MerlinDX Artikel K56.1
https://www.askep3s.org/fa15aaacc8/artikel/K56.1
Artikel Klinis ICD-10: K56.1

Intussusception (K56.1): Tinjauan Komprehensif

7 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Pendahuluan
  2. Definisi
  3. Epidemiologi
  4. Anatomi dan Klasifikasi
  5. Etiologi dan Faktor Risiko
  6. Patofisiologi
  7. Manifestasi Klinis
  8. Diagnosis
  9. Pencitraan Diagnostik
  10. Tatalaksana
  11. Tatalaksana Non-Operatif
  12. Tatalaksana Operatif
  13. Komplikasi
  14. Prognosis
  15. Pencegahan
  16. Kesimpulan

01 Pendahuluan

Intussusception merupakan kondisi medis darurat di mana sebagian usus meluncur ke dalam bagian usus lainnya, mirip dengan cara teleskop yang dapat ditarik masuk. Kondisi ini menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap dan dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan cepat. Intussusception merupakan penyebab obstruksi usus tersering pada anak-anak usia 6 bulan hingga 3 tahun, meskipun dapat terjadi pada semua kelompok usia. Kode ICD-10 untuk kondisi ini adalah K56.1.

01 Definisi

Intussusception adalah kondisi di mana satu segmen usus mengalami invaginasi atau lipatan ke dalam segmen usus yang berdekatan, biasanya segmen proximal yang masuk ke dalam segmen distal. Proses ini menyebabkan kompresi pada dinding usus dan pembuluh darah, yang jika tidak ditangani dapat menyebabkan iskemia, nekrosis, dan perforasi usus. Istilah 'intussusception' berasal dari bahasa Latin 'intus' (di dalam) dan 'suscipere' (menerima), menggambarkan mekanisme lipatan usus ke dalam dirinya sendiri.

01 Epidemiologi

Intussusception merupakan kondisi gastrointestinal tersering yang memerlukan intervensi darurat pada anak-anak. Insiden tertinggi terjadi pada usia 5-10 bulan dengan puncak sekitar 6-9 bulan. Rasio jenis kelamin menunjukkan predominansi laki-laki dengan perbandingan 2:1 hingga 3:1 dibandingkan perempuan. Sekitar 90% kasus intussusception idiopatik terjadi pada anak-anak di bawah 3 tahun. Pada dewasa, intussusception sangat jarang dan hanya menyumbang 5% dari semua kasus, biasanya terkait dengan patologi organik seperti tumor, polip, atau kondisi inflamasi.

01 Anatomi dan Klasifikasi

Berdasarkan lokasi anatomis, intussusception diklasifikasikan menjadi beberapa tipe. Ileokolik adalah tipe tersering (sekitar 90% kasus pada anak-anak), di mana ileum masuk ke dalam kolon. Tipe ileoileal terjadi ketika ileum masuk ke ileum lainnya, lebih sering ditemukan pada dewasa. Tipe kolokolik melibatkan kolon yang masuk ke kolon dan lebih jarang terjadi. Tipe retrograde sangat jarang terjadi di mana segmen distal masuk ke segmen proksimal. Anatomi saluran pencernaan dengan fokus pada hubungan antara ileum terminal dan sekum melalui katup ileosekal berperan penting dalam patogenesis intussusception ileokolik.

01 Etiologi dan Faktor Risiko

Pada anak-anak, sekitar 90% kasus intussusception bersifat idiopatik, sering dikaitkan dengan hipertrofi plak Peyer, mungkin sebagai respons terhadap infeksi virus. Virus yang sering dikaitkan termasuk adenovirus, rotavirus, dan enterovirus. Pada dewasa, sekitar 90% kasus memiliki penyebab organik yang dapat diidentifikasi, termasuk tumor kolorektal, polip, lipoma, divertikel Meckel, dan penyakit Crohn. Faktor risiko tambahan meliputi riwayat operasi abdomen sebelumnya, trauma, fibrosis kistik, dan kondisi hiperproliferatif. Vaksin rotavirus, khususnya疫苗 Rotarix dan RotaTeq, memiliki risiko kecil yang meningkat untuk intussusception, terutama dalam minggu pertama setelah dosis pertama.

01 Patofisiologi

Patofisiologi intussusception melibatkan tiga lapisan usus: lapisan dalam (intussusceptum), lapisan tengah (receiving layer/intussusipien), dan lapisan luar. Tekanan hidrostatik di dalam lumen usus mendorong segmen proksimal masuk ke dalam segmen distal. Kompresi vena menyebabkan kongesti dan edema dinding usus, yang semakin memperburuk penyempitan. Jika tidak ditangani, kompresi arteri akan menyebabkan iskemia, yang dapat berkembang menjadi nekrosis mukosa, gangren, dan perforasi. Proses ini dapat disertai dengan sepsis dan peritonitis. Mekanisme lead point patologis pada dewasa berbeda dari anak-anak, biasanya berupa massa yang memandu invaginasi.

