MerlinDX Artikel A03.1
https://www.askep3s.org/ebec6fb610/artikel/A03.1
Shigellosis Akibat Shigella flexneri
Photo by George Shervashidze on Pexels
Artikel Klinis ICD-10: A03.1

Shigellosis Akibat Shigella flexneri

7 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pengertian
  2. Etiologi dan Epidemiologi
  3. Patofisiologi
  4. Gejala dan Tanda Klinis
  5. Diagnosis
  6. Diagnosis Banding
  7. Penatalaksanaan
  8. Komplikasi
  9. Pencegahan
  10. Prognosis

01 Pengertian

Shigellosis adalah infeksi bakteri pada usus yang disebabkan oleh genus Shigella, suatu masalah kesehatan manusia secara global. Shigella flexneri merupakan salah satu dari empat spesies Shigella yang dapat menyebabkan penyakit ini, bersama dengan S. dysenteriae, S. boydii, dan S. sonnei. Spesies-spesies ini diklasifikasikan lebih lanjut menjadi serotipe berdasarkan polisakarida spesifik-O dari lipopolisakarida (LPS). Shigella flexneri adalah salah satu penyebab utama disentri basiler di seluruh dunia, terutama di negara berkembang dengan sanitasi yang buruk. Bakteri ini memiliki kemampuan unik untuk menyerang dan merusak mukosa kolon, menyebabkan peradangan berat yang dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan tepat.

02 Etiologi dan Epidemiologi

Shigella flexneri adalah bakteri gram-negatif berbentuk basil yang tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Bakteri ini memiliki ukuran kecil dengan panjang sekitar 2-3 mikrometer dan lebar 0,5-0,7 mikrometer. Shigella flexneri tidak memiliki flagela, sehingga tidak motil, namun memiliki struktur permukaan yang memungkinkan adhesi dan invasi ke sel epitel usus. Bakteri ini menghasilkan toksin Shiga (Shiga toxin) yang berperan dalam patogenesis penyakit, meskipun dalam tingkat yang lebih rendah dibandingkan S. dysenteriae tipe 1. Shigellosis tersebar di seluruh dunia dengan insiden tertinggi di negara berkembang, terutama di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Sub-Sahara. Penularan terjadi melalui rute fekal-oral, terutama melalui konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi, serta kontak langsung antar manusia. Anak-anak di bawah 10 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terhadap infeksi ini.

03 Patofisiologi

Patofisiologi shigellosis akibat Shigella flexneri melibatkan serangkaian proses yang kompleks. Bakteri Shigella flexneri memasuki tubuh melalui mulut dan bertahan dari asam lambung di dalam lambung. Setelah mencapai usus halus, bakteri bergerak menuju kolon tempat mereka menempel dan menginvasi sel epitel kolon. Proses invasi ini dimediasi oleh sistem sekresi tipe III (T3SS) yang menginjeksikan efektor protein ke dalam sel inang, menyebabkan reorganisasi sitoskeleton yang memungkinkan fagositosis bakteri. Setelah berada di dalam sel epitel, Shigella flexneri bereplikasi secara intraseluler dan menyebabkan kematian sel melalui mekanisme apoptosis dan nekroptosis. Bakteri kemudian menyebar secara lateral ke sel-sel epitel yang berdekatan, menyebabkan kematian sel yang meluas dan ulserasi mukosa. Proses peradangan ini menghasilkan perdarahan mukosa dan respons inflamasi sistemik. Toksin Shiga yang dihasilkan oleh Shigella flexneri berkontribusi pada kerusakan jaringan dengan cara menghambat sintesis protein seluler dan menyebabkan kerusakan endotel pembuluh darah.

