01
Aplasia sel merah murni didapat atau <em>Acquired Pure Red Cell Aplasia</em> (PRCA) merupakan kelainan hematologi yang jarang terjadi, ditandai dengan kegagalan progresif dalam produksi sel darah merah (eritrosit) di sumsum tulang. Kondisi ini diklasifikasikan dalam ICD-10 dengan kode D60.9 dan ั
ะฐัะฐะบัะตัะธะทัะตััั normochromic anemia yang parah dengan retikulositopenia yang signifikan. Berbeda dengan anemia aplastik yang mengenai semua lini sel darah, PRCA hanya mempengaruhi lini eritroid secara selektif, menjadikan kondisi ini unik dalam spektrum penyakit sumsum tulang.
02
Definisi dan Klasifikasi
03
Aplasia sel merah murni didapat didefinisikan sebagai sindrom klinis yang ditandai dengan anemia normositik normokromik berat, retikulositopenia absolut, dan hipoplasia atau aplasia lini eritroid pada pemeriksaan aspirasi sumsum tulang dengan sel-sel myeloid dan megakariosit yang tetap normal atau relatif utuh. Klasifikasi WHO 2016 untuk tumor organ hematopoietik dan limfoid menempatkan PRCA dalam kategori gangguan proliferasi sel darah merah murni, dengan subklasifikasi mencakup PRCA acquired (D60.0-D60.9), PRCA kongenital (D61.01), dan PRCA yang diinduksi obat.
04
Epidemiologi
05
PRCA acquired merupakan penyakit hematologi yang sangat jarang dengan insidensi tahunan yang diperkirakan sekitar 1-5 kasus per 10 juta penduduk. Kondisi ini dapat terjadi pada semua kelompok usia dengan distribusi gender yang relatif seimbang, meskipun beberapa laporan menunjukkan sedikit predominasi pada wanita dewasa muda. Median usia saat diagnosis adalah sekitar 50-60 tahun, namun kasus juga dapat ditemukan pada anak-anak dan lansia. Karena kelangkaannya, sebagian besar data epidemiologi berasal dari laporan kasus dan seri kasus retrospektif dari pusat-pusat hematologi rujukan.
06
Etiologi dan Faktor Penyebab
07
Aplasia sel merah murni didapat dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori utama. Pemahaman terhadap etiologi sangat penting untuk menentukan strategi pengobatan yang tepat dan prognosis pasien.
08
Array
09
Patofisiologi
10
Patofisiologi aplasia sel merah murni didapat sangat kompleks dan melibatkan berbagai mekanisme yang berbeda tergantung pada etiologi yang mendasari. Pada kasus yang dimediasi imun, produksi autoantibodi terhadap eritropoietin atau antigen permukaan sel progenitor eritroid merupakan mekanisme utama. Antibodi terhadap eritropoietin dapat bersifat menetralisasi, sehingga hormon yang diproduksi secara endogen tidak dapat bekerja pada reseptor eritropoietin di sel progenitor. Alternatifnya, antibodi sitotoksik dapat menginduksi apoptosis atau kematian seluler melalui aktivasi komplemen.
11
Pada tingkat seluler, PRCA acquired ditandai dengan penghambatan selektif lini eritroid di sumsum tulang, sementara lini mieloid dan megakariosit tetap relatif tidak terpengaruh. Keseimbangan antara sitokin proinflamasi (seperti interferon-gamma dan TNF-alpha) dengan sitokin yang mendukung eritropoiesis (eritropoietin, IL-3, GM-CSF) terganggu secara signifikan.
12
Pada kasus yang berkaitan dengan timoma, mekanisme yang terlibat mencakup produksi sitokin imunosupresif oleh sel-sel tumor thymus, defisiensi sel T regulator, dan produksi antibodi silang terhadap antigen eritroid. Sementara itu, pada infeksi parvovirus B19, virus ini secara langsung menginfeksi dan menghancurkan sel progenitor eritroid yang mengekspresikan reseptor P antigen (globoside), menyebabkan penghentian sementara produksi eritrosit.
13
Manifestasi Klinis dan Gejala
14
Gejala klinis aplasia sel merah murni didapat terutama berkaitan dengan anemia berat yang berkembang secara gradual atau akut. Pasien biasanya mengeluhkan kelelahan yang progresif, kelemahan umum, pusing, palpitasi, dan sesak napas saat aktivitas. Pada kasus yang berat, dapat ditemukan gejala anemia yang lebih parah seperti sinkop, angina pektoris pada pasien dengan penyakit jantung koroner, atau gagal jantung kongestif pada pasien lanjut usia.
15
Array
16
Diagnosis
17
Diagnosis PRCA acquired memerlukan pendekatan diagnostik yang sistematis untuk memastikan diagnosis dan mengidentifikasi etiologi yang mendasari. Evaluasi diagnostik harus mencakup anamnesis menyeluruh, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan sumsum tulang.
18
Pemeriksaan Laboratorium
19
Array
20
Pemeriksaan Penunjang
21
Array
22
Diagnosis banding PRCA acquired mencakup anemia aplastik, sindrom mielodisplastik dengan displasia eritroid, anemia hemolitik autoimun dengan retikulositopenia, infeksi kronis dengan anemia penyakit kronis, dan hipoplasia eritroid akibat defisiensi B12 atau folat.
23
Penatalaksanaan dan Pengobatan
24
Pengobatan aplasia sel merah murni didapat harus disesuaikan dengan etiologi yang mendasari. Prinsip utama terapi mencakup eliminasi faktor penyebab jika teridentifikasi, imunosupresi untuk kasus yang dimediasi imun, dan terapi suportif untuk mempertahankan kualitas hidup pasien.
25
Terapi Imunosupresif
26
Array
27
Terapi Spesifik Berdasarkan Etiologi
28
Array
29
Terapi Suportif
30
Array
31
Prognosis
32
Prognosis aplasia sel merah murni didapat bervariasi tergantung pada etiologi dan respons terhadap terapi. Dengan terapi imunosupresif yang tepat, sekitar 60-80% pasien dapat mencapai remisi parsial atau lengkap. Namun, relaps sering terjadi dan banyak pasien memerlukan terapi jangka panjang atau terapi pemeliharaan. PRCA yang disebabkan oleh timoma memiliki prognosis yang lebih baik jika tumor dapat direseksi lengkap. Sementara itu, kasus yang resisten terhadap multiple lini terapi memiliki prognosis yang lebih buruk dan mungkin memerlukan transplantasi sumsum tulang sebagai opsi kuratif.
33
Faktor prognosis buruk pada PRCA acquired meliputi: usia lanjut saat diagnosis, kebutuhan transfusi berulang yang sering, kegagalan merespons multiple lini terapi, dan adanya penyakit dasar yang tidak dapat dikontrol seperti neoplasia limfoproliferatif yang progresif.
34
Kesimpulan
35
Aplasia sel merah murni didapat (D60.9) merupakan kelainan hematologi yang jarang namun signifikan dengan berbagai etiologi dan mekanisme patofisiologi. Diagnosis yang tepat memerlukan tingkat kecurigaan klinis yang tinggi dan evaluasi diagnostik yang komprehensif. Penatalaksanaan yang berhasil bergantung pada identifikasi dan pengobatan penyebab yang mendasari, combined dengan terapi imunosupresif yang tepat untuk kasus yang dimediasi imun. Dengan kemajuan dalam pemahaman patofisiologi dan pengembangan agen terapeutik baru, outlook untuk pasien PRCA acquired terus membaik, meskipun tantangan dalam pengelolaan kasus yang resisten tetap ada.