01 Manifestasi Klinis

Presentasi klasik intussusception pada anak-anak berupa trias: nyeri perut kolik intermiten, muntah, dan BAB berdarah (currant jelly stool). Nyeri perut bersifat kolik dengan periode tenang di antara episode akut. Anak mungkin tampak sangat gelisah selama episode nyeri dan tenang di antara episode. Muntah awalnya non-bilious dan dapat menjadi bilious seiring progresi obstruksi. BAB berdarah dan lendir (currant jelly) merupakan tanda lanjut yang menunjukkan nekrosis mukosa dan biasanya muncul 12-24 jam setelah onset. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan massa abdomen teraba berbentuk sosis di kuadran kanan atas. Tanda Dance (cekungan di FLANK) menunjukkan empty right iliac fossa. Pada dewasa, presentasi lebih subtile dengan nyeri perut tidak spesifik, mual, muntah, dan perubahan kebiasaan BAB.

01 Diagnosis

Diagnosis intussusception melibatkan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan investigasi pencitraan. Pemeriksaan awal meliputi foto abdomen polos yang dapat menunjukkan tanda target (target sign) atau tanda bulan sabit, serta gambaran obstruksi usus dengan level cairan. Ultrasonografi abdomen merupakan gold standard untuk diagnosis dengan sensitivitas dan spesifisitas mendekati 100%. Temuan khas berupa tanda target (target sign) atau tanda pseudo-kidney pada penampang transversal. CT scan abdomen lebih superior pada dewasa untuk mengidentifikasi lead point patologis. Barium enema kontra-indikasi jika ada tanda perforasi atau peritonitis, namun dapat bersifat terapeutik sekaligus diagnostik. Pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan leukositosis dan tanda dehidrasi.

01 Pencitraan Diagnostik

Pemeriksaan pencitraan memainkan peran krusial dalam diagnosis intussusception. Foto abdomen polos dapat menunjukkan abnormalitas namun memiliki sensitivitas rendah. Ultrasonografi (USG) merupakan modalitas pilihan dengan sensitivitas 98-100% dan spesifisitas 100%, mampu mendeteksi intussusception bahkan pada tahap awal. Temuan USG positif meliputi tanda target dengan multiple concentric rings dan tanda pseudo-kidney dengan lapisan hypoechoic dan hyperechoic bergantian. CT scan abdomen memiliki sensitivitas 80-100% dan spesifisitas 96-100%, sangat berguna untuk dewasa dalam mengidentifikasi penyebab yang mendasari. MRI dapat digunakan sebagai alternatif tanpa radiasi, namun jarang diperlukan. Barium enema dan air enema (kontras) juga dapat digunakan baik untuk diagnosis maupun terapi pada kasus yang sesuai.

01 Tatalaksana

Tatalaksana intussusception bersifat darurat dan memerlukan pendekatan bertahap. Resusitasi cairan dan elektrolit merupakan langkah pertama yang krusial, terutama pada anak dengan tanda dehidrasi atau syok. Reduksi non-operatif merupakan pilihan lini pertama pada pasien yang stabil tanpa tanda perforasi atau peritonitis. Air enema (pneumatic reduction) atau barium enema (hydrostatic reduction) di bawah panduan fluoroskopi atau USG memiliki tingkat keberhasilan 80-95%. Kriteria keberhasilan meliputi resolusi gejala, udara/usus yang melewati obstruksi, dan tidak adanya tanda perforasi. Tindakan operatif diindikasikan jika reduksi non-operatif gagal, terdapat tanda perforasi atau peritonitis, syok yang tidak responsif terhadap resusitasi, atau intussusception berulang. Pendekatan bedah meliputi laparotomi atau laparoskopi dengan manual reduction atau reseksi jika ditemukan nekrosis.

01 Tatalaksana Non-Operatif

Reduksi enema merupakan tatalaksana lini pertama untuk intussusception pada pasien yang hemodinamik stabil. Air enema (pneumatic reduction) menggunakan udara bertekanan rendah di bawah fluoroskopi atau USG, dengan tingkat keberhasilan sekitar 90%. Barium enema (hydrostatic reduction) menggunakan larutan barium atau saline di bawah tekanan gravitasi, dengan tingkat keberhasilan 60-85%. Prosedur dilakukan dengan hati-hati dengan tekanan tidak melebihi 120 cmH2O untuk air atau 100 cmH2O untuk barium. Kontraindikasi meliputi tanda perforasi, peritonitis, syok, atau gambaran radiologis obstruksi total. Komplikasi prosedur meliputi perforasi (1-3% kasus) yang memerlukan intervensi bedah segera.

01 Tatalaksana Operatif

Indikasi operasi pada intussusception meliputi kegagalan reduksi enema, tanda perforasi atau peritonitis, syok yang tidak responsif, dan intussusception berulang. Pendekatan bedah dapat melalui laparotomi midline atau insisi transversa right lower quadrant. Prosedur meliputi manual reduction dengan memijat segmen proksimal secara perlahan untuk mendorongnya keluar, atau reseksi anastomosis jika ditemukan nekrosis, gangren, atau perforasi. Pada dewasa, reseksi lebih sering diperlukan karena lead point patologis biasanya ganas. Laparoskopi dapat digunakan pada kasus terpilih dengan tingkat keberhasilan yang sebanding dengan pendekatan terbuka. Pasien dengan tanda sepsis memerlukan antibiotik spektrum luas empiris.

