MerlinDX Artikel J38.0
https://www.askep3s.org/fcdd4a40b4/artikel/J38.0
Artikel Klinis ICD-10: J38.0

Paralisis Pita Suara dan Laring (ICD-10: J38.0) - Panduan Lengkap

9 menit baca Terverifikasi: 2026-08-05

📋 Daftar Isi

  1. Definisi Paralisis Pita Suara dan Laring
  2. Epidemiologi
  3. Anatomi Pita Suara dan Laring
  4. Klasifikasi Paralisis Pita Suara dan Laring
  5. Penyebab Paralisis Pita Suara dan Laring
  6. Gejala Paralisis Pita Suara dan Laring
  7. Diagnosis Paralisis Pita Suara dan Laring
  8. Diagnosis Banding
  9. Pengobatan Paralisis Pita Suara dan Laring
  10. Pencegahan Paralisis Pita Suara dan Laring
  11. Komplikasi Paralisis Pita Suara dan Laring
  12. Prognosis Paralisis Pita Suara dan Laring
  13. Asuhan Keperawatan
  14. Referensi

01 Definisi Paralisis Pita Suara dan Laring

Paralisis pita suara dan laring (ICD-10: J38.0) adalah kondisi medis yang ditandai dengan kelemahan atau ketidakmampuan otot pita suara untuk bergerak secara normal. Kondisi ini terjadi ketika saraf yang mengontrol gerakan pita suara mengalami kerusakan atau gangguan fungsi. Pita suara (vocal cords) adalah dua lipatan jaringan yang terletak di dalam laring (kotak suara) yang berfungsi menghasilkan suara dan melindungi saluran napas saat menelan. Ketika salah satu atau kedua pita suara tidak dapat bergerak dengan baik, hal ini dapat menyebabkan gangguan suara, kesulitan bernapas, dan masalah menelan. Paralisis ini dapat bersifat unilateral (satu sisi) atau bilateral (kedua sisi), dengan tingkat keparahan yang bervariasi tergantung pada lokasi dan penyebabnya.

01 Epidemiologi

Paralisis pita suara dan laring merupakan kondisi yang relatif jarang terjadi pada populasi umum. Insiden kondisi ini diperkirakan sekitar 1-2 kasus per 10.000 penduduk per tahun. Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang dewasa dibandingkan anak-anak, dan insidennya meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Paralisis unilateral lebih umum terjadi dibandingkan paralisis bilateral, dengan rasio sekitar 2:1 hingga 3:1. Faktor risiko yang meningkatkan kejadian kondisi ini meliputi prosedur bedah kepala dan leher, trauma, infeksi, dan penyakit neurologis.

01 Anatomi Pita Suara dan Laring

Laring merupakan struktur berbentuk tabung yang terletak di bagian depan leher, tepat di bawah tenggorokan (faring). Laring terdiri dari beberapa struktur penting termasuk kartilago tiroid, kartilago krikoid, dan kartilago aritenoid. Pita suara (plica vocalis) adalah dua lipatan jaringan mucosa yang melekat pada kartilago aritenoid dan kartilago tiroid. Saraf rekuren laring (recurrent laryngeal nerve) yang merupakan cabang dari saraf vagus (saraf kranial X) bertanggung jawab untuk mengontrol gerakan pita suara. Saraf ini berjalan dari otak turun ke dada, melingkari arkus aorta (sisi kiri) atau arteri subklavia (sisi kanan), kemudian naik kembali ke laring. Struktur anatomi ini sangat penting untuk dipahami karena menjelaskan mengapa cedera pada dada atau leher dapat mempengaruhi fungsi pita suara.