04 Gejala dan Tanda Klinis

Gejala shigellosis akibat Shigella flexneri bervariasi dari ringan hingga berat, dengan spektrum klinis yang luas. Gejala awal biasanya muncul 1-3 hari setelah infeksi dan mencakup diare cair yang dapat berkembang menjadi disentri dengan tinja berlendir dan berdarah. Pasien mengalami kram perut yang hebat, tenesmus (rasa tidak puas saat buang air besar), dan demam ringan hingga sedang. Gejala tambahan yang sering ditemukan meliputi mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan. Pada kasus berat, pasien dapat mengalami dehidrasi signifikan, hipovolemia, dan gangguan elektrolit. Gejala biasanya berlangsung 5-7 hari, namun pada beberapa kasus, terutama pada anak-anak dan individu dengan gangguan imun, gejala dapat bertahan lebih lama atau berkembang menjadi infeksi kronis. Pada pasien immunocompromised, shigellosis dapat menjadi kondisi yang mengancam jiwa dengan bakteremia dan sepsis.

05 Diagnosis

Diagnosis shigellosis akibat Shigella flexneri didasarkan pada kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan utama adalah kultur tinja menggunakan media agar selektif dan diferensial seperti agar MacConkey, agar XLD (xylose-lysine-deoxycholate), atau agar SS (Salmonella-Shigella). Shigella flexneri akan tumbuh sebagai koloni kecil, tidak memfermentasi laktosa, dan berwarna putih atau krem. Identifikasi spesies dan serotipe dilakukan melalui reaksi biokimia dan serologi dengan antiserum spesifik-O. Pemeriksaan mikroskopis tinja dapat menunjukkan adanya leukosit polimorfonuklear (PMN) dan eritrosit, menunjukkan adanya peradangan dan kerusakan mukosa. Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan meliputi hitung darah lengkap (LED dan leukositosis), pemeriksaan fungsi ginjal dan elektrolit untuk menilai derajat dehidrasi, serta pemeriksaan kultur darah pada kasus dengan kecurigaan bakteremia. Teknik molekuler seperti PCR (Polymerase Chain Reaction) juga dapat digunakan untuk deteksi cepat DNA Shigella dari spesimen klinis.

06 Diagnosis Banding

Diagnosis banding shigellosis akibat Shigella flexneri mencakup beberapa kondisi klinis yang serupa. Penyakit yang perlu dipertimbangkan meliputi infeksi enteropatogenik lain seperti infeksi Salmonella, Campylobacter, dan Escherichia coli enteroinvasif (EIEC) yang memiliki presentasi klinis serupa. Amebiasis akibat Entamoeba histolytica juga perlu dipertimbangkan karena dapat menyebabkan disentri berdarah. Penyakit radang usus seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn dapat menunjukkan gejala serupa berupa diare berdarah dan kram perut. Keracunan makanan akibat Staphylococcus aureus atau Bacillus cereus dapat menyebabkan gastroenteritis akut, namun biasanya bersifat self-limiting dan tidak disertai demam tinggi. Pada anak-anak, rotavirus dan norovirus perlu dipertimbangkan sebagai penyebab diare akut. Perbedaan utama adalah bahwa shigellosis biasanya disertai demam dan tenesmus yang lebih prominen, serta adanya leukosit pada pemeriksaan mikroskopis tinja.

07 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan shigellosis akibat Shigella flexneri meliputi terapi suportif dan antimikroba. Terapi suportif mencakup rehidrasi yang adekuat, baik secara oral dengan larutan oralit (ORS) maupun secara intravena pada kasus dehidrasi berat. Koreksi gangguan elektrolit dan asam-basa juga penting dilakukan. Terapi antimikroba merupakan lini pertama pengobatan untuk semua kasus shigellosis. Antibiotik yang direkomendasikan meliputi siprofloksasin, seftriakson, azitromisin, dan pivmecillinam. Pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan pola resistensi lokal dan kondisi pasien. Pasien dengan diare ringan biasanya tidak memerlukan antibiotik dan akan pulih dalam beberapa hari. Pada kasus berat dengan bakteremia atau komplikasi sistemik, terapi antimikroba intravena diperlukan. Penggunaan obat antidiare seperti loperamide sebaiknya dihindari karena dapat memperpanjang durasi penyakit dan meningkatkan risiko komplikasi. Edukasi pasien tentang hygiene dan pencegahan penularan juga merupakan bagian penting dari penatalaksanaan.