01 Komplikasi

Komplikasi intussusception dapat bersifat langsung atau akibat tatalaksana. Komplikasi langsung meliputi nekrosis dinding usus akibat iskemia, yang dapat berkembang menjadi gangren dan perforasi. Perforasi usus menyebabkan peritonitis dan sepsis, kondisi yang mengancam jiwa. Komplikasi dari reduksi enema meliputi perforasi iatrogenik (1-3% kasus) dan kegagalan reduksi yang memerlukan intervensi bedah. Komplikasi pasca-operatif meliputi infeksi luka operasi, kebocoran anastomosis, obstruksi usus akibat perlengketan, dan sindrom usus pendek pada kasus reseksi extensive. Mortalitas meningkat secara signifikan jika ada keterlambatan diagnosis dan terapi, terutama pada kelompok usia ekstrem.

01 Prognosis

Prognosis intussusception sangat bergantung pada kecepatan diagnosis dan tatalaksana. Dengan intervensi dini, tingkat keberhasilan reduksi non-operatif mencapai 80-95% dan mortalitas kurang dari 1%. Prognosis memburuk secara signifikan dengan keterlambatan, di mana risiko nekrosis dan perforasi meningkat setelah 24-48 jam. Mortalitas pada kasus yang ditangani dengan baik pada anak-anak kurang dari 1%, namun dapat meningkat hingga 10-15% pada kasus dengan perforasi dan peritonitis. Pada dewasa, prognosis tergantung pada penyebab yang mendasari, dengan mortalitas lebih tinggi terkait tumor ganas. Recurrence rate setelah reduksi non-operatif adalah sekitar 5-10%, biasanya terjadi dalam 72 jam pertama.

01 Pencegahan

Pencegahan intussusception terutama berfokus pada penghindaran faktor risiko yang dapat diidentifikasi. Terkait vaksin rotavirus, rekomendasi saat ini tetap melanjutkan imunisasi karena manfaat vaksinasi jauh lebih besar dibandingkan risiko intussusception yang sangat kecil (sekitar 1-5 kasus per 100.000 anak yang diimunisasi). Edukasi orang tua tentang tanda dan gejala intussusception penting untuk deteksi dini. Pada dewasa, skrining kolorektal yang tepat waktu dapat mengidentifikasi lesi praneoplastik yang dapat menyebabkan intussusception. Pasien dengan episode intussusception berulang memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk mengidentifikasi lead point patologis.

01 Kesimpulan

Intussusception merupakan kondisi darurat gastrointestinal yang memerlukan diagnosis dan tatalaksana segera untuk mencegah komplikasi serius. Pada anak-anak, kondisi ini umumnya idiopatik dan terjadi pada usia 6 bulan hingga 3 tahun dengan presentasi klasik trias nyeri perut, muntah, dan BAB berdarah. Ultrasonografi abdomen merupakan gold standard diagnosis dengan sensitivitas tinggi. Reduksi enema non-operatif merupakan tatalaksana lini pertama pada pasien stabil, sementara intervensi bedah diperlukan pada kasus yang gagal atau terkomplikasi. Prognosis sangat baik dengan tatalaksana yang tepat waktu, dengan mortalitas kurang dari 1% pada kasus yang ditangani dengan baik.
Bagikan:

📚 Daftar Pustaka (APA 7)

[1]
1. Kliegman RM, Stanton BF, St. Geme JW, Schor NF. Nelson Textbook of Pediatrics. 21st ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.
[2]
2. Marsicovetere P, Ivatury SJ, White B, Holubar SD. Intestinal Intussusception: Etiology, Diagnosis, and Treatment. Clin Colon Rectal Surg. 2017;30(1):30-39.
[3]
3. Gayer G, Zandman A, Apter S, et al. Intussusception in Adults: Imaging Findings. Isr Med Assoc J. 2019;21(8):548-552.
[4]
4. WHO. Rotavirus vaccines: WHO position paper - July 2021. Wkly Epidemiol Rec. 2021;96(28):301-319.
[5]
5. Daneman A, Alton DJ. Intussusception. Issues and controversies related to diagnosis and reduction. Radiol Clin North Am. 2019;57(4):725-737.
[6]
6. Applegate KE. Intussusception in children: imaging choices. Semin Roentgenol. 2018;53(4):299-311.
[7]
7. Bhangu A, Søreide K, Di Saverio S, et al. Acute mesenteric ischemia: updated guidelines of the World Society of Emergency Surgery. World J Emerg Surg. 2022;17(1):1-39.
[8]
8. Huppertz HI, Soriano-Gabarró M, Grimprel E, et al. Intussusception among young children in Europe. Pediatr Infect Dis J. 2019;30(1):7-11.

🔗 Konten Terkait: K56.1