01 Klasifikasi Paralisis Pita Suara dan Laring

Paralisis pita suara dan laring dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa parameter. Berdasarkan sisi yang terkena, kondisi ini dibedakan menjadi paralisis unilateral yang hanya mengenai satu sisi pita suara (kiri atau kanan), dan paralisis bilateral yang mengenai kedua pita suara. Berdasarkan posisi pita suara yang lumpuh, paralisis dapat berupa paralisis dalam posisi paramedian di mana pita suara tidak dapat bergerak dan tetap berada di dekat garis tengah, paralisis dalam posisi intermediet di mana pita suara berada di antara posisi paramedian dan lateral, dan paralisis dalam posisi lateral di mana pita suara terpisah lebar satu sama lain. Berdasarkan etiologi, paralisis diklasifikasikan menjadi paralisis idiopatik, paralisis neurogenik, paralisis mekanik, dan paralisis psikogenik.

01 Penyebab Paralisis Pita Suara dan Laring

Paralisis pita suara dan laring dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang merusak saraf laringeus rekuren atau saraf vagus. Penyebab utama meliputi prosedur bedah尤其是 tiroidektomi (pengangkatan kelenjar tiroid), bedah jantung, dan bedah leher yang dapat merusak saraf secara langsung atau tidak langsung. Trauma pada leher atau dada, termasuk cedera tumpul dan tusuk, juga dapat menyebabkan kerusakan saraf. Penyakit neurologis seperti stroke, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, dan sindrom Guillain-Barré dapat mengganggu kontrol saraf terhadap pita suara. Tumor di области шеи, груди или головного мозга dapat menekan atau menginvasi saraf. Infeksi virus seperti influenza, herpes, dan Epstein-Barr dapat menyebabkan neuritis. Selain itu, aneurisma aorta atau arteri subklavia dapat menekan saraf rekuren, terutama pada sisi kiri. Penyebab lain termasuk intubasi endotrakeal yang berkepanjangan, radioterapi di области шеи, dan kondisi autoimun.

01 Gejala Paralisis Pita Suara dan Laring

Gejala paralisis pita suara dan laring bervariasi tergantung pada apakah kondisi bersifat unilateral atau bilateral, serta posisi pita suara yang lumpuh. Gejala umum meliputi perubahan suara seperti suara serak, lemah, atau berbisik yang merupakan gejala paling sering terjadi. Pasien mungkin mengalami kelelahan suara di mana kemampuan berbicara menurun dengan cepat. Kesulitan menelan (disfagia) dapat terjadi karena gangguan koordinasi antara menelan dan perlindungan saluran napas. Tersedak saat makan atau minum juga merupakan gejala yang sering dilaporkan. Pada kasus paralisis bilateral, pasien dapat mengalami stridor (suara napas keras) dan dispnea (kesulitan bernapas), terutama saat aktivitas. Gejala tambahan meliputi batuk kronis, perasaan ada benda asing di tenggorokan (globus pharyngeus), dan aspirasi yaitu masuknya makanan atau cairan ke paru-paru yang dapat menyebabkan pneumonia berulang.

01 Diagnosis Paralisis Pita Suara dan Laring

Proses diagnosis paralisis pita suara dan laring melibatkan beberapa langkah dan pemeriksaan. Anamnesis menyeluruh diperlukan untuk mengetahui riwayat medis, prosedur bedah sebelumnya, trauma, dan gejala yang dialami pasien. Pemeriksaan fisik mencakup pemeriksaan kepala dan leher untuk mencari tanda-tanda trauma, massa, atau kelainan struktural. Laringoskopi indirek menggunakan cermin khusus untuk melihat pita suara adalah pemeriksaan awal yang penting. Laringoskopi fleksibel nasoendoskopi memungkinkan visualisasi langsung pita suara dan penilaian mobilitasnya. Stroboskopi laring menggunakan cahaya berkedip untuk menilai getaran pita suara memberikan informasi detail tentang fungsi pita suara. Elektromiografi laring (LEMG) mengukur aktivitas listrik otot-otot laring untuk membedakan antara paralisis dan kekakuan sendi. Pencitraan seperti rontgen dada, CT scan leher dan dada, serta MRI otak dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab seperti tumor atau aneurisma. Pemeriksaan darah lengkap dan tes fungsi tiroid juga mungkin diperlukan untuk menyingkirkan penyebab metabolik atau inflamasi.

