, kelemahan umum, pusing, palpitasi, dan sesak napas saat aktivitas. Pada kasus yang berat, dapat ditemukan gejala anemia yang lebih parah seperti sinkop, angina pektoris pada pasien dengan penyakit jantung koroner, atau gagal jantung kongestif pada pasien lanjut usia.

15

Array

16

Diagnosis

17

Diagnosis PRCA acquired memerlukan pendekatan diagnostik yang sistematis untuk memastikan diagnosis dan mengidentifikasi etiologi yang mendasari. Evaluasi diagnostik harus mencakup anamnesis menyeluruh, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan sumsum tulang.

18

Pemeriksaan Laboratorium

19

Array

20

Pemeriksaan Penunjang

21

Array

22

Diagnosis banding PRCA acquired mencakup anemia aplastik, sindrom mielodisplastik dengan displasia eritroid, anemia hemolitik autoimun dengan retikulositopenia, infeksi kronis dengan anemia penyakit kronis, dan hipoplasia eritroid akibat defisiensi B12 atau folat.

23

Penatalaksanaan dan Pengobatan

24

Pengobatan aplasia sel merah murni didapat harus disesuaikan dengan etiologi yang mendasari. Prinsip utama terapi mencakup eliminasi faktor penyebab jika teridentifikasi, imunosupresi untuk kasus yang dimediasi imun, dan terapi suportif untuk mempertahankan kualitas hidup pasien.

25

Terapi Imunosupresif

26

Array

27

Terapi Spesifik Berdasarkan Etiologi

28

Array

29

Terapi Suportif

30

Array

31

Prognosis

32

Prognosis aplasia sel merah murni didapat bervariasi tergantung pada etiologi dan respons terhadap terapi. Dengan terapi imunosupresif yang tepat, sekitar 60-80% pasien dapat mencapai remisi parsial atau lengkap. Namun, relaps sering terjadi dan banyak pasien memerlukan terapi jangka panjang atau terapi pemeliharaan. PRCA yang disebabkan oleh timoma memiliki prognosis yang lebih baik jika tumor dapat direseksi lengkap. Sementara itu, kasus yang resisten terhadap multiple lini terapi memiliki prognosis yang lebih buruk dan mungkin memerlukan transplantasi sumsum tulang sebagai opsi kuratif.

33

Faktor prognosis buruk pada PRCA acquired meliputi: usia lanjut saat diagnosis, kebutuhan transfusi berulang yang sering, kegagalan merespons multiple lini terapi, dan adanya penyakit dasar yang tidak dapat dikontrol seperti neoplasia limfoproliferatif yang progresif.

34

Kesimpulan

35

Aplasia sel merah murni didapat (D60.9) merupakan kelainan hematologi yang jarang namun signifikan dengan berbagai etiologi dan mekanisme patofisiologi. Diagnosis yang tepat memerlukan tingkat kecurigaan klinis yang tinggi dan evaluasi diagnostik yang komprehensif. Penatalaksanaan yang berhasil bergantung pada identifikasi dan pengobatan penyebab yang mendasari, combined dengan terapi imunosupresif yang tepat untuk kasus yang dimediasi imun. Dengan kemajuan dalam pemahaman patofisiologi dan pengembangan agen terapeutik baru, outlook untuk pasien PRCA acquired terus membaik, meskipun tantangan dalam pengelolaan kasus yang resisten tetap ada.
Bagikan:

๐Ÿ”— Konten Terkait: D60.9

Pathway: D60.9 Acquired Pure Red Cell Aplasia & โ€ฆ