08 Komplikasi

Shigellosis akibat Shigella flexneri dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, terutama pada populasi rentan. Komplikasi gastrointestinal meliputi perforasi kolon, obstruksi usus, dan abses intra-abdomen. Pada anak-anak, komplikasi bedah yang telah dilaporkan meliputi apendisitis akut dengan atau tanpa perforasi, yang dapat menjadi temuan yang tidak terduga. Kasus apendisitis akut akibat Shigella flexneri telah didokumentasikan pada anak-anak, menunjukkan bahwa diferensiasi antara gastroenteritis infektif dan apendisitis akut bisa sangat sulit, terutama pada populasi ini. Komplikasi sistemik meliputi sindrom uremik hemolitik (HUS), terutama terkait dengan S. dysenteriae tipe 1, namun juga dapat terjadi pada infeksi S. flexneri. Komplikasi lainnya termasuk artritis reaktif, konjungtivitis, dan sindrom Guillain-Barré. Dehidrasi berat dapat menyebabkan gagal ginjal akut dan syok hipovolemik. Pada pasien dengan gangguan imun seperti HIV/AIDS, shigellosis dapat menjadi lebih berat dan sulit diobati.

09 Pencegahan

Pencegahan shigellosis akibat Shigella flexneri berfokus pada memutus rantai penularan. Langkah-langkah pencegahan utama meliputi peningkatan sanitasi dan hygiene, terutama cuci tangan dengan sabun secara teratur, terutama sebelum makan dan setelah buang air besar. Penyediaan air bersih yang aman sangat penting untuk mengurangi risiko kontaminasi. Pengelolaan makanan yang benar, termasuk memasak makanan hingga matang dan menghindari konsumsi makanan mentah dari sumber yang tidak terpercaya, dapat mengurangi risiko infeksi. Isolasi pasien dengan shigellosis aktif diperlukan untuk mencegah penularan nosokomial. Di lingkungan dengan kasus tinggi, desinfeksi permukaan dan peralatan dengan larutan klorin dapat membantu mengurangi penyebaran. Edukasi masyarakat tentang praktik hygiene yang baik sangat penting, terutama di daerah endemik. Pengembangan vaksin terhadap Shigella masih dalam tahap penelitian dan belum tersedia secara luas untuk penggunaan rutin.

10 Prognosis

Prognosis shigellosis akibat Shigella flexneri umumnya baik jika ditangani dengan tepat dan cepat. Sebagian besar kasus tanpa komplikasi akan sembuh sepenuhnya dalam 5-7 hari dengan terapi suportif yang adekuat. Prognosis menjadi lebih buruk pada kelompok rentan seperti anak-anak di bawah 5 tahun, lansia, dan individu dengan gangguan imun atau malnutrisi. Keterlambatan diagnosis dan pengobatan dapat meningkatkan risiko komplikasi serius dan memperburuk hasil klinis. Resistensi antimikroba merupakan tantangan dalam penatalaksanaan dan dapat memengaruhi prognosis jika pilihan antibiotik terbatas. Dengan diagnosis yang tepat, terapi antimikroba yang sesuai, dan rehidrasi yang adekuat, angka kematian shigellosis dapat ditekan sangat rendah. Namun, pada kasus dengan komplikasi berat seperti perforasi kolon atau sepsis, prognosis bergantung pada kecepatan intervensi bedah dan ketersediaan perawatan intensif.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
. Shigellosis
[2]
. About Shigella Infection | Shigella - Shigellosis | CDC
[3]
. "Unexpected Complication Due to Shigella flexneri in a Child: Acute..."...
[4]
. The Rising Dominance of Shigella sonnei: An Intercontinental Shift in...

🔗 Konten Terkait: A03.1

Pathway: A03.1 - Shigellosis due to Shigella fle…