01 Diagnosis Banding

Beberapa kondisi memiliki gejala yang mirip dengan paralisis pita suara dan laring dan perlu disingkirkan. Nodul pita suara adalah pertumbuhan jinak pada pita suara yang sering terjadi pada penyanyi dan guru. Polip pita suara merupakan pertumbuhan jaringan yang menyebabkan suara serak serupa dengan paralisis. Kista pita suara adalah kantung berisi cairan yang dapat mengganggu getaran pita suara. Laringitis kronis akibat peradangan jangka panjang pada laring. Refluks laringofaringeal (LPR) di mana asam lambung naik ke tenggorokan dan menyebabkan iritasi. Paralisis pita suara fungsional yang terjadi tanpa kerusakan saraf organik. Disfonia spasmodik yaitu gangguan neurologis yang menyebabkan kejang otot pita suara. Tumor laring yang dapat menyebabkan imobilitas pita suara jika mengenai saraf.

01 Pengobatan Paralisis Pita Suara dan Laring

Pengobatan paralisis pita suara dan laring tergantung pada penyebab, keparahan, dan durasi kondisi. Pendekatan konservatif meliputi istirahat suara di mana pasien diminta membatasi penggunaan suara untuk mengurangi tekanan pada pita suara. Terapi suara (speech therapy) dilakukan dengan latihan khusus yang dilakukan oleh terapis wicara untuk memperkuat otot-otot pita suara dan meningkatkan kualitas suara. Pengobatan penyebab yang mendasari seperti pengendalian refluks, pengobatan infeksi, atau terapi penyakit neurologis sangat penting. Prosedur injeksi seperti injeksi kolagen, lemak autologus, atau kalsium hidroksiapatit ke dalam pita suara untuk memperbesar pita suara yang lemah. Medikamentosa berupa kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi jika disebabkan oleh neuritis akut. Tiroplasti medialisasi adalah prosedur bedah untuk mendorong pita suara yang lumpuh ke arah garis tengah. Reinnervasi nervus laringeus rekuren adalah prosedur bedah untuk menghubungkan saraf yang rusak dengan saraf yang masih berfungsi. Trakeostomi mungkin diperlukan pada kasus paralisis bilateral dengan gangguan napas berat.

01 Pencegahan Paralisis Pita Suara dan Laring

Pencegahan paralisis pita suara dan laring berfokus pada menghindari faktor risiko yang dapat menyebabkan kerusakan saraf. Perlindungan leher dan dada saat beraktivitas untuk mencegah trauma langsung. Konsultasi pra-operasi yang menyeluruh sebelum prosedur bedah tiroid atau leher untuk menilai risiko kerusakan saraf. Penggunaan teknik bedah yang hati-hati dan cermat terutama pada prosedur yang melibatkan area dekat saraf rekuren. Monitoring fungsi pita suara secara berkala pada pasien yang menjalani prosedur bedah berisiko tinggi. Pengelolaan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi untuk mengurangi risiko neuropati. Menghindari paparan racun dan bahan kimia yang dapat merusak saraf. Vaksinasi untuk mencegah infeksi virus yang dapat menyebabkan neuritis. Pemeriksaan rutin untuk deteksi dini tumor atau aneurisma yang dapat menekan saraf.

01 Komplikasi Paralisis Pita Suara dan Laring

Paralisis pita suara dan laring yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Aspirasi paru-paru adalah komplikasi serius di mana makanan, minuman, atau air liur masuk ke paru-paru karena gangguan refleks protektif pita suara. Pneumonia aspirasi dapat terjadi akibat aspirasi berulang dan memerlukan pengobatan antibiotik. Dehidrasi dan malnutrisi dapat terjadi karena kesulitan menelan yang menyebabkan asupan cairan dan nutrisi tidak adekuat. Isolasi sosial akibat gangguan komunikasi yang membuat pasien menarik diri dari interaksi sosial. Gangguan kualitas hidup secara signifikan meliputi kesulitan bekerja, berkomunikasi, dan berpartisipasi dalam aktivitas sosial. Gangguan pernapasan terutama pada paralisis bilateral yang dapat menyebabkan gagal napas akut. Kelelahan suara kronis yang dapat memperburuk kondisi pita suara. Stres dan depresi akibat keterbatasan komunikasi dan ketidakpastian prognosis.

