Kontak langsung dengan tanah atau vegetasi terkontaminasi
Infeksi jamur dematiaseous (Fonsecaea pedrosoi)
Luka terbuka tidak dirawat saat bekerja di ladang
Infeksi kromomikosis kutan persisten
Lesi kronis yang tidak sembuh-sembuh
Lesi verukosa yang menghias pada area terbuka
Proses pengobatan kromomikosis yang lama
Keterbatasan akses informasi kesehatan
Stigma penyakit kulit kronis yang disfigurasi
Infeksi sekunder bakteri pada lesi kromomikosis
Nekrosis jaringan pada lesi kromomikosis yang dalam
Penggunaan sandal atau pelindung tidak memadai
Respon imun yang tidak adekuat terhadap jamur dematiaseous
Trauma berulang pada lesi kromomikosis
Patofisiologi30
Inokulasi jamur dematiaseous ke jaringan subkutan
Peradangan granulomatosa kronis dengan hiperplasia pseudoepiteliomatosa
Pembentukan sel muriform dan granuloma pada dermis
Kolonisasi jamur dematiaseous dan reaksi granulomatosa
Penyebaran limfatik dan fibrosis jaringan
Perubahan struktur kulit dan jaringan ikat
Perubahan penampilan fisik akibat hiperplasia jaringan
Stres kronis dan ketidakpastian penyembuhan
Kurangnya pemahaman tentang pencegahan dan perawatan luka
Penarikan diri dari interaksi sosial akibat penampilan
Respons inflamasi akut dengan pelepasan mediator piogenik
Kerusakan reseptor nociseptor dan jaringan perifer
Eksposisi berulang terhadap inokulum jamur dematiaseous
Persistensi organisme intraseluler dalam makrofag
Ruptur kapiler dan perdarahan lokal pada jaringan granuloma
Trauma tajam tanah
Inokulasi subkutan
Papul verukosa
Kontak vegetasi
Granuloma kronis
Lesi kembang kol pruritus
Fonsecaea
Sel muriform
Bintik hitam
Luka terbuka ladang
Kolonisasi jamur
Ulserasi drainase
Persisten
Limfatik & fibrosis
Limfedema satelit
Tanda & Gejala15
Papul verukosa di tempat inokulasi
Lesi verukosa menyerupai kembang kol dengan pruritus
Bintik-bintik hitam pada lesi (transepidermal elimination)
Ulserasi dengan drainase seropurulen
Limfedema dan lesi satelit sepanjang limfatik
Elefantiasis pada ekstremitas
Perubahan bentuk kulit yang permanen dan disfigurasi
Kecemasan terhadap prognosis dan efek samping obat
Keterlambatan mencari pertolongan dan perawatan luka tidak tepat
Menghindari kontak sosial dan aktivitas komunitas
Demam, kemerahan, dan nyeri pada lesi
Nyeri pada lesi yang mendalam dan persisten
Munculnya lesi baru pada area yang sama atau berdekatan
Lesi yang meluas dan resisten terhadap terapi
Perdarahan superfisial pada permukaan lesi
Diagnosis Keperawatan21
Gangguan integritas kulit
Gangguan integritas kulit
Gangguan integritas kulit
Risiko infeksi sekunder
Gangguan perfusi perifer
Gangguan mobilitas fisik
Gangguan citra tubuh
Kecemasan
Kurang pengetahuan
Isolasi sosial
Hipertermia
Nyeri kronis
Risiko infeksi
Gangguan integritas kulit
Risiko perdarahan (Note: "Risiko perdarahan" might not be standard SDKI, but it's a nursing diagnosis. However to be safe and standard, maybe use something else. Let's replace with a standard one.)
Gangguan integritas kulit
Gangguan integritas kulit
Gangguan integritas kulit
Risiko infeksi sekunder (or just Risiko infeksi)
Gangguan perfusi perifer (or maybe "Gangguan eliminasi" no. "Gangguan mobilitas fisik" if on foot. But perfusi perifer is about blood flow, not lymph. Better: "Gangguan kenyamanan" not standard. "Gangguan integritas kulit" could cover it. But I want variety. Maybe "Gangguan pola napas" no. Let's think of standard SDKI for lymphedema: "Gangguan perfusi perifer" actually includes arterial/venous/lymphatic? Usually it's peripheral tissue perfusion. In SDKI, there is "Gangguan Perfusi Perifer" (D.0015?) which can be related. Or "Gangguan Mobilitas Fisik". Let's use "Gangguan mobilitas fisik" for elephantiasis, and for lymphedema maybe "Gangguan integritas kulit" again. Let's change path 5 to elephantiasis directly.
Gangguan mobilitas fisik (if it affects foot mobility). Actually lymphedema itself might not directly be mobility. Let's make path