01 Prognosis Paralisis Pita Suara dan Laring

Prognosis paralisis pita suara dan laring sangat bervariasi tergantung pada penyebab dan tipe paralisis. Paralisis unilateral akibat cedera bedah atau trauma memiliki prognosis yang lebih baik jika saraf tidak terputus total, dengan kemungkinan pemulihan fungsi dalam 6-12 bulan. Paralisis yang disebabkan oleh tumor memerlukan penanganan penyebabnya terlebih dahulu sebelum menilai prognosis pita suara. Paralisis bilateral memiliki prognosis yang lebih kompleks karena meskipun suara mungkin membaik, gangguan napas sering menjadi masalah utama. Paralisis idiopatik memiliki prognosis yang bervariasi, dengan sekitar 30-40% pasien mengalami pemulihan spontan dalam 6-12 bulan. Faktor yang mempengaruhi prognosis meliputi durasi paralisis, usia pasien, kondisi kesehatan umum, dan kepatuhan terhadap terapi rehabilitasi suara. Terapi suara yang konsisten dapat memperbaiki kualitas suara secara signifikan bahkan pada kasus yang tidak pulih sepenuhnya.

01 Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan pada pasien dengan paralisis pita suara dan laring mencakup beberapa aspek penting. Monitoring pernapasan secara ketat meliputi penilaian frekuensi, irama, dan kedalaman napas, serta mendengarkan suara napas tambahan seperti stridor. Elevasi kepala tempat tidur 30-45 derajat untuk mengurangi risiko aspirasi dan memperbaiki kenyamanan bernapas. Pemberian makanan dan cairan sesuai konsistensi yang aman untuk pasien, dengan pertimbangan konsistensi cair atau semi-cair jika ada disfagia. Edukasi pasien tentang teknik menelan aman, teknik batuk efektif, dan cara berkomunikasi alternatif. Kolaborasi dengan terapis wicara untuk program rehabilitasi suara. Dokumentasi intake-output dan berat badan untuk memantau status nutrisi dan hidrasi. Pemberian obat-obatan sesuai jadwal untuk mengendalikan gejala dan penyebab yang mendasari. Dukungan psikologis untuk membantu pasien mengatasi keterbatasan komunikasi dan menyesuaikan diri dengan kondisi.

01 Referensi

1. International Classification of Diseases, 10th Revision (ICD-10). World Health Organization. 2019. 2. Merati AL. Laryngeal paralysis. In: Flint PW, et al., eds. Cummings Otolaryngology: Head and Neck Surgery. 7th ed. Elsevier; 2021. 3. Sulica L, Blitzer A. Vocal fold paralysis: evaluation and management. Otolaryngol Clin North Am. 2004;37(1):1-22. 4. Rubin AD, Sataloff RT. Vocal fold paralysis: diagnosis and management. Curr Opin Otolaryngol Head Neck Surg. 2008;16(3):197-200. 5. American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery. Clinical practice guideline: hoarseness (dysphonia). Otolaryngol Head Neck Surg. 2009;141(3 Suppl 2):S1-S31. 6. Dral H, et al. Unilateral vocal fold paralysis: a review of the current literature. Eur Arch Otorhinolaryngol. 2017;274(3):1225-1234. 7. Stager SV. Vocal fold paralysis: etiology and management. Otolaryngol Clin North Am. 2000;33(5):1035-1050.
Bagikan:

🔗 Konten Terkait